Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 149 - Kenalan Lama


__ADS_3

"Hm di mana kau menemukannya? Aku bahkan tak berhasil mencarinya seharian. Hahahaha." Li Yong tertawa lepas sembari mengelus kepala naga yang terbalut dalam kain jubah itu. Dia menerimanya dengan senang hati.


Xin Chen bercelutuk, "Memang dia jeli soal barang-barang berkilap. Kalau dia manusia mungkin yang dipikirkannya hanya uang, uang, dan uang."


"Kau benar hahaha."


Telinga Ye Long bergerak ke arah kiri, dia mengalihkan pandangannya kembali ke atas langit. Seolah ada sesuatu yang menarik perhatiannya ke sana, mereka juga ikut tertarik menatap langit yang entah semenjak kapan dipenuhi oleh awan mendung. Walaupun teriknya matahari terasa membakar namun langit mendung seperti akan hujan beberapa jam lagi.


Li Yong memberikan saran, "Kalau Tuan Muda bersedia, kau bisa tinggal di sini setidaknya sampai hujan reda."


Namun keputusan Xin Chen sudah bulat, dia menolak tawaran Li Yong dengan halus dan mengajak Ye Long segera pergi. Jaraknya dengan Rubah Petir sudah cukup jauh, mereka harus menyusul.


Belum sampai satu jam meninggalkan Kuil Teratai hujan turun begitu derasnya, badai yang besar membuat pepohonan besar berbunyi kencang, angin dingin berembus menyapu jalan-jalan. Suasana muram dari langit yang begitu gelap terasa mencekam.


Meskipun mereka pergi pagi hari, namun suasana ini terlihat seperti hampir malam. Tak lama berselang suara guntur menyambar terdengar keras. Perjalanan mereka terpaksa ditunda untuk sementara waktu.


"Lagi-lagi hujan, sama seperti waktu itu."


"Waktu kau mencari gara-gara dengan Dewa Petir?"


"Yah, aku merasa telah banyak berubah namun semua itu belum cukup. Aku masih begitu lemah."


Meskipun di mata orang-orang dirinya sudah cukup kuat tapi sejak pertarungannya dengan Li Yong, Xin Chen menyadari kekuatannya tak bisa ditempa hanya dalam waktu beberapa bulan. Bahkan hingga puluhan tahun pun dirinya belum yakin mampu menghadapi musuh terberatnya.


"Baru kali ini kulihat kau pesimis."


"Hei, Guru Rubah?"


"Ya?"


"Apa menurutmu menghadapi naga kegelapan adalah ide yang gila?"

__ADS_1


"Sejak awal aku sudah mengatakannya, kurasa kau baru memahaminya setelah menggunakan sebagian kecil isi otakmu yang sebesar biji kedelai itu."


"Ck, aku hanya membayangkan diriku nanti. Saat nantinya di tanganku ini nyawa orang-orang dipertaruhkan..."


"Lalu kau hanya perlu sedikit gila dan bodoh untuk menghadapinya. Kurasa kalau kau berpikir layaknya orang normal maka kau akan mundur tanpa berpikir dua kali."


"Aku sedang memikirkan bagaimana aku mempersiapkan diri, bagaimana aku bisa menghadapi lawanku itu sementara... Ck! Sial, aku lemah. Kenapa aku baru menyadarinya?"


Rubah Petir sedikit tersenyum kecil, "Bahkan jika kau gagal sekalipun menyelamatkan orang yang kau sayang. Ingat janjimu itu, meskipun kau mati, atau kau kalah, kau akan kembali dari kerak neraka untuk memperbaikinya. Bersumpahlah padaku, sebagai Muridku."


Xin Chen membalikkan badannya agar bisa menghadap Rubah, sementara rubah itu masih setia memandangi air hujan yang menggenang di tanah yang mengalir menuju sungai terdekat.


"Aku bersumpah atas nama Guruku."


"Bagus. Sekarang latihlah jurus Hujan Petirmu, dan kembangkan kemampuanmu."


"Eh-heh? Guru Rubah, setidaknya biarkan aku-"


"Kau sudah puas beristirahat di Kuil Teratai. Sekarang waktunya latihan."


"Aku tidak mendengarmu. Bisa diulangi lagi?"


Xin Chen mendecak, "Iya iya aku latihan. Sampai kulitku keriput karena hujan-hujanan."


Rubah Petir memasang wajah setengah mengejek, Ye Long sendiri merapatkan tubuhnya di dinding rumah tak berpenghuni yang mereka singgahi. Naga itu saja enggan main air hujan, udara dingin di sekitarnya saja sudah membuat naga itu merinding.


*


Setelah melewati perjalanan panjang akhirnya mereka tiba di sebuah kota dengan pelabuhan yang sangat besar, barang-barang diangkut ke atas kapal. Aktivitas di tempat ini sangatlah sibuk, jika tidak hati-hati akan tertabrak dengan orang lain.


Kebetulan di dekat pelabuhan tersebut berdiri sebuah tempat makan yang letaknya berseberangan dengan laut. Seorang lelaki keluar dari dalam rumah restorannya, menghampiri Xin Chen dan Rubah Petir di meja makan begitu semangat.

__ADS_1


"Ahha! Tuan Muda Xin kedua, tak kusangka di hari yang sangat penting ini kau datang ke restoran kami!" Kumis lebat di atas bibirnya melonjak kencang saat pria itu berbicara. Pria itu memiliki badan kekar yang besar, lebih terlihat seperti seorang petarung dibandingkan penjaga restoran.


Xin Chen hanya tersenyum canggung karena tak tahu mau menjawab apa, pria itu berujar lagi. "Karena ini pertama kalinya Tuan Muda kemari maka makanan di tempatku gratis! Semuanya, gratis!"


Kata gratis memang membuat jiwa siapapun ikut membara, Xin Chen mengiyakannya dengan semangat. "Hehe apapun yang gratis takkan bisa ku tolak."


Rubah Petir menyahut, "Racun sekalipun kau terima?"


"Tidak apa, racun pun bisa ku jual."


"Hoho tampaknya Tuan Muda sudah memiliki siluman peliharaan sendiri. Apa boleh saya melihatnya?"


Xin Chen menjadi panik, dia segera menolaknya. "Tidak, jangan. Siluman ini punya semacam penyakit menular. Hati-hati jika mendekatinya."


Pria itu lantas menjauhkan dirinya, dilihat dari sikapnya lelaki ini mungkin memang sudah mengenal keluarganya cukup lama.


"Ah, Tuan Muda Xin kedua. Maaf tidak sopan. Hanya saja aku sangat mengenal ayahmu dari kecil dulu dan juga aku begitu mengagumi dua putranya. Ayahmu sangatlah baik dengan orang-orang kecil seperti kami. Bahkan sampai detik ini pun saat dia dalam perjalanan misi, dia tak segan-segan mampir ke restoran kami..."


"Kenalan ayah, ya. Senang bertemu denganmu."


"Sangat senang juga bertemu denganmu, Tuan Muda. Omong-omong apa yang Tuan Muda lakukan di sini? Apakah sedang dalam perjalanan pulang untuk menghadiri acara pernikahan Tuan Lan An?"


Perkataannya membuat Xin Chen terdiam murung, bukannya melupakan hari penting itu hanya saja Xin Chen belum ingin menampakkan dirinya di depan Ayahnya dan juga keluarga serta kerabatnya untuk sementara ini. Sadar pertanyaan membuat suasana canggung pria itu meminta maaf.


Tak berapa lama pria itu kembali untuk menyiapkan pesanan, sementara mereka memandang langit sore yang mulai berwarna keemasan.


"Besok, ya? Ye Long, kau ingin kembali tidak untuk melihat rumahku?"


Naga itu mengangkat kepalanya dan merayap seperti ular di kursi. Kelihatannya naga itu juga penasaran seperti apa rumah majikannya.


"Kalau begitu... Untuk misi kali ini, kita harus menyeberangi lautan itu dan menemukan naga lainnya bernama Shui. Setelah itu baru kita akan pulang ke rumah."

__ADS_1


Ye Long mengangguk beberapa kali lalu kembali memakan daging yang disediakan untuknya. Dari informasi beberapa penduduk lokal dikatakan legenda mengenai Siluman Penguasa Air di lautan yang menghubungkan kota Fanlu dan Renwu benar-benar ada.


Tepatnya di sepuluh tahun lalu saat naga air itu keluar dan ikut berperang bersama Manusia Iblis. Misteri mengenai hilangnya kapal pelayar dan kemunculan pusaran air di tengah laut masih menjadi cerita yang cukup menyeramkan sampai saat ini.


__ADS_2