Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 49 - Jiwa yang Dipadamkan


__ADS_3

"Suara angin-angin ini... Membuat kepalaku sakit."


"Memiliki efek untuk menggangu pikiran dan mental orang. Kau bisa menyebutnya sebagai Irama Kematian."


"Irama Kematian?"


"Jurus terlarang ini seharusnya hanya dipelajari pendekar di masa lalu. Meskipun saat ini sudah jarang digunakan, tapi dengan jurus ini walaupun tubuhmu abadi sekalipun, jika jiwamu dipadamkan sama saja seperti orang mati."


"Jiwa yang dipadamkan?"


"Ya, berhati-hatilah." Rubah Petir menjawab singkat, sejenak suasana hanya diisi dengan kebisingan angin hingga Xin Chen terpaku pada satu titik, membuat sang rubah turut melihat apa yang sedang anak itu perhatikan.


Xin Chen menyadari di setiap jalan memiliki lambang tersendiri. Di pintu yang berada di hadapan Xin Chen sendiri memiliki bentuk kera. Lambang tersebut muncul karena kikisan angin, berada tepat di atas celah goa tersebut.


Tubuh Xin Chen berputar secara cepat, melihat semua bentuk berbeda-beda dalam setiap jalannya.


"Guru, kau ingat tidak dengan ceritanya si roh penghuni itu?"


"Cerita yang panjang itu? Aku tidak terlalu mendengarnya karena kupikir tidak perlu."


"Justru itulah kuncinya," sela Xin Chen menunjuk ke salah satu jalan dengan lambang burung. "Baja Phoenix memiliki kepala seperti burung pelikan."


Dia segera masuk ke dalam, bersama dorongan angin kencang kecepatan berlarinya pun turut bertambah. Tiba di satu tempat yang seperti labirin dengan banyak teka-teki di dalamnya. Tak salah jika roh penghuni Baja Phoenix menyembunyikan diri di tempat seperti ini.


Selain teka-teki membingungkan beberapa perangkap pun dipasang agar tak ada yang sembarangan bisa masuk ke dalamnya. Bukan hanya itu saja, kini bunyi-bunyi siluman mulai terdengar di berbagai tempat.


Xin Chen sendiri terbiasa mengingat hal-hal sepele seperti kisah dari roh perempuan itu, karena sebelumnya dia tak pernah berpikir akan menjadi sosok pendekar hebat dan mungkin ingin menjadi pejabat atau menteri seperti yang pernah Yong Tao sarankan.


Dalam ilmu berbicara dia terbilang cukup baik, berbeda halnya dengan Xin Zhan yang lebih ahli dalam ilmu silat lidah. Dalam satu tarikan napas saja sudah bisa membuat hati Xin Chen tersayat-sayat mendengarkannya.

__ADS_1


"Berkepala seperti burung pelikan, berleher seperti ular, berekor sisik ikan, bermahkota burung merak, bertulang punggung mirip naga, berkulit sekeras kura-kura..."


Tanpa sadar akhirnya setelah melalui puluhan jalan-jalan yang membingungkan mereka tiba di satu titik yang sangat dalam, Xin Chen dapat merasakan pasokan oksigen dalam paru-parunya turut menipis.


Rubah Petir sendiri mengambil alih untuk melindungi Xin Chen dari belakang. Kehadiran mereka berdua mengundang banyak serangga buas datang.


Seekor lipan besar yang sepertinya adalah raja di goa ini menyerang langit-langit goa, membuat runtuhan tanah berjatuhan dan hampir mengenai Xin Chen. Sayangnya batu itu hanya menggelinding, tak mengenai tubuh anak kecil itu. Kini mereka berdua berhenti karena kehabisan petunjuk. Tidak ada simbol atau apapun yang bisa dijadikan sebagai acuan lagi seperti tadi.


"Chen, kau harus memilih cepat!" Rubah Petir berseru, kini jumlah serangga buas yang datang telah mencapai ratusan. Dengan kekuatan petirnya bukan hal sulit untuk membunuh mereka, akan tetapi jumlah besar ini membuat jalan di dalam goa mulai bergetar. Bisa menutup kemungkinan mereka masuk ke dalam sana.


"Aku tidak tahu ini benar atau tidak..." Xin Chen mengepalkan tangannya, di antara banyaknya jalan dia justru merangkak dan masuk ke dalam sebuah lubang berukuran kecil. Rubah Petir sedikit ragu, dia tidak bisa ikut ke dalam karena harus menahan lipan-lipan ini.


"Cepatlah kembali sebelum pintunya tertutup!"


"Baik!"


Tengah fokus merangkak di dalam lubang kecil itu, Xin Chen rasa tubuhnya semakin tak muat. Ketika berbelok dan menyadari di depannya tidak ada jalan dan buntu Xin Chen sempat berpikir untuk kembali dan mengambil jalan lain.


Tak berpikir panjang dia bersikeras masuk dan menembus batu besar yang menutup jalan dengan mode hantu, sebuah pintu keluar terlihat masih agak jauh dari Xin Chen. Anak itu menahan napas, hampir tak yakin bisa mencapai pintu itu tepat waktu.


"Ayolah Topeng Hantu Darah... Setidaknya berikan waktu 7 detik agar aku bisa masuk ke sana!!" Xin Chen memaksakan diri lagi dan lagi, menggapai dinding celah dan keluar dari sana. Jantung Xin Chen berdetak lebih cepat, efek samping saat menggunakan kekuatan Topeng secara berlebihan mulai terasa. Mengganggu pikirannya sejenak.


Xin Chen menggelengkan kepala cepat, saat dia mengangkat kepala betapa terkejutnya Xin Chen saat mendapatkan sosok lelaki berumur lebih dari satu abad sedang duduk di sana. Bersama cahaya api unggun dan aliran air yang tenang. Menatapnya sama terkejutnya.


"Selama ribuan tahun akhirnya ada satu manusia yang bisa sampai ke tempat ini..." Kata-kata itu mengalir begitu saja, lelaki itu mendekati Xin Chen takjub. "Aku yakin kau bukanlah musuhku, sebelum itu namamu siapa dan apa kau berasal dari mana?"


Xin Chen masih belum begitu mengerti, mengapa masih ada manusia tinggal di tempat seperti ini dan bagaimana kakek itu bisa masuk ke dalam lorong goa sekecil tadi. Dirinya yang masih berumur 10 tahun saja sudah tak bisa masuk ke dalamnya.


"Namaku Xin Chen, anak kedua dari Pedang Iblis dari Lembah Kabut Putih."

__ADS_1


"Ah, sekte itu sudah lama aku tak mendengarnya. Untunglah, asalkan kau bukan orang-orang dari golongan itu saja, aku sudah bisa tenang."


"Mereka yang kau maksud itu orang-orang itu dari aliran hitam?"


"Ya... Mereka yang mengubah kekuatan Baja Phoenix seenaknya, aku takkan memaafkan mereka. Jika aku menemukan salah satunya saja, sudah pasti ku robek-robek isi perutnya."


"Tunggu, Kakek. Aku datang ke sini memang untuk Baja Phoenix. Ada begitu banyak orang-orang yang sedang mengincarnya–" perkataan Xin Chen terhenti saat tangannya malah menembus tubuh kakek tersebut saat mencoba menyentuhnya.


"Kau terkejut? Bukannya kau juga bisa melakukannya?"


Xin Chen tertawa kikuk, tahu kakek ini bukan manusia, melainkan sebuah roh. "Darimana kakek tahu?"


"Kau hanya bisa datang ke tempat ini setelah memiliki Topeng Hantu Darah. Sudah lihat sendiri, kan, bagaimana jalur tempuhnya?"


"Iya... Dengan Topeng Hantu Darah saja kukira belum tentu aku masih bisa mencapai tempat ini."


"Memang, cukup dengan tekad besar dan sedikit kegilaan kau akan bisa masuk ke sini." Kakek tersebut menadahkan tangan, memejamkan mata dan memunculkan sebuah baja di tangannya. "Ambillah, dan jangan sampai kau buat Baja Phoenix ini jatuh ke tangan musuh. Bisa jadi malah isi perutmu yang kubongkar."


"Baik. Mengerti." Xin Chen menelan ludahnya saat menjawab, membayangkan ancaman itu saja dia sudah bergidik ngeri.


Karena sudah mengetahui bagaimana cara memasuki tempat ini bukan hal sulit lagi untuk keluar, Xin Chen menyusul Rubah Petir yang sudah menghabisi semua siluman lipan. Mengajaknya keluar sebelum goa tersebut akan runtuh.


Xin Chen menarik napas panjang ketika berhasil keluar dari goa, mengisi paru-parunya dengan udara sebelum membuka matanya. Tiba-tiba saja tangan Rubah Petir bergerak, menyuruhnya untuk melihat ke depan.


"Sepertinya ada yang sudah menunggu kita dari tadi..."


Sebuah tepuk tangan terdengar nyaring, merasa berbangga hati saat melihat sebuah kepingan Baja Phoenix telah berhasil dibawa keluar.


"Pusaka itu akan menjadi milikku."

__ADS_1


***


__ADS_2