Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 60 - Naga Hitam


__ADS_3

Pedang Petir kini terangkat tinggi-tinggi bersiap memenggal leher Naga Hitam. Dari ukuran tubuhnya naga itu juga masih kecil, kira-kira seumuran dengan Xin Chen sendiri.


"Aku tidak memulainya, kau yang lebih dulu menyerangku tadi." Xin Chen berbicara kesal, berniat mengakhiri lawannya itu dalam satu tebasan.


Telinga Naga Hitam itu menurun, menatap Pedang Petir Xin Chen sambil menundukkan kepalanya takut. Dia memerhatikan Xin Chen dan pedangnya bergantian, membuat anak itu sedikit kebingungan.


Kali ini Xin Chen menghunus pedang tersebut hingga ujung mata pedang hampir menembus bola mata sang Naga. Membuat Naga Hitam itu berteriak merasa terancam.


Sejenak Xin Chen menatap tajam sang Naga Hitam, menyipitkan matanya curiga. Naga itu menatapnya sama, saling memandang dalam waktu lama hingga akhirnya Xin Chen mengeluarkan suara. "Baiklah, baiklah. Kau boleh pergi. Lagipula sepertinya kau tidak dikendalikan oleh roh-roh itu."


Pedang Petir ditariknya dan menghilang begitu saja, Xin Chen mengalihkan perhatiannya pada Wei Feng yang kini sudah terbaring tak sadarkan diri. Saat sedang memeriksa keadaan pria itu dia dikejutkan oleh Naga Hitam yang kini ikut dengannya, melihat-lihat Wei Feng dan mengendusnya beberapa kali. Kemudian mendekati Xin Chen.


"Hei, hei, apa yang kau lakukan! Menyingkir dari ketiakku!" amuk Xin Chen keras, menepis kepala naga hitam sekuat tenaga. Dia mengambil jarak agar dapat melihat Naga Hitam.


"Aku melepaskanmu karena tadi kau tidak benar-benar membunuhku, tunggu apa lagi? Pergilah, aku masih punya cukup banyak senjata untuk memotong-motong kulit hitammu itu."


Naga Hitam seperti ingin mengamuk, tiba-tiba saja dia menyobek baju Wei Feng menggunakan cakarnya lalu berguling-guling di tanah. Xin Chen membuka mulutnya lebar-lebar. "Sedang apa kau ? Dan sebenarnya apa yang terjadi? Naga ini... Kau datang darimana sebenarnya? Aku tidak yakin mahkluk sepertimu mudah ditemukan apalagi di hutan seperti ini..."


Xin Chen menepuk jidatnya malas, untuk apa dia bertanya pada mahkluk yang sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaannya. Selain itu melihat banyaknya luka goresan dan cakar di tubuhnya, Xin Chen dapat menarik satu kesimpulan, kemungkinan besar Naga Hitam itu datang dari jauh.


"Kau lapar?" tanya Xin Chen mengeluarkan daging beruang yang tadi dimasaknya bersama Wei Feng dan menyodorkannya pada naga itu. "Makanlah."


Naga Hitam ragu-ragu, dia memerhatikan Xin Chen dan daging itu beberapa kali.


Xin Chen memutar bola mata malas, melihat beberapa serigala sedang mengintai mereka dari jarak jauh tak berani mendekat karena melihat Naga Hitam, dia pun melemparkan daging beruang ke kawanan serigala.


"Ku berikan ke mereka saja kalau kau tidak mau makan."


Raungan naga itu mendadak menggema kencang, membuat kawanan serigala seketika berlarian kencang saat mendengarnya. Baru kali ini Xin Chen mendengarkannya dan dia hanya bisa terdiam membatu.

__ADS_1


Naga Hitam memakan daging itu dalam sekali kunyah lalu kembali ke tempatnya berdiri semula, terlihat senang dengan Xin Chen. Dia mengelus tubuh Xin Chen dengan kepala dan berguling di atas tanah lagi.


"Baiklah, kawan. Sekarang diamlah sebentar, aku harus membantu Kak Wei. Apa kau tahu cara menyingkirkan roh di dalam tubuhnya?"


Naga Hitam mendekat pada Wei Feng, mengendusnya sedikit dan langsung mendesis terancam. Xin Chen menatap Wei Feng khawatir, dia yakin sudah terlalu banyak roh berkumpul di dalam tubuhnya.


"Jadi sampai seharian tidak kembali di sini kau bermain-main?"


Bulu kuduk Xin Chen seketika merinding kala suara Rubah Petir datang, dia berusaha memperlihatkan senyuman terbaiknya. Setidaknya jangan sampai membuat Rubah Petir mengamuk di hutan ini seperti tempo lalu, saat-saat ketika wujud aslinya keluar.


"Aku bisa jelaskan ...."


Sebuah petir menghantam ke arah Xin Chen dalam kecepatan tinggi, Rubah Petir mengedipkan matanya saat melihat sosok naga melindungi Xin Chen dari petir menggunakan sayapnya. Kulit Naga Hitam sendiri tak terpengaruh oleh petir sekuat apapun.


Kini mata keperakan Rubah Petir beradu dengan mata Naga Hitam, saling bermusuhan satu sama lainnya.


"Baru ku tinggal sebentar kau sudah mengundang banyak masalah. Kau tahu, Naga Hitam adalah kutukan dan kau membawanya dalam hidupmu."


"Lepaskan dia. Tidak seharusnya kau berurusan dengannya."


"Tapi, Guru Rubah. Kau lihat dia tak bisa pergi berkeliaran begitu saja, atau kalau tidak jika manusia menangkap dan membunuhnya-"


"Dia tahu cara bertahan hidup sendiri, lagipula umurnya masih sangat muda. Kau tidak tahu dia akan sangat merugikan umat manusia saat umurnya sudah memasuki angka jutaan tahun, dia adalah wujud dari malapetaka."


Xin Chen masih ingin mengelak lagi, namun dia menyadari kini Rubah Petir sedang mengusir Naga Hitam kecil itu dengan kekuatan silumannya. Membuat naga tersebut jatuh ke tanah tanpa daya. Naga Hitam bangkit tak lama kemudian, meninggalkan Xin Chen sambil sesekali melirik ke belakang. Dia benar-benar diusir oleh Rubah Petir.


"Guru! Ini benar-benar tidak adil, kau mengusirnya padahal dia tidak bersalah. Jika benar dia berbahaya seharusnya dia sudah membunuhku sejak tadi."


"Kau lebih mementingkan Naga Hitam itu daripada manusia ini?" timpal Rubah Petir turun dari dahan tinggi, menyentuh dahi Wei Feng sebentar dan memutarkan pandangan ke sekitar.

__ADS_1


Xin Chen tersadar akan keadaan Wei Feng saat ini, dia tak mengerti apa yang sedang terjadi dan merasa Rubah Petir tahu cara untuk menyelamatkannya.


"Maafkan aku... Kau memiliki cara untuk mengatasi ini?" kata Xin Chen pasrah, dia sudah memikirkan segala bentuk cara dan semuanya mustahil. Selain itu pengetahuannya juga masih sedikit.


"Jika seperti ini terus jiwanya akan benar-benar habis oleh para roh, mereka akan menguasai tubuhnya nanti."


"Jadi bagaimana juga?" Xin Chen mengeluarkan beberapa mantra yang dia simpan di cincin ruang. "Ini bisa membantu?"


"Tidak. Untuk memisahkan tubuhnya dengan roh itu, kau harus menuntun jiwa pemilik tubuh ini agar bisa bangkit sendiri. Atau dengan cara roh ini keluar sendiri dari tubuh si pemiliknya."


Xin Chen sedikit terkejut saat memikirkan satu kemungkinan, "Jangan-jangan ini yang kau sebut dengan Jiwa yang Dipadamkan?"


"Ya..., Roh ini sedang menggerogoti tubuh inangnya sebagai tempat persemayaman. Sama seperti irama Kematian, mereka sama-sama membunuh manusia dari dalam."


"Baik, baik... Sampai sini aku paham. Sekarang kita harus apa?"


Wajah Rubah Petir tak menunjukkan tanda-tanda jika dia memiliki jawaban apapun, hanya informasi yang dimilikinya tidak dengan solusi, saat ini pun menangani roh bukanlah hal mudah di Kekaisaran Shang maka dari itu Xin Chen agak terkejut saat Wei Feng mengatakan ada sosok Pengendali Roh di Kekaisarannya.


Di Kekaisaran Shang sendiri hanya ayahnya yang dapat melakukan hal itu.


Xin Chen mengeluarkan lembaran kertas yang diberikan sang roh penghuni Baja Phoenix. Membuat Rubah Petir sedikit heran dengan tindakan itu.


"Jangan bilang kau-"


"Aku akan menghancurkan roh itu dengan Irama Kematian."


"Chen, kau belum tahu apa-apa mengenai Irama Kematian dan kau hendak melawan roh itu dengan ilmu hitam? Sama seperti melawan api dengan api pula, kau hanya akan membuat api itu semakin membesar," kesal Rubah Petir. Tapi pada akhirnya dia sadar, sekeras apapun membentak Xin Chen anak itu akan berpegang teguh pada keinginannya.


***

__ADS_1


likenya yg merata ya, wkwkwk🤣🤣


__ADS_2