Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 333 - Pijakan Terakhir


__ADS_3

Kekacauan terjadi di bawah kaki gunung, tiga mayat ular terkapar di tanah dengan bagian leher koyak. Waktu tetap berjalan selagi Xin Chen membereskan tempat itu, di mana musuhnya terus berdatangan tanpa henti. Aroma darah mengundang para siluman ke tempatnya sehingga Xin Chen nyaris tak punya celah untuk pergi. Dibanding itu semua, waktu telah berlalu satu jam lebih, tidak ada siapa pun lagi di sekitarnya.


Namun Xin Chen yakin ada mata lain yang mengawasi gerak-geriknya, dia tidak bisa menggunakan kekuatan dan hanya bisa mengandalkan kekuatannya yang sekarang. Penguasa gunung mulai terlihat melambat, ular tersebut mendapat bekas sayatan di tubuhnya. Xin Chen memperdayanya, membuat ular itu menabrak pohon hingga tubuhnya terhimpit pohon yang besar.


Kelihaian Xin Chen dalam mengelabui membuat para siluman itu lebih berhati-hati terhadapnya. Meskipun memiliki pendengaran yang tajam, mereka hampir tidak mendengar langkah kaki yang mendekat secara diam-diam. Setelah berada di tengah-tengah siluman itu, Xin Chen menyerang ular terbesar. Membuat siluman itu refleks mengeluarkan cairan beracun dari mulutnya. Dia segera mengejar Xin Chen yang pergi memasuki hutan gelap. Gerakannya yang cepat tak dapat dihentikannya saat dia menemukan jalan buntu. Membuatnya jatuh ke aliran sungai dangkal di bawahnya.


Xin Chen langsung pergi saat siluman lain belum mengejar. Mencari tanda jejak yang seharusnya ditinggalkan Wei Feng. Namun ada begitu banyak jejak di jalan tersebut. Mengingat tadi beberapa orang melewatinya begitu saja saat bertarung melawan siluman tersebut.


Xin Chen mengambil jalan kiri, kali ini dia memutuskan untuk meloncat dari satu pohon ke pohon yang lain karena di tempat tersebut, musuhnya bisa dibilang banyak hingga hampir di sepanjang jalan dia dapat melihat mereka merayap menunggu mangsa datang.


Jalan di depan buntu dihalangi oleh tebing tinggi. Dari sini kekuatannya akan diuji, Xin Chen mengangkat lengan bajunya. Seseorang menyahutinya di atas.


"Nah, nah, dia kembali. Perlu bantuan?"


"Woah, Kak Chen! Akhirnya kau datang, kami menunggumu!" Yu Xiong menjerit di atas sana.


Memanjat tebing itu bukan perkara sulit, dia dengan mudah naik tanpa hambatan. Hanya saja keadaan Youji membuatnya khawatir.


"Ada yang terluka?"


"Aku baik-baik saja. Jangan dipikirkan. Kita tidak punya waktu banyak."

__ADS_1


Wei Feng menunjuk dirinya sendiri, "Bocah besar ini biar aku yang angkat."


Semakin tinggi mereka mendaki, semakin terjal juga jalan di depan, Wei Feng kehabisan napas mengangkat Youji. Xin Chen menggantikannya, hingga akhirnya mereka tiba di puncak tertinggi. Hanya tersisa dua puluh menit, sebenarnya waktu yang cukup. Saat berpikir semua rintangan telah selesai ternyata mereka salah. Di depan sana sebuah jembatan kayu yang terlihat rapuh menjadi tantangan terakhir seleksi ini. Panjangnya sekitar dua ratus meter. Menghubungkan puncak gunung di tempat mereka berdiri dengan satu gunung lagi yang lebih rendah.


"Sial, ini benar-benar berbahaya. Chen, kalau hanya satu orang mungkin pijakan itu bisa menahanmu. Tapi ..."


Wei Feng melihat kaki Youji yang sebelumnya dia ikat mengeluarkan darah banyak. Saat dililit tadi, ekor ular tersebut bergerak liar. Membuat kaki Youji terkoyak oleh bebatuan yang tajam. Wei Feng melihat ke seberang di mana cukup banyak yang selamat. Mereka telah sampai lebih dulu dan sepertinya hanya mereka berempat peserta terakhir.


"Satu pijakan untuk satu orang? Tubuhku tidak terlalu berat. Seharusnya bisa untuk menggendong Kak Youji."


Youji turun dari punggung Xin Chen, wajahnya begitu bersalah. Sempat merasa menyesal mengapa dirinya ikut dan hanya menjadi beban dalam kelompok.


"Aku akan berusaha semampuku."


"Terdepan!"


"Heh? Jarang-jarang aku melihatmu bersemangat begini? Jangan-jangan hari ini kau mau mati, ya?" cerocos Wei Feng dan langsung mendapatkan tatapan mematikan dari Yu Xiong.


"Yu Xiong paling depan, Kak Wei, Kak Youji dan terakhir aku. Waktu kita hanya sepuluh menit lagi."


Yu Xiong menarik napas dalam-dalam, dia memberanikan diri untuk berjalan di atas jembatan kayu yang hanya disambungkan dengan tali itu.

__ADS_1


Meskipun terlihat gagah berani, kaki Yu Xiong gemetar bukan main saat menapak di atas kayu persegi. Beberapa bagian retak karena Yu Xiong terlalu berlama-lama. Kakinya yang pendek terpaksa harus menjangkau dua papan selanjutnya karena pijakan di depannya telah hancur.


Tangan kiri Yu Xiong tergelincir, dia kehilangan pegangan tetapi berhasil selamat sambil berpegangan pada tali di sisi jembatan. Jantungnya memacu cepat tiada henti, matanya yang pasrah menatap Wei Feng yang seperti memaksanya maju cepat-cepat.


"Kak Wei, kalau aku mati bilang pada ibuku kalau aku mati karena berperang."


"Aku akan mengatakan kau mati tersandung batu kalau kau tidak maju-maju!"


Yu Xiong bergidik ngeri, sebelah kakinya menapak ke pijakan selanjutnya. Guncangan di atas jembatan membuat Yu Xiong nyaris terjatuh. Dia segera menengok ke belakang di mana sesuatu yang genting tengah terjadi.


Kayu yang diinjak Wei Feng hancur dan jatuh dari ketinggian yang mengerikan. Youji mengeratkan pegangannya pada tangan Wei Feng, tak membiarkan laki-laki itu jatuh.


"Waktu kalian hanya lima menit!"


teriak prajurit dari kejauhan.


Padahal mereka belum melewati setengah jembatan. Xin Chen maju ke tempat Youji, membantu menarik Wei Feng ke atas. Pijakan mereka mulai memperlihatkan tanda-tanda akan rusak, maka dari itu Xin Chen terburu-buru.


Berhasil menyelamatkan Wei Feng, mereka segera maju sebelum kayu itu hancur. Yu Xiong mengulurkan tangan membantu yang lainnya melalui pijakan yang hancur. Sekarang Wei Feng yang berdiri paling depan, pergerakan mereka menjadi lebih cepat karena Wei Feng bergerak dengan lincah. Diikuti Yu Xiong dan Youji. Xin Chen berdiri paling terakhir.


Mereka mendekati garis terakhir. Wei Feng, Youji dan Yu Xiong berhasil selamat saat meloncat jauh dari jembatan ke pijakan berupa tanah berbatu di depan sana. Xin Chen paling terakhir, dia menginjak kayu terakhir dan hanya perlu meloncat ke seberang.

__ADS_1


Tanpa diduga ternyata masih ada beberapa peserta yang baru sampai, mereka berjumlah delapan orang dan beberapa dari mereka sekarat dengan pendarahan di sekujur tubuh. Karena panik kedelapan orang itu menyeberangi jembatan berbarengan. Membuat tali di ujung sana terlepas begitu saja. Jembatan ambruk seketika.


__ADS_2