
Debu di permukaan tanah menyebar ketika angin sore menyapu. Suasana mulai temaram saat itu. Kini hanya tersisa sepuluh orang di lapangan. Yu Xiong dipanggil pertama, dia bergeming di tempat. Terpaku pada mayat-mayat manusia yang disingkirkan dari arena. Darah yang membasahi tanah mulai mengering semenjak siang tadi. Namun sepertinya tak ada yang peduli dengan nyawa mereka yang telah gugur.
"Apakah semua orang juga akan menganggap kematianku tak berharga?"
Nama kesembilan terus dipanggil dan satu per satu dari mereka maju ke depan. Angin di belakangnya menggoyangkan rambut Yu Xiong, dia melihat kanan dan kiri. Tidak ada lagi yang tersisa kecuali dirinya dan satu orang lagi.
"Kesepuluh. Zu Chen."
Yu Xiong tak begitu fokus, tapi dia melihat seseorang di ujung sana telah berjalan maju. Nama Zu Chen ternyata adalah Xin Chen, Yu Xiong segera maju dengan sedikit harapan. Dia menelan ludah susah payah, tanpa pikir panjang segera mengambil posisi yang bersebelahan dengan Xin Chen.
"Apa yang diajarkan Kak Wei semalam tiba-tiba saja hilang dari kepalaku." Yu Xiong mengecilkan suaranya, dia mengambil anak panah dan busur. Benda itu bergetar dalam genggamannya. Xin Chen melihat ketakutan anak muda itu memang terlalu berlebihan. Mungkin dia baru saja dihadapkan dengan dunia luar.
"Berlindung di ketiak ibuku memang lebih aman," gumam Yu Xiong mulai ambil posisi. Dia terlihat seperti kayu yang kaku. Langkah dan gerak-geriknya memang memperlihatkan betapa gugupnya Yu Xiong saat ini.
"Jangan terburu—" Xin Chen tak sempat menyelesaikan kalimatnya.
Yu Xiong melepaskan anak panah pertamanya dan terlempar begitu saja ke atas langit. Xin Chen melihatnya prihatin. Sepertinya Yu Xiong memang tak pernah diajarkan, bahkan mungkin tak pernah melempar sebuah batu. Arah sasaran saja dia tak tahu. Apalagi memanah seperti ini.
Ternyata kekhawatiran Wei Feng memiliki alasan. Jika tidak, dia tak akan mungkin mengkhawatirkan Yu Xiong seperti semalam.
"Tidak ada yang bisa menguasai cara memanah dalam hitungan jam, apalagi menit."
Xin Chen justru membuatnya teringat akan kata-kata para preman tadi. Yu Xiong melirik ke sampingnya, dia sedikit tersinggung. "Jadi apa Kak Chen juga mengharapkan kematianku?"
"Tetap tenang dan tunggu menit terakhir."
"Lalu bagaimana denganku? Aku tidak mungkin seperti Kak Youji, aku tak memiliki ketenangan sepertinya apalagi kepandaian seperti Kak Wei. Keberuntungan ku juga sangat jelek ..." Yu Xiong ingin sekali membuang busur di tangannya. Dia sama sekali tak melakukan apa-apa selama ini. Selain berlatih di hutan dan mengangkat barang berat demi memperkuat ototnya. Dulu Wei Feng sempat mengajaknya mempelajari memanah.
Hanya saja, Yu Xiong tahu menjadi pemanah bukanlah keinginannya. Dia menolak Wei Feng berkali-kali dan tak memikirkan bahwa hari ini akan tiba.
__ADS_1
"Kupikir Kak Wei pasti sedang menertawaiku."
"Tidak. Dia hanya bilang. 'Sudah aku bilang, kau saja yang tidak percaya.'"
Yu Xiong menanggapinya dengan senyuman paksa, dia menatap kakinya sendiri.
"Kak Chen, kau tunggu apa lagi? Kau bisa langsung pergi tidak usah memikirkanku. Aku akan menemukan caraku sendiri ..."
"Aku tidak bisa mempercayai wajah ragu-ragu seperti itu."
Hanya mereka berdua yang masih bergeming di tempat sementara yang lainnya sudah kehabisan dua anak panah. Yu Xiong tahu, Xin Chen pasti sedang menemaninya. Dirinya tak akan mungkin selamat. Dan Xin Chen mengulur waktu untuk berpikir cara untuk menyelamatkannya.
"Aku memang tidak berguna. Untuk menyelamatkan diri sendiri saja masih meraba-raba."
"Hei, kalian! Berhenti bercerita dan segera mulai memanah. Waktu akan habis dengan cerita tidak penting itu. Lanjutkan saja ceritamu di neraka!"
Yu Xiong mengangkat bahu. "Tunggu apa lagi, kau bisa bebas. Di sini, yang penting adalah keselamatanmu. Aku tidak mau menghalangi kalian."
Yu Xiong sempat berpikir ini adalah perpisahan terakhir mereka. Masih ada waktu untuk saling bercerita. Dia mengangguk, merasakan sedih di waktu bersamaan.
"Ibuku sangat menyukai sup buatan ibu Kak Youji, hanya saja dia sudah tiada beberapa bulan ini. Aku sempat melihat Kak Youji menangis. Tapi aku hanya diam dan tidak datang ke rumahnya saat pemakaman. Aku tak mau mereka semakin menangis karena melihatku menangis pula. Kalau aku mati, aku tidak perlu malu lagi. Aku tidak perlu bertemu lagi dengannya."
"Tentu saja kau akan bertemu dengannya."
"Ku harap dia tak melihatku di neraka nanti." Yu Xiong tertawa hambar. Apalagi telinganya mulai mendengar para prajurit mulai menghitung mundur dari dua puluh. Orang di sebelahnya tak mengenai sasaran, dia langsung lari saat kepalanya hampir terpenggal. Dua orang mengejarnya ke arah dinding pembatas.
"Kau memang tidak mempunyai kemampuan atau keberuntungan. Tapi setidaknya, kau masih memiliki kesempatan."
"Kesempatan apanya? Kau bilang pemula tak akan mampu mengenai sasaran jika tak berlatih. Apalagi ada yang mengatakannya sampai bertahun-tahun."
__ADS_1
Kejar-kejaran di depan mereka semakin mengacaukan arena. Matahari sudah setengahnya tenggelam di barat. Menyisakan garis-garis jingga di langit yang menggelap. Yu Xiong menghindar saat orang tadi menuju ke arahnya. Dia berteriak ketakutan, orang-orang itu akan membuatnya mati. Tapi sejauh apa pun dia berlari. Satu pemanah yang berada di bangunan tinggi sudah mengincar kepalanya.
Panah tersebut tembus di kepalanya, laki-laki itu menjerit. kepalanya bocor mengeluarkan darah. Yu Xiong menatap Xin Chen sejenak, seperti mencurigai sesuatu.
"Aku tidak melakukannya. Dia hanya takut dibunuh."
Tatapan Xin Chen teralihkan pada langit yang bertambah gelap. Hitungan mundur yang sempat terhenti kembali dilanjutkan. Orang-orang yang selamat sudah dibawa kembali ke asrama dan kini semakin banyak yang panik. Mungkin karena sudah terlalu takut melihat semua orang yang mati sejak pagi tadi, membuat mereka yang terakhir trauma. Mereka tak menginginkan kematian seperti itu.
Sisa dari mereka tak ada yang selamat lagi. Tidak ada yang menembakkan anak panah dengan benar. Tiga orang jatuh merangkak di lantai. Bersiap dibunuh langsung tanpa pengampunan.
Yu Xiong mundur saat salah satu dari mereka merangkak ke kakinya. Sambil meminta tolong dengan darah bercucuran dari leher. "Tolong aku ... Aku harus kembali pada anak istriku."
Kepalanya tergeletak bersimbah darah oleh tebasan cepat. Prajurit tersebut segera mengincar yang lain. Hanya tersisa dua orang di belakang mereka. Xin Chen tak mengeluarkan suara. Di situasi kacau seperti itu, dia hanya menggerakkan mulutnya.
"Lakukan sesuatu yang konyol. Arahkan anak panahnya ke tempatku. Kali ini, dengan terburu-buru."
Yu Xiong melihat Xin Chen dan orang di belakangnya bergantian.
"Lima!"
Dia semakin kalut. Xin Chen tak mengulang apa pun lagi karena orang di belakang mereka mulai curiga.
"Empat!"
"Dua!"
"Ti-tiganya ke mana?!" Yu Xiong panik saat itu juga dan langsung melepaskan anak panah tanpa berpikir panjang.
***
__ADS_1
terakhir kalian baca itu Ch. 323 - Tangan Buatan. Silakan baca dari bab 324 ya.