Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 201 - Aliran Pedang Iblis


__ADS_3

"Apa tujuanmu?"


Qi Baixuan melemparkan pandangan ke luar, menatap ketidakpastian yang menghantuinya selama ini. Tanpa berbasa-basi lagi dia segera bangkit. Menoleh ke belakang sambil berkata, "Ikutlah denganku."


Tempat berlatih Lan Zhuxian tak begitu jauh dari rumah Qi Baixuan. Hanya dibatasi oleh hutan yang jarang di perbatasan kota. Mereka tiba di tengah hutan yang tidak ditumbuhi tanaman apa pun, seorang pemuda dengan gesitnya mengayunkan serangan pedang. Aliran pedang yang tak begitu asing di mata Xin Chen namun lebih sulit dari yang pernah dilihatnya. Aliran pedang itu hanya diwarisi oleh keluarga klan Kekaisaran lain. tak bisa dibantah lagi, ayunan pedang Lan Zhuxian memiliki kesamaan dengan teknik berpedang Lan An dan juga Aliran Pedang Iblis.


Lan Zhuxian dua pasang mata sedang tertuju ke arahnya, dia menghadapkan pandangan pada kedua orang tersebut. Sedikit membungkukkan badannya, "Ada apa paman dan tuan kemari?"


"Ah, tidak. Hanya sedikit mengintip ilmu berpedangmu. Kau sangat mahir menggunakannya." Qi Baixuan tersenyum canggung, berbeda dengan Xin Chen yang hanya berdiri diam di sampingnya. Melihat suasana yang begitu tak enak, Qi Baixuan menyeloteh. "Bagaimana jika kau berlatih pedang dengan tamu kita. Ilmu berpedangmu akan sia-sia jika kau tak memiliki musuh untuk dihadapi," usul laki-laki itu membaca keengganan di wajah Lan Zhuxian.


Pemuda itu merasa tak enak atas kalimat Qi Baixuan, ditambah lagi itu sangat tidak sopan pada tamu mereka. Tapi yang namanya Qi Baixuan memang seperti itu orangnya, dia suka melakukan sesuatu tanpa berpikir dua kali.


Tapi siapa sangka Xin Chen justru menerima usulan tersebut, dia berjalan tenang ke hadapan Lan Zhuxian. Kedua matanya tertutup, tak lama terdengar dia berkata dengan sopan. "Mohon bantuannya."


Lan Zhuxian menarik napas sembari melihat tajam ke arah Qi Baixuan yang sejak awal memang penasaran dengan kekuatan dua pemuda ini. Lan Zhuxian dengan ilmu berpedang tingkat tinggi, Qi Baixuan pernah berduel dengan pemuda ini. Kecepatan tangkisan dan gerakan pedangnya berbeda level dengan pendekar mana pun yang pernah ditemuinya.


Bahkan terakhir kali mereka bertukar serangan pedang, Qi Baixuan menerima kekalahan pahit karena harus kehilangan satu-satunya pedang yang dia miliki dan harga senjata sendiri termasuk mahal. Qi Baixuan tak memiliki uang lagi untuk membeli penggantinya. Semenjak saat itu Qi baixuan tak pernah lagi berani menantang Lan Zhuxian.


Sedangkan sosok yang dikenalnya dengan nama Chen itu, entah sejauh mana kemampuannya. Namun Qi Baixuan begitu tertarik untuk melihat. Kedua pemuda itu saling bertukar pandang dalam beberapa saat. Hingga akhirnya Lan Zhuxian berlari dan melompat dengan tidak diduga-duga ke arahnya, tebasan pedang kayu hanya berhasil membelah udara. Namun Lan Zhuxian tak langsung melebarkan jarak, dia justru semakin maju memojokkan Xin Chen.


Hanya dalam beberapa detik saja, Qi Baixuan sudah membaca sebesar apa perbedaan kekuatan antara Lan Zhuxian dengan Xin Chen. Pemuda dari Kekaisaran Qing itu selalu memperhatikan setiap langkahnya, membaca celah dengan mata awasnya dan melepaskan serangan saat menemukan titik lemah mereka.

__ADS_1


"Hai, Lan Zhuxian, jangan terlalu menyudutkan tamu kita," peringat Qi Baixuan. Dia sedikit menyesal mengapa Xin Chen jauh lebih lemah dibanding perkiraannya. Laki-laki itu semakin menegur saat tensi pertarungan antara Xin Chen dan Lan Zhuxian semakin kuat. Sulit dikendalikan. Kali ini Xin Chen benar-benar kehabisan langkah.


"Maafkan saya, Tuan. Saya terlalu terbawa suasana," jujur Lan Zhuxian tapi Xin Chen tahu itu hanya sekadar basa-basinya. Lan Zhuxian memang sengaja melakukannya.


Lan Zhuxian tersadar akan sesuatu, "Tapi mengapa Tuan tidak mengeluarkan senjata?"


"Ini pedang sungguhan, aku tidak mau melawan seseorang yang memegang pedang kayu di tangannya."


Lan Zhuxian tercenung dalam kebingungannya sendiri. "Kalau begitu apakah tuan mau bertarung sekali lagi. Pinjam pedang saya."


Xin Chen sebenarnya agak terganggu dengan pembawaan Lan Zhuxian yang terlampau formal. Namun tak dikeluarkannya sedikit pun protes, "Baiklah, kau juga menggunakan senjata."


"Saya tidak mempunyai pedang kayu yang lain, Tuan."


Lan Zhuxian tak banyak membantah, dia tak yakin juga apakah keadaan ini berimbang. Xin Chen hanya menggunakan pedang kayu biasa, hanya dengan satu kali tebas pedang itu akan langsung patah.


Qi Baixuan duduk tanpa sedikit pun melepaskan pandangan dari mereka berdua. Sudah lama dia tak melihat duel berpedang, terlebih lagi Lan Zhuxian adalah sosok yang menurutnya cukup kuat untuk pemuda seusianya.


Lan Zhuxian lamat-lamat mengamati wajah Xin Chen, pemuda itu lebih sering menutup matanya. Tarikan napasnya tenang, saat mengangkat pedang kayu di tangannya Lan Zhuxian sampai terpana. Keseimbangan tubuhnya mungkin sangat sulit digoyahkan. Sampai Lan Zhuxian berpikir sedari awal Xin Chen hanya berniat mengukur kekuatannya.


"Kekalahan terbesarmu adalah membiarkan musuhmu tahu kekuatanmu."

__ADS_1


Xin Chen menghilang dari pandangan matanya, Lan Zhuxian memasang kesiagaan tertinggi. Dia sedikit terlambat menyadari serangan kejutan tengah mengincar di sebelah kirinya. Lan Zhuxian menangkis, namun justru pukulan kayu menyerang bahu sebelah kanannya.


Lan Zhuxian terpukul mundur sekaligus tercengang. Matanya tak mungkin salah menangkap bahwa memang serangan itu datang dari sebelah kirinya. Kini dia tak dapat melihat Xin Chen berada tepat di belakangnya, mengangkat pedang tinggi-tinggi masih dengan mata terpejam.


Qi Baixuan berdiri dari tempatnya berdiri, jantungnya seakan melemah saat menyadari siapa sosok yang pernah dilihatnya menggunakan teknik berpedang itu.


"Tuan Xin-bukan, kau ... kau pasti ..." bibir Qi Baixuan tak sanggup meneruskannya, aliran Pedang Iblis telah melegenda. Xin Fai tidak pernah mengangkat murid setahu Qi Baixuan dan hanya meneruskan ilmu berpedang itu kepada dua putranya.


Benar saja, pertarungan hebat terjadi setelahnya. Teknik iblis pembunuh itu penuh keterampilan dan juga daya serang tingkat tinggi. Keseimbangan tubuh Xin Chen tak tergoyahkan bahkan saat Lan Zhuxian mengecohkan langkahnya. Pedang kayu itu tak tergores segaris pun di tangan Xin Chen dan itu semua membuat Lan Zhuxian gentar.


Tempo penyerangan yang begitu cepat membuat Lan Zhuxian goyah, kegesitannya mulai melambat. Dia harus mempertahankan pijakannya.


Kedua pedang saling berbenturan, senjata kayu di tangan Xin Chen mulai menandakan bunyi-bunyi keretakan. Lan Zhuxian menggempurkan serangan yang lebih kuat.


Namun tak disangkanya justru kesombongan itu mengakibatkana kekalahan bagi Lan Zhuxian sendiri. Pedang kayu di tangan Xin Chen berbelok arah menangkisnya, membuat pedang di tangan Lan Zhuxian lepas dan terlempar cukup jauh.


"Kesombongan juga merupakan kelemahanmu."


Lan Zhuxian baru menyadari pedang kayu di tangan Xin Chen yang seharusnya tak memiliki ketajaman berhasil meninggalkan bekas sayatan menyilang di baju putihnya, cukup panjang namun tak sampai menembus ke kulitnya. Lan Zhuxian masih membatu di posisinya, pedang telah hilang di tangannya.


"Tidak mungkin ...."

__ADS_1


Lan Zhuxian mengingat-ingat di mana letak kesalahannya, tidak ada yang salah dari teknik berpedangnya. Lan Zhuxian terbiasa melatih diri. Dia begitu mengingat setiap gerakan dari aliran pedang yang diturunkan kepadanya.


__ADS_2