
Pertarungan tidak bisa terelakkan lagi, Xin Zhan maju paling depan. Dibandingkan Xin Chen yang langsung membunuh, dia mengikuti jalannya sendiri. Tak ada yang terbunuh di tangannya. Beberapa orang pingsan atau setidaknya mengalami patah tulang. Barisan musuh yang begitu panjang mereka lalui, sorak-sorakan dan juga bunyi pedang saling bertabrakan.
Seluruh kota menjadi genangan darah yang tidak ada habisnya. Xin Chen membunuh orang terakhir yang berada di depannya. Pedangnya yang dipenuhi darah kembali mengilap ditetesi oleh air hujan. Mereka berdua mengejar langkah kaki yang semakin menjauh di depan sana.
Xin Zhan baru menyadari mereka memasuki wilayah yang dijaga oleh pemanah. Dia tidak sempat memberitahu Xin Chen, anak panah telah mengincar tubuhnya.
Tanpa diduga Xin Chen justru menangkap anak panah itu, dia menciptakan panah petir dan langsung membalikkan anak panah pada orang yang bersembunyi di atas atap. Laki-laki itu tewas di tempat. Hampir saja Xin Zhan kehilangan konsentrasi oleh bidikan maut itu.
"Aku tidak pernah melihat kau memanah sehebat itu."
"Tujuh tahun sendirian di Kota Renwu sangat membosankan. Mungkin di saat itu aku mulai berpikir bahwa latihan menjadi lebih menyenangkan."
Xin Zhan merasa tersaingi. Semenjak kecil dia selalu unggul dibandingkan Xin Chen. Dan saat ini pun dia tetap tak ingin Xin Chen berada selangkah di depannya. Tapi keegoisannya itu dibuangnya jauh-jauh, Xin Zhan berujar pelan. "Kau sudah terlalu jauh melampauiku."
"Apa?"
"Tidak ada. Kita harus cepat." Xin Zhan kembali maju di depan Xin Chen. Meski saat ini dirinya sudah tertinggal jauh, Xin Zhan tetap ingin menjadi sosok yang berdiri di depan adiknya saat dalam bahaya.
Mendadak Xin Zhan berhenti, ternyata kota ini adalah kota buntu yang dihalangi oleh tebing tinggi dengan pegunungan bebatuan. Namun bukan itu yang membuatnya berhenti, melainkan karena sebuah bangunan yang berdiri kokoh dan menyatu bersama tebing batu itu. Sangat besar, di sekitarnya berdiri menara api. Terdapat beberapa tempat berjaga dan juga gerbang besi yang dibekali dengan perangkap mematikan.
Baru kali ini keduanya melihat bangunan militer seperti itu. Penjagaannya melebihi penjagaan di istana kaisar. Di sana, mereka telah disambut ratusan prajurit bersenjata dan tiga puluh lebih orang-orang dengan pakaian biasa. Dibandingkan prajurit bersenjata lengkap, orang biasa itu jauh lebih kuat.
__ADS_1
Di depan bangunan itu telah disiapkan barisan pemanah. Seakan-akan telah mengetahui kedatangan mereka.
"Bagaimana ini?"
Xin Zhan mencengkram pedang di tangannya erat. Keduanya basah kuyup dengan darah mengotori sekujur tubuh.
"Bunuh semua tanpa sisa. Kalau bisa jangan menggunakan kekuatan besar yang bisa memancing prajurit kawasan lain. Kita bisa berada dalam bahaya."
Walaupun tidak ada yang pernah mengatakannya tapi Xin Chen tahu negeri Militer ini lebih mengedepankan prajurit dibanding pendekar. Mereka bisa merasakan ketika seseorang menggunakan kekuatannya, mungkin hal itu adalah sesuatu yang dilarang. Atau kekuatan tersebut hanya diperbolehkan untuk mereka yang disebut sebagai Sepuluh Terkuat.
Dengan mengambil jalan aman, artinya Xin Chen harus bertarung secara fisik dengan orang-orang ini. Xin Zhan maju menebas sekelompok musuh di depannya. Membelah barisan dan memasuki tengah pertarungan. Dari segala arah musuh mengepungnya, Xin Chen ikut masuk ke dalam pertempuran ini. Kedua punggung mereka saling membelakangi, melindungi satu sama lain dari serangan musuh.
Xin Zhan menarik lengan bajunya. "Kali ini aku serius."
Pertarungan dimulai dengan seruan riuh yang semakin mendekat dan menjadi. Benturan demi benturan menggaduhkan suasana bertarung yang semakin sengit. Xin Zhan menumbangkan para prajurit, mengunci leher laki-laki di depan. Prajurit lain tak sengaja menyerang temannya yang ditahan Xin Zhan, sampai sejauh itu Xin Zhan tidak mendapatkan segores luka pun dari lawan. Dia bertarung unggul di antara para prajurit hebat.
Namun karena tebalnya baju perang yang lawan kenakan, Xin Zhan tak dapat membunuh lawannya dengan mudah. Tebasan panjang berhasil menembus leher prajurit di belakangnya, Xin Zhan mengamuk. Dalam waktu cepat dia membunuh tiga orang sekaligus. Akan tetapi dia dibuyarkan saat laki-laki dengan pakaian serupa gelandangan memasuki pertarungan. Dia dibuat mundur beberapa kali demi menghindari sayatan mematikan yang bermain di depan wajahnya.
Xin Zhan melompat mundur, punggungnya menabrak seseorang yang kini menutup matanya dengan kedua tangan memegang pedang sejajar dengan dagu. Dua detik sesudahnya, jeritan dan juga erangan sahut menyahut di jalan yang dilewati Xin Chen. Satu per satu prajurit tumbang, beberapa yang selamat dari teknik tak diduga itu berusaha lari sejauh mungkin.
"Teknik itu-bukannya hanya ada di Kitab Tujuh Kunci? Bagaimana kau mempelajarinya, hei-" Xin Zhan menyorak tak terima. Dia benar-benar membutuhkan penjelasan.
__ADS_1
Namun Xin Chen terus maju di depannya, membersihkan jalan yang dipenuhi oleh musuh. Dia berhenti di saat sesosok pendekar menghalangi jalan. Xin Chen membuka matanya yang menyiratkan aura pembunuh. Tatapan itu tak membuat musuhnya gentar.
Xin Zhan terdesak di dalam kekacauan yang menghimpitnya. Kepalang kesal, Xin Zhan menghabisi puluhan prajurit hingga tangannya yang biasanya bersih dilumuri darah puluhan orang. Tak habis sampai di sana, dia didatangi oleh para pendekar senior yang langsung telak memukulnya ke belakang.
Di arah berseberangan Xin Chen berduel satu lawan satu dengan laki-laki tadi, teriakan membumbung tinggi di tengah derasnya suara hujan.
Suara berdebum bersama jatuhnya musuh di depan Xin Chen menjadi awal dari pertarungan yang sesungguhnya. Dia baru saja membunuh satu pendekar yang paling terkuat di antara semua musuh. Diangkatnya pedang tinggi-tinggi dengan kedua tangan, jumlah prajurit telah berkurang banyak karena Xin Zhan. Tapi Xin Chen baru menyadari kakaknya itu sedang berada dalam situasi terdesak.
Tiga pendekar mengeroyoknya sekaligus, luka di tubuhnya yang belum sepenuhnya mengering kenbali terbuka. Xin Zhan menahan serangan di atasnya dengan pedang. Tangan pemuda itu gemetar hebat, sekujur tubuhnya menjadi incaran musuh yang kian mengganas.
Pertahanan Xin Zhan buyar seketika di saat matanya menangkap musuh lainnya tengah menghunjamkan pedang ke arahnya.
Sontak dua serangan sekaligus nyaris merenggut nyawanya andai Xin Chen tidak melemparkan pedang tepat ke depan wajahnya. Menghalangi dua pedang tersebut dalam waktu bersamaan. Xin Zhan kembali berdiri, perutnya mengeluarkan darah yang tidak ada hentinya.
"Sudah mau menyerah? Kau baru membunuh dua puluh enam."
Wajah Xin Zhan menjadi pucat. Sialnya air hujan semakin mempercepat darahnya untuk keluar. Dia mengumpat dalam hati.
"Mana mungkin aku menyerah di sini. Kau saja yang pulang kalau mau!"
*
__ADS_1