
"Manusia tidak tahu diri."
Api membara di kedua bola matanya yang merah menyala, tubuh mahkluk itu melingkar di atas sebuah batu luas yang dialiri cairan lahar merah. Andai Xin Chen dapat merasakan suhu dari tempat itu, dia pasti akan ikut meleleh bersama bebatuan bawah laut yang serupa neraka terpanas itu.
Saat mendengkus, api tipis keluar dari mulut Salamender Api. Tatapannya mengisyaratkan intimidasi yang kuat, layaknya seorang penguasa yang sedang menatap rakyat lemahnya. Kali ini Xin Chen dapat merasakan aura siluman itu yang menyerangnya, begitu hebat mendominasi sehingga membuat langit bebatuan retak oleh tekanan kekuatan sang Salamender Api.
Salamender Api sama sekali tak memperlihatkan tatapan bersahabat, justru dia terus menekan sosok yang dianggapnya musuh itu. Melihat tak adanya rasa takut dari sang musuh, Sang Salamender segera bergerak dari tempatnya. Bermaksud mendekati Xin Chen hingga jarak antara wajahnya yang seperti terbakar oleh api hanya tersisa sekitar satu meter.
"Aku tak tahu mengapa kau tahu tempat ini, tapi bisa kupastikan setelah masuk ke tempat ini, nyawamu tak akan selamat."
"Aku juga bisa memastikan setelah bertemu denganku kau tak akan pernah berpikir untuk kabur lagi dari tanggung jawab mu."
Terdengar gemeretak keras di dalam mulut Salamender Api. Dia menggemerutukkan gigi keras, emosinya langsung naik hanya dikatai seperti itu.
"Lari dari tanggungjawab katamu?!"
Angin berderu kencang oleh libasan Salamender Api, dia mulai menghancurkan sarangnya sendiri. Xin Chen menghindar, siluman itu terus mendesak hingga saat ekornya mengenai Xin Chen, membuat retakan serius pada bebatuan tebal yang melindungi sarangnya.
"Di atas sana Naga Kegelapan sedang berada di awan-awan menindas teman sesamamu. Kau Siluman Penguasa Bumi, bukan? Kalau pun teman-temanmu mati lebih dulu, aku yakin setelah mereka, nyawamu juga tak akan selamat oleh siluman itu."
__ADS_1
Salamender Api seperti tak mendengarkan apa katanya dan masih menyerang habis-habisan, membuat bebatuan runtuh. Rembesan air dari laut di atas mereka mulai bocor, membawa uap panas akibat tekanan suhu yang dimiliki Salamander Api.
"Kau berani berbicara seperti itu di depanku, hanya karena kau bisa sampai di sini dengan selamat? Cih, cukup sombong juga. Lawanmu adalah aku, Salamender Api. Aku yakin manusia yang mau datang ke sini adalah manusia terbodoh. Dan itu adalah kau."
Salamender tidak tahu apa yang terjadi tetapi dia merasa tatapan mata manusia itu berubah. Lebih terlihat putus asa.
"Rubah Petir sudah tiada."
"Cih, hahahah akhirnya tewas juga si sialan rubah itu! Aku jadi ingin tahu kematian seperti apa yang membuatnya tewas tak berguna seperti itu!"
Bukannya menunjukkan simpati, siluman itu justru tertawa terbahak-bahak. Xin Chen jadi meragukan apakah kedua siluman itu memiliki hubungan yang baik. Namun sikap Salamender Api sudah menjelaskan semuanya. Tidak ada yang bisa diharapkan dari Salamender Api. Termasuk pertolongannya.
Salamender Api sempat terdiam. Xin Chen yakin mahkluk itu akan tertawa lebih keras lagi. Karena memang kematian Rubah Petir lebih tragis dari sekedar bertarung melawan Naga Kegelapan. Dia menang, rubah itu selalu menang di mata Xin Chen. Dan dia bertahan hingga titik darah penghabisan di pihak para manusia. Yang kini mengkhianatinya dan membunuhnya.
"Kau serius dengan kata-katamu, manusia sialan? Kau—" dia berhenti berbicara, berpikir ketidakmungkinan itu bukanlah kenyataan yang sebenarnya. Di matanya Rubah Petir tak akan mati, bahkan hingga abad berapa pun, Siluman Penguasa Petir adalah mahkluk terakhir yang akan bertahan di bandingkan siluman lainnya. Bukan tanpa alasan, kemampuan spesial Rubah Petir adalah kemampuan tak tertandingi yang sangat berguna bagi mereka. Siluman sudah lama tak berperang sehingga kemampuan seperti ketahanan tubuh, pengendalian waktu dan lain sebagainya tak begitu dibutuhkan.
Dan kemampuan Rubah Petir untuk menyimpan keseluruhan kekuatandan juga dapat memperpanjang usianya. Salamender nyaris tak tersadar bahwa manusia itu masih berada di sarangnya. Memperhatikan dirinya yang hanya bisa tercengang.
"Aku akan membunuhmu!"
__ADS_1
Tanpa alasan, Salamender Api mengeluarkan kekuatan terbesarnya. Membuat guncangan besar hingga kini sepenuhnya sarang tersembunyi yang telah dia huni hingga ratusan ribu tahun hancur berkeping-keping. Buih-buih udara panas naik ke atas permukaan bersama getaran hebat yang membuat orang-orang di permukaan merasakan gempa dahsyat.
Shui yang merasakan getaran itu segera tersadar dengan apa yang terjadi, dia hendak kembali untuk menyelamatkan Xin Chen namun langkahnya terhenti oleh sekelompok manusia yang tiba-tiba berdatangan ke arahnya.
"Penyusup! Tangkap dia, jangan biarkan kabur!"
Surai Biru berusaha mengelak, tetapi dia baru teringat kekuatannya yang sekarang tak jauh dari seorang pendekar pemula yang baru saja belajar ilmu bela diri. Dua orang membekuknya sementara yang lain menodongkan senjata tajam ke depan muka Shui. Shui tak bisa melepaskan pandangan dari lautan di mana sebuah pulau antah berantah berada di sana. Di kedalaman terbawah kaki gunung berapi yang menjadi sarang Salamender Api. Pengamuk yang tak segan-segan menghancurkan satu kota hanya karena siripnya terkelupas. Siluman Penguasa Api itu tak bisa dikatakan baik, dari semua Siluman Penguasa Bumi, dia adalah yang paling pemarah.
Dentuman-dentuman besar membuat tempat berpijak mereka seolah-olah dijatuhi meteor, Shui menepis tangan-tangan manusia itu. Berniat mengeluarkan kekuatan aslinya sebagai Shui Siluman Penguasa Air. Tapi dia juga tak bisa segegabah itu, identitasnya adalah yang paling penting. Di tambah lagi, Shui tak ingin penyamarannya terbongkar dan menjadi incaran manusia selanjutnya setelah Rubah Petir.
Tangannya sudah terlebih dahulu diikat dan dibawa ke suatu tempat. Shui tak peduli apa yang akan terjadi padanya setelah ini, hanya saja dia lebih tahu bahwa keadaan Xin Chen lebih gawat.
"Chen, kau boleh mengutukku setelah ini. Tapi jangan sampai kau kalah darinya karena—"
"Mengoceh apa orang aneh ini?! Jalan yang benar!"
"Karena jika mahkluk itu mengamuk lebih besar lagi, satu kota ini akan hancur lebur!"
"Dia pasti sedang berhalusinasi!" Yang lainnya menimbrungi, merasa Shui adalah orang gila yang menyasar di tempat berbahaya seperti ini. Tak ada aturan tertulis tentang tempat tersebut, yang pasti lokasi ini tidak boleh didatangi oleh sembarangan orang. Terlebih lagi orang aneh seperti Shui yang tak memiliki garis wajah layaknya penduduk Kekaisaran Qing.
__ADS_1
Saat mereka berbalik badan, sesuatu yang besar muncul di atas permukaan laut. Bersiap mengamuk dalam hitungan ketiga.