
Youji tahu mustahil baginya untuk bisa membidik dengan tepat, dia bahkan tidak bisa melihat sasarannya dengan baik. Tangan kanannya tak berhenti bergerak, sulit untuk mengendalikan arah bidikan yang melenceng setiap saat. Youji melepaskan sekali dan anak panah meleset jauh. Dia tak segera menyerah dan mencoba sekali lagi, karena prajurit mulai menghitung mundur membuatnya menjadi terburu-buru.
Tak ada yang lebih menakutkan dari pada melihat seseorang di belakangnya sudah siap untuk membunuhnya. Semuanya bercampur aduk di benaknya. Dia tak pernah sekalut ini. Antara tatapan orang-orang yang meragukannya dan mereka yang bersiap-siap untuk membunuhnya dalam hitungan detik lagi. Youji melepaskan anak panah dari gigitannya untuk kedua kali, kali ini anak panah jatuh di tempat yang jauh lebih buruk dari sebelumnya. Youji hanya memiliki satu anak panah dan sisa waktu dua puluh detik, semuanya bergantung pada satu anak di tangan kanannya.
Cacat bukan sebuah kelemahan. Ayahnya pernah mengatakan hal itu. Berulang kali, setiap malam, setiap dirinya merasa tak berguna. Youji melihat semua orang yang hanya membuat ketakutannya semakin menjadi saja. Tetapi di antara semua orang itu, Yu Xiong, Xin Chen dan juga Wei Feng masih percaya padanya. Meskipun keadaannya seperti ini, Youji memiliki orang-orang berharga yang tak pernah berhenti memercayainya. Youji melapangkan hatinya, menarik napas dalam hingga dia sama sekali tak mendengar suara lagi di sekitarnya.
Pelan tapi pasti, dia mengangkat busur dan meletakkan anak panah dengan tenang. Matanya terpejam, detik itu dia hanya mempercayai instingnya. Ketenangan lah yang membawa kemenangan. Seseorang pernah mengatakan itu padanya. Youji melepaskan anak panah tepat saat hitungan terakhir. Terdengar suara tancapan yang keras. Dia membuka mata perlahan, pundaknya luruh seketika.
Dia selamat. Youji meletakkan tangan kanan di sebelah dadanya. Tersenyum pada Xin Chen.
Setidaknya dia telah membuktikan bahwa dirinya dapat melalui seleksi ini pada orang-orang yang menatapnya remeh.
Semua orang terpana. Sampai berulang kali melihat ke anak panah Youji yang menancap di papan kayu. Meski tak sepenuhnya tepat, tetapi menjaga keseimbangan dengan hanya menggunakan sebelah tangan bukanlah hal yang mudah. Prajurit di belakang Youji mundur melihat incarannya selamat. Kini seleksi kembali dimulai dengan lebih intens. Banyak yang lolos, banyak pula yang mati.
Arus seleksi ditunda sementara. Mereka diberikan waktu istirahat untuk makan dan minum. Ternyata di tempat itu sudah disediakan makanan dan minuman secara gratis. Wei Feng langsung menyerobot barisan terdepan dan membawa banyak makanan ke tempat teman-temannya. Mereka duduk di bawah pepohonan rindang.
__ADS_1
Yu Xiong masih dibuat terkagum-kagum oleh aksi Youji tadi. Meskipun tak melihat bagaimana Youji memanah tadi karena dirinya menutup mata ketakutan, tapi yang jelas pujian yang terlontar dari para penonton masih menggema di telinganya.
"Argh, aku tidak pernah meragukan Kak Youji, hanya saja aku terlalu takut saat mereka bertanya soal dirimu. Aku ingin mengangkat tangan, tapi tubuhku mendadak mati rasa ..." Yu Xiong tidak berbohong, dia memang tidak terbiasa dengan keadaan seperti ini. Mengingat selama belasan tahun hidupnya dilindungi oleh ibu dan selalu dijauhkan dari marabahaya. Karena terakhir kali saat kecil ibunya pernah mengatakan bahwa Yu Xiong hampir tewas karena tertusuk pedang. Youji tersenyum sambil menepuk pelan pundak Yu Xiong, "Tidak apa-apa. Kau sudah melakukan yang terbaik."
"Heh, ini makanan untuk kalian. Terutama untuk kita berdua setelah merayakan kemenangan kita." Wei Feng menyerahkan kue beras pada Youji, lalu duduk di dekat ketiganya.
"Chen, aku berterima kasih dua kali padamu." Youji tak bisa membayangkan jika saja Xin Chen tak ada di sana tadi. Apalagi saat tangan buatannya dilepas dan semua kepercayaan dirinya hilang. Youji tak mampu berpikir jernih saat itu.
"Bantu aku jika keadaan tadi berbalik padaku."
"Kak Wei, pelankan suaramu." Yu Xiong memperingati. Wei Feng berdeham, dia kelepasan.
"Bukan tidak mungkin aku juga mengalami hal sama. Karena di berbagai situasi, tidak ada yang boleh menggunakan kekuatan. Mereka akan langsung tahu. Penyamaran akan terbongkar jika mereka tahu bahwa kita penyusup." Suaranya begitu kecil, Xin Chen tak membuka suara lebih lanjut karena matanya menangkap sesosok laki-laki yang sempat berurusan dengannya dari kejauhan. Orang itu yang sebelumnya melihat tangan kiri Youji dan mengatakan akan terus mengawasi mereka. Dia tidak berbohong.
Wei Feng mendecak, "Ada masalah apa dia dengan kita? Ck, membuat selera makanku hilang saja." Wei Feng meraba makanan di sebelah kanannya, tiba-tiba saja seseorang menginjak telapak tangan dan juga makanannya. Jelas saja Wei Feng naik pitam.
__ADS_1
"Masalah jenis apalagi kau ini? Berani-beraninya mengganggu makan siangku-"
"Ternyata seorang pecundang memang akan sekelompok dengan para pecundang juga. Hei, teman-teman. Lihatlah. Kumpulan sampah bau ini, tak tahu diri datang kemari."
Xin Chen tak paham lagi kenapa mereka terus-menerus dihadapi masalah dengan orang Kekaisaran Qing. Sepertinya dari segi manapun mereka tidak akan akur. Preman yang sebelumnya sempat mengintimidasinya datang lagi, kali ini membawa sekitar lima orang anak buah.
"Jadi dia si Cacat yang Selamat? Wah, tidak heran dia bergabung dengan orang sepertimu. Kalian memang cocok! Hahahha!" Dia berbicara sambil berjongkok di samping Xin Chen. Air ludahnya sampai muncrat, membuat siapa pun akan jijik. Xin Chen masih sabar. Urat-urat di pelipisnya mulai muncul. Wei Feng yang diinjak makannya saja tak mau berurusan lagi. Dia memilih diam menyimak. Menunggu si yang paling tenang mengamuk.
"Hei, hei, kau ini bisu apa bagaimana? Kenapa tak mau melihatku? Kau takut? Sampai-sampai tidak berani membuka mata dan mulutmu?"
Dia mendecih tak menerima balasan, tapi semangatnya juga tak menyurut. Laki-laki itu beralih ke dekat Youji yang memandangnya, terlihat tatapannya tak begitu suka. "Kalian berkelompok, heh. Si Cacat yang Selamat dan Si Bisu Pendiam. Apalagi ini, bocah sialan ini bahkan tak mampu mengangkat busur dengan benar! Jika tujuan kalian hanya memperbanyak kuburan di tempat ini lebih baik enyah saja!"
Youji menahan kaki preman yang hampir menendang kepalanya. Dia berdiri dan langsung mendapatkan pukulan. Wei Feng dan Yu Xiong langsung melerai pertengkaran yang terjadi tiba-tiba. Youji telanjur terbawa emosi oleh kata-kata si preman dan lawannya pun semakin senang diladeni. Situasi memanas disertai dengan suara gaduh akibat pertarungan mereka. Tiga melawan lima.
Yu Xiong memegang perutnya kesakitan, dia menoleh ke belakang. Semua orang telah berkerumun melihat keributan di tempat mereka. Dia baru sadar, satu orang lainnya sudah terbangun dari duduknya.
__ADS_1
"Dia datang, dia datang."