
Xin Chen menengadahkan kepala membuat percikan air terjun membasahi kepalanya. Dan Ye Long tiba-tiba saja bangun, mengelus kaki Xin Chen menggunakan kepalanya.
"Ah, iya kawan. Aku tahu kau pasti ingin kembali ke rumahmu. Tapi... Sebenarnya dari mana kau datang?"
Sementara Ye Long menghadapkan tubuhnya ke arah air terjun, Xin Chen yakin naga itu sedang berusaha menunjukkan dari mana tempatnya berasal. Tentu dengan menggunakan bahasa tubuhnya sendiri.
"Air terjun? Kau..."
Ye Long menyemburkan api dari mulutnya, api tersebut menyambar air terjun dalam sekejab mata. Pertanyaan kembali berdatangan di kepala Xin Chen, selagi tenggelam dalam pemikirannya sadar tak sadar dia telah menghabiskan terlalu banyak waktu bersama Ye Long. Khawatir Youji datang ke goa ini Xin Chen akhirnya bergegas pergi meninggalkan Ye Long sendirian di goa tersebut. Menuju rumah Jin Sakai untuk mulai menempa pedang.
***
Angin sore menerbangkan dedaunan kering di tepi jalan berbatu, salah satu batu itu ditendang oleh Wei Feng sembarangan hingga melayang menghantam sebuah kendi berukuran besar.
Kendi tersebut pecah menimbulkan bunyi nyaring di sekitaran desa. Wei Feng menutup telinga sambil menyembunyikan dirinya agar tidak di sangka sebagai pelaku, berlari berjinjit-jinjit menuju sebuah rumah seorang pandai besi paling terkenal di desa mereka. Tampaknya beberapa penduduk sedang sibuk melihat pria itu bekerja,
Jin Sakai memanaskan pedang yang telah ditempanya hampir sebulan ke dalam api dan setelah itu mencelupkannya ke dalam air sesegera mungkin untuk menciptakan lengkungan pada bilah pedangnya. Pekerjaan ini bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, salah mengambil langkah saja pedang yang susah payah dikerjakannya itu akan gagal total.
Xin Chen menarik ujung bibirnya, baru kali ini dia melihat pedang yang sedemikian unik buatan kepala klan Jin ini. Dalam beberapa hari yang lalu, Jin Sakai sudah sering mengatakan jika pedang yang dia buatkan ini memiliki teknik khusus saat memakainya. Tidak boleh sembarangan atau jika tidak pedang tersebut akan mudah patah.
Sudah berminggu-minggu terlewati dengan cepat, Xin Chen belajar banyak hal dari Jin Sakai dan anaknya, Youji. Bagaimana kesabaran dan ketekunan mereka menghasilkan sebilah pedang dengan ukiran naga yang indah. Tentu saja bentuk naga tersebut atas permintaan Xin Chen.
Pembuatan pedang sendiri dilakukan siang malam di mulai dari peleburan baja hingga pembentukan lengkungan pedang yang bahkan membutuhkan waktu tiga hari lamanya.
Di saat beristirahat sendiri Xin Chen memilih menghabiskan waktunya untuk pergi menemui Wei Feng berlatih memanah. Serta menghabiskan banyak waktu dengan para penduduk di sini memberikan kebahagiaan sendiri pada Xin Chen. Tempat di mana dia tak dibandingkan dengan Xin Zhan. Jauh lebih baik daripada Lembah Kabut Putih.
__ADS_1
Sejumlah penduduk desa kecil ini juga sudah mengenalnya, entah karena memang sifat Xin Chen yang lebih mudah berbaur dengan masyarakat golongan ke bawah dibandingkan dengan keluarga bangsawan.
Seorang anak kecil memasuki ruang penempaan pedang, menarik baju Xin Chen dari bawah. "Pedangmu keren sekali... Boleh aku meminjamnya nanti?"
"Ya, kau akan jadi yang pertama mencobanya." Senyuman hangat Xin Chen membuat anak laki-laki itu melompat girang, dia tak sabar ingin memegang pedang tersebut.
Jin Sakai sudah memeriksa kembali apakah pedang tersebut berfungsi baik atau tidak, sembari menunggu Youji menyelesaikan tugasnya untuk membuatkan gagang pedang serta sarungnya.
Di waktu yang sama Wei Feng datang, menerobos beberapa tetangga Jin Sakai dari luar sambil memanggil Xin Chen.
"Iblis Kecil! Hei! Katamu hari ini kita akan pergi memancing?!" serunya, Xin Chen seketika mendengkus menatapi Wei Feng di belakang. Tidak bisa lebih tenang di saat-saat seperti ini. Dia memalingkan wajah dari Wei Feng, lebih memilih melihat pedangnya yang telah selesai ditempa.
"Kelihatannya Jin Sakai sangat menyukainya, kau lihat senyumannya itu? Tak pernah kulihat dia sebegitu bahagianya saat membuatkan sebuah pedang." Petani tua yang memang sudah lama mengenal Jin Sakai bercelutuk, tak mengalihkan wajahnya dari Jin Sakai sedetik pun.
Jin Sakai mendekat pada mereka berdua, menyerahkan mahakaryanya itu penuh kebanggaan. "Ini adalah pedang terbaik yang pernah kubuat. Kuharap kau akan menyukainya."
"Terimakasih sudah membuatkannya, pedang ini jauh lebih hebat dari yang aku inginkan, padahal aku tak membantu banyak..." Xin Chen tersenyum kecut, teringat beberapa insiden yang hampir membahayakan nyawa dua pria ini saat proses penempaan pedang.
Sempat dia hampir menumpahkan lelehan besi panas, nyaris membakar kaki Jin Sakai. Dan juga masih banyak kesalahan lainnya'yang dia perbuat.
"Tidak perlu merasa berkecil hati, kau pasti baru belajar menempa pedang. Untuk seukuran pemula sepertimu, itu sudah merupakan awal yang baik," katanya. "Mungkin nanti kau ingin menjadi penempa pedang juga kau bisa mampir ke sini."
"Aku akan datang ke sini saat Kak Youji siap mengambil kepala musuh kalian." Xin Chen tertawa setelah mengatakannya, melihat Jin Sakai hampir terbatuk-batuk menerima kata-kata tersebut. Namun tak berapa lama dia menjawab.
"Dia akan datang ke sana, untuk merebut kembali harga diri klan kami."
__ADS_1
Tatapan mata yang khas tersebut penuh dengan kejujuran, setelah mengenal keluarga ini hampir sebulan Xin Chen dibuat kagum oleh mereka. Dibandingkan dengan orang-orang Kekaisaran, keluarga Jin ini memiliki sifat terbuka, jujur dan disiplin. Dibandingkan para pejabat dan bangsawan yang penuh intrik dan tipu daya.
Dan semua hal yang Xin Chen lihat di Desa Pelarian ini adalah kebalikan dengan dunia yang dikenalnya selama ini, kehidupan serba sederhana dan makanan seadanya.
"Adik Chen, apa kau akan langsung pergi setelah ini?" tanya Youji.
Xin Chen mengangguk pelan, tak bisa membohongi kalau memang dia harus pergi untuk mencari sesuatu. Tak mungkin Xin Chen berterus terang jika dia ingin menyusup ke kandang Manusia Darah Iblis. Jin Sakai yang memang memiliki sifat khawatir berlebihan itu pasti takkan membiarkannya setelah ini.
"Aku harus pergi, tapi tidak hari ini. Mungkin besok." Xin Chen menerima pedang yang diserahkan Jin Sakai penuh hormat, dia memiringkan kepalanya kepada Yu Xiong. Anak kecil yang selama ini ikut menemaninya menghabiskan waktu di Desa Pelarian.
Anak kecil yang masih berumur 7 tahun itu menerimanya, memainkan pedang tersebut dengan gerakan kacau membuat sang pembuat pedang mengomel-ngomel. Tak percaya Xin Chen malah memberikannya pada Yu Xiong. Bocah yang terkenal sangat nakal, kerap kali anak itu melempari atap rumahnya dengan batu bata.
Yu Xiong tertawa-tawa senang, dia melompat ke atas meja. Mengacungkan pedang tersebut riang gembira. Ibunya yang juga datang untuk mengunjungi Jin Sakai bertepuk tangan kecil, seolah melihat pahlawan sedang berdiri di sana. Membuat Yu Xiong semakin semangat.
Saat mereka sedang lengah ternyata Yu Xiong membuka sarung pedang, kilauan cahaya dari bilah pedang yang ditempa bersama Baja Phoenix itu muncul. Yu Xiong mendadak merasakan kedua pundaknya terasa berat, matanya terpejam sayu sementara orang lain tak begitu memperhatikannya.
Aura pusaka langit memang memiliki efek tersendiri saat dipakai penggunanya, sebagai senjata terkuat tak heran jika benda tersebut turut menyatukan kekuatan si pemilik dengan kekuatan senjata. Tubuh Yu Xiong yang lemah takkan sanggup mengimbangi kekuatan pedang tersebut.
Kepala Yu Xiong terasa berdenyut, anak itu sempoyongan dan terjatuh dari atas meja. Sialnya pedang dalam genggaman tangannya bergerak dan ujung mata pedang berada tepat di depan jantung Yu Xiong. Jika dia terjatuh mau tak mau Pedang Baja Phoenix akan menembus jantungnya.
Ibu Yu Xiong baru menyadari hal itu saat mengalihkan perhatiannya, senyum di bibir merahnya luntur seketika. Dia berteriak histeris, "Xiong'er! Ti-tidak!!"
***
besok diusahakan update 3-4 chapter 🤧
__ADS_1