Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 342 - Kemenangan


__ADS_3

"Tidak ada aturan yang mengatakan kelompok yang lebih unggul lolos dari seleksi ini."


Xin Chen tak menangkap kepedulian anggota kelompoknya yang hanya memedulikan keselamatan nyawa sendiri. Kemenangan mereka sudah di depan mata. Dan semuanya menganggap Wei Feng adalah sumber gagalnya mereka semua.


"Dia ini sebenarnya berpihak pada kelompok mana?"


"Musuh tetaplah musuh. Kami tidak mau karena kalian kami juga harus menanggung akibatnya!"


"Aku tahu kau kuat tapi ini tidak adil untuk kami yang sudah berjuang mati-matian demi selamat dari seleksi ini!"


Protes tetap keluar dari mulut mereka. Bahkan tak sedikit yang terang-terangan menyerang Wei Feng sampai bermain keroyokan. Baik Youji dan Yu Xiong saling memasang posisi melindungi teman mereka yang masih setengah sadar itu. Dia membutuhkan pertolongan segera diakibatkan pendarahan yang tidak kunjung berhenti di tangan.


"Hanya seratus orang yang dapat lolos di seleksi ini, jika kalian merasa jumlah yang selamat lebih dari seratus maka aku dan teman-temanku bersedia mundur. Tapi jika yang selamat kurang dari seratus dan kalian masih juga menganggap ini kesalahan, aku tidak segan-segan membunuh kalian."


Semuanya terdiam dan menghitung semua peserta yang selamat. Bahkan jumlahnya jauh dari angka seratus. Hanya tersisa tujuh puluh tujuh orang termasuk Wei Feng yang bertahan. Mereka tidak tahu apa yang dikatakan Xin Chen benar atau tidak hanya saja dengan melihat sekitar mereka langsung mengerti. Biasanya jika ada yang diseleksi maka prajurit akan turun langsung membunuh mereka yang gagal. Tetapi kali ini tidak, justru Jenderal-18 berdiri dan bertepuk tangan. Diikuti oleh tamu-tamu militer lainnya.


"Selamat untuk ke tujuh puluh tujuh orang yang berhasil lolos melewati seleksi ini!"


Seperti yang sebelumnya, keributan terjadi hingga seluruh tempat dipenuhi oleh kegaduhan yang tidak kira-kira. Semua peserta hanya dapat melihat ke arah bangku penonton dengan keadaan yang tak jauh berbeda. Terluka, berdarah dan beberapa di antara mereka nyaris sekarat. Yu Xiong dan Youji berhasil melewati seleksi ini dengan cara yang sedikit curang. Sebenarnya mereka hanya meniru apa yang orang-orang lain lakukan; membunuh musuh yang dibuat sekarat oleh Yung Qi sebelumnya.


Pada akhirnya mereka berempat saling merangkul, gegap gempita di depan sama sekali tidak mereka pedulikan. Terlebih lagi Wei Feng yang langsung berbaring di arena. Youji berjongkok sambil terus menekan luka besar di bagian tubuhnya. Darah dari sana masih terus keluar di sepanjang pertarungan. Xin Chen menoleh pada Yu Xiong yang menatap ke depannya dengan penuh percaya diri. Sekali dalam seumur hidupnya, Yu Xiong merasa dirinya seperti seorang pahlawan yang baru saja kembali dari medan perang.


"Terima kasih sudah menjaga mereka."


Yu Xiong menaikkan sebelah alis sambil melihat ke belakang di mana Wei Feng dan Youji segera dibawa ke tenda untuk diobati. Cengirannya melebar dengan ceria.

__ADS_1


"Sepertinya aku memang tidak akan bisa menjadi orang sepertimu."


Yu Xiong melihat Xin Chen masih dengan kekaguman, tatapan yang sama seperti dulu ketika dirinya masih kecil.


Di pertarungan tadi Yu Xiong berkali-kali ketakutan hingga kakinya bahkan sulit untuk digerakkan. Tetapi ketika dia melihat Xin Chen berduel melawan Yung Qi, dia merasa dirinya bisa melakukan hal yang sama. Meski pun pada kenyataannya Yu Xiong hanya dapat membunuh musuh yang tidak berdaya.


Tangannya yang dipenuhi darah dikepalnya, "Tapi aku tidak ingin menyerah sekarang. Aku akan merubah impianku saja. Aku ingin menjadi orang hebat yang berjalan di belakangmu. Rasanya lebih keren dari impianku untuk menandingimu, Kak Chen."


"Kau hanya butuh dua hal untuk mencapai itu semua."


Yu Xiong langsung menjawab dengan semangat. "Beri tahu aku!"


"Keberanian dan sedikit kegilaan."


Yu Xiong langsung pasrah mendengar itu, semangat yang tadinya berapi-api seketika hancur.


Tanpa mereka sadari semua orang telah beranjak untuk beristirahat dan merawat luka. Tiga bendera merah berkibar di ujung arena, beberapa prajurit menaikkannya untuk merayakan kemenangan kelompok merah. Yu Xiong sedikit berpikir, dia merasa tak mengerti dengan cara seleksi Kekaisaran Qing.


"Apakah situasi perang sama seperti ini? Musuh yang kalah masih bisa selamat walaupun dia tidak menang?"


"Kenyataannya iya."


Kepala Yu Xiong menggeleng. "Aku tidak mengerti sama sekali."


"Misalkan saat peperangan terjadi kau pingsan di antara tumpukan mayat. Tidak ada yang menyadari kau hidup atau tidak. Kau hanya bisa selamat jika musuh tidak membakar mayat-mayat yang sudah tewas."

__ADS_1


"Begitu ... Aku pikir Kak Wei tidak akan selamat jadi aku meminta Kak Youji untuk melindunginya. Aku tahu Kak Chen selalu punya cara sesulit apa pun situasinya."


Xin Chen terdiam untuk beberapa saat.


"Ada waktunya aku hanya terdiam seperti orang bodoh saat orang yang ku anggap berharga berada dalam bahaya."


Di mata Xin Chen arena yang dipenuhi dengan mayat kini mulai terlihat seperti Kota Renwu yang dulu. Api biru menjalar membakar rumah dan bangunan tinggi hingga tak menyisakan abu. Jeritan dan dentuman hebat mendengung di telinganya. Bayangan saat ayahnya datang dan mengatakan ingin pergi demi menjaga perdamaian hari itu kembali terulang.


Tidak terbayangkan lagi jika perang yang hari itu menimpa Kota Renwu kembali terjadi. Melumpuhkan Kekaisaran Shang yang sedang berada di titik terbawah. Ren Yuan dan Xin Zhan tak akan mungkin bisa bertahan jika perang seperti tujuh tahun kembali terjadi tanpa kehadiran Pedang Iblis. Tangannya terkepal.


'Apakah aku yang akan menggantikan peran Pedang Iblis jika waktu itu datang?'


"Kak Chen," panggil Yu Xiong untuk yang ke sekian kalinya.


Saat melihat dengan jelas, Yu Xiong dapat melihat Xin Chen membuka matanya yang biru. Seperti terlihat kobaran api biru di dalamnya. Saat itu Yu Xiong tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Xin Chen hanya saja dia khawatir, terlebih lagi saat melihat dua orang datang ke arah mereka.


"Kak Chen!"


Yu Xiong merinding ketika mata itu menyorotinya, dia tidak mau mencari masalah. Jari telunjuknya mengarah diam-diam ke tempat di mana Jenderal-18 dan Yan Xue tengah berjalan. Masih agak jauh tapi jelas saja tujuan mereka berdua adalah mendatangi Xin Chen. Wajah Yu Xiong menjadi pucat, dia sebisa mungkin memalingkan muka agar wajahnya tidak dikenali oleh dua orang tersebut.


"Kalau kau mau pergilah, pastikan Kak Wei dan Kak Youji baik-baik saja selama aku tidak ada. Mereka pasti akan mencari tahu identitasku dari kalian. Jangan mengatakan apa pun tentangku pada orang lain. Paham?"


"Mengerti." Langkah Yu Xiong sedikit tertahan. "Jika mereka menawarkan sesuatu ... Apa kau akan menerimanya?"


"Aku akan melihat situasi lebih dulu."

__ADS_1


Yu Xiong mengangguk dan langsung pergi dari hadapannya tepat saat Jenderal-18 dan Yan Xue tiba. Sama-sama memandang Xin Chen dengan tajam.


__ADS_2