
"Kau bilang aku akan menghadapi diriku sendiri bukan? Tapi kenapa yang bertemu denganku malah Roh Elemen Api?"
Raja Siluman Belut terperangah beberapa saat, dia hampir tak mempercayai ucapan Xin Chen jika saja dirinya sendiri tak merasakan tekanan udara di sekitarnya sempat menghilang selama anak itu di alam bawah sadarnya.
"Roh Elemen Api katamu? Dia... Masih ada?"
"Dia dihukum dan diasingkan. Begitu katanya. Dan saat tadi dia ingin sekali membunuhku karena melanggar perjanjian langit. Guru Rubah, kau pasti paham ke mana arah pembahasanku."
Rubah tak bisa mengelak lebih lama lagi, lambat laun muridnya pasti akan mengetahui juga perihal permasalahan ini.
"Jika kau merasa tubuhmu sudah cukup baikan ikuti aku sekarang."
*
Rubah Petir membawanya ke sebuah tempat yang sepi dan jauh dari keributan. Mereka berada tepat di atas puncak gunung setelah dua jam perjalanan.
Setibanya di puncak Rubah Petir tak mengatakan apa-apa selain wajahnya yang terus mendongak ke arah langit. Seolah mencari sesuatu di balik awan sana, Xin Chen paham hal ini akan berat di jelaskan.
"Bahkan sampai di sini pun, walaupun aku selalu dihadapkan pada situasi yang di luar batas kemampuanku kau selalu mendukung. Kau... Menyerahkan kekuatan tersebut kepadaku? Meskipun kau tahu aku hanyalah anak gagal?"
Terdengar helaan napas.
"Aku melakukan ini karena aku benar-benar putus asa. Maka dari itu tidak usah merasa bersalah atas keputusanku sendiri."
Tidak ada tanggapan setelahnya, Rubah Petir mengarah ke tempat lain. "Aku akan mengajarkanmu teknik Hujan Petir ini, dalam pertempuran ketika kau sama sekali tak memiliki banyak aliansi atau teman di sampingmu. Petir-petir ini akan senantiasa menjadi rekan perangmu. Maka ambillah kepercayaan dari mereka, jika kau sanggup."
Rubah menekankan kalimat terakhir seperti menantang muridnya itu.
"Sebelum itu... Apa aku boleh melihat Ye Long?"
"Kau masih percaya caramu itu berhasil?"
__ADS_1
"Pasti. Jika gagal pun aku akan mencari cara lainnya sampai temanku terselamatkan."
Sang Rubah hanya mengangguk, mengeluarkan Ye Long dari dimensi penyimpanannya hingga terbaring seekor naga hitam yang malang di hadapan mereka. Xin Chen yakin kesadaran spiritualnya setidaknya masih tersisa walau hanya sedikit.
"Roh Elemen itu memberikan kekuatannya kepadamu?" Akhirnya Rubah menyinggungnya juga.
"Ya,"
"Dia takkan memberikannya secara cuma-cuma apalagi kepada anak manusia sepertimu."
"Jika dia saja tak mau apalagi denganmu Guru?"
Lantas dibalikkan seperti itu Rubah Petir mendadak diam, dia menggelengkan kepala, memfokuskan perhatiannya pada penyembuhan Ye Long.
Xin Chen meletakkan telapak tangannya ke kening naga itu, berniat mengerahkan seluruh kekuatannya sampai naga itu tersadar. Api takkan melukai naga tersebut karena elemen tersebut sudah menyatu dengan dirinya.
"Di tempat ini seluruh kekuatan murni dapat kau rasakan dengan mudah. Dengan Bunga Api tersebut seharusnya kau dapat menyerapnya, namun kau harus hati-hati atau jika tidak kau akan celaka." Rubah Petir mengingatkan.
Dalam satu kali hentakan tangan tersebut mengeluarkan tenaga dalam yang sangat besar, Xin Chen memaksakannya keluar secara berlebihan dan hal itu membuat Rubah Petir khawatir bukan main. Meski tak mengatakan apa-apa dia meragukan cara itu berhasil. Benar-benar seperti tanpa harapan.
Seperti perkiraannya, kekuatan tersebut takkan mengembalikan kesadaran Ye Long. Xin Chen menatap Rubah Petir sebentar, "Kau membutuhkan bantuan?" tanya Rubah.
"Tidak, hanya saja..."
"Hanya saja apa?"
"Kau tidak akan mengutukku jika aku benar-benar mati karena ini, kan?"
"Kau tidak akan mati."
Jawaban tersebut membuatnya merasa lega, Rubah Petir sedikit heran dan saat dia menyadarinya Xin Chen sudah memulai kenekatannya lagi.
__ADS_1
Kekuatan petir yang berada tepat di atas kepala mereka bergejolak hebat, kali ini Xin Chen bersungguh-sungguh menarik semua energi alam ke dalam tubuhnya. Rubah Petir memperhatikan sekelilingnya dengan tatapan mata awas. Laut yang terletak tak begitu jauh di dekat gunung mulai menampakkan reaksi, ombak meninggi disertai badai tak berkesudahan.
Energi alam murni berbeda dengan energi alam biasa, mereka hanya yang bisa didapatkan di tempat-tempat istimewa dan jarang didatangi manusia. Kekuatan murni ini lahir karena adanya dorongan dari kekuatan yang lebih besar di dalamnya. Seperti tempat bertapa Rubah Petir dulu, kekuatan besar miliknya memperkuat energi alam di tempatnya bersemayam. Sama halnya dengan kekuatan petir yang berada di atas awan sana.
Namun kali ini Rubah Petir tidak bisa mengatakan jika petir yang mengamuk di atas kepala mereka adalah energi alam murni yang memang berasal dari tempat ini melainkan ada sebuah kekuatan yang jauh lebih besar sehingga memunculkan petir-petir besar tersebut.
"Kau tak berniat menghentikannya?" Rubah mewanti-wanti munculnya kekuatan Roh Elemen Angin di atasnya. Petir adalah perpecahan dari elemen angin yang dimiliki oleh Roh Elemen tersebut, dia menguasainya dan akan menjaga kekuatan tersebut dari tangan-tangan manusia seperti Xin Chen.
"Kali ini aku takkan lari."
"Apa katamu?" Rubah menjawabnya heran.
"Aku membutuhkan kekuatan dalam jumlah besar untuk mengeluarkan Api Keabadian ini. Dalam artian lain, energi alam yang dimiliki Roh Elemen di atas adalah satu-satunya kunci."
"Kau bahkan bisa mati oleh sambarannya!" Marah, hanya itu kalimat yang dapat menggambarkan ekspresi wajah sang Rubah.
Xin Chen memamerkan cengiran bodohnya. "Aku tidak pernah peduli apa aku akan mati atau tidak. Kau lihat, sampai hari ini aku masih tetap hidup."
"Percayalah," lanjutnya memohon.
Rubah tak dapat menyembunyikan kecemasannya lagi, tubuh manusia berbeda dengan siluman sepertinya. Mereka jauh lebih lemah secara fisik. Menahan loncatan kekuatan Dewa Petir sama saja dengan mati konyol.
Kalau dipikir-pikir lagi Rubah bahkan yakin Xin Chen yang sekarang takkan percaya kata mati itu benar-benar ada.
"Aku takkan melindungimu kali ini, Chen. Kuserahkan semuanya padamu."
Tepat di waktu itu pula angin berpusat di satu titik, di tempat Xin Chen dan Ye Long berada. Awan gelap di atas mereka menggulung ke dalam, membuat lubang hitam di tengahnya. Kemarahan langit dimulai. Ribuan cabang-cabang petir berkeliaran di dalam awan tebal, terlihat mengerikan bahkan oleh Rubah Petir sendiri.
Dalam tempo yang begitu cepat jumlah petir yang berkumpul di atas sudah tak terbendung lagi, siap menghantam ke bawah dalam satu kali sentak. Xin Chen tak mengangkat wajahnya, bahkan tanpa melihat pun kakinya sudah gemetaran. Mengerikan. Jauh lebih mengerikan situasi dan tekanan ini, karena yang menghukumnya bukanlah manusia atau Siluman Penguasa Bumi. Ini benar-benar kekuatan tanpa banding yang takkan ditemuinya di dunia manusia.
Di detik-detik terakhir Rubah Petir melihat dengan mata kepalanya sendiri, satu aliran listrik berkekuatan dahsyat jatuh. Ukurannya hampir sama seperti seukuran pohon, jatuh menghentak ke puncak gunung dan membuat sesuatu seperti retak di bawah permukaan bumi. Petir tersebut tembus melewati tubuh Xin Chen.
__ADS_1
**