Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 57 - Pedang Petir


__ADS_3

Wei Feng menendang tangan kera tersebut menggunakan kakinya, berulang kali mencoba tetapi dia tak dapat melepaskan diri. Sementara kini oksigen dalam paru-parunya mulai menipis, jika dalam beberapa saat lagi dia tidak bisa bernapas mungkin tidak ada hari esok lagi untuknya.


Sinar di bola mata Wei Feng mulai memudar, darah kental mengalir dari mulutnya. Sebelum benar-benar kehilangan kesadarannya Wei Feng menyadari ada sebuah kekuatan besar datang, dia dapat merasakan itu meski hanya sesaat.


"Kekuatan seperti ini... Cih, sudah lama aku tak merasakannya..." Wei Feng terjatuh dari cengkraman siluman kera, darah seketika keluar layaknya air mancur ketika tangan sang siluman kera terpotong. Wei Feng tergeletak di tanah dan membuka matanya pelan, melihat kaki Xin Chen dari tempatnya terjatuh.


"Kecambah... Bukan, kau Iblis Kecil..."


Mata Wei Feng terpejam sayu, Xin Chen berdiri melindunginya dari depan. Menatap lekat-lekat sosok siluman kera yang kini telah kehilangan banyak darah sekaligus tangannya, dia mengaum keras. Memperlihatkan deretan gigi taringnya yang tajam-tajam.


Untuk sementara Xin Chen membawa tubuh Wei Feng ke tempat yang aman, kemudian memusatkan perhatiannya pada musuh di depan. Saat kera itu hendak datang menyerang Xin Chen juga melakukan hal yang sama, dia merunduk saat melewati kolong kaki siluman tersebut.


Dengan ukuran tubuh kecil memang Xin Chen lebih gesit. Sangat sulit menangkapnya dengan hanya menggunakan tangan kosong.


Situasi ini membuat siluman kera merasa marah, dia mengamuk makin menjadi-jadi. Menggunakan batang pohon dia menghantamkannya ke arah Xin Chen berlari. Siluman itu sudah kehabisan rasa sabar karena setiap serangannya tembus begitu saja di tubuh Xin Chen.


"Anak kecil sialan..." Geraman yang terdengar berat dari mulut sang siluman keluar, Xin Chen mengeluarkan busur panah dari cincin ruang dan membidiknya ke mata sebelah kanannya. Panah tersebut melesat tajam bersama kekuatan petir. Menancap telak tepat di bola matanya.


Meski harus merusak senjata pusaka bumi seperti itu, paling tidak serangannya tadi memiliki efek. Terlihat siluman itu menjerit kencang, dia kehilangan dua bola matanya sekaligus dan sebelah tangan karena ulah anak kecil itu.


Merasa kekalahan sudah jelas ada di pihaknya siluman kera itu berniat kabur. Jika dikatakan sebagai siluman sebenarnya kera itu berada di tahap awal, bobot tubuh yang amat besar tersebut terbentuk karena terlalu banyaknya dia memakan bangkai manusia yang mati di desa ini bertahun-tahun lalu.


Sewaktu hari pembantaian berdarah di desa ini, di waktu itu pula para binatang kekurangan makanan. Mereka datang ke desa terbuang untuk memakan apa yang tersisa di sana, termasuk bangkai-bangkai manusia yang sudah mati.

__ADS_1


"Melihat gerak-gerikmu sepertinya kau adalah roh yang mengendalikan siluman kera, ya?"


Pertanyaan Xin Chen tak digubris sama sekali, justru lawan bicaranya sudah lebih dulu ambil langkah untuk melarikan diri. Xin Chen tak terima, dia langsung menyerang siluman kera itu tanpa ampun.


"Aku tahu kau juga dulunya manusia! Cepat berhenti atau mau ku patahkan sebelah tanganmu itu!" teriaknya. Tak mau mendengar apa kata Xin Chen langkah siluman Kera malah semakin kencang berderap.


Xin Chen mengembuskan napas berat, dia mengeluarkan kekuatan petir dari tubuhnya. Membentuk sebuah busur petir dalam genggaman. Meski tidak memiliki senjata Xin Chen masih bisa memanfaatkan kekuatannya dengan caranya sendiri.


Lengan Petir yang diajarkan oleh Rubah Petir kini berkembang menjadi Pedang Petir dan Panah Petir. Tanpa mengeluarkan senjata sebenarnya dia masih bisa bertarung imbang.


Akan tetapi justru bertarung dengan cara ini memiliki dampak buruk pula, telapak tangan Xin Chen mulai menghitam akibat loncatan listrik di tangannya. Dan mungkin sebentar lagi dia akan mencapai batas kemampuan tubuhnya karena terlalu banyak menggunakan kekuatan.


Anak panah petir menembus batang pohon yang menghalangi jalan dan menikam sang siluman kera tepat di jantung, kera itu seketika tumbang dengan aliran listrik masih menyetrum tubuhnya. Xin Chen datang melihat kondisi siluman itu, meskipun awalnya siluman itu sangat mengerikan akan tetapi kemampuannya bertarung juga tidak bisa dibilang baik. Mungkin jika disetarakan dengan manusia hanya sampai kekuatan pendekar kelas teri.


Xin Chen sekali lagi memastikan siluman kera itu, dia sudah tewas beberapa detik yang lalu. Matanya terbuka lebar-lebar, Xin Chen segera menutupnya dan beranjak pergi menuju Wei Feng.


"Hmm... Aku seperti melupakan sesuatu." Xin Chen kembali lagi mengelilingi sekitar sembari berpikir keras.


"Biasanya yang namanya siluman pasti mempunyai permata, tapi di mana?" gumamnya kecil. Dia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, bersiap membelah tubuh siluman itu menggunakan ujung tangan petirnya.


Tubuh siluman kera hanya terbuka setengah karena memang tenaga dalam Xin Chen tersisa sedikit, rasa jijik terasa di saat tangannya malah mengorek usus siluman itu. "Argghh ini lebih menjijikkan sepuluh kali lipat daripada melihat otak manusia."


Ketika tangannya menyentuh sebuah bola kecil terasa di dekat organ tubuh tersebut Xin Chen segera menariknya, betapa terkejutnya anak itu saat melihat sebuah bola mata yang sedang menatapnya. Yang diambilnya tadi adalah bola mata manusia.

__ADS_1


"Semoga saja pemilik mata ini tidak menggentayangiku. Si kera tua ini, sebenarnya sudah berapa banyak manusia yang dimakannya?" gerutu anak itu, kali ini dia tidak salah pilih lagi. Sebuah permata kecil berhasil didapatkannya.


"Tapi... Permata kelas rendah ini dengan seratus perunggu saja sudah bisa kudapatkan. Kalau siluman kelas rendah saja sudah semengerikan ini bagaimana dengan raja hutannya nanti?"


Pemikiran itu terlintas sekelebat di kepalanya, Xin Chen berniat mencari sungai untuk membersihkan dirinya dari darah siluman ini. Aroma pertarungan yang sejak awal tercium olehnya kini kembali terasa.


Kelihatannya memang ada dua Siluman kuat sedang bertarung, jaraknya memang agak jauh dari tempat Xin Chen berdiri.


Usai membersihkan diri Xin Chen mendatangi Wei Feng di tempat yang dia sembunyikan tadi. Dalam sebuah goa kecil yang tertutup oleh batang pohon tumbang. Baru sebentar dia sampai ke sana, napas Xin Chen kembali mendengus berat.


"Kak Wei, kau ini sebenarnya benar-benar pingsan atau sedang tertidur?" tanya Xin Chen, mana ada orang pingsan dengan tangan menopang ke samping kepala seperti itu. Lebih terlihat seperti orang yang sedang tertidur santai pada pagi hari di sarang siluman.


"Hei aku menemukan sekantong emas di sini. "


Mata Wei Feng terbuka lebar seperti dugaan Xin Chen, dia bangun untuk melihat sekitarnya, mencari-cari emas yang dimaksud.


"Mana? Mana? Mana?!"


"Kepala siluman lah emas kita."


"Ah... Malas. Lebih baik tidur siang," jawab Wei Feng datar. Dia melipat dua tangannya di bawah kepala sebagai bantal. Sikap anti repot ini membuat Xin Chen geram. Padahal secara umur dia lebih muda daripada Wei Feng tapi entah kenapa pria itu pemikirannya masih setara dengan anak-anak kecil.


"Ya sudahlah, kalau nanti datang siluman memakanmu jangan memanggilku lagi."

__ADS_1


Xin Chen berlalu begitu saja mencari buruannya untuk mengumpulkan permata siluman, jika dihitung-hitung juga selain mendapatkan 5000 keping emas dari Gu Long, dengan mengumpulkan permata siluman ini keuntungan yang didapatkannya akan bertambah dua kali lipat. Tidak bisa dipungkiri lagi, dengan permata-permata itu Xin Chen yakin akan mendapatkan setidaknya sepuluh ribu keping emas.


__ADS_2