Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 355 - Tak Terkendali


__ADS_3

Rupanya pertarungan yang mereka hadapi jauh lebih mengerikan saat hanya tersisa lima belas para pendekar. Sejauh ini mereka belum mengambil tindakan apa-apa dan tidak terlibat dengan pertarungan serius. Hingga semua prajurit habis dibantai dan hanya mereka yang tersisa. Awalnya mereka merasa terancam oleh kehadiran Xin Zhan yang menghabisi lebih banyak prajurit. Tetapi kini mereka rasa sosok yang berdiri di sebelahnya jauh lebih berbahaya.


"Dia atau yang satu lagi yang membunuh ketua tadi?"


"Aku tidak bisa membedakan yang mana. Sepertinya yang lebih tinggi itu."


"Tidak, aku yakin yang melibas habis prajurit itulah orangnya. Matanya saja sangat menyeramkan."


"Yang kanan atau yang kiri, kita bantai semua!"


Teriakan menggema di tengah situasi menegangkan, langkah demi langkah saling berpacu. Kedua kubu bertemu dan langsung bertarung habis-habisan. Tidak tanggung, dalam sekali bertarung Xin Chen dan Xin Zhan dikeroyok lima belas laki-laki dewasa sekaligus.


Tumbangnya satu dari mereka dibarengi dengan hujan panah yang kembali menyusul. Sementara Xin Zhan mengurusi para pendekar itu, Xin Chen mengejar para pemanah dan langsung membunuh mereka di tempat. Dia tak menyadari salah satu anak panah berhasil melesat di titik butanya. Panah tersebut mengenai bagian perut kirinya, Xin Chen segera mencabutnya.


Tidak terlihat dari mana panah itu berasal, tak menghabiskan waktu lama Xin Chen berhasil membunuh kesemua pemanah. Hingga yang berdiri di atas menara turut menjadi korbannya. Xin Chen merebut panah dari mayat musuh dan melepaskan anak panahnya secara beruntun.


Xin Zhan merunduk kaget, nyaris saja anak panah dari Xin Chen mengenainya. Benda itu membuat musuh di belakangnya berhenti. Kapak di tangannya terjatuh dan tubuhnya jatuh berguling. Tidak kenal ampun, Xin Chen memanah lagi. Mengenai tepat di kening orang yang sedang menuju ke arahnya.


Xin Chen turun ketika anak panah di tangannya habis. Tanpa disadari musuh telah terpukul mundur. Sisanya hendak melarikan diri tapi mereka tak memiliki waktu yang banyak sebab Xin Chen sudah berada di depan sana.


Xin Zhan terpaku di tempat. Sebelah tangannya menahan luka yang kembali basah di bagian perut. Dia harus segera membalut dengan kain baru. Sementara adiknya menghabisi sisa prajurit lain.


Xin Chen tidak menyadari bahwa seseorang baru saja keluar dari persembunyian. Dalam keheningan tanpa suara, laki-laki itu berhasil menyayat punggung belakang Xin Chen.

__ADS_1


Mendadak Xin Chen kehilangan keseimbangannya, dengan serta merta musuh berebutan menyerangnya. Xin Zhan yang sudah tiba di depan bangunan membunyikan sebuah petasan yang langsung menghentikan pergerakan semua orang. Dia menatap Xin Chen seperti meminta maaf karena tidak dapat membantu lebih banyak.


Petasan itu adalah tanda terakhir yang diperuntukkannya pada Ren Yuan. Andai ibunya berada di dalam, dia pasti dapat mengenali suara petasan yang memiliki ciri tersendiri. Suara petasan itu merupakan sinyal yang hanya dapat dimengerti oleh orang-orang bangsawan Kekaisaran Shang.


Xin Chen juga pernah diajari tentang itu dulu hanya saja petasan tersebut tak pernah dilihatnya secara langsung. Karena tidak dibuat oleh sembarangan orang.


Darah di sepanjang jalan menjadi lebih merah. Hanya tersisa satu orang di depannya dan laki-laki itu begitu sulit ditaklukkan. Dia memiliki senjata-senjata rahasia yang berulang kali menipu Xin Chen. Triknya bisa dikatakan unik, dan dalam hal adu fisik jelas Xin Chen kalah dari orang tersebut. Para pendekar ini sebenarnya tidak memiliki kekuatan spesial apa pun, hanya saja mereka memiliki kekuatan tubuh yang jauh lebih besar dibandingkan orang biasa.


Xin Chen memutuskan untuk menggunakan kekuatan petir dan berusaha untuk memperkecil kekuatan tersebut. Aliran petir menjalar dalam genangan darah, tanpa laki-laki itu sadari sebuah petir menyengatnya dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun. Kontan teriakannya keluar, laki-laki itu kehilangan nyawanya beberapa menit kemudian.


Terjadi kebisingan dari dalam bangunan, Xin Zhan menegakkan punggungnya mendengar sebuah suara yang tidak asing. Ren Yuan ada di dalam. Dia segera mendobrak pintu besar itu, tanpa pikir panjang Xin Zhan mendobraknya menggunakan tenaga dalam. Darah dari perutnya merembes hebat, Xin Zhan melihat ibunya tengah berusaha kabur dari puluhan prajurit dengan zirah emas.


"Zhan'er!"


Ren Yuan berhenti berjalan.


Dia melihat anak keduanya tengah berdiri tengah derasnya air hujan, genangan darah dan juga gelimpangan mayat di sekitarnya terlihat menyeramkan. Xin Chen menumpu tubuhnya pada pedang yang dia tancap di tanah. Sementara itu punggungnya terus diincar anak panah. Xin Chen jatuh ambruk ke tanah.


Kemarahan tergambar jelas di wajah Ren Yuan, dia berlari membelah air bercampur darah demi bisa melindungi Xin Chen. Anaknya itu berusaha bangkit, Ren Yuan segera menariknya ke pangkuan.


"Apa yang terjadi padamu?"


"Aku tidak boleh menggunakan kekuatan itu ..."

__ADS_1


"Apa maksudmu?" Ren Yuan semakin prihatin, dia berusaha menahan air matanya saat mencabut tiga anak panah di tubuh Xin Chen.


"Tapi aku tidak bisa melindungi kalian tanpa kekuatan ini."


Kontan sebuah kekuatan besar mengamuk, muncul sebuah Kitab yang lembarannya terbuka dengan cepat. Xin Chen berusaha menahan kekuatan itu tetapi beberapa roh memberontak. Mereka memakan jiwa manusia yang telah menjadi mayat, ratusan tubuh yang tergeletak di tanah lenyap oleh kekuatan hitam. Panah yang seharusnya tembus di belakang Ren Yuan menghilang ditelan kekuatan tersebut.


Xin Chen harus melindungi Ren Yuan. Tetapi dia tidak ingin Roh Dewa Perang keluar saat itu. Kekuatan roh menyebar luas dan membunuh semua orang dalam waktu cepat. Termasuk mereka yang berada di dalam bangunan. Satu roh berhasil menemukan satu-satunya orang yang bersembunyi di balik rumah-rumah kosong. Orang yang sedari tadi menembakkan panah dari jauh.


Dia dilahap oleh kabut hitam. Kehilangan nyawanya kurang dari lima detik. Xin Chen mengerang, kekuatan itu menjadi semakin tidak terkendali. Ren Yuan memeluknya untuk menenangkan Xin Chen. Saat anaknya membuka mata, Ren Yuan hanya bisa melihat kedua bola mata itu menghitam layaknya lorong gelap tak berujung.


"Chen'er! Sadarlah!" Ren Yuan menepuk pipinya berulang kali. Sementara Xin Zhan terpincang-pincang mendekat ke arah mereka. Semua musuh telah dihabisi, hanya saja saat itu Xin Chen kehilangan kesadarannya.


"Ibu, kita harus pergi dari sini. Beberapa prajurit akan memeriksa. Kekuatan Xin Chen tadi ... Dia seperti mengundang para singa datang kemari."


***


**yuuhu bentar lagi kita akan bertemu di akhir cerita PPI 2 yang akan bersambung ke buku berikutnya (PPI 3). Mungkin bakalan gantung jadi author beritahu dari sekarang aja.


Sudah kubilang cerita ini akan panjang, ini aja udah mau 400 bab malahan. Melebihi perkiraan author yang harusnya cuma 300bab.


Jangan lupa like merata, ya. Sekalian vote, follow, share, komen, dll boleh juga. Thor gak maksa**


Arigathanks!

__ADS_1


__ADS_2