
Ye Long mengepakkan sayap, memanjati pijakan berikutnya yang cukup terjal. Hampir dua puluh kali dia mengeluh, tidak terima diperlakukan seperti cicak. Tubuhnya yang cukup besar memanjati bagian atap bangunan kastil. Mereka hampir mencapai puncak tertinggi. Meskipun diam-diam memanjati menara, Ye Long berkali-kali mengeluarkan suara berisik yang memancing perhatian orang di dalam menara.
Bunyi pijakan Ye Long di atas atap ternyata membuat orang-orang penting yang tengah mengadakan rapat di dalam waspada. Mereka menyahuti para prajurit untuk memeriksa apa yang terjadi di atas.
Sadar keadaan mulai memburuk, Ye Long terbang ke tempat yang lebih tinggi di sebelahnya. Di sebelah mereka terlihat sebuah kamar kosong, jika saja seseorang ada di dalam maka mereka berdua akan langsung ketahuan. Xin Chen menepuk punggungnya, merasakan bunyi langkah kaki yang hendak memasuki kamar tersebut.
Ye Long berpindah lagi. Kali ini pijakannya tidak cukup kuat menahan bobot tubuh Ye Long hingga reruntuhan berjatuhan. Bunyi keramaian terdengar dari dalam. Penerangan mulai menyorot ke tempat Ye Long dan Xin Chen berada. Naga itu terlihat panik saat berpindah ke tempat lainnya. Tanpa berpikir panjang Ye Long terbang ke pijakan yang lebih tinggi. Mereka semakin dekat dengan puncak menara.
Ye Long melebarkan sayapnya dan memanjat ke teras atas yang di tengahnya diisi sebuah lonceng. Langkah berisik tergesa-gesa naik ke tempat di mana Ye Long dan Xin Chen berada.
Waktu semakin menipis, Ye Long melesat cepat menaiki puncak menara. Dari sana mereka dapat melihat seluruh markas pusat tanpa terkecuali. Dari ketinggian di tempat Ye Long berpijak angin berhembus kencang. Ye Long membuka matanya melihat ke bawah.
"Kita harus melewati dinding itu."
Ye Long menoleh di mana Xin Chen berada. Dia mundur agak jauh ke belakang. Mengambil kuda-kuda untuk terbang tinggi. Mata hitam pekat naga itu berkilat terang, dia mengembangkan sayap lebar-lebar. Beberapa detik mereka terjun bebas ke bawah hingga akhirnya Ye Long mulai mengepakkan sayapnya. Dengan kecepatan yang begitu tinggi tidak ada yang menyadari bahwa sekelebat bayangan hitam di atas langit sana adalah seekor naga yang ukurannya cukup besar.
"Aku tidak terbang lagi jika kau tidak memberikan makanan."
"Ini belum satu minggu. Kau sudah berjanji untuk tidak keluar sebelum waktunya tiba."
"Aku menghitungnya seperti lima tahun belum makan. Boleh aku turun sebentar? Mungkin ada satu atau dua manusia yang bisa aku makan di bawah." Ye Long tertarik dengan banyaknya manusia yang bergerak di bawahnya seperti semut. Jika sudah lapar, mau kayu, batu atau manusia rasanya bisa ditelan olehnya.
"Jangan mencari masalah, Kadal Perut Karet. Nanti aku berikan makanan. Kita harus cepat."
__ADS_1
"Baik. Tuan Majingan yang Terhormat. Sudah disuruh memanjat seperti cicak, sekarang disuruh mengantarkannya ke mana dia suka. Benar-benar tidak punya otak."
*
Langit mulai cerah, maka dari itu Xin Chen menyuruh Ye Long turun di daerah yang ditumbuhi oleh pepohonan lebat. Akan menjadi masalah jika Ye Long terbang di siang hari, orang-orang dengan jelas bisa melihatnya. Naga itu menjatuhkan dirinya dengan sembarangan, membuat dua pohon rubuh sekaligus. Bukannya kesakitan Ye Long justru memakan kayu dan daun-daun di pohon itu seperti kerbau.
Dia baru sadar Xin Chen sudah berjalan jauh, Ye Long segera mengikutinya dari belakang. Dia berhenti bergerak sesaat, pupil matanya mengecil sementara telinganya mengikuti arah suara yang mengalihkan perhatiannya.
Xin Chen menoleh mendapati Ye Long tengah terdiam dengan gerak-gerik yang aneh.
"Kau mendengar apa?"
"Suara itu ..." Ye Long menggelengkan kepalanya, "Hanya suara kerbau dari kejauhan. Kupikir aku akan bertamu sebentar ke sana-"
Xin Chen malah menarik telinganya. Menahan Ye Long yang tadinya ingin segera beranjak.
"Yang benar saja." Ye Long berdiri hingga bagian perutnya terlihat. "Kau lihat perutku sudah berlipat tiga begini? Hanya tersisa kulitnya saja, sebelumnya penuh oleh daging dan buah-buahan. Sekarang aku tahan makan sampai berminggu-minggu. Sepertinya saat bersamamu aku merasa sedikit lebih kurus. Kembalikan kehidupan lamaku yang sejahtera! Masa kejayaan perutku-"
"Berisik."
Ye Long bisa melihat majikannya menutup telinga. Bosan mendengar keluhannya yang memanjang ke sana kemari. Di tengah jalan Ye Long bertemu dengan kawanan rusa. Ukuran mereka bisa dikatakan besar, dua ekor saja sudah cukup membuat perutnya kenyang.
Xin Chen merasa bumi seperti gempa saat Ye Long meloncat mengejar rusa-rusa tersebut. Dia mendecak, memang naga itu paling pintar membuat kepalanya pusing.
__ADS_1
Ye Long melompat dari dahan tinggi, menerkam salah satu rusa. Belum menggigit rusa yang baru saja ditangkapnya, Ye Long beralih mengejar rusa lain. Memanfaatkan kesempatan itu rusa yang hampir saja dimakan Ye Long kabur secepat kilat.
Tangkapan keduanya berhasil kabur, Ye Long melihat ke tempat rusa pertamanya yang telah melarikan diri.
Matanya beralih melihat Xin Chen yang hanya melihatnya kasihan.
"Mau dengar sebuah peribahasa?"
"Tidak usah. Terima kasih," jawab Ye Long ketus. Dia tidak sadar matanya sudah berkaca-kaca. Tidak ada satu pun rusa yang berhasil ditangkapnya. Naga itu merunduk, menggigit ranting-ranting pohon murung. Pasti Xin Chen sedang menertawakannya.
Suara jeritan rusa terdengar melengking, burung-burung berterbangan tinggi di atas pepohonan. Ye Long mengangkat wajahnya dan melihat Xin Chen kembali dengan membawa seekor rusa yang tidak terlalu besar. Matanya berbinar-binar.
"Setelah ini jangan berisik lagi mempersoalkan cacing dan perutmu itu."
Ye Long melahap rusa yang masih berdarah itu mentah-mentah. Dia pergi sebentar, naik ke dahan tertinggi untuk melihat pemukiman yang tidak begitu jauh dari hutan ini. Daerah perbatasan masih cukup jauh, mungkin akan memakan waktu setengah hari untuk sampai ke sana mengingat di dalam surat Xin Zhan mengatakan dia kehilangan jejak Ren Yuan saat memasuki perbatasan.
Ye Long menelan bagian paha rusa dalam satu kali gigitan. Dia terlihat sangat bahagia.
"Sekali-kali majikan yang menjadi babu bagus juga."
"Sekarang kembali. Aku harus pergi dari sini sebelum dicurigai."
"Memangnya di sini ada orang? Aku tidak melihat siapa pun." Ye Long memutar tubuhnya, dia tidak melihat apa-apa. Beberapa saat Ye Long baru sadar bahwa hutan di dekat mereka berseberangan dengan sebuah jalan yang biasa dilintasi kereta berkuda.
__ADS_1
Ye Long menghilang dalam sekejap mata, tersisa Xin Chen yang bersembunyi di balik deretan pohon-pohon. Suasana hutan yang begitu sepi membuat setiap pergerakan di dalam hutan terdengar jelas. Bunyi tapak kaki kuda dan dentingan senjata mulai mendekat. Saat kereta itu lewat, Xin Chen segera beranjak dari tempatnya bersembunyi.
**