
Seperti biasa perjalanan menuju Telaga Hijau pasti akan memakan waktu yang lama, Xin Chen menguap lebar-lebar. Beberapa kali matanya terpejam sambil berjalan, membuat kakinya hampir terpeleset saat menginjak bebatuan licin.
"Chen, aku penasaran. Memang luka di badanmu itu tidak menyakitkan? Kau seperti tidak melihat bagaimana kondisi tubuhmu sekarang." Rubah Petir mengutarakan pertanyaan yang sejak tadi berputar di kepalanya.
Jujur saja dia sedikit bingung dengan Xin Chen. Sejak awal bertemu dan dipatok ular Xin Chen masih bisa berjalan jauh dengan racun di kakinya, meski hari itu sebenarnya Rubah Petir sendiri tak tega membiarkannya tersiksa. Sepertinya sejak awal tubuh anak itu memang sudah bebal terhadap luka ataupun racun.
Pertanyaan dari Rubah Petir serta merta memecahkan keheningan di antara mereka.
"Guru, kau lihat. Di Desa Hantu kau sudah membunuhku ratusan kali. Mungkin hal itulah yang membuatku mati rasa sampai sekarang."
"Lebih seperti terbiasa dibunuh, ya?"
Xin Chen mencebik, menerima kata-kata itu tanpa niat menyanggah. Dia memerhatikan ke depannya samar-samar. Entah sudah sampai sejauh mana mereka pergi, sejak meninggalkan rumah semuanya menjadi serba berbeda. Xin Chen tidak dapat merasakan makanan enak buatan ibunya apalagi tempat tidur yang nyaman.
"Kita dari tadi tidak berhenti berjalan, ayolah, sebentar saja istirahat." Akhirnya Xin Chen mengeluh.
"Kau sendiri tidak meminta berhenti padaku," balas Rubah Petir kemudian. Membuat mulut Xin Chen terbuka tak percaya. "Jadi daritadi kau menungguku mengeluh dulu baru mau berhenti?"
"Kurang lebihnya."
Xin Chen menelan ludah dengan wajah kesal, andai dia tak mau meminta berhenti tadi mungkin dua jam lagi pergelangan kakinya akan lepas.
Daripada memikirkan sikap Rubah Petir yang agak menyebalkan ini Xin Chen memilih untuk melihat-lihat isi penyimpanan cincin ruangnya.
Kalau dipikir lagi sudah berapa banyak harta yang dicurinya dari musuh. Terutama pihak Asosiasi Pagoda Perak, mereka kehilangan semua harta karena dirinya.
Beberapa kitab dikeluarkannya asal, Xin Chen membaca sekilas dan tak menemukan satupun yang menarik. Jika dipikir-pikir lagi dirinya sempat mempelajari beberapa jurus yang Ayahnya turunkan. Termasuk tendangan yang kerap kali Xin Chen gunakan untuk menyerang kepala musuh. Tendangan Bulan Sabit tersebut dipelajarinya satu tahun yang lalu dan dia tak pernah berhasil menyempurnakannya. Karena sudah terlanjur merasa kalah saat melihat Xin Zhan lebih cepat dalam mempelajarinya.
Melihat Xin Chen mulai memikirkan dari mana dia harus melatih bela dirinya Rubah Petir turut memberikan saran.
"Kau ingin menjadi lebih kuat, bukan?"
"Ya. Aku harus bertambah kuat, kau memiliki saran?"
Rubah Petir tak langsung menjawab, dia mengangkat tangannya. Menciptakan berbagai siluman petir begitu saja seperti yang pernah dia lakukan.
Tapi kali ini berbeda, dari bunyi listrik yang mereka keluarkan saja Xin Chen yakin tegangan listrik tersebut sudah jauh melampaui batas wajar lagi.
__ADS_1
"Tunggu, jangan bilang kau ingin menyiksaku dengan menghadapi binatang-binatang ini?" tanyanya kian panik saat menyadari mereka mendekat.
Rubah Petir menyanggah, "Untuk menciptakan kekuatan baru di tubuhmu, kau harus menyesuaikan diri."
"Kekuatan baru?!"
"Elemen petir termasuk yang paling berbahaya, kau tidak perlu menyentuh atau bergerak banyak. Dengan petir, kau bisa membumihanguskan segala sesuatu dengan kehendakmu."
Xin Chen belum bisa sepenuhnya mencerna perkataan Rubah Petir, pikirannya terlalu kacau saat ini. Bukan hanya binatang itu saja yang meraung ingin melukainya, petir di atas langit pun seperti sedang mengamuk. Langit sudah seperti kapal layar yang terkoyak-koyak, berbunyi makin keras saat angin besar datang.
"Kau adalah pedang itu sendiri. Terimalah saat kau sedang ditempa, semakin tajam dan semakin membunuh. Agar suatu saat kau akan menjadi pedang yang dapat menyelamatkan ribuan nyawa orang dan mengakhiri perang tak berkesudahan."
Xin Chen bergidik ngeri mendengarnya. Dia sadar kini siluman petir itu sudah bergerak dan menyambarnya dalam serangan tak diduga.
"Aaarrggh!!!"
Di tempat lain dua orang yang berjalan tak begitu jauh dari tempat Xin Chen berada berhenti sejenak saat mendengar suara teriakan dan kepakan burung hutan.
"Hei apa kau mendengarkan sesuatu?" ucap salah satunya.
"Apanya? Suara jeritan itu? Mungkin cuma seekor tikus yang terjepit, sudahlah. Tidak ada waktu lagi, kita harus segera bergerak."
"Lariiiii!"
**
Di esok paginya Xin Chen terbangun, merasakan sakit luar biasa di tubuhnya. Dia mengaduh kesakitan, ingin sekali melompat dan memukul kepala Rubah Petir dengan sepatunya.
"Kukira dijepit oleh siluman kepiting adalah hal paling menyakitkan di dunia ini." celoteh Xin Chen mengomel-ngomel, dia tergeletak di atas tanah. Dengan tubuh kaku akibat sengatan listrik semalam. Menggerakkan satu jari saja sudah sangat sulit dilakukan.
Rubah Petir yang sedang membakar daging beruang tertawa senang, mengerjai Xin Chen seperti ini memberikan kesenangan tersendiri di hatinya.
"Hahaha padahal sudah lama aku mengurung diri di Hutan Kabut dan sekalinya bertemu manusia malah dipertemukan dengan orang yang sangat mudah dikerjai sepertimu."
"Hmm... Terserah, memang kau begitu. Melihat aku terpeleset mana ada khawatir, paling cuma tertawa terbahak-bahak. Soal membantu urusan belakangan. Memang tak salah aku menyebutmu Guru."
"Memangnya kenapa?"
__ADS_1
Xin Chen menarik napas, kedua tangannya mulai bisa digerakkan sedikit. Dia merentangkan tangan, menatapi langit pagi dengan damai.
"Kau tahu, dulu waktu di rumah. Ayahku jarang pulang makanya tidak ada yang melatih kami. Ibu sendiri sibuk dengan tamu-tamu penting, jadinya mereka menyuruh senior dari Lembah Kabut Putih untuk mengajari kami."
"Jadi?"
"Hhh... Mereka mengajari kami dengan lemah lembut, kau tahu. Aku pernah terpeleset sampai berdarah, itu murni karena kecerobohanku. Karena guru lamaku itu tak mau disalahkan akhirnya dia mengundurkan diri. Selama ini tidak ada yang benar-benar mengangkatku jadi murid. Jika adapun, mereka melatih seadanya. Sama sekali tidak menggambarkan betapa kejamnya dunia persilatan yang sebenarnya."
Rubah Petir sedikit menampilkan senyumnya, "Makanya saat pertama kali keluar kau terkejut sendiri?"
"Ya... Begitulah, aku terbiasa menangkap kumbang dari pada memenggal kepala manusia."
Abu dari kayu bakar terbang dibawa angin, aroma daging membuat Xin Chen mulai kelaparan. Susah payah mendudukkan diri, Xin Chen akhirnya bisa mengendalikan tubuhnya seperti biasa.
"Makanlah, kau kehilangan terlalu banyak tenaga."
"Guru, memangnya Siluman Penguasa Bumi memiliki sifat yang sama sepertimu?"
Rubah Petir terdiam sejenak. "Maksudmu?"
"Kau baik, tidak seperti siluman ganas yang diceritakan orang-orang jaman dulu."
Lantas Rubah Petir tertawa, menganggap hal itu terlalu dibuat-buat. "Kami memiliki akal seperti manusia, memang karena sudah hidup ribuan tahun dan memiliki kesadaran. Hanya saja, tidak semua siluman sama sepertiku. Beberapa hanya ingin membunuh mengikuti naluri."
"Begitu.."
"Memangnya kau pernah bertemu Siluman Penguasa Bumi sepertiku?" Rubah bertanya balik.
"Pernah. Saat aku dan Zhan Gege ke jembatan dan bertemu dengan seseorang yang mencurigakan. Orang itu mengendalikan Siluman besar, seperti Naga dengan Api Biru."
"Naga? Api Biru?"
"Kau mengenalnya?" Rubah Petir menggelengkan kepala, tapi di sisi lain dia masih memikirkan perkataan Xin Chen lagi.
Seketika suasana dijeda oleh keheningan, selagi Rubah Petir sibuk berpikir Xin Chen menghabiskan makanannya sendirian.
"Kita harus melindungi semua pusaka langit yang diciptakan Han Zilong."
__ADS_1
Setelah sekian lama diam akhirnya Rubah Petir mengeluarkan suara, wajahnya menjadi lebih serius dari biasanya. Xin Chen hanya mengangguk pelan, tak mau bertanya kenapa karena sudah jelas ini semua terkait dengan orang-orang dari Lembah Para Dewa.
***