
Xiu Juan tak tahu mengapa justru dia membicarakan permasalahan ini pada anak kecil seperti Xin Chen, entah mengapa dia merasa memang Xin Chen sama persis seperti Ayahnya. Mungkin di balik keresahannya ini dia akan mendapatkan jawaban dari pemuda kecil itu.
"Tidak bisa dikatakan buruk juga," sela Xin Chen. Xiu Juan ingin menarik senyum tapi mendengar lanjutan kalimat Xin Chen dia menarik senyumnya kembali.
"Tapi sangat buruk." Xin Chen melanjutkan, "Kekaisaran kita sudah diburu oleh banyak pihak, akan terjadi kekacauan kembali dalam skala besar. Kemungkinan lebih besar dari Era Pembantaian yang pernah aku baca dalam sejarah Kekaisaran Shang dulu..."
Analisis Xin Chen mulai terdengar masuk akal, mengingat banyaknya kasus pembunuhan terdengar seiring berjalannya waktu.
"Kekacauan ini akan menjadi perang dunia yang besar. Benua kita akan menjadi lautan darah dan tanah akan menjadi medan pertempuran, itu yang sempat aku pikirkan akhir-akhir ini."
"Lalu apa yang akan kau lakukan?"
Xiu Qiaofeng menguping sedikit pembicaraan mereka, meski hanya sekilas dia dapat mendengar Xin Chen berbicara dengan lantang. "Aku akan melindungi rumahku, walaupun harus memerangi semua orang, menyatukan tiga Kekaisaran sekaligus untuk menciptakan kedamaian. Agar semua orang bisa bernapas tenang tanpa harus ketakutan sepanjang hari."
Xiu Juan dan Xiu Qiaofeng sama-sama membuka mata lebar. Keinginan itu sudah di luar batas kemampuan orang seperti Xin Chen.
"Xin Chen, apa kau paham dengan apa yang kau katakan?"
Xiu Qiaofeng melipat kedua tangannya di depan dada, menyangsikan kalimat Xin Chen barusan. "Hah! Mana bisa kau melakukan hal itu, kau pikir saja, Ayahmu saja mungkin takkan bisa melakukannya! Apalagi manusia primitif sepertimu!"
"Menyatukan Tiga Kekaisaran? Itu sangat mustahil. Chen'er, ini semua sudah berlangsung sejak lama. Ketika tiga wilayah memisahkan diri dan membentuk pemerintahan mereka sendiri. Menyatukannya kembali tak akan semudah itu," balas Xiu Juan getir.
"Aku tahu dan aku paham dengan apa yang baru saja ku katakan. Sampai kalian melihat situasinya, mungkin kalian juga sadar tidak ada pilihan lain selain menyatukan tiga Kekaisaran ini."
"Sudahlah... Berhenti memikirkan tujuan bodohmu itu, Tuan Muda Xin kedua!" Lagi-lagi Xiu Qiaofeng mengejeknya dengan menyebut nama keluarganya. Membuat Xin Chen tak tahan ingin membalas gadis kecil itu, meskipun Xiu Qiaofeng masih kecil namun wajahnya sudah memperlihatkan kecantikan sejak usia muda.
__ADS_1
"Kalau kau menungguku untuk menyerah dengan tujuan itu, sayang saja Nona Xiu, kau akan menungguku selamanya."
"Baiklah... Baiklah... Selagi kau disibukkan dengan tujuan konyolmu akan akan berfokus dengan Turnamen Pendekar Muda yang mungkin akan diselenggarakan oleh Kaisar Qin. Siap-siap saja, gelar Pilar Kekaisaran pertama akan diambil oleh Klan Xiu. Aku sudah mempersiapkan banyak hal untuk itu," ujar Xiu Qiaofeng menyombongkan diri.
Xiu Juan mengelus kepala gadis kecil itu, "Jangan berkata seperti itu, setidaknya hormati Tuan Muda Xin."
"Ah, tidak mau bibi! Dia menyebalkan... Kecuali kakaknya yang tampan itu, mungkin aku akan berpikir dua kali sebelum mengganggunya." Xiu Qiaofeng melepaskan tangan Xiu Juan dari atas kepalanya. Mengamati Xin Chen yang kini tak lagi memedulikan mereka berdua, justru segera pamit untuk melihat keadaan Youji.
Xin Chen tiba di depan pintu, menatapi Youji yang setengah sadarkan diri di atas pembaringan dengan obat dan tanaman herbal untuk menghentikan pendarahan di lengannya. Jin Sakai orang pertama yang menyadari kedatangannya, lelaki itu menggeser tubuhnya untuk memberi ruang agar Xin Chen bisa berdiri.
"Kurasa setelah ini dia takkan bisa menempa pedang seperti dulu," kata Xin Chen turut merasakan kesedihan yang dirasakan Youji. Menempa pedang sudah merupakan bagian dari hidup Youji, kehilangan sebelah tangan seperti ini adalah pukulan berat bagi pemuda itu.
Youji tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak saat itu, wajahnya hanya menunduk dalam tak berniat melihat orang-orang yang mengkhawatirkan dirinya.
"Kak Youji, kau baik-baik saja?" Xin Chen mengeluarkan suara, sedikit menepuk pundak pemuda itu agar bisa melihat wajahnya. Youji sendiri menatap bola mata Xin Chen lemah, "Bagaimana bisa aku bertarung dengan musuh klan Jin jika hanya menggunakan sebelah tangan?"
"Kak Youji, pedang bukan satu-satunya senjata yang kau butuhkan untuk menang dalam pertarungan." Xin Chen menepuk dadanya, "Semuanya berasal dari hatimu. Sebesar apa keinginanmu untuk melindungi apa yang kau sayangi, sebesar itu juga kekuatan yang akan tertanam dalam dirimu."
Tangan kiri Youji bergetar hebat, melihat sebelah tangannya lagi telah dibalut berdarah-darah. Rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya, dan putus asa yang datang saat dia menyadari semuanya akan berubah sejak sekarang.
"Youji, kau tidak perlu membantuku menempa pedang lagi. Tidak perlu merasa bersalah atas itu." Jin Sakai akhirnya angkat bicara.
Youji mengedipkan matanya agak kesal, "Ayah, ini bukan permasalahan tentang menempa pedang atau semacamnya! K-kau lihat... Tanganku hanya sebelah..., saat musuh menyerang, mungkin aku takkan bisa menghalau pedang itu sebelum menembus jantungku!"
Jin Sakai terbangun, "Harga diri klan Jin harus kau jaga baik-baik, Youji. Jangan hanya karena sebelah tanganmu kau mengeluh dan menyalahkan orang-orang di sekitarmu." Nada bicara Jin Sakai tegas, terasa lebih seperti memperingati putranya agar tak bersikap demikian di depan orang banyak.
__ADS_1
Youji menggemerutukkan giginya, pikirannya terlalu kacau untuk sekedar mendengarkan Ayahnya. Youji berdiri dan berlari kencang. Meninggalkan mereka semua dalam kebimbangan.
Jin Sakai sempat menyerukan namanya tetapi Youji tak mendengarnya lagi, Xin Chen menepuk belakang Jin Sakai. "Mungkin dia butuh waktu untuk menenangkan dirinya sendiri."
"Chen! Xin Chen!" Wei Feng menerobos masuk secara kasar, menyingkirkan siapapun yang menghalangi dengan begitu paniknya.
"Ada apa?"
"Cepat ikut aku!"
Xin Chen mengejar langkah kaki Wei Feng, menerabas daun dari pohon-pohon liar menggunakan pedangnya dan sewaktu melihat ke hadapan dia dibuat terkejut akan pertarungan besar yang tengah terjadi di sana.
"Guru Rubah?" Xin Chen setengah tak percaya melihatnya, Rubah Petir agak terkejut melihat Xin Chen datang ke tempat mereka bertarung.
Lawan yang dihadapi Rubah Petir tak kunjung menampakkan dirinya, baru saja mendengar pergerakan di belakangnya dan menebak sosok tersebut akan muncul dari arah sana, ternyata musuh Rubah Petir justru datang dari atas.
Sontak mata Xin Chen membesar saat lubang dipenuhi aura gelap muncul di atas Rubah Petir, tak mengeluarkan hawa keberadaan sedikit pun dan bergerak sangat diam-diam hingga Rubah Petir tidak menyadari keberadaannya. "Guru, di atasmu!"
Rubah Petir sigap menghindar, tak menyangka memang musuhnya datang dari atas dan mengeluarkan kabut hitam tebal dari sana.
Lawan Rubah Petir kali ini sangat tak masuk akal, ketika Rubah Petir keluar dari goa sekedar untuk berburu makanan dia dikejutkan oleh sosok yang kembali muncul di balik asap-asap tipis.
Yang mengintainya di balik pepohonan tinggi. Tidak ada hawa keberadaan, hembusan napas atau bunyi detakan jantung terdengar. Sosok tersebut sudah tidak terlihat seperti manusia lagi.
Tentu Rubah Petir takkan tenang membiarkan sosok itu berdiam diri saja, dia mengejarnya dan pertarungan tak terelakkan seperti yang Xin Chen lihat sekarang. Ilmu hitam yang digunakan sosok misterius ini dipastikan sudah sangat tinggi, hingga dia tidak membutuhkan tubuh manusia asli untuk menyerang lawannya dan hanya mengandalkan kesadaran jiwa.
__ADS_1
***