Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 144 - Wanita Sekte Bunga


__ADS_3

Xin Chen tersenyum tipis, dalam hati dia mengutuk Li Yong. Baru saja terpikirkan olehnya untuk langsung pergi dari Kuil Teratai lelaki itu malah menahannya. Keramaian di sekitar ini tidak cukup bagus, padahal dia sengaja menyembunyikan kekuatan agar tak sampai didengar oleh orang-orang dan malah jadi topik pembicaraan.


Terlanjur dipanggil begini Xin Chen juga tak bisa mundur, dengan langkah berat dia maju ke depan. Sebuah arena telah dipersiapkan dengan ukuran yang cukup luas, di samping mereka para penonton berdiri sambil menyoraki jagoan mereka.


Dan dari sekian banyaknya, tidak ada yang meneriaki nama Xin Chen.


"Di sebelah kiri kita, salah satu jenius dari sekte Bunga, Nona Fu Yu akan berhadapan langsung dengan salah satu murid Lembah Kabut Putih, yang juga merupakan anak kedua dari Pilar Kekaisaran pertama! Xin Chen!" teriak pembawa acara bersemangat, keriuhan makin terjadi di tengah-tengah murid. Satu sama lainnya berbisik-bisik, entah apa yang mereka ributkan.


Sekali lagi Xin Chen merasa tidak peduli dengan pendapat orang-orang akan dirinya. Terserah. Dia pun ingin segera hengkang dari pandangan mereka semua. Ditariknya napas perlahan sebelum menatapi lawannya, Fu Yu. Gadis yang semalam bersama Ye Long saat musuh datang.


"Baiklah, tanpa menunda lagi... Pertarungan terakhir, dimulai!" Pembawa acara menggerakkan tangannya pertanda duel telah dimulai. Baik Fu Yu ataupun Xin Chen tidak ada yang mau bergerak. Pertarungan sudah berlangsung dua menit, semuanya kebingungan. Xin Chen tidak menarik pedangnya. Sementara Fu Yu, gadis itu tak berani menyerang lebih dulu.


Melihat Guru Besarnya telah mengisyaratkan bahwa dia harus menyerang duluan. Fu Yu mengangguk kecil, sebuah pedang tipis nan tajam ditariknya tanpa ragu, ukiran bunga menghiasi gagang pedang tersebut. Saat gadis itu menarik pedangnya semua perhatian tertuju padanya. Pergerakan lembut tapi berbahaya sudah menjadi ciri khas dari murid-murid sekte Bunga.


Meskipun banyak mempelajari tentang ilmu pengobatan namun dalam pertarungan murid mereka dapat diperhitungkan.


Terutama Fu Yu, sebagai salah satu murid kebanggaan tentu gadis itu takkan membuat malu gurunya. Dia akan berupaya keras untuk memenangkan pertandingan ini, walaupun harus mengalahkan anak dari Pedang Iblis.


Baru saja hendak mengeluarkan serangan pertama, Xin Chen sudah mengangkat kedua tangannya sambil berkata datar. "Baiklah aku menyerah."


Terjadi keheningan untuk sementara waktu, Fu Yu tidak merespon dan hanya terdiam heran. Melihat tidak ada yang berbicara Xin Chen berkata lagi, "Apa aku mengatakannya dengan jelas? Aku menyerah, Nona Fu Yu adalah pemenangnya."

__ADS_1


Juri yang berdiri di tengah mereka juga tak bisa menyalahkan Xin Chen jika dia benar-benar ingin menyerah, hanya saja melihat kondisi Xin Chen yang masih bugar dan tanpa luka membuatnya ragu menghentikan pertandingan. Anak itu masih bisa bertarung, tidak ada alasan baginya untuk mundur dari pertarungan.


Rupanya kata-katanya tadi telah membangunkan singa yang sedang tidur, Guru Besar sekte Bunga, Su Zhen bangkit dari tempat duduk yang dikhususkan untuk para wakil murid. Dengan wajah murka tentu saja dan dia sama sekali tak berniat untuk memelankan suaranya.


"Apa kau sedang meremehkan murid dari sekte kami?"


Tidak seperti yang diharapkan Xin Chen, bukannya cepat keluar dari tempat ini dirinya justru terlibat masalah baru. Berurusan dengan wanita memang bukanlah hal yang mudah.


"Aku hanya sedang kurang sehat hari ini dan tak mau merepotkan yang lain."


"Patriark Li sudah menyuruhmu bertarung melawan muridku, lantas begitukah caramu untuk menghadapinya? Kau begitu sombong sebagai anak dari orang terhebat di Kekaisaran ini... Kuberikan tepuk tangan yang meriah untukmu.." Su Zhen bertepuk tangan, suasana hening nan mencekam mengisi siang itu.


Su Zhen memelototkan matanya kesal, bulu mata lentiknya bahkan hingga terlihat jelas. Siapapun yakin bahkan setan pun akan merinding jika melihat wajah mengerikan itu.


Li Yong menggeleng pelan, situasi menjadi semakin buruk. Dia angkat bicara sebelum masalah kian panjang. "Mewakili murid Lembah Kabut Putih, Guru Besar Su, maafkan kelancangannya tadi. Kami akan mendidiknya lebih keras lagi nanti."


"Tch kau suruh saja pada Ayah Ibunya untuk mendidiknya sopan santun."


Dikatai seperti itu jelas saja Xin Chen tidak terima, seketika Li Yong ingin sekali menyeret anak itu pergi dari arena.


"Tch, kalau begitu sepertinya kau juga butuh diajarkan sopan santun dengan Ayah Ibuku. Berkeberatan?"

__ADS_1


"Kau-!?" Kuku panjang Su Zhen menunjuk Xin Chen geram. "Jika kau merasa sangat hebat, lawan aku sekarang juga!"


"Memang kau kira aku takut? Seujung kuku pun tidak."


Fu Yu memperhatikan Gurunya dan Xin Chen bergantian dengan cemas, seharusnya ini pertarungannya. Mengapa Su Zhen turun tangan dalam pertandingan ini.


"Fu Yu! Turun, biar gurumu ini memberikan pelajaran padanya!"


"Ba-baik Guru." Fu Yu segera turun, tak berani mengusik gurunya jika sedang terbawa emosi. Sebagai salah satu Tetua di sektenya, wanita itu terkenal buas dan memiliki temperamental dangkal. Siapa saja dihadapinya jika mengusik ketenangannya.


Semenjak kecil wanita itu sudah dilatih disiplin, tekun dan juga keras. Dengan ketekunannya itu dia diangkat sebagai Tetua ke-20 yang bisa dibilang cukup hebat. Bahkan dibandingkan dengan Huang Kun, wanita itu jauh lebih unggul dalam pertarungan jarak dekat.


Li Yong pun tak berniat ikut campur lagi terutama setelah melihat Su Zhen emosi, membiarkan Xin Chen mengurus masalahnya sendiri. Sebenarnya dia sangat penasaran dengan ilmu pedang Xin Chen, mendengar beberapa tahun lalu anak itu sama sekali tak memperlihatkan kemajuan dalam latihannya.


Dan tampaknya Su Zhen tahu benar siapa Xin Chen, tatapan meremehkan sama sekali tak disembunyikan. Keadaan yang semula damai tiba-tiba gaduh, banyak yang menyayangkan perilaku Xin Chen tadi, terutama dari kalangan murid sekte Bunga.


"Cih, dia itu sombong sekali. Andai dia tahu Guru Su Zhen bahkan bisa menumbangkan tiga lelaki dewasa sekaligus hanya dengan tangan kosong. Tapi kurasa pemuda berkepala batu sepertinya hanya tahu membangkang," tutur teman seperguruan Fu Yu, dia menutup mulutnya dengan kipas kecil. Takut suaranya terdengar di arena.


Fu Yu menatap-natap cemas ke panggung arena, berharap gurunya itu tidak benar-benar serius mencelakai Xin Chen. Jika mengamuk, walaupun latihan ini dikhususkan hanya untuk menampilkan kemampuan bela diri namun di mata Su Zhen pertarungan ini sama dengan pertarungan hidup dan mati. Ada kemungkinan Xin Chen takkan selamat hidup-hidup jika berurusan dengannya.


Meski dengan berat hati menyetujui pertarungan ini, juri tetap mengizinkan Su Zhen untuk bertarung melawan Xin Chen. Pertarungan akan dimulai dalam beberapa menit lagi.

__ADS_1


__ADS_2