
"Kau tak akan menang semudah itu."
Saat Xin Chen melihat ke belakang, seorang laki-laki tua berpakaian tebal ambruk, sayatan di leher orang itu adalah sayatan yang seharusnya berada di leher Hantu dari YuangXe.
Sedari awal memang Xin Chen tak pernah meremehkan lawannya, tetapi laki-laki itu jauh lebih mengejutkan dari bayangannya. Tak hanya cepat dan lincah dalam pembunuhan berantai, laki-laki itu juga memiliki banyak cara untuk mempertahankan diri.
"Yang kau lihat tak sepenuhnya benar."
Usai mengucapkan itu Hantu dari YuangXe lenyap dari pandangannya, sudah enam orang YuangXe tewas. Xin Chen tak bisa sembarangan melepas pengaruh Mata Ilusi, jurus itu tak dapat dihentikannya dan akan terus berlanjut sampai satu jam ke depan. Sementara kini semua pertanyaan tentang YuangXe memenuhi kepalanya. Siapa pengkhianat di antara orang YuangXe, asal mereka dan para leluhur YuangXe sendiri.
Xin Chen menangkap pergerakan lain di sekitarnya, dia berpindah tempat dengan diam-diam.
Salah seorang pemuda yang tak terkena dampak Mata Ilusi merangkak di bawah rumah panggung. Dia menggigil ketakutan saat seekor tikus lewat di bawah tubuhnya. Pemuda itu menutup mulut gemetar, melihat kanan kiri khawatir orang lain menyadari kehadirannya.
Dia menarik napas lega saat tak mendengar pergerakan apa pun yang mendekat. Awalnya pemuda itu ingin berpindah ke rumah yang kosong, lebih aman dari pada di bawah kolong rumah. Tetapi betapa terkejutnya dia saat di dalam kegelapan itu, sepasang mata biru tengah menatapnya dengan aura mengerikan.
"Si-si-siapa?"
Jantungnya berdetak sangat cepat, terdengar suara rendah dari depan. Membuat tubuh pemuda itu semakin menggigil.
"Pengkhianat."
"Ma-maafkan aku! Maafkan aku! Aku tidak bermaksud melawan tetua, aku ..." Dia bersujud dengan linangan air mata membanjiri wajah. "Aku harus melakukannya demi adikku. Dia disandera orang luar! Jika aku mengatakannya mereka bilang mereka akan membantuku mencarinya."
Xin Chen sempat terdiam, dia padahal hanya asal berbicara dan justru mendapatkan sang pengkhianat dengan mudah. "Keluar dari sini."
Mata biru itu menghilang, pemuda itu gemetaran dan merangkak dari bawah kolong rumah. Mendapati orang asing tengah menunggunya sambil bersedekap dada.
Dan yang lebih pentingnya, orang asing itu lebih pendek darinya
"Kau ... Siapa?"
"Langsung ke intinya saja. Jawab jika tidak mau kau ku habisi."
Pemuda itu meneguk ludah.
"Apa hubungan kalian dengan Yuhao?"
"Ka-kami masih memiliki hubungan darah, ayahku bilang begitu."
__ADS_1
"Kalian dari dulu memang pengguna roh?"
Pertanyaan kedua membuat pemuda itu tersendat, dia enggan berbicara.
"Nyawamu hanya satu," peringat Xin Chen. "Dan pertanyaanku ada empat. Aku hitung sampai tiga."
Pemuda itu mulai panik, dia mencoba berpikir. Belum selesai menarik napas Xin Chen sudah berucap lagi.
"Tiga."
"Apa-apaan-! Kau belum menghitung dari satu!"
"Hanya ada dua pilihan. Jawab atau tidak. Tidak ada protes."
Lagi-lagi pemuda YuangXe itu menelan ludah, dia melihat sekelilingnya. Tampaknya semua tetua sudah berada di alam bawah sadar. Mereka tidak akan mendengar suaranya
"Baik, baik. Kami semua dari daratan terpencil Kekaisaran Qing. Karena ilmu pengendalian roh kami sudah memasuki tingkat tertinggi maka banyak orang yang mengecam klan kami. Dan seperti yang kau lihat, kami diusir. Kaisar melihat betapa hebatnya klan kami dan menerima dengan menyerahkan tanah ini sebagai imbalan menjaga 'titipannya'."
Kalimat terakhir diucapkan dengan ragu-ragu.
"Armor Dewa Perang?" Xin Chen memperjelas.
"Y-ya ..."
"Aku tidak akan memberitahukannya!"
"Satu."
Pemuda itu tak gentar kalaupun Xin Chen menghitung, memang di tempat ini dirinya lah yang paling lemah hingga sering diremehkan dan ditindas oleh siluman liar. Insiden antara orang luar dan YuangXe yang merenggut adiknya membuat pemuda itu kacau, dia mencari segala cara untuk mengembalikan sang adik. Semua orang menyalahkan kelalaiannya menjaga sang adik. Ayahnya tak habis-habis mengumpat dan orang YuangXe tetap memandang sinis padanya. Satu anggota keluarga hilang, maka tamat sudah riwayatnya. Dia tak akan dianggap selayaknya keluarga oleh siapa pun.
"Dua."
"Tiga."
Pemuda itu tetap bersikeras, dia tak peduli apakah kepalanya akan dipenggal detik itu juga. Walaupun pernah membocorkan informasi tentang keberadaan Armor Dewa Perang, pemuda itu tetap tak mau memberi tahu di mana letak pusaka langit itu. Terlebih pada orang semengerikan Xin Chen
Beberapa lama menunggu nyawanya dihabisi, hal itu tak kunjung terjadi. Dia membuka mata takut, melihat Xin Chen jalan membelakanginya.
"Kau mau ke mana?"
__ADS_1
"Mencari adikmu lalu ku bunuh."
Dia terkejut bukan main, dikejarnya Xin Chen dan bersimpuh untuk memeluk lututnya. Namun yang disentuhnya tak memiliki wujud, pemuda itu bersujud.
"Tolong jangan dia! Adikku masih sangat kecil dan tak tahu apa-apa tentang hal ini ..."
Tak ada jawaban, namun langkah Xin Chen berhenti.
"Aku akan mengatakannya! Tapi ..." Dia mengangkat kepala, "Aku tak tahu letak pastinya. Hanya para tetua yang mengetahui ke mana pecahan-pecahan Armor itu disimpan."
Seperti dugaannya, Pusaka Langit itu sudah dihancurkan dan hanya tersisa kepingan. Namun meski pun begitu ada saja yang berhasil membawa kabur pusaka itu sebelum benar-benar dilenyapkan.
Pemuda itu tak berani melanjutkan omongannya saat merasakan ancaman sedang mengintai, dia tahu bunyi derak kayu saja sudah menandakan kematian sedang mendekat. Hantu dari YuangXe benar-benar muncul, pemuda itu menangkis serangan pertama namun di serangan kedua keseimbangannya goyah.
Tikaman yang seharusnya sudah menembus jantungnya kini dibalikkan, ketiga dari mereka terdiam. Xin Chen, Hantu dari YuangXe dan pemuda tersebut.
Hantu dari YuangXe masih dalam posisi menghunus pedang ke pemuda tersebut dan sebuah bilah pedang menusuk sempurna ke dadanya. Darah menetes di baju Hantu dari YuangXe, laki-laki itu mencoba melepaskan diri.
Dia memberontak, melepas pedang itu dari tubuhnya dengan cepat lalu menghilang kembali.
Pemuda itu berucap kecil. "Dia mengarah ke Jalur Suci. Orang itu, dia pasti akan menghancurkan Armor Dewa Perang!"
"Jalur Suci?"
"Perbatasan YuangXe dengan Pohon Suci! Kita harus segera bergerak!"
"Tunggu, Orang YuangXe."
"Jangan memanggilku begitu!"
"Jadi namamu?"
"Aku tak memiliki nama." Pemuda YuangXe itu menjawab sekenanya, Xin Chen mendengus. "Yuang saja. Begini, seharusnya pergerakan Hantu dari YuangXe akan melambat karena serangan tadi. Dan sebentar lagi yang lain akan terlepas dari pengaruh Mata Ilusi. Tidak menutup kemungkinan mereka juga akan menyerang saat kita mencoba pergi ke Jalur Suci yang kau katakan itu."
Pemuda itu tak bisa menyangkal, jarak ke sana sangat jauh dan dia yakin saudara-saudaranya dari YuangXe dapat mengejar cepat.
"Dan lebih buruknya kita tidak tahu letak pasti benda itu."
"Jadi apa rencanamu?"
__ADS_1
"Kita hanya akan menangkap Hantu dari YuangXe tanpa membunuhnya. Dia pasti memiliki alasan mengapa membunuh Yuhao dan pimpinan kalian. Itu saja dulu."
"Kau gila? Kau hanya akan dibunuh oleh mereka tanpa ampun! Kau belum melihat seberapa mengerikannya kekuatan orang YuangXe, ya?!"