Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 50 - Huo Zhao dan Irama Kematian


__ADS_3

"Pusaka itu akan menjadi milikku."


"Pusaka itu adalah milik kita semua, Tetua!" salah satu muridnya menyahut, membuat Tetua besar yang terlihat datang dari negeri jauh itu merapatkan kedua alisnya. "Memang itu akan menjadi milik kita semua, tapi atas nama diriku. Dan hanya akulah satu-satunya yang memiliki hak atasnya."


"Hahaha kalian bicara tentang hak ini dan itu, barangnya saja masih di mana dan kalian asal mengoceh seperti ini milik kalian."


Orang yang mereka sebut Tetua itu memiliki perawakan garang serta bola mata yang tajam menusuk, dia menarik pedang yang panjangnya sama dengan tubuhnya, menghunuskan ke arah Xin Chen menantang. "Mengalahkan anak kecil sepertimu? Siapa yang tidak bisa? Pendekar kelas teri saja mungkin akan menang dalam satu kali tebasan saja."


Xin Chen mengeraskan rahangnya, ikut terbawa emosi atas hal ini. Dia menoleh ke arah Rubah Petir, "Biar aku yang membereskan pak tua bermulut besar ini, Guru."


"Hahaha kalau perlu bantuanku tinggal katakan saja, lagipula aku sebenarnya ingin sekali meremukkan badannya dengan petir-petirku."


"Sepertinya aku tidak membutuhkannya?"


"Serius? Kau membuatku malu karena harus berhadapan dengan keroco-keroco ini." Rubah Petir mengeluarkan kekuatan petirnya, dalam satu kali hentakan saja dua puluh pendekar musnah terbakar oleh petirnya. Tak menyisakan abu walau sedikitpun.


Tidak memakan waktu sedetik saja semua orang itu telah tiada, mata Xin Chen sedikit melotot ngeri melihat hal itu. Mungkin karena letak Telaga Hijau sendiri sangat jauh dari pemukiman manusia maka dari itu Rubah Petir berani menggunakan seperempat kekuatannya.


"Si-siapa kau?"


"Saat bertarung kau masih sempat-sempatnya mengabaikan lawanmu!" Xin Chen tiba-tiba sudah melompat tinggi di atasnya, bersiap menerjang dalam satu tebasan penuh. Namun pria itu lebih dahulu mengetahui serangannya. dia berguling cepat dan melemparkan pisau beracun untuk menyerang balik.


Xin Chen tak bisa terus-terusan memakai wujud roh, di samping itu kekuatan sosok yang dihadapinya ini lumayan hebat, dia licik dalam bertarung. Hingga kerap kali Xin Chen terjebak oleh perangkapnya.


"Hohoho... tikus kecil, mau bermain denganku? Yang benar saja! Ratusan nyawa telah kuambil dengan pedang ini, dan kau... kau akan menjadi salah satu dari korban itu!"


Tak peduli apa kata pria itu Xin Chen kembali pada wujud rohnya, meskipun beberapa kali pria itu tak bisa diserang karena lebih dulu menghindarinya tapi Xin Chen tetap percaya, setidaknya pria itu memiliki titik buta.


"Boleh beri aku kesempatan untuk membantumu mengoyak manusia itu?" Suara kakek roh terdengar.

__ADS_1


Baja Phoenix yang tersimpan di balik jubahnya bergetar, sekilas Xin Chen terkejut saat matanya dapat melihat apa yang akan dilakukan Tetua ini. Dia akan berbelok ke kanan untuk menghindari serangannya.


"Tendang bagian tengkuknya agar dia kehilangan keseimbangan, putar arah tubuhmu lalu masuk ke mode hantu. Langsung penggal kepalanya dalam kekuatan penuh. Kemenangan akan berada di tanganmu." Suara kakek penghuni Baja Phoenix berdengung, Xin Chen melakukan apa yang diarahkannya. Benar saja, dalam waktu singkat pria itu sudah kehabisan darah.


Kakinya masih bisa bertahan, terlihat gemetaran sebab darah tak berhenti mengalir dari lehernya. Ya, pria itu telah kehilangan kepalanya barusan karena dipenggal oleh Xin Chen. Butuh waktu beberapa saat hingga pria itu benar-benar tumbang.


"Chen, kita harus cepat bergerak sebelum musuh lain datang!"


"Baik!" Xin Chen berlari, dia memberhentikan langkahnya tiba-tiba dan memungut pedang Tetua itu, terlihat sangat keren sekaligus berbahaya, setidaknya lebih baik daripada pedang yang dia beli dari toko senjata tempo hari.


"Lumayan..."


"Chen!!"


"Iya! Iya aku segera ke sana!" Tanpa disadari jarak dengan Rubah Petir sudah semakin jauh, sepertinya mulai hari ini Xin Chen harus terbiasa berlari dengan kecepatan kilat jika tidak mau tertinggal.


Keluar dari hutan yang melindungi Telaga Hijau membutuhkan waktu sekitar 4 jam, Xin Chen menarik napas dalam-dalam, mengelap keringat yang membanjiri pelipisnya. Setelah memastikan tidak ada yang mengejar mereka dari belakang Xin Chen mengeluarkan Baja Phoenix, penasaran akan benda itu sejak tadi.


Tak berapa lama kakek tersebut menunjukkan wujudnya, sejak pertama kali muncul tatapan roh itu sudah lebih dulu jatuh pada Rubah Petir. "Sebelum itu, bisa kau beritahu sosok di sampingmu itu? Dia terlihat sangat tidak biasa, apalagi dilihat dari kekuatannya..."


Rubah Petir melepaskan tudung yang melindungi kepalanya, memperlihatkan dengan jelas wajah rubah. "Aku Rubah Petir, kau pasti pernah mendengar namaku."


"Ru-rubah Petir? Sungguh hebat! Hei, anak kecil?! Ke mana saja kau berlari sampai bisa bertemu dengan mahkluk legenda ini?" Kakek tersebut hampir tak percaya. Rohnya mengelilingi rubah petir yang hanya bisa memutar bola mata malas, dia terlihat antusias mengamati Rubah Petir.


"Kau mengenalnya? Bukankah kalian hanya roh?" Xin Chen memotong pembicaraan mereka dengan polos. Membuat mata kakek itu menilik heran padanya.


"Kau bodoh?" Kata pertama itu sudah menohok hati Xin Chen, dia tersenyum kaku.


"Setiap roh memiliki jasad sebelum dia pergi meninggalkan tubuhnya, mau itu karena dia mati atau kehilangan kesadaran penuh atas tubuhnya."

__ADS_1


"Bilangnya pelan-pelan Kakek, aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan."


"Aish, anak jaman sekarang... Kalian pasti jarang membaca sejarah di perpustakaan? Biar ku jelaskan padamu apa itu roh." Dia menyuruh Xin Chen duduk di depannya. "Saat kau mati nanti rohmu akan meninggalkan tubuhmu. Roh itu adalah mahkluk yang memiliki daya pikir dan perasaan, tapi tidak dengan jasad. Sampai di sini sudah paham?"


Xin Chen mengangguk tiga kali, "Itu berarti kau pernah hidup seperti kami juga?"


"Ya. Kami dipanggil kembali menggunakan mantra oleh Han Zilong. Setidaknya dengan menjaga Baja Phoenix ini aku merasa sedikit berguna, aku bisa menemui keluargaku di alam kematian, dan... Setidaknya aku berguna setelah sebelumnya membuat mereka kecewa terhadapku."


Senyum tipis muncul di wajahnya, perlahan-lahan kekuatan spiritual pria tua itu melemah hingga cahaya yang mengelilingi tubuhnya ikut pudar. "Ah, sepertinya waktuku hampir habis... Aku memakai terlalu banyak kekuatan roh selama ribuan tahun lamanya untuk melindungi Baja Phoenix itu." Dia sedikit meneruskan kalimatnya, "Dan sekarang adalah giliranmu."


"Tunggu, masih banyak pertanyaan yang belum kau jawab!" Xin Chen menahannya agar tak pergi. "Apa yang kau maksud dengan mati karena kehilangan kesadaran penuh itu? Apa ada kaitannya dengan Irama Kematian yang Rubah Petir katakan?"


"Irama Kematian? Kupikir jurus itu sudah lama dilupakan, aku telah membakar kitabnya agar tak ada yang bisa mempelajari ilmu berbahaya itu."


"Kau sendiri memakainya saat di goa," sela Rubah Petir ikut menimbrungi.


"Karena untuk melindungi sesuatu yang baik kau harus mengotori tanganmu dengan ilmu hitam. Irama Kematian bisa musuhmu mati berdiri, hanya dengan suara kau bisa membunuh."


"Bisa kau ajarkan Irama Kematian padaku?"


Bukan hanya kakek itu, Rubah Petir pun ikut terkejut mendengar keinginan Xin Chen ini. "Kau berniat mempelajari ilmu hitam? Mempelajarinya hanya akan memperburuk keadaan, para pendekar aliran putih mungkin akan menganggapmu musuh karena itu."


"Aku sudah terlalu muak mendengarkan pendapat orang. Selama ini aku hanya bergerak mengikuti apa mauku, bukan mau mereka." Bola mata Xin Chen beralih pada kakek penghuni roh, kini hanya tersisa setengah wujudnya yang mengambang di udara. "Bisa beritahu aku bagaimana aku bisa mempelajarinya? Kau sendiri yang mengatakan, untuk melindungi sesuatu kita harus menggunakan cara kotor. Irama Kematian suatu saat mungkin akan berguna untukku."


"Baiklah... Aku tidak tanggung jawab jika suatu saat terjadi sesuatu yang buruk padamu. Tugasku menjaga Baja Phoenix sudah selesai, maaf jika tidak bisa menjaga pusaka ini bersamamu. Setidaknya Huo Zhao bisa membimbingmu untuk menemukan teman-teman kami yang lain."


Kakek tersebut menciptakan sebuah kertas, menuliskan cara untuk menciptakan Irama Kematian di sana.


"Huo Zhao? Dia penghuni topeng itu?"

__ADS_1


Kakek tersebut mengangguk pelan, menyerahkan sebuah kitab dan menggunakan sisa kekuatannya di sana. "Pergunakanlah dengan baik, jangan sampai kau kehilangan arah. Xin Chen."


__ADS_2