
Wanita itu hanya menatap Xin Chen tajam tanpa melanjutkan pembicaraan, sekitarnya dihiasi oleh cahaya hijau yang aneh. Dalam sepersekian detik setelahnya, ratusan kertas mantra beterbangan ke arah Xin Chen. Begitu cepat sehingga sulit dilihat dengan mata biasa, bahkan dengan begitu lebatnya hutan di sekitar mereka tak menghalangi pergerakan benda itu sama sekali.
Xin Chen belum begitu pasti dengan kekuatan lawannya; Yuhao. Dia hanya bisa mundur sejenak sambil mempelajarinya. Hanya itu satu-satunya cara jika tak ingin mengambil resiko melawan musuh alaminya itu. Kertas-kertas mantra muncul dari mana saja, di bawah kaki hingga di balik-balik dedaunan pohon. Jumlah yang sangat banyak itu membuatnya tak habis pikir.
'Sebenarnya seberapa banyak nenek ini menciptakan kertas mantra untuk menghabisi ku?' batinnya saat berhasil melihat pergerakan Yuhao yang terus tertutupi oleh batang pohon, wanita itu tak melepaskan pandangan ke arahnya walau sedetik pun. Jurus Mantra Pembunuh di tangannya terus mendesak Xin Chen hingga mereka tiba di sebuah tempat yang agak jauh dari YuangXe.
Tempat itu berada tepat di atas jurang tinggi, hanya bebatuan berlumut yang menjadi pijakan di atas sana. Mantra Yuhao menyambut dari berbagai sisi ketika dirinya menghilang tepat di ujung jurang.
Yuhao mencari sekitarnya dengan cepat, sebagai sesama pengguna roh seharusnya dia dapat melihat wujud roh lainnya. Namun kali ini, entah apa yang terjadi hingga matanya pun tak dapat menangkap ke mana pemuda itu pergi.
"Mencariku?"
Yuhao kontan mendelik ke belakang dengan tangan hendak melemparkan mantra, tetapi pergerakan itu tak berjalan mulus sebab cakar roh dari bawah kakinya seketika mengunci pergerakannya. Yuhao tak begitu terlihat panik, bahkan saat Xin Chen hendak menyerangnya dia tetap bergeming di tempat.
Belum sempat mengenai Yuhao, cakar roh musnah dalam satu kedipan mata. Konsentrasinya sempat terpecah saat jurus itu hancur dalam sekejap mata, tanpa disadari Yuhao sudah ambil ancang-ancang untuk membunuhnya.
"Kitab Pembasmi Roh - Jalur Hitam."
__ADS_1
Bebatuan jurang retak saat lima garis hitam tercipta dari tempat Yuhao berdiri. Garis hitam tersebut dalam seketika berubah menjadi huruf kuno yang menyebar di sekitar hutan. Yuhao mengunci tempat tersebut dalam jarak lima ratus meter, tak membiarkan pengguna roh mana pun lolos dari tempat tersebut.
Segel mantra itu diciptakannya dulu saat pembantaian ribuan pengguna roh di Kekaisaran Qing. Wanita itu telah lama menjadi pembantai, meski pun tangannya tak berlumuran darah. Namun jumlah nyawa yang telah dihabisinya tak bisa dihitung lagi.
Segel yang diciptakan Yuhao membuat hutan itu seolah-olah terlindungi oleh sesuatu. Sesuatu yang mengerikan tengah terjadi di dalamnya, dalam jarak seluas itu Yuhao masih dapat mengetahui pergerakan di tempat yang telah ditandainya. Hanya beberapa pendekar yang melarikan diri akibat melihat cahaya hijau aneh. Serta aura mencekam yang mengganggu kewarasan mereka.
Xin Chen tak tampak lagi usai itu, membuat Yuhao geram. Setengah jam berlalu sia-sia tanpa adanya pertarungan.
"Pengecut, kalau kau memang takut mati katakan! Jangan bersembunyi saja seperti tikus!"
"Asal kau tahu aku orang yang paling susah mati."
Sebelum sempat menoleh sempurna, sebuah hantaman keras mengenai kepalanya. Membuat wanita itu terpental, walau tak lebih dari seratus meter sebab Yuhao kembali mendapatkan keseimbangan dan langsung menyerang balik setelah mengetahui posisi musuh.
Tak bisa dipungkiri bahwa Yuhao memang lawan yang tangguh, setiap serangan yang diberikannya akan dibalas dua kali lipat. Memberi tahu keberadaannya adalah kesalahan fatal. Kawasan ini sepenuhnya miliknya dan Xin Chen tak dapat bergerak sembarangan di kawasan musuh.
"Cih, aku sudah menduganya semenjak mendengar kematian Zhang Ziyi. Kau akan menjadi sosok yang haus kekuatan. Lihat, sekarang? Kau mencari-cari pusaka dan mengumpulkan pasukan besar. Demi apa semua itu? Demi kesombongan dan keserakahan? Untuk itulah aku selalu datang ke kuil untuk mendoakan kematianmu."
__ADS_1
Sejak dulu Yuhao sudah mengenali berbagai sifat manusia. Keserakahan adalah sesuatu yang tidak bisa terlepaskan dari nalurinya. Saat telah mendapatkan sesuatu maka mereka akan berambisi lebih besar. Tak pernah merasa bahagia dan terus menuntut untuk lebih. Begitu pula dalam hal kekuatan. Sayangnya beberapa dari mereka terjerumus ke jalan yang salah demi mendapatkan kekuatan yang besar.
Di matanya Xin Chen tak lebih dari Zhang Ziyi. Saat masih muda dulu, Zhang Ziyi berguru di sekte di mana Yuhao berada. Dia tampak seperti pemuda ceria dan berpotensi. Menekuni jalan yang lurus, mencari kesalahannya adalah hal yang sulit. Zhang Ziyi yang dulu, bagi Yuhao adalah satu-satunya generasi yang patut untuk dicontoh.
Namun beberapa tahun sesudah kematian putrinya, pembantaian para pengguna roh dimulai. Perang yang dikumandangkan bawahan Yuhao menjadi semakin besar. Kitab Pembasmi Roh di tangannya dan juga Kitab Pengendali Roh yang dimiliki salah satu pengguna roh terkuat pada masa itu bertemu. Pertarungan itu membuat pemimpin itu tumbang sehingga para pengguna roh lain melarikan diri.
Setelah itu Kitab Pengendali Roh diberikan ke tangan Zhang Ziyi, orang yang paling lurus yang pernah dikenal Yuhao.
Namun kekuatan dari kitab itu ternyata jauh lebih besar dari perkiraannya, hal itu tanpa sadar menggelapkan hati Zhang Ziyi yang putih. Dia menggila oleh kekuatan. Semakin banyak dia memperbanyak pasukan roh, semakin takut pula orang-orang terhadapnya. Dan hal itu membuat Zhang Ziyi puas. Dia membenci latihan keras yang membuat sekujur tubuhnya lebam. Dia lebih menyukai cara membunuh diam-diam, memperkuat diri dengan menumbalkan nyawa orang lain.
Hal itu membuat Yuhao murka, Zhang Ziyi semakin menjadi hingga sulit dihentikan. Kekuatannya membuat Kaisar Yin takut sehingga dengan mengeluarkan surat perintah, Zhang Ziyi ditugaskan dalam misi rahasia membantai desa-desa di Kekaisaran Shang.
Misi itu hanya berlangsung beberapa bulan sebelum Zhang Ziyi mengembuskan napas terakhirnya. Di tangan anak pengendali roh sekaligus Pilar Pertama yang telah lama diincarnya. Meski membenci Zhang Ziyi, Yuhao juga menyayanginya seperti murid sendiri. Bahkan sama sayangnya pada Lan Zhuxian yang kini entah di mana semenjak kepergiannya.
"Kau orang yang sama dengan orang yang membunuh Zhang Ziyi, bukan?"
"Kalau benar mengapa?"
__ADS_1
Yuhao meredam emosi yang terus memuncak. "Tak menutup kemungkinan muridku yang lain akan mati di tanganmu. Lan Zhuxian, dia—kuharap dia tak pernah menemui bencana manusia sepertimu. Setelah kematian putriku dan juga muridku, lalu semua orang tak bersalah yang mati di tanganmu. Jangan harap kau bisa bernapas dengan tenang."
"Kalau begitu kali ini aku tidak akan bersembunyi lagi."