
Langit telah lama menggelap bersama malam berkabut, udara dingin pada dini hari serasa menusuk hingga ke tulang. Di saat semua orang terlelap dalam tidurnya, Xin Chen menggunakan kesempatan ini mereka untuk pergi ke tengah lautan.
Terlebih lagi misinya kali ini adalah untuk menemui Siluman Penguasa Air. Manusia waras mana yang mau mengantarkan mereka ke tempat mengerikan itu.
Ye Long hanya sedikit bereaksi semenjak tadi. Dalam perjalanan ini naga itu terus berdiri di tepi pelabuhan sembari menatap lautan luas di hadapannya. Kota pelabuhan di kota tersebut sudah jauh lebih maju, kerlap-kerlip dari setiap bangunan di kota ini membuatnya semakin lebih indah di tambah lagi dengan suara ombak di malam hari.
"Sudah saatnya kita pergi." Xin Chen menatap Ye Long, "Aku mengandalkanmu!"
"Rrarrgh!" Sayap hitam berkilap Ye Long mengepak, berbeda dengan wujud sebelumnya. Sirip-sirip di punggung Ye Long kini berubah warna menjadi biru muda, mengikuti elemen kekuatan dalam dirinya. Dengan melihatnya saja Xin Chen tahu naga itu jauh lebih kuat dibandingkan dengan saat mereka pertama kali bertemu. Rubah Petir menahan langkahnya.
"Chen."
" Guru Rubah, kau tidak ikut?" Melihat Gurunya itu berdiri di tempatnya tanpa bergerak sedikitpun, Xin Chen tahu Rubah Petir memiliki sesuatu yang tidak ingin dibicarakannya.
'Mungkinkah ini tentang hukuman tersebut hingga Rubah Petir semakin melemah dan harus beristirahat sepanjang waktu?' batinnya, menatap Rubah Petir yang masih setia mematung di tempatnya.
"Oh, kalau begitu kami berangkat. Jaga diri baik-baik, Guru Rumah."
Rubah Petir mengangguk samar dan sesaat kemudian membalikkan badannya berjalan menjauh tanpa sedikitpun melihat ke belakang lagi.
Perjalanan menuju ke tengah lautan dimulai, pantulan bulan di atas perairan menghasilkan pemandangan indah, layaknya berlian yang bertaburan di atas permukaan laut. Tampaknya cuaca malam ini cukup baik, padahal sejak kemarin hujan terus-menerus dan malam ini justru langit begitu tenang.
"Ngomong-ngomong, Ye Long..." Xin Chen mulai terpikirkan sesuatu. "Serius, memang kamu tahu di mana Siluman Penguasa Air ini berada?"
Ye Long bersuara, mengisyaratkan jawaban tidak dengan santainya.
"A-apa?! Aku mana tahu di mana sarang naga itu berada!" Untuk beberapa lama dia mulai tenang dan menarik napas panjang, "Hah... Mau bagaimana lagi, pada akhirnya memang harus berusaha sendiri, ya?"
Xin Chen berhenti berbicara, saat ini yang paling penting adalah mengetahui di mana keberadaan Naga Air yang mereka cari. Dengan memfokuskan konsentrasinya di satu indera penglihatan, dirinya bisa melihat aura yang keluar di sekitarnya.
__ADS_1
Umumnya aura ini beragam tergantung jenisnya, seperti aura manusia atau siluman. Dalam situasi tertentu kedua aura tersebut akan berubah beberapa tingkat dan menjadi aura pembunuh yang kuat.
Hanya butuh beberapa menit untuk mendapatkan titik dengan aura paling kuat di lautan ini, letaknya memang sangat jauh dari daratan dan dibanding itu semua, hanya di titik tersebut ombak sangatlah tenang dan hampir tidak terdengar suara apapun di sekitarnya.
Ye Long memelankan kepakan sayapnya ketika Xin Chen meminta berhenti. Sementara majikannya mengeluarkan sebuah Pusaka yang sangat penting di telapak tangannya.
"Aku, Xin Chen anak dari keturunan klan Xin persembahkan Permata Cahaya Biru ini kepadamu, sang Penjaga Air. Siluman Penguasa Bumi, Shui!!" ucapnya dengan sangat dramatis, berharap naga air itu mengeluarkan diri dari pusaran air seperti di kisah-kisah yang dibacanya.
Suasana hening seperti membunuhnya. Rasanya Xin Chen ingin langit runtuh saja setelah aksi memalukannya tadi.
'Mana naganya?!! Sial, apa cerita itu memang hanya bohongan belaka? Lagipula ayah tidak pernah menceritakannya, mungkin hanya cerita rakyat saja...' batinnya. Hanya helaan napas kecil yang keluar dari mulutnya.
"Sudahlah Ye Long. Aku tidak yakin naga itu mau menampakkan diri sembarangan."
Ye Long semenjak tadi tidak bereaksi, dia terlihat sangat serius dibanding biasanya. Keheranan Xin Chen terjawab saat akhirnya permata di tangannya bersinar terang. Ombak kecil yang semula terlihat tenang mulai beriak, menggulung tinggi seperti akan kiamat.
Seperti biasa, kehadiran sang Siluman Penguasa Bumi selalu mempengaruhi keadaan alam di sekitarnya. Layaknya ketika Rubah Petir mengamuk, badai petir akan datang di belakangnya. Begitupun dengan Shui, hujan deras dengan gelombang tinggi datang tiba-tiba.
Sebuah topan menggulung dari langit ke bawah pusaran laut, si Penguasa Air telah menampakkan dirinya kembali setelah lama tertidur di alamnya. Mata biru menyala miliknya menatap nyalang ke arah Xin Chen, hawa mengintimidasi yang dimilikinya menekan mentalnya terang-terangan.
Ye Long mendesis kencang, tahu bahwa Naga Air memiliki niat mencelakai tuannya. Raungan naga itu sama sekali tidak membuat musuhnya gentar, justru Shui semakin mengeluarkan aura silumannya hingga Ye Long ketakutan.
Naga Hitam tersebut nyaris terjatuh ke air jika dia tak segera menahan aura tersebut ke dalam pikirannya. Insting siluman mengikuti hukum rimba. Siapapun yang kuat dialah yang berkuasa. Secara sadar tak sadar kehadiran Shui membuat Ye Long tunduk dan takut padanya.
"Siapa kau beraninya memanggilku?"
Xin Chen masih sedikit takut, ini bukan pertama kalinya dia bertemu Siluman Penguasa Bumi. Namun entah mengapa aura yang dimiliki Naga Air sangat mencekam. Dia bahkan hampir lupa bahwa gurunya itu adalah satu dari sepuluh mahkluk terkuat di muka bumi. Sama halnya seperti Shui.
"Aku ke sini untuk memastikan sesuatu padamu."
__ADS_1
"Oh, kedengaran seperti kau ingin membayarnya dengan nyawamu?"
"Uhuk! Uhuk!" Xin Chen terbatuk, naga air ini jika dibiarkan lama-lama bisa saja dirinya ditindas.
"Cih, kalau bukan karena permata ini aku tidak akan kemari. Lagipula beberapa Minggu yang lalu harta ini hampir dicuri oleh orang Lembah Para Dewa, bersyukurlah karena aku masih terpikirkan untuk merebutnya kembali."
Shui mengeluarkan tawa remeh, kilatan biru di matanya menyembunyikan kekesalan di dalamnya. "Sebagai manusia kau cukup sombong juga. Memang kau pikir dengan diambilnya permata itu akan menimbulkan masalah? Sudah ribuan tahun aku hidup tanpa benda itu."
"Bukan begitu, naga bodoh..."
Shui sedikit terkejut. "Bodoh katamu?"
Xin Chen agak kesal, ingin sekali dia melampiaskan kekesalannya. "Sebagai makhluk terkuat wajar saja kalian tidak memikirkan resikonya! Kau tahu, kekuatanmu ini jika jatuh ke tangan orang yang salah. Bencana besar akan datang merugikan semua umat. Dan bukan hanya manusia, ras naga, siluman lainnya dan segala apapun di muka bumi ini akan hancur!"
Hening. Tidak ada satupun suara di antara mereka hingga Xin Chen berkata kembali, "Salah satu teman kalian, Naga Kegelapan sedang mengumpulkan kekuatan untuk menghancurkan kita semua. Dan ditambah dengan orang-orang licik yang ingin memanfaatkan kesempatan tersebut.."
"Lalu kau menyalahkan keberadaan kami? Kau marah pada seluruh Siluman Penguasa Bumi?"
"Bukan begitu. Tanpa kalian mungkin entah bagaimana dunia ini akan berakhir. Hanya saja kenapa tidak ada satupun dari kalian yang berpikir untuk menghalangi naga itu?"
Shui tidak menjawab melainkan melemparkan pertanyaan lain. "Kau anaknya si Pedang Iblis itu, kan? Sejak tadi aku sebenarnya hanya mengujimu, tak kusangka kau memang seratus kali lebih keras kepala dari ayahmu. Sialan. Mimpi buruk apa aku malam ini malah kedatangan tamu sepertimu. Hahaha."
"Oi, oi ini bukan waktunya tertawa."
"Dan lagi kau tidak ada sopan-sopannya denganku." Naga Air memasang wajah masam. Dia adalah Naga Air. Siapa yang tidak tahu naga air. Sang Penjaga Air, Siluman Penguasa Bumi, Shui. Apa harus diperjelasnya lagi di depan wajah Xin Chen. Tapi Shui sudah membayangkan jawaban yang diberikan anak itu.
"Terus kenapa?"
Yah, membayangkan ekspresinya saja Shui sudah kesal.
__ADS_1