Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 347 - Taruhan dan Hukuman


__ADS_3

Barisan telah dipenuhi oleh tujuh puluh enam prajurit baru. Suasana di sekitar mereka begitu meriah, menggambarkan situasi penuh kemenangan yang sangat megah. Kereta kuda memenuhi sekitar pinggiran jalan, bendera Kekaisaran Qing berkibar di depan bangunan-bangunan besar. Ada begitu banyak pasukan prajurit yang keluar lebih dari biasanya. Seperti yang dikatakan di awal distrik-18 memiliki setidaknya 10.000 prajurit. Mereka termasuk distrik yang kecil. Bagi distrik yang besar bisa menampung hingga ratusan ribu prajurit.


Suasana menjadi lebih ricuh saat barisan telah tiba di depan sebuah panggung. Ada begitu banyak orang-orang penting yang hadir, salah satunya Yan Xue, tamu dari distrik lain, perwakilan dari pusat dan yang paling penting adalah Jenderal-18 yang sama sekali belum menampakkan batang hidungnya di tempat itu.


Yu Xiong hampir tidak percaya mereka bisa selamat sampai di titik ini. Tak beda antusiasnya dengan peserta yang lain, mereka terus menengok kanan-kiri dengan mata berbinar-binar. Akhirnya tiba saat di mana mereka dapat bernapas lega tanpa takut akan kematian seperti sebelum-sebelumnya.


Penyambutan ternyata lebih lama dari yang mereka kira. Hampir setiap tamu mengatakan hal yang sebenarnya sama; selamat kepada kalian yang terpilih dalam seleksi ini dan beberapa etika yang harus dipatuhi selama mengabdi menjadi prajurit Kekaisaran. Tiga jam berdiri di bawah terik matahari yang semakin membakar akhirnya mereka tiba pada penyambutan dari prajurit utama. Yan Xue.


Laki-laki itu maju, Wei Feng mendecak tak karuan.


"Chen, berani bertaruh? Orang ini berapa lama bicaranya?"


"Dua jam." Xin Chen menjawab jengah, dia cukup malas mendengar basa-basi tidak penting dari para petinggi dan orang-orang penting di depan sana. Formalitas memang sesuatu yang sangat membosankan.


Sambil menguap Wei Feng menunjukkan tiga jarinya. "Tiga jam."


Beberapa jam kemudian Wei Feng mendengkus kesal. Mungkin yang membuatnya panas sekarang bukan hanya matahari lagi, melainkan Yan Xue yang tak kunjung turun dari atas panggung. Suara laki-laki itu seperti hanya timbul tenggelam di telinganya. Dia berkali-kali berjongkok saat semua orang tidak memperhatikan.


"Kalau Youji datang aku yakin dia langsung pingsan disuruh berdiri sampai selama ini."


Yan Xue mengakhiri penyambutannya seperti biasa. Meskipun terlihat seperti prajurit yang tegas dalam hal berbicara dia bisa mengulur waktu sampai setengah hari. Wei Feng berdiri sambil melihat kanan-kiri dan baru menyadari salah satu prajurit tengah memperhatikannya.


"Kau bertaruh tiga jam, tadi kan? Sepertinya kita sama-sama seri."

__ADS_1


"Sekarang giliran Jenderal-18. Mau bertaruh berapa?" tanyanya terus memperhatikan ke depan. Di antara semua peserta sepertinya dirinya dan Wei Feng yang menjadi perhatian para pengawas.


"Aku mungkin empat jam." Wei Feng langsung meralat. "Mungkin lima jam, hahaha. Siapa tahu dia mau menceritakan masa lalunya seperti tamu-tamu prajurit tadi."


"Dua atau tiga jam menurutku."


Wei Feng menimpali, "Yang salah kena hukuman apa?"


"Berteriak setelah Jenderal-18 selesai. Bagaimana? Setuju?"


Yu Xiong tidak tahu apa yang dilakukan dua orang itu, mereka saling berjabat tangan dengan tatapan yang sengit. Tiba-tiba saja dua orang yang paling malas menyimak penyambutan ini memperhatikan semua yang dikatakan Jenderal-18 dengan fokus. Wei Feng menyenggolnya. "Aku tidak sabar melihatmu berteriak di depan orang banyak. Pasti lucu."


"Oh, aku justru sudah menyiapkan kata-kata bagus untuk kau teriakkan nanti. Mau tahu?" Keduanya sama-sama terlihat percaya diri, Wei Feng menjawab sombong. "Begitu. Tentu saja aku juga menyiapkan kata-kata mutiara, aku yakin jenderal itu akan menangis mendengar teriakanmu nanti."


"Bagaimana kalau, 'Jenderal, aku mencintaimu!' pasti dia akan langsung menikahimu sekarang juga."


Wei Feng langsung memukulnya, "Jangan karena aku pernah menggenggam tangan prajurit kau sampai mengira aku tidak normal. Teman sialan. Aku bisa mati gaya kalau kalah taruhan ini. Sial, sial, sial. Orang gila ini mau membunuh kejantananku." Kesal Wei Feng, hukuman Xin Chen memang tidak main-main. Dia harus memikirkan hukuman yang lebih bagus lagi untuk mempermalukan lawannya.


Wei Feng berpikir keras-keras, matanya sesekali memperhatikan Jenderal-18 penuh harap. Tiba-tiba saja dia ingin laki-laki itu berceramah satu harian penuh agar bisa memenangkan pertarungan ini. Dia mempertaruhkan lima jam.


"Gawat. Aku sampai tidak tahu hukuman apa yang bagus untukmu. Teriakkan saja 'Jenderal kepala botak, nikahi aku!' nanti. Hah, matilah kau habis ini, Chen. Aku akan menceritakan berita bagus ini pada orang-orang Empat Unit Pengintai. Kau pasti akan menjadi bahan olok-olokan setelah ini."


"Kata-katamu terlalu panjang."

__ADS_1


"Hooo sepertinya teman kita ini sudah mencium bau-bau kekalahan. Sabar, temanku. Tidak perlu takut. Paling kau hanya kena tampar bolak-balik olehnya."


"Sebenarnya hukuman apa yang kalian bicarakan ini? Seperti orang tidak normal saja ..." Yu Xiomg diam-diam menguping pembicaraan mereka berdua. Sebenarnya sudah dari beberapa menit yang lalu dan dirinya merasa ada yang tidak beres dengan dua manusia itu.


"Jangan mencari-cari masalah. Kak Wei, kau ini ada-ada saja. Jangan mengajak Kak Chen melakukan ide-ide anehmu."


"Diamlah bocah. Kapan lagi kau bisa melihat kejadian langka ini. Cukup perhatikan saja, aku saja sudah tidak sabar menunggu lima jam lagi. Ini benar-benar akan menjadi sejarah paling memalukan seorang Xin Chen. Tenang saja, temanku. Aku tentu akan menceritakannya pada anak cucumu. Kau tidak perlu repot-repot memintanya."


Wei Feng semakin semangat melihat wajah masam Xin Chen. Penyambutan dari Jenderal-18 masih terus berlangsung. Dia berbicara keras serta tegas. Dalam setiap kata-katanya, dia hanya menyampaikan hal penting tanpa banyak berbasa-basi. Meskipun begitu Wei Feng tetap optimis dirinya akan menang. Dia merasa Dewi keberuntungan tengah jatuh cinta padanya.


"Terakhir kali aku berpikir akan menang ternyata nasibku malah ampas. Sial."


Nyaris tidak ada suara di sebelahnya. Xin Chen menghayati penuh penyambutan di depannya. Saat Wei Feng menoleh dia dapat melihat pemuda itu terlihat tersenyum jahil. Wajah-wajah yang saat ini sangat mengancam keselamatan Wei Feng.


"Jayalah nama kita!"


Dari seluruh penjuru semua orang berteriak kencang, tak begitu lama Jenderal-18 menutup penyambutannya. Mereka sebentar lagi akan dikirimkan ke pusat digabungkan dengan prajurit baru dari dua puluh distrik berbeda. Penyambutan baru berjalan kurang dari tiga puluh menit, yang artinya Xin Chen memenangkan pertaruhan ini.


"Kak Wei, jangan tiba-tiba lupa ingatan."


Wei Feng menelan ludah saat mendengar suara Xin Chen yang sangat menyeramkan. Tengkuk Wei Feng semakin dingin saat tangan Xin Chen menyentuh pundaknya.


"Lakukan sekarang sebelum dia turun dari panggung atau kau lihat hal gawat yang akan terjadi selanjutnya."

__ADS_1


***


__ADS_2