
Xin Chen bergerak cepat, dia menangkap tubuh wanita itu sekaligus makanan yang dibawanya. Entah apa yang akan terjadi seandainya Xin Chen tidak di sana, yang jelas mereka turut lega melihatnya terselamatkan.
"Terimakasih..."
"Tidak perlu sungkan," jawab Xin Chen kembali teringat akan percakapannya tadi. "Baiklah, aku akan membayar lima ribu keping emas. Kalau begitu bisa buatkan aku pedang secepatnya?"
"Khusus untukmu empat ribu saja," ucap pria itu mulai ramah. Dia membereskan beberapa barang dan menyuruh anaknya untuk menyimpan pedang yang baru saja mereka tempa. "Kalau begitu kau harus menunggu setidaknya tiga bulan sampai pedangmu selesai ditempa."
"Tiga bulan!? Serius? Tidak bisa satu bulan saja?" serobotnya cepat-cepat, untuk orang tidak sabaran sepertinya waktu tiga bulan terlalu lama. Apalagi tanpa pedang pusaka bumi dan hanya bermodalkan senjata kelas rendah seperti yang dibelinya kemarin, membelah kepala lembu saja sudah seperti membelah batu.
"Dua bulan mungkin bisa, tapi kau harus membayar mahal untuk itu."
"Em... Kalau begitu aku bayar enam ribu keping emas dan aku juga akan membantu menempanya. Satu bulan bisa, kan?"
Tawaran Xin Chen kali ini membuat alis pria itu terangkat seketika, tak pernah menemukan pelanggan seperti anak ini. Terlihat perhitungan sekali. Mana mungkin mereka bisa melakukannya dalam waktu sesingkat seperti itu.
"Sayangnya di klan kami memiliki teknik sendiri, kami memerlukan waktu banyak untuk menyiapkan sebuah pedang yang sempurna."
Raut wajah Xin Chen berubah, menyadari ucapannya sedikit membuat anak itu kecewa kepala keluarga penempa pedang mengeluarkan suaranya kembali. "Mungkin dengan tiga orang kita bisa menyelesaikannya dalam satu bulan, itupun jika kau sanggup melakukannya, Tuan Muda."
"Pasti bisa!"
"Sebelumnya boleh aku tahu siapa dan dari klan mana kau berasal?" Ucap pria itu, sedangkan pemuda yang bersamanya tengah mengantarkan sang ibu untuk beristirahat di dalam.
"Aku dari klan Xin. Xin Chen."
"Ah... Klan itu, ya? Nama besar Ayahmu sudah terdengar sampai ke negeriku dulu."
"Memangnya kau berasal dari mana?"
"Namaku Jin Sakai, kau pasti akan mengatakan nama ini asing bukan?"
__ADS_1
Tak ragu lagi, melihat Xin Chen seperti tak mengetahui dari mana klan dan mengapa nama ini asing terdengar di telinganya sudah menjelaskan. Sosok Jin Sakai dan keluarganya adalah orang yang datang dari negeri jauh.
"Tak perlu kujelaskan secara panjang, sederhananya kami datang ke sini karena permasalahan antar klan. Melarikan diri di negeri orang tidak buruk juga, bukankah begitu?" tanyanya, menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi dengan lelah.
"Permasalahan antar klan, ya? Seperti dendam lama begitu?"
"Kau cukup pintar juga menebak," puji lelaki itu. "Dulunya aku seorang samurai. Kau tahu, kehidupan di sana sangat keras. Api perang sering meletus, membakar rumah-rumah kami hingga tak ada lagi yang tersisa selain kematian. Dan seiring dengan berjalannya waktu konflik-konflik pun terjadi. Satu hari sebelum kami pergi dari sana, klan Jin telah habis dibantai. Hanya tersisa aku dan keluargaku yang selamat. Kalau kau menjadi diriku, apa yang akan kau lakukan?"
"Begitu... Mungkin jika aku menjadi dirimu aku akan berpikir untuk kembali dan mengambil kepala mereka."
Jin Sakai tertawa kecil, teringat akan masa lalunya waktu itu.
"Awalnya aku juga berpikir demikian." Dia memberi jeda sejenak, menuangkan secangkir air dan meminumnya hingga habis. "Tapi jika terus dilakukan, pembantaian dan balas dendam ini akan terus terjadi. Inilah sifat asli manusia. Mereka ingin merenggut apa yang telah diambil, meski tahu nyawa tidak bisa dikembalikan. Membalaskan mereka takkan membuatku menjadi siapa-siapa."
"Dan kau memilih jalan untuk menjadi penempa pedang? Berhenti menjadi samurai? Membuang pedangmu dan hanya menonton mereka tertawa-tawa setelah membantai saudaramu?" Kini jawaban Xin Chen ibarat anak panah beracun, menikam tepat di jantung pria itu hingga berdarah.
Meski hanya sekilas mata pria itu terlihat berkaca-kaca, dia terlalu malu untuk menunjukkan kesedihan yang terpendam puluhan tahun dalam hidupnya. "Aku terlalu menyayangi keluargaku. Aku tak ingin anakku juga ingin membalaskan mereka dan kehilangan nyawanya untuk itu.."
Dan kini Jin Sakai mengakhiri perselisihan tersebut dengan mengalah. Tindakan yang terlihat baik, tapi tak begitu tepat di mata Xin Chen.
"Kalian melarikan diri juga demi apa? Karena mereka masih memburu kalian, bukan? Walaupun aku tak begitu mengerti soal ini, setidaknya jika aku jadi dirimu aku akan datang pada mereka."
Jin Sakai mengangkat kepalanya, menatapi Xin Chen dalam keputusasaan. Tidak mengerti bagaimana jalan pikiran anak itu. Paling tidak, saat itu dia sadar bahwa dirinya hanya menyerah pada keadaan. Tidak lebih dari itu semua.
Xin Chen masih melanjutkan, "Seratus orang pun akan aku ladeni. Agar nanti meskipun aku mati dan menemui leluhurku di akhirat, setidaknya aku bisa mengatakan pada mereka aku mati dalam pertempuran, untuk mempertahankan rumah kami dan menjaga harga diri klanku sendiri."
Tak tahu mengapa seperti ada luka lama yang terbuka kembali, Jin Sakai menghadapkan tubuhnya pada Xin Chen. "Menurutmu aku harus membalas mereka?"
"Ya, daripada keluargamu yang nanti malah menjadi sasaran mereka. Suatu saat nanti mereka pasti akan datang untuk mengambil kepalamu. Aku tak ingin melihatmu mati karena penyesalan." Sesaat Xin Chen teringat akan roh pemilik Baja Phoenix, dia mati dalam penyesalan terbesar dalam hidupnya. Entah apa yang pernah dia lakukan semasa hidupnya. Tapi karena hal itu, si kakek penghuni Baja Phoenix berubah menjadi roh.
Pada dasarnya roh sendiri tercipta oleh emosi manusia yang pernah hidup, semakin besar kemarahan serta penyesalan semasa hidupnya semakin berbahaya pula roh tersebut hingga sulit disucikan.
__ADS_1
Tak jarang roh-roh ini malah merasuki penduduk desa. Menimbulkan keresahan berkepanjangan ditambah rasa takut yang semakin memperkuat eksistensi roh itu sendiri.
Untuk roh tingkat rendah mungkin tak terlalu berbahaya, kecuali jika roh itu bisa mencelakai manusia. Roh yang telah menyempurnakan wujud ini bisa lebih ganas dari siluman sendiri.
Segelintir berita persoalan roh terkuat yang kini telah membunuh banyak manusia pun terdengar di pelosok-pelosok desa. Xin Chen tak begitu tahu di mana letak pastinya, yang pasti, kehadiran roh jahat bukanlah hal yang bisa disepelekan lagi selama beberapa tahun belakangan. Maka dari itu Xin Chen tak ingin calon-calon roh kuat hadir karena hal seperti ini.
"Ayah, tidak perlu. Untuk hal itu, aku yang akan melakukannya." anaknya telah kembali usai mengantarkan ibunya.
"Aku yang akan membalaskan perbuatan mereka. Aku telah berlatih keras untuk hal ini, hanya membutuhkan waktu yang tepat untuk membalaskan perbuatan mereka. Klan Jin yang memiliki harga diri tinggi akan kembali mengambil kepala mereka. Bukankah Ayah sendiri yang mengatakannya padaku?"
Tidak terdengar jawaban lagi, hanya anggukan kecil yang terlihat. Sementara itu Xin Chen melirik ke pedang yang berhasil ditempa Jin Sakai, membuat pria itu tersenyum kecil saat menyadarinya.
"Kau ingin menempa pedang yang seperti apa?"
"Itu..." Xin Chen mengeluarkan sebuah baja dari cincin ruangnya. Memperlihatkannya pada Jin Sakai dan anaknya.
Jelas saja kedua orang itu saling memandang, meski hanya sekilas tahu persoalan Baja Phoenix kurang lebihnya mereka dapat merasakan sensasi aneh saat benda itu keluar.
Seperti sebuah baja yang memiliki nyawa dengan aura unik yang sulit dijabarkan melalui kata-kata.
"Bisa kalian menempa pedang itu dengan mencampurkan Baja Phoenix?"
**
akhir2 ini ada masalah dgn review di noveltoon, entah karena apa juga aku gk tahu:( semoga lekas membaik lah situasinya, jujur gregetan sendiri liat proses reviewnya kelamaan, kyk liat siput balapan. Greget!
jangan lupa dukungannya, baik dari vote, tips, rate 5, like, comment dan follow authornya 🙄
thanks karena udh mendukung sampai skrg 🌝 lupyuuu💗♥️💖💚♡😘
tapi boong, yahahahayuk😈🤣
__ADS_1