Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 315 - Patung Perempuan


__ADS_3

Tanpa diduga, Huo Rong membawanya ke sebuah tempat yang begitu asing. Terdapat satu tempat yang dihuni oleh beragam binatang hutan, di tempat itu akar-akar pohon bergelantungan antar satu pohon ke pohon yang lain. Yang membuat ganjil dari hutan tersebut adalah ptung seorang gadis cantik yang sedang menangkupkan kedua tangannya selayaknya sedang berdoa dengan kepala menghadap ke atas. Tempat itu jelas bukan sebuah tempat yang sering dikunjungi sebab debu di jalan tangga yang menanjak seperti tak pernah di sentuh oleh siapa pun.


Keduanya berhenti di depan patung tersebut, Huo Rong memberikan waktu pada Xin Chen untuk memperhatikan patung tersebut. Sementara Xin Chen sendiri tak bisa menerka siapa gadis yang dimaksudkan dalam patung tersebut. Dia terlihat seperti sedang hamil dan kedua bola matanya seolah-olah menangis melihat langit.


"Menurutmu bagaimana pendapatmu tentang perempuan ini?"


XIn Chen hanya menoleh sekilas sebelum mengatakan apa yang terpikirkan olehnya. "Berdoa untuk perang?"


Huo Rong tak mampu berkata-kata, dia hanya tertawa singkat. "Mungkin juga benar. Tapi sebenarnya bukan itu yang aku maksud."


"Patung ini makam, bukan?" Xin Chen berjongkok demi bisa melihat lebih jelas, dia tak bisa mengambil kesimpulan langsung tentang perempuan yang terlihat masih muda itu. Namun yang pasti, tatap matanya tampak begitu kehilangan. "Apa dia istrinya teman manusia mu itu?"


Tanpa disadari Huo Rong ternyata juga berjongkok, menyingkirkan daun kering di atas kepala patung yang mulai retak di beberapa bagian. Dia tak dapat menyembunyikan wajah sedih lagi saat melihat perempuan malang tersebut.


"Semua yang kau katakan benar. Mereka baru genap menikah satu tahun. Saat kematian suaminya terdengar, dia datang ke hutan ini sendirian. Lalu mati karena kehabisan darah akibat terkaman serigala."


"Kau yang membuatkan makam ini untuknya."


Huo Rong tak lagi menjawab, dan Xin Chen menyimpulkannya bahwa memang dia yang melakukan ini semua. Entah apa yang ada di pikirannya, Xin Chen tak begitu mengerti. Namun sejauh yang dipahaminya dari seluruh cerita Huo Rong, dia begitu menyayangi manusia tersebut. Lebih dari apa pun.


"Aku sudah lupa bagaimana cara memainkan seruling. Aku bahkan tak ingat lagi cara memainkan Senandung Air. Dan aku membawa kau ke sini untuk mempersembahkan irama itu sekali lagi." Huo Rong berdiri pelan-pelan tanpa melepaskan pandangannya pada patung tersebut. "Saat dia hamil, dia suka sekali memintaku untuk memainkan Senandung Air."

__ADS_1


Saat itu Huo Rong menyesali bahwa anak yang dikandungnya tak sempat terlahir ke dunia, setidaknya, sekali pun ayahnya telah tiada anaknya akan mewarisi sang ayah. Huo Rong mengucap dengan sedikit berbisik, "Padahal laki-laki itu sudah memintaku untuk menjaga istrinya. Tapi apa yang aku lakukan? Aku bahkan tak pantas untuk memanggil namanya lagi ...."


Mungkin karena alasan itu Huo Rong enggan menyebut nama orang tersebut sekalipun Xin Chen memaksa, dia tak mengerti mengapa bisa setragis itu kisah yang dialami dirinya.


"Jika dia memang menyalahkanmu, aku yakin dia akan turun sendiri dari langit untuk menamparmu. Kau berjalan di tempat yang sama begitu lama, mengulang kesedihan hanya membuatmu tak bisa terlepas karena kematiannya."


"Aku tak tahu lagi apa yang aku lakukan selama ini benar atau tidak ..."


Perlahan sunyi senyap di antara mereka berganti menjadi alunan irama yang begitu menenangkan. Cahaya matahari dari celah-celah awan yang mendung menerangi patung tersebut. Huo Rong menangis saat itu juga, hal yang begitu mengejutkan bagi Xin Chen. Dia tak menyangka bahkan siluman yang menyamar menjadi manusia sepertinya memiliki emosi yang begitu dalam. Tapi tak bisa dibantahnya, kisah kedua pasangan itu adalah salah satu kisah tragis yang menyedihkan. Apalagi Huo Rong telah lama berada dalam wujud manusia itu, seperti kata Shui, semakin lama mereka akan mengerti bagaimana perasaan manusia yang sebenarnya.


"Sial, aku malah terlihat cengeng begini, hahahaa." Huo Rong tertawa masam, saat dia tertawa begitu ingusnya meleleh tanpa tahu malu. Membuatnya malu setengah mati.


"Arrrghh, kalian meninggalkanku begitu saja?! Benar-benar tidak pakai otak!"


Melihat tak ada tanggapan Shui mendekat ke arah Xin Chen dan berteriak, "Kalian tahu aku hampir mati konyol karena mencari kalian?!"


Xin Chen menutup kedua telinga dengan telunjuk. Membuat Shui kesal sampai ingin merubuhkan apa pun di sekitarnya. Tapi kemarahannya meredam sesaat ketika melihat sebuah patung di depan mereka. Sesaat, meskipun hanya samar Shui dapat merasakan kesedihan dari patung tersebut. Di dekat patung tersebut memang terdapat makam yang dibuat sederhana, tempat peristirahatan terakhir sosok dalam ukiran patung.


"Dia siapa?"


Huo Rong tak menjawab apa pun selain tersenyum, tak melihat keadaan yang sedang sendu, Shui malah terbahak saat melihat air muka Huo Rong yang persis seperti manusia yang habis menangis.

__ADS_1


"Buahahaha bayi besar baru saja menangis! Hei, siapa gerangan yang berani mencolekmu, Nak? Aduh, aduh, hahhaha ini lucu sekali!"


Huo Rong menjitak kepala Shui tanpa menjawab apa-apa karena dia juga malu, Shui tertawa sambil berusaha melarikan diri. "Ahahha iya aku janji tidak bilang siapa-siapa, lepaskan aku cicak!"


"Jangan sampai ku dengar kau mengungitnya di hari-hari mendatang, naga air."


"Kalau itu aku tidak bisa janji."


Huo Rong menjepit Shui diketiaknya, keduanya saling bertengkar seperti kucing dan tikus. Membuat Xin Chen kehabisan ide demi melerai mereka berdua.


"Baik, baik. Lepaskan aku dulu. Aku punya makanan yang enak untukmu."


Huo Rong mengernyit tak yakin, "Benarkah?"


Shui mengeluarkan sebuah makanan legendaris yang membuat Huo Rong termundur, dia melihat seekor belut yang dibakar hingga gosong. "Apa-apaan belut jelek yang menjijikkan itu?"


Huo Rong menjauh dan terus menjauh dari Shui yang kian melangkah dekat hingga kedua kakinya tersenggol patung perempuan, nyaris membuatnya rubuh. Namun hal itu berhasil dielaknya.


Saat keduanya tengah disibukkan dengan urusan sendiri, sebuah bayangan besar melintas di atas mereka. Terdengar kepak sayap yang begitu keras. Huo Rong sampai membuka mulut lebar-lebar saat matanya melihat seekor naga lagi yang meresahkan. Naga itu mengeluarkan lidah kelaparan saat mencium aroma makanan dari tangan Shui. Berniat menelan belut itu sekaligus tangan Shui.


Shui yang tak menyadarinya tak sempat menghindar saat Ye Long mendarat dan mendapatkan belut tersebut. Ketiganya membeku melihat Ye Long jatuh dengan bunyi keras. Tak berapa lama bunyi retakan terdengar. Ye Long baru saja menghancurkan patung perempuan tersebut.

__ADS_1


Bukan Ye Long namanya kalau tidak mendatangkan masalah. Sekarang Xin Chen sampai keringat dingin saat mendapati tatapan Huo Rong tengah menyorot ke arahnya.


__ADS_2