Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 34 - Sejarah Lama


__ADS_3

Sejak meninggalkan rumahnya Xin Chen tahu kini tak ada lagi tempat aman untuk dirinya sendiri, tak selamanya dia bisa menetap di sana bersama keluarga. Maka dari itu Xin Chen memberanikan diri, mungkin untuk waktu yang belum bisa ditentukan. Perjalanan misi bersama Rubah Petir kali ini tampaknya akan memakan waktu lama.


Jembatan mulai terlihat di ujung mata sehingga Xin Chen mempercepat laju langkahnya, melihat Rubah Petir kini telah menunggunya sendirian di sana.


Badan rubah tersebut berbalik saat merasakan seseorang mendekat, dia melihat Xin Chen dari atas ke bawah.


"Kau sudah siap berangkat?"


"Ya, aku siap. Guru."


Seperti ada yang salah Rubah Petir mengalihkan perhatiannya ke tempat lain, hidung tajam Rubah Petir dapat merasakan sesuatu datang bersama Xin Chen ke tempat ini.


"Tidak perlu bersembunyi begitu, tunjukkan dirimu serigala tua!"


"Grrhhh!" Lang meloncat tinggi ke tempat mereka, Xin Chen bergidik ngeri saat melihat bayangan tubuh besar serigala hendak menimpanya. Dia bergeser dari tempatnya secepat kilat.


"Siapa yang kau sebut serigala tua?" geramnya sedikit mengancam, bola mata keemasannya berkilau terbias matahari pagi. Walaupun tampak indah tapi jika dilihat saat dia sedang marah justru mata Lang lebih mengerikan daripada melihat ibu-ibu marah.


"Ha-ha-ha dasar serigala tua, masih tidak mau mengaku juga." Rubah petir tertawa lebar. "Kau mengikuti kami sejak awal, bukan?"


Lang mendengus kesal, padahal dia sudah menyembunyikan diri sebaik mungkin tapi si Rubah Petir masih mengetahui keberadaannya. Hanya Xin Chen yang benar-benar tak tahu soal ini.


"Terserah apa katamu, aku datang ke sini–"


"Karena ingin ikut? Ha-ha-ha!" Rubah petir tertawa renyah lagi dan lagi, senang sekali membuat dahi Lang berkerut-kerut seperti sekarang. "Sayangnya muridku tak membutuhkan pertolonganmu. Lang, ada banyak hal lain yang bisa kau lakukan. Setidaknya ikuti saja majikan aslimu."


Terdengar berat hati Lang saat menjawab omongan si rubah, "Kurasa dia juga sudah tak membutuhkanku."


"Dia sangat membutuhkanmu, Lang. Ayah selalu mengandalkanmu, hanya saja sekarang ini dia tidak ingin membuat lukamu semakin parah." Xin Chen menenangkan serigala tersebut sembari menunjuk arah perut Lang menggunakan dagunya. Bekas luka sayatan yang dalam itu terjadi dua tahun yang lalu saat pertempuran melawan agensi gelap dari Kekaisaran lain. Dia bertempur bersama prajurit tanpa adanya majikan.


Karena hal itulah yang membuat Lang merasa dia mulai tak dibutuhkan, hanya menuntaskan misi-misi tak penting bersama para petarung lainnya.


"Aku menghargai kebaikanmu, Lang... Tapi aku juga tidak bisa mengizinkanmu ikut, suatu saat pasti Ayah akan membutuhkanmu."

__ADS_1


Lang memalingkan muka, "Memangnya siapa yang ingin ikut denganmu?"


Rubah menutup mulutnya dengan tangan, matanya hampir tak terlihat lagi karena keasyikan tertawa. "Ini seperti melihat adegan seorang anak kecil yang ingin ikut dengan ibunya ke pasar, ha-ha-ha!"


"Diaaamm!"


Xin Chen tak mengerti mengapa dua siluman ini senang sekali ribut, dia cengengesan dengan wajah bodoh.


Tak lama Lang mengeluarkan sebuah ikat kepala dari tas yang melingkari tubuhnya, bertuliskan Nomor Satu yang telah menjadi legenda bertahun-tahun. Banyak pendekar hebat yang berusaha mencabut ikat kepala ini dari pemiliknya dan dari ratusan orang itu semuanya tak pernah berhasil.


"Ikat kepala ini..."


"Di ikat kepala itu simbol dari sebuah kepercayaan, harga diri serta kehormatan. Jangan pernah korbankan itu semua saat kau ketakutan. Itu yang Ayahmu katakan kepadaku saat memberikannya padaku."


"Ayah..." Xin Chen menerima ikat kepala itu, sementara pikirannya tertuju ke tempat lain.


"Dan ambillah tas ini."


Xin Chen mendelik ke arah Lang, serigala itu menyerahkan tas yang selalu dibawanya setiap saat, walaupun sepintas terlihat kesedihan di matanya.


"Terimakasih, Lang." Xin Chen mengenakan tas tersebut dengan senang hati, beda halnya dengan Rubah Petir, tampaknya dia masih senang mengolok-olok Lang.


"Hoho... Karena sudah tua kau sudah tak mau lagi berpetualang ya, serigala dekil. Bagus juga kau ini, orang tua yang tahu diri, sadar umurmu sudah terlalu tua untuk mengembara seperti dulu."


"Grrhhh rubah sialan ini daritadi mengejekku!" Lang bersiap-siap menerkam, sejak tadi dia berusaha menahan diri karena tahu kekuatan Rubah Petir sepuluh kali di atasnya. Tapi kali ini atas nama besarnya sebagai Serigala Pengembara, Lang takkan mau harga dirinya yang selangit diinjak-injak oleh Rubah Petir.


"Chen, kabur! Kabuur! Orang tua sudah marah, ha-ha-ha!" Rubah Petir menarik tangan Xin Chen secepat mungkin dan menghilang begitu saja di dalam hutan rimba. Membuat si serigala ingin sekali memaki-maki.


"Bedebah Petir!! Awas kau!"


**


Rubah Petir memberhentikan laju berlarinya ketika mereka melewati hutan bambu, terdapat bekas lelehan lilin di sekitar tempat itu yang masih kelihatan baru. Mungkin semalam seseorang meletakkan lilin di tempat tersebut. Entah itu untuk persembahan atau hal lain.

__ADS_1


Merasa di sana tempat yang pas untuk beristirahat Rubah Petir memilih berhenti sejenak, selagi itu Xin Chen mulai mempelajari kitab-kitab yang dia bawa dari cincin ruang.


"Xin Chen, di mana kau meletakkan Topengmu itu?" mata Rubah Petir mengawasi Xin Chen sangat teliti, tidak menemukan barang yang dia sebut tadi.


"Ah, itu. Aku menyembunyikannya di cincin ruang." Xin Chen baru saja mengingatnya, dia mengeluarkan benda itu buru-buru. "Ini. Memang untuk apa?"


"Kita harus membicarakan sesuatu dengan penghuni topeng ini." Rubah Petir lekas mengambilnya, menunggu roh wanita muncul. Beberapa detik yang dia tunggu memunculkan dirinya, menguap lebar-lebar.


"Pagi terik seperti ini mengganggu tidurku, memangnya ada urusan apa?"


Rubah menyahutnya, "Ini tentang Baja Phoenix yang kau bilang itu. Boleh aku tahu benda apa itu sebenarnya?"


"Baja Phoenix, ya..." Roh tersebut seperti sedang mengingat-ingat lebih dulu. Berselang tiga detik terdengar jentikan jarinya, seperti baru saja menerima petunjuk.


"Mau dengar cerita panjangnya atau pendek saja?"


"Yang pendeknya?" Xin Chen mengusulkan.


"Baja Phoenix sebuah lambang kehormatan." Roh tersebut berhenti berbicara, membuat Rubah Petir dan Xin Chen saling menatap.


"Versi panjangnya?"


"Baja Phoenix adalah lambang kebajikan, bentuk dari kehormatan dan arti dari kebijaksanaan."


"Tidak bisa dipersingkat yang penting-pentingnya saja?" Rubah Petir menyela, "Kami tak memiliki waktu seharian untuk mendengarmu."


"Ya sudahlah, aku balik tidur saja!" Wajah roh yang sebelumnya bersemangat berubah jengkel, dia menunjukkan sikap kesalnya dengan berlebihan.


"Baiklah kami akan mendengarnya, ceritakan tentang Baja Phoenix."


"Hem... Baja Phoenix, Kitab Tujuh Kunci, Pedang Kaisar Langit adalah wujud dari sosok pemimpin. Han Zilong menyebutnya sebagai Dewa Keadilan sedangkan senjata lain yang dia ciptakan adalah wujud dari Dewa Iblis."


Rubah Petir berbisik pada Xin Chen, "Dia benar-benar menceritakannya panjang lebar. Ini salahmu."

__ADS_1


"Memangnya tidak bisa dikatakan yang penting-pentingnya saja?"


"Kau mau dia marah?"


__ADS_2