
Tanah bergetar bersama seruan perang, bendera Kekaisaran Qing dikibarkan dengan garangnya. Melawan terik panas matahari hari yang membakar debu-debu di permukaan tanah. Dalam barisan baik Youji, Yu Xiong dan Wei Feng bercucuran keringat. Mereka tahu kematian sudah berada tepat di depan mata, lebih gawat lagi mereka akan melawan sekutu sendiri, Empat Unit Pengintai.
Tak habis-habisnya Wei Feng mengumpati Xin Chen, perjalanan dua hari semakin mengerikan ketika mereka hampir tiba di perbatasan. Yang mana perbatasan yang mereka lalui nyaris berseberangan dengan Lembah Para Dewa, tempat di mana markas Empat Unit Pengintai didirikan. Detik demi detik berlalu begitu cepat, semua orang memasang wajah tegang. Kompak hentakan langkah kaki berhenti disusul seruan panjang di sisi kanan.
"Tidak bisa begini ... Kecambah Keparat itu pasti sedang bercanda. Ke mana dia pergi?!"
"Hei, tenanglah! Apa yang kau lakukan?" Laki-laki di depan Wei Feng menggertak karena Wei Feng berusaha keluar dari barisan.
Hari yang mendung diiringi dentuman-dentuman keras, genderang bertabuh. Situasi mendebarkan itu dapat dirasakan oleh semua orang. Tanpa terkecuali Youji, Yu Xiong dan Wei Feng. Pintu raksasa yang menjadi pintu masuk perbatasan terbuka, menimbulkan derit nyaring cukup lama hingga kedua pintu terbuka lebar-lebar. Hanya lima ratus meter di depan sana, mereka pasti akan langsung bertabrakan dengan markas Empat Unit Pengintai.
Namun ada hal yang lebih gawat dari itu semua.
Yu Xiong mendapat kabar bahwa jumlah pasukan yang dibawa hampir mencapai angka tiga ratus ribu prajurit. Tanpa melihat pun semua orang sudah tahu, bahwa Kekaisaran Qing tidak pernah main-main saat mengumumkan perang kepada Kekaisaran Shang.
"Ini baru gelombang pertama dan sudah sebesar ini ... Kecil kemungkinan Kekaisaran Shang akan menang. Terlebih lagi mereka tidak mempunyai persiapan apa-apa." Youji berujar tenang, berbeda dengan dua temannya yang sibuk menoleh kanan kiri berharap dapat menemukan Xin Chen di dalam barisan yang seperti tak memiliki ujung ini.
"Gelombang kedua belum tentu akan datang, kalau mereka hancur hari ini maka selesai semua." Yu Xiong akhirnya berbicara setelah diam sepanjang perjalanan, dalam pakaian perang yang berat dan pengap Yu Xiong berkali-kali hampir tumbang. Apalagi jika dia jatuh, kemungkinan terinjak-injak sampai tewas sangatlah besar
Tidak ada lagi yang berbicara karena mereka sudah melewati dataran luas berpasir. Hanya perlu melewati daerah perbukitan, sebuah markas besar akan terlihat. Di sanalah perang akan dimulai. Perang yang tidak melibatkan orang-orang Lembah Para Dewa saja, tetapi perang antara Empat Unit Pengintai dan juga militer Kekaisaran Qing.
Teriakan panjang terdengar nyaring di barisan depan. Mengisyaratkan mereka untuk berhenti. Di saat-saat itu Wei Feng memutuskan untuk memastikan sekali lagi di mana Xin Chen berada. Situasi semakin mendesak tapi Xin Chen tak lagi terlihat di sana.
__ADS_1
"Aku bersumpah akan mengutuk kuburannya seumur hidupku jika dia meninggalkan kita hari ini."
"Kita juga tak akan mungkin hidup setelah ini." Yu Xiong meralatnya, decakan terdengar dari mulut Wei Feng. Napasnya terengah-engah. Sekali lagi, dan untuk terakhir kalinya Wei Feng menoleh.
Dia tidak menemukan Xin Chen.
Lantas Wei Feng kembali menghadap ke depan. Namun sebuah ledakan besar membuatnya kaget setengah mati, jaraknya begitu dekat dengannya hingga laki-laki itu mengira kepalanya sudah pecah oleh ledakan.
"Apa yang terjadi?!"
"Seseorang meledakkan diri!"
"Mundur, mundur! Arrrghh!"
"Tolong ... Selamatkan ... ak-"
Ledakan besar lainnya meletus, kali ini mengambil ratusan nyawa dalam satu waktu. Para jenderal dan komandan di barisan terdepan segera memeriksa apa yang terjadi.
Namun yang mereka dapatkan justru sesuatu yang di luar dugaan. Di dalam barisan yang begitu padat itu, hampir seratus orang melakukan bom bunuh diri. Satu dari mereka bisa membunuh dua puluh orang sekaligus. Dan ledakan terakhir tadi adalah satu-satunya bom terhebat yang pernah mereka lihat seumur hidup
"Itu ... Itu pasti bom yang dibuat oleh orang-orang Kekaisaran Wei."
__ADS_1
Seseorang di sampingnya hanya bergumam tapi Wei Feng memiliki pemikiran yang sama. Para alkemis dan juga ahli di sana sudah menciptakan banyak barang-barang terlarang yang mampu membunuh manusia secara massal. Entah itu wabah, virus, senjata ataupun manusia yang digabungkan dengan tubuh siluman.
Di tengah situasi ribut yang mendadak, terdengar suara derap kaki yang membuat tanah bergetar. Dari ujung jalan terlihat sebuah bendera berkibar indah. Sebuah lambang baru yang telah diciptakan untuk kedamaian. Bulan darah. Saat itu hari sudah hampir malam, awan mendung terus menutupi langit yang kelam.
Langkah kaki kuda berpacu cepat, hingga akhirnya mereka dapat melihat delapan orang berjalan di barisan paling depan. Semua anggota Unit Satu berjalan bersama lima puluh ribu prajurit. Kalah telak dari Kekaisaran Qing yang memiliki 300 ribu prajurit. Tetapi wajah tidak takut mati dan langkah yang berani di diri mereka sempat membuat beberapa prajurit Kekaisaran Qing gentar.
Lan Zhuxian berteriak kencang, diikuti para prajurit di belakangnya bersamaan dengan bendera yang dikibarkan semakin tinggi.
"Jayalah nama kita!"
Belum sempat menyelesaikan permasalahan ledakan tiba-tiba tadi, kini mereka langsung dihadapkan dengan musuh. Sontak kedua puluh jenderal maju. Penampilan mereka jauh lebih menyeramkan daripada orang-orang Unit Satu.
Jenderal-1 mendecih. Dia tahu siapa yang menjadi dalang di balik ledakan tadi. Dia yakin orangnya sama dengan dugaannya. Belum-belum berperang mereka telah kehilangan ribuan prajurit.
Mata laki-laki itu terpaku di satu titik. Dua puluh jenderal terhebat di Kekaisaran Qing menatap bersamaan ke satu titik. Di mana mereka melihat seorang laki-laki berambut merah dan pakaian yang sangat khas. Wajah dan semua yang ada dalam dirinya pernah dipahat menjadi patung yang dipajang di istana Kaisar Yin.
Laki-laki itu adalah Huo Rong, dia bersebelahan dengan sosok berambut biru terang. Terlihat paling mencolok di antara yang lainnya. Shui memamerkan senyuman remeh.
Sebuah peringatan keluar dari mulut Jenderal-1. "Kalian tidak akan pernah memenangkan perang! Tinggalkan tanah ini dan matilah dengan cara yang paling mengenaskan!"
"Mari kita lihat siapa yang lebih dulu mati mengenaskan." Shui menjawab percaya diri. Namun senyumnya seketika memudar saat instingnya merasakan marabahaya yang begitu besar.
__ADS_1
Lima orang turun dari siluman burung, berdiri di hadapan kedua puluh jenderal. Mereka adalah Sepuluh Terkuat dengan kekuatan tanpa banding. Tidak pernah diragukan lagi kekuatan lima orang itu. Meski hanya lima dari sepuluh orang yang mengikuti perang ini, satu di antara mereka merupakan puncak dari manusia terkuat di Kekaisaran Qing. Satu Terkuat, manusia pilihan yang dikatakan dapat menandingi kekuatan Pilar Pertama Kekaisaran Shang. Li Baixuan.
"Aku sudah menetapkan di neraka mana kalian akan dibuang. Dan tidak ada satu pun manusia yang lolos dari neraka pilihanku."