Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 272 - Titipan


__ADS_3

Seberkas cahaya dari samping membuat kepala Yuhao menoleh, mendapati ledakan tengah mengarah ke tempatnya. Mantra Pembunuh Roh seketika menghapuskan tangannya, membuat Yuhao terkejut dan memundurkan diri sejenak. Mendapati sekomplotan orang datang dengan berani, seseorang berdiri di garis terdepan tanpa rasa takut.


"Siapa kau?!" Yuhao memekik, tatap matanya terlihat kesal bukan main.


Sosok yang baru saja datang itu mengenakan pakaian merah muda dengan hiasan bunga indah, namun tak terlihat wajahnya setitik pun karena dibaluti oleh kain yang menutup paras cantiknya. Umur perempuan itu mungkin masih begitu muda, tetapi keterampilan tangannya bisa seimbang dengan pendekar senior.


Yuhao tak mendengar jawaban selain pergerakan kelompok tersebut yang semakin mengacaukannya, tanpa diketahuinya, hari itu kelompok misterius yang telah lama mengintai YuangXe menampakkan diri untuk mengincarnya.


Gigi Yuhao berbunyi gemeretak ketika mantra yang diciptakannya sendiri justru menjadi senjata makan tuan untuknya. Gadis itu menguasai semua teknik dan jurusnya, tak bisa mengelak lagi, Yuhao nyaris kehabisan langkah.


Namun meskipun dia terkurung oleh belasan pendekar, Yuhao tetap dapat melepaskan serangan balik. Membunuh dua orang sekaligus yang berada di jarak paling dekat dengannya.


Xin Chen baru saja terlepas dari pengaruh Yuhao, dia tak tahu mengapa kelompok orang itu dapat menyerang Yuhao dan bahkan melihat pertarungan mereka. Dia mencoba menatap ke arah gadis itu, ada perasaan tak asing saat melihat mata safir yang ditutupi oleh kain tipis putih di wajahnya.


Gadis itu sempat menoleh padanya namun tak mengatakan apa-apa selain terus menghalau langkah Yuhao.


"Kenapa kau menyelamatkanku?" tanyanya saat gadis itu berjarak hanya dua meter darinya.


"Kau pernah menyelamatkanku dua kali."


Xin Chen sempat tak percaya dengan dugaannya, dia belum sempat mengatakan apa pun sampai akhirnya Yuhao dan kelompok di bawah gadis itu bertarung di tempat lain. Xin Chen hendak mengejar tetapi suara aneh itu muncul lagi, kali ini dari arah belakang.


Xin Chen menggunakan pedang untuk menangkis serangan yang datang, namun sosok itu justru memutar tubuhnya dan menyerang dari sisi berbeda, tepatnya di bawah kaki kirinya.


Pergerakannya yang sangat cepat dan juga tak bisa ditebak membuat Xin Chen terkena satu serangan, senjata di tangan orang itu memiliki kekuatan yang sama dengan yang dimiliki Ratu Iblis. Mampu menembus tubuh roh.

__ADS_1


"Heh. Kau rupanya yang diincar nenek kurang kerjaan itu? Biasa-biasa saja. Sampai ditunggu bertahun-tahun, hahaha."


"Siapa—"


"Hantu dari YuangXe. Kau pasti pernah mendengar ceritaku dari seorang kakek tua, kan? Sayangnya orang yang membocorkan ceritaku akan mati. Begitulah kutukannya."


"Kau membunuhnya?"


"Bukan aku, tetapi mulutnya sendiri."


Xin Chen memandang curiga ke arah laki-laki di depannya itu, dia berjongkok seperti katak yang hendak menyerang. Tangannya dilindungi pelindung besi dan pakaiannya tak seperti orang-orang dari Kekaisaran Shang maupun YuangXe. Dia lebih seperti gelandangan yang tak pernah merawat diri. Kumis dan janggutnya menutupi lebih dari separuh muka. Dan juga warna kulitnya yang gelap semakin mempersulit orang untuk mengenali wajahnya.


"Hm? Kenapa diam? Kau terkejut? Baiklah, ku ijinkan kau terpesona tapi hanya satu detik."


Hantu dari YuangXe itu semakin percaya diri, Xin Chen mencengkram erat pedang di tangannya. Menatap ke lelaki itu dengan waspada. Serangan bisa datang dari mana saja. Di saat-saat seperti ini saja, bisa jadi laki-laki itu sedang mengalihkan fokusnya dan mencari celah untuk keuntungannya.


"Aku bukan saudaramu, lagipula apa yang kalian sembunyikan di sini sampai mengundang ratusan—hingga ribuan pendekar. Ini tanah milik Kekaisaran Shang, mengundang bencana seperti perang hanya merugikan pihak kami. Kupikir kalian tidak lupa di tanah siapa kalian berpijak."


"Oh, begitu cara kau memperlakukan kami?"


Lelaki yang semula bertampang jenaka itu merubah nada bicaranya, secara diam-diam aura suram mulai terlihat darinya. Hawa pembunuh yang tak biasa datang setelahnya, Hantu dari YuangXe itu perlahan bergerak ke balik pohon.


Xin Chen teringat dengan perkataan kakek tua itu, bahwa Hantu dari YuangXe dapat menyatu dengan bayangan.


"Kau tersinggung saat aku mengatakan kebenarannya? Hatimu terlalu sensitif, pak tua."

__ADS_1


Laki-laki itu tertawa dengan dibuat-buat, "Oh aku suka gaya bicaramu itu. Fasih seperti orang Kekaisaran Shang, dan sok elitis seperti pejabat baru naik tahta! Hahahaha!"


"Aku lebih suka saat kau tak berbicara."


"Cari-cari masalah, ya. Kuakui ini memang bukan tempat kami, tapi Kaisar telah meminjamkan tanah ini sampai hari itu tiba. Dan sebelum itu terwujud kami akan terus menjaga apa yang dititipkan kepada kami."


"Dititipkan?"


Laki-laki itu tak menanggapi lebih jauh lagi sebab dia tahu arah pembicaraan itu hanya akan membuatnya membongkar rahasia yang dijaga orang penduduk YuangXe.


"Majulah. Biar ku perlihatkan seni bela diri yang sebenarnya di tanah kami."


Wajah menantang itu tak seperti pendekar biasa, dia berucap tenang. Hembusan napasnya yang teratur terdengar jelas di telinga Xin Chen. Sejenak mereka saling bertatapan hingga akhirnya Hantu dari YuangXe itu mengeluarkan tiga pedang lagi. Pedang itu dijepitnya di beberapa bagian tubuh, dengan mata pedang menuju ke arah Xin Chen.


*


Alur pertarungan menjadi semakin rumit saat Hantu dari YuangXe memainkan keempat pedangnya sekaligus, dia menyerang di empat sisi berbeda. Dalam sekali gerakan saja arah serangannya yang seringkali menyerbu datang dari titik buta berhasil menipu Xin Chen. Dia semakin bergelora saat tempo pertarungan semakin cepat, langkahnya yang ringan serupa angin dan juga kemampuannya menghilang tiap kali serangan fatal nyaris membelah perutnya membuat Xin Chen geram.


Dia tak bisa mengandalkan Hantu Topeng Darah sama sekali. Ketangkasan dan kegesitan laki-laki ini tak sebanding dengan kecepatannya merubah wujud, andai saja orang ini sedikit lebih lamban maka Xin Chen yakin dia memiliki celah.


Namun Hantu dari YuangXe itu tak peduli dengan pertarungan adil atau curang, dia sering kali mengelabui dan memakai trik kotor. Xin Chen mendengkus, mengejar laki-laki suram itu ke dalam hutan yang semakin lebat. Membabat apa pun di sekitarnya untuk memperpendek jarak.


Seperti perkiraannya setelah mempelajari teknik bertarung Hantu dari YuangXe, laki-laki itu pasti akan berbalik untuk menyerangnya dari arah depan. Xin Chen sudah bersiap namun bom asap seketika mengacaukan semuanya.


"Gelar ini bukan hanya sekedar nama yang disematkan karena membunuh ratusan nyawa, anak muda."

__ADS_1


Sadar tak sadar, empat mata pedang roh terangkat di balik pundaknya. Bersiap menikam Xin Chen detik itu juga.


Saat hentakan serangan datang, Xin Chen tiba-tiba berbalik dan menebas miring ke arah lawan. Satu pedang terpotong, namun Hantu dari YuangXe tampak tak terguncang akan hal itu. Dia membuangnya seperti sampah.


__ADS_2