Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 278 - Dua Arah


__ADS_3

Kini dua pengguna roh saling berhadapan, di tengah-tengah mereka pimpinan YuangXe tewas meregang nyawa. Xin Chen tak mengerti lagi siapa sebenarnya Hantu dari YuangXe dan apa yang dipikirkannya. Membunuh Yuhao dan pemimpin mereka sendiri, dia tidak bisa memaafkan itu semua.


"Apa–"


Kalimatnya terpotong karena Hantu dari YuangXe tiba-tiba menyerang sengit, dia tak mengulur waktu lagi untuk sekedar berbicara. Padahal di awal Xin Chen yakin laki-laki itu bisa diajak bicara. Melihat betapa kuat aura pembunuhnya yang sekarang, Hantu dari YuangXe yang sebenarnya mulai terlihat seperti apa yang digambarkan kakek tua di kedai teh itu.


Xin Chen nyaris terkena serangan berbahaya andai para roh tak membentenginya. Kekuatan di sisinya telah mengurang banyak, bahkan jauh banyak saat melawan Hantu dari YuangXe dibanding Yuhao. Laki-laki itu adalah definisi cepat yang sebenarnya. Dia tak perlu hitungan detik untuk melayangkan serangan beruntun. Karena begitu cepatnya hampir tak ada yang bisa melihat alur serangannya.


Shui turun tangan, tetapi belum memasuki satu menit tubuhnya terpental jauh menghantam dinding sumur air di depan perumahan. Pemuda Surai Biru itu menggeleng tak percaya, baru tahu bahwa jenis pertandingan itu bukan medannya.


"Cih, tubuh manusia ini memang ampas. Memalukan nama Siluman Penguasa Air saja."


Shui menoleh ke arah Ye Long, segera mendekatinya selagi dua orang tadi sibuk bertarung. Belum sampai ke tempat Ye Long, naga itu m membuka mata dengan tajam, menengok ke arah depan di mana pertarungan dua kubu tengah berlangsung tajam.


Sayap Ye Long yang sempat terluka kini mengembang, seolah-olah siap terbang dalam beberapa hitungan detik lagi. Saat matanya dapat menangkap pergerakan Hantu dari YuangXe, naga hitam itu segera terbang ke arah musuh. Membuat targetnya yang tak menyadari serangan tersebut terkena telak hantamannya.


Hantu dari YuangXe terlempar, namun dapat kembali menyeimbangkan pijakannya. Dia menatap Ye Long yang kini dalam keadaan terlemah dan dapat dibunuhnya kapan saja.


"Sembunyi." Perintah tersebut keluar dari mulut majikannya, untuk kali ini Ye Long tak banyak memprotes dan langsung menghilang menjadi gumpalan bayangan hitam.


Melihat naga itu ternyata merupakan siluman peliharaan lawannya, Hantu dari YuangXe hanya bisa mengambil kesimpulan bahwa majikan asli dari naga hitam itu adalah pemuda jubah hitam tersebut. Bukan pemuda satu lagi yang tadi disembunyikannya.


Hantu dari YuangXe menatap ke belakang di mana Lan Zhuxian telah menghilang. Shui membawanya kabur ke tempat aman dan kini tak ada satu pun dari orang-orang YuangXe yang terbangun dari jurus Mata Ilusi. Mereka semua berada di alam bawah sadar.


"Oh, baguslah. Dengan begini aku bisa membunuh mereka semua."

__ADS_1


Hantu dari YuangXe bergerak mengincar para wanita yang jauh lebih lemah, tebasan panjang langsung memisahkan bagian tubuh mereka yang dipotong laki-laki tersebut. Darah menodai tanah YuangXe yang merupakan Tanah Kehormatan.


Xin Chen tak bisa membiarkan itu terjadi, dia menangkal lajur pedang yang semakin merajalela membantai orang-orang YuangXe. Padahal laki-laki itu adalah bagian dari mereka dan Xin Chen yakin ikatan persaudaraan mereka melebihi klan mana pun.


"Sebenarnya apa yang kau pikirkan?"


"Apa yang aku pikirkan?" Hantu dari YuangXe tertawa yang menyiratkan kemarahan. "Aku hanya membunuh mereka yang bersalah."


"Atas dasar apa?"


"Aku tak perlu dasar untuk membunuh orang lain."


"Berarti pembantaian desa itu benar ulahmu."


Lalu tangan berdarah itu masih mengincar korban lainnya, tiga wanita dan dua anak-anak tewas oleh kecepatan pedangnya yang mematikan. Detik-detik yang berlalu di YuangXe menjadi amat mengerikan andai orang-orang di tempat itu melihat apa yang sedang terjadi.


Hantu dari YuangXe yang dengan mudah membunuh orang yang kehilangan kesadaran dan Xin Chen yang mencoba mencari keberadaan Hantu dari YuangXe. Laki-laki itu menghilang di kegelapan, bersembunyi dalam bayangan dan membunuh tanpa belas kasihan. Darah terus mengalir dan waktu berjalan cepat, Xin Chen berhenti sesaat. Menajamkan keenam inderanya demi bisa mengetahui letak laki-laki itu, sama seperti hantu, lawannya itu nyaris tak terlihat. Dia adalah manusia yang menyerupai orang mati, wujudnya tak bisa disamakan dengan manusia biasa.


"Kau tahu mengapa orang memanggilku Hantu dari YuangXe? Aku adalah pengguna roh terlemah dibandingkan kalian. Kau pasti tidak pernah merasakan bagaimana rasanya ingin menguasai sebuah kekuatan namun kekuatan itu tak berpihak padaku."


Xin Chen memalingkan pandangannya ke sekitar, dia yakin Hantu dari YuangXe berada di sisi kirinya namun karena pergerakan begitu cepat orang itu dalam sedetik saja sudah berada di arah depannya.


"Roh tak mau tubuhku. Mereka hanya memberikan wujud ini, wujud yang belum sempurna dan hanya mengikuti bayangan untuk bisa bergerak."


"Orang-orang YuangXe adalah pengguna roh sejak lama, bukan?"

__ADS_1


Suara semak belukar terdengar, Xin Chen bergeming di tempat. Tak ingin mengambil langkah sembarangan karena tahu dirinya sedang dipancing untuk mendekat.


"Mau tahu sesuatu? Aku akan menjawab setiap satu pertanyaan dengan bayaran satu jarimu. Bagaimana? Sepadan, bukan?"


Daripada memikirkan ancaman itu Xin Chen bertanya hal lain, "Jangan-jangan kau orang yang berkhianat di Tanah YuangXe. Informasi tentang pusaka langit tak mungkin bocor begitu saja. Harusnya ada satu pembelot yang menyebarkannya pada orang luar."


"Apa katamu?!" Seruan Hantu dari YuangXe menggema keras. "Aku tak mungkin melakukannya! Tidak akan pernah, seumur hidupku!"


"Lantas? Tidak ada orang lain yang patut disalahkan. Buktinya sekarang kau mencoba menghabisi mereka. Kau tahu jika mereka sadar tindakanmu tidak ada hukuman yang lebih pantas dibanding hukuman mati."


"Tutup mulutmu sialan! Berani bicara lagi aku robek mulutmu."


"Kalau berani," tambah Xin Chen yang makin memanas-manasi Hantu dari YuangXe.


"Nyalimu besar juga!"


Dari arah berlawanan terdengar derap kaki samar yang makin mendekat, Xin Chen menyerang balik. Dalam setiap pertarungan duel satu lawan satu Xin Chen sering memakai teknik dari Aliran Pedang Iblis yang diajarkan ayahnya. Tidak ada nama dari jurus tersebut namun penguasaannya begitu sulit sehingga baik dirinya dan Xin Zhan tak mampu mempraktekkannya.


Namun saat ini Xin Chen yakin kakaknya itu bisa melakukan hal sama. Setelah ayah mereka tidak ada, kedua pundak keduanya dipaksa untuk menanggung beban besar. Membuat mereka harus berkembang untuk siap membentengi apa yang dari dilindungi sang ayah.


Pedang yang tampak biasa saja di tangannya memantulkan kilau samar, tepat saat musuh menebas ke arah kirinya. Xin Chen melakukan gerakan tercepat yang diajarkan dalam Aliran Pedang Iblis, di mana belokan pedang yang tajam beralih ke sisi tak terduga. Membuat lawan yang sebelumnya melihat dirinya ada di sebelah kanan tiba-tiba saja berpindah ke tempat lain.


Darah mengucur hebat di belakang Xin Chen, saat pemuda itu mengira lawannya sudah tumbang justru terdengar sahutan sombong. Hantu dari YuangXe selamat dari jurus mematikan tersebut.


"Kau tak akan menang semudah itu di tanganku."

__ADS_1


__ADS_2