Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 108 - Marahnya Landak Api


__ADS_3

Landak Api mengendus tepat di depan muka Xin Chen, membuat rambutnya berterbangan ditiup angin dari hidung Landak Api tersebut.


"Nah, baru juga ku bilang sudah datang saja."


"Membawa manusia datang ke tempat persembunyian kita, kau pikir hanya kau saja yang tinggal di sini?"


"Hei, hei, tenang." Katak tersebut menahan agar Landak Api sabar, dia tahu temperamental lawan bicaranya ini sangat tinggi. Mengajaknya berbicara dalam emosi yang seperti ini hanya akan memperbesar masalah untuk mereka semua.


"Terakhir kali seorang manusia datang ke sini dan dia memporak-porandakan tempat tinggal kami. Jika ku biarkan anak itu membunuh satu bukan tidak mungkin dia akan menghabisi kita semua." Landak Api menatap tajam ke arah Xin Chen, duri-duri di tubuhnya seolah tumbuh dan semakin tajam. Sebuah aura besar keluar dari tubuhnya, sang Landak Api bersiap membuat serangan tikaman.


Xin Chen sebenarnya ingin membela diri tapi apa yang dilihat Landak Api tadi membuatnya tak bisa berbuat apa-apa. Bagaimana pun juga barusan dia menghabisi salah satu landak kecil dan dilihat oleh Landak Api tersebut. Kesalahpahaman seperti ini takkan bisa diluruskan jika Landak Api tak bisa menenangkan dirinya terlebih dahulu.


Saat keduanya telah bersiap untuk pertarungan, Landak Api membatu di tempatnya. Xin Chen mengangkat kepala yang sebelumnya ditundukkan agar tak terkena imbas serangan Landak Api dan mendapati siluman berduri itu sedang berusaha bergerak tapi seperti ada sesuatu yang menahannya.


"A-apa yang terjadi?" Landak Api berbicara terbata-bata, saat dia bersusah payah untuk memutar pandangannya ke samping dan mendapati Rubah Petir berdiri di sana tatapan wajah yang semula dipenuhi bara api berubah sangat ketakutan. Tak lama kemudian dia dapat melihat cahaya terang berbentuk seperti gelang petir melingkar di tubuhnya. Satu detik kemudian petir tersebut menyengatnya membuat sang Landak Api menjerit kesakitan.


Dia mundur tiga langkah karena masih kaget, menatapi Rubah Petir dan mengenali beberapa kali. Landak Api sama sekali tidak lihat, Rubah Pertapa yang menjadi siluman pertama yang menemukan tempat ini telah kembali ke persemayamannya.


"Kau... Sejak kapan kau berada di sini?" Landak Api terkejut, dia tak menyangka sosok berjubah tersebut adalah Siluman Penguasa Bumi. Melihat seberapa hebatnya Rubah Petir menyembunyikan hawa keberadaannya yang memang sangat kuat sudah menjelaskan seberapa jauh perkembangan kekuatan siluman tersebut.


Hawa keberadaan dan aura siluman sendiri dipengaruhi oleh kekuatan, semakin kuat siluman itu semakin menekan pula aura yang dimilikinya. Dan hawa keberadaan sendiri kerap kali menimbulkan masalah terhadap para siluman, dengan hawa keberadaan tempat mereka bersembunyi dapat mudah dicari.


Maka dari itu banyak dari Siluman Penguasa Bumi yang menyembunyikan diri di tempat yang berbahaya, selain untuk menyatukan kekuatan mereka dengan alam tempat-tempat seperti itu pun sulit dijangkau manusia.


"Hahahaha seperti biasa, terakhir kali mengajak Rubah Petir bertarung dan kalah, tiap kali melihat Rubah Petir wajahmu langsung berubah ketakutan."

__ADS_1


"Cih, Katak Daun ini sama sekali tidak bisa menjaga mulutnya." Landak Api mendengus kesal sambil mendekatkan dirinya ke arah Xin Chen.


"Tunggu aku bisa jelaskan, landak kecil tadi tiba-tiba menyerangku. Aku sama sekali tidak mengganggunya," akhirnya Xin Chen angkat bicara. Entah itu akan di dengar oleh Landak Api atau tidak dia juga tak peduli.


"Bagaimana aku bisa mempercayai kebenaran dari kata-katamu?"


"Tanyakan saja pada Rubah Petir."


Landak Api menekankan aura di sekitarnya, memberi dampak yang tidak sedikit pada diri Xin Chen. Tekanan udara semakin menipis saat siluman itu mengeluarkan kekuatannya.


"Sebagai siluman aku baru akan mempercayaimu jika kau berhasil bertarung melawanku. Siapapun yang menang berhak untuk diakui."


Xin Chen berkedip, jika diingat-ingat memang kehidupan para siluman berkekuatan tinggi ini sangat kasar. Mereka hanya akan mengakui jika dikalahkan oleh lawannya. Kekuatan dan pertarungan adalah dua hal yang sama sekali tidak bisa dipisahkan jika Xin Chen ikut campur di tempat yang dipenuhi oleh siluman ribuan tahun seperti ini.


"Mana bisa aku menghidupkannya. Dan juga aku minta maaf sudah membunuh salah satu keluargamu." Xin Chen melanjutkan, "Sebagai permintaan maaf ku, aku terima tantanganmu."


Rubah Petir dan Katak Daun hanya bisa menonton apa yang mereka berdua lakukan, tak mau ikut campur dalam masalah mereka berdua lagi.


"Lain kali berpikir dua kali sebelum kau membunuh siluman seperti tadi, walaupun menurutmu dia akan menyerang tapi jika kau membuang senjata dan berdiam diri di tempatmu. Dia takkan menyerang."


Sedikit terdengar penekanan di kalimat Landak Api.


"Baik manusia atau siluman, jika kita melihat sesuatu yang mengancam. Kita hanya merasakan ketakutan dan melakukan perlawanan. Sebenarnya kita hampir sama. Hanya saja manusia terlalu egois dan tak mau mengerti rasa takut kami dan mengganggap para siluman adalah mahkluk buas yang hanya bisa membuat kekacauan."


Katak Daun sedikit tersenyum saat pemikirannya disuarakan oleh Landak Api, selama ini dia tak begitu berani berbicara pada manusia. Dan saat temannya itu mengatakan secara terang-terangan kepada Xin Chen dan anak itu seolah memahami setiap kata-katanya, dia dapat merasakan ketenangan di sana.

__ADS_1


"Kalau kalian takut dan kami juga takut, kita takkan pernah berani untuk bertemu. Ku harap suatu saat nanti kalian semua bukan hanya menjadi peliharaan atau buruan, kita bisa menjadi teman. Seperti aku dan Ye Long."


"Andai bisa begitu aku takkan bersusah payah melindungi tempat ini dari manusia," tutur Landak Api.


"Hahahaha Rubah Petir merasa tak dianggap." Katak Daun tertawa lebar-lebar, dia batuk parah karena terlalu heboh. Rubah Petir sendiri memasang wajah datar. Diam-diam Katak Daun dapat merasakan sesuatu yang sangat menyengat menyentuh bokongnya dan ketika sadar, sebuah petir membakar hangus di sana.


"Aduhh!! Rubah!"


"Rubah Petir itu, dia Guruku."


"Kau menjadikannya gurumu?" Landak Api agak tertegun mendengarnya, tapi jika dipikir-pikir lagi memang Rubah Petir memiliki kekuatan yang sangat besar. Hanya saja tidak biasa seorang manusia menjadikan Siluman sebagai gurunya.


"Ya, begitulah kira-kira." Xin Chen mengalihkan pembicaraan, "Kita jadi bertarung tidak?"


Landak Api tertawa canggung, dia menggeleng-geleng kecil. "Seharusnya setelah tahu tentang hal ini aku takkan mau mengajakmu bertarung. Tapi jika kau mau aku juga tidak berkeberatan."


"Kalau begitu jangan sungkan-sungkan."


Masing-masing dari keduanya telah mempersiapkan diri, Xin Chen tak lengah sedikitpun apalagi dia sadar Landak Api ini cukup kuat. Menghadapinya secara fisik sudah jelas Xin Chen kalah telak.


Landak Api menajamkan duri-duri di punggungnya lalu memasang sikap siap serang dan memutar tubuhnya dalam kecepatan tinggi. Xin Chen sempat terkena sedikit duri tersebut dan menyadari ada sejenis racun di setiap ujung duri milik Landak Api. Racun yang dimiliki Landak Api bukan sesuatu yang biasa. Semakin terkena racun tersebut maka pergerakan Xin Chen akan semakin lamban.


Menyadari dalam pertarungan ini dia tak bisa bertahan karena memang tubuh Landak Api besar dan jangkauan serangannya juga sangat gila, Xin Chen memutuskan untuk mencoba jalan lain. Dalam situasi ini Xin Chen tidak mau mengeluarkan Baja Phoenix lebih dulu, jika nanti Landak Api benar-benar tidak bisa ditanganinya dengan tangan kosong baru dia akan memakainya.


Landak Api mulai memperlihatkan tanda-tanda mencurigakan, dia berdiam diri di tempat dan saat Xin Chen berniat melakukan serangan, duri-duri dari tubuh Landak Api melesat ke arahnya.

__ADS_1


__ADS_2