
Lao Zi hendak mengeluarkan suara. Namun tatap mata Dong Ye seolah-olah membungkam mulutnya. Gesturnya terlihat terganggu oleh tatapan Dong Ye, Lao Zi menghentikan tindakannya dan kembali ke tempat semula tanpa berkata-kata.
"Dari sepuluh nama yang kusebutkan, apakah ada dari kalian yang ingin memprotes?"
Tidak terdengar satu pun yang berbicara.
"Kalau begitu ku anggap setuju." Selanjutnya Xin Chen mengembalikan gulungan kertas itu pada Lan Zhuxian, menghela napas pelan.
"Senior Bai dan Shui, ambil tindakan untuk melindungi tempat ini sebisa kalian. Tian Xi dan Lan Zhuxian mengkoordinir perencanaan markas. Jun Xiang dan Lao Zi mengintai musuh, jangan sampai datang penyusup. Nan Ran dan Yun Shan, kalian memiliki sifat keras, pastikan kalian mendisiplinkan mereka untuk tidak bermalas-malasan di tempat ini. Dong Ye, pastikan keuangan di tempat ini berjalan baik," titahnya. Kesembilan orang itu mengangguk paham.
"Aku akan pergi sebentar dari tempat ini, ada yang harus ku kerjakan."
"Mengapa, Tuan Muda? Apakah lama?"
"Tidak bisa ku jelaskan. Mungkin akan memakan waktu berbulan-bulan. Untuk itu, sebelum aku kembali pastikan kalian menjaga dan merawat tempat ini."
"Tapi ..." Lao Zi ingin menahan, Xin Chen menyadari ada yang salah dengan tatapan Lao Zi dan bertanya padanya.
"Ada apa?"
"Tidak, Tuan Muda. Saya tidak keberatan," sela Lao Zi. Dari sisi lain sepasang tatap mata picik mengarah pada pemuda itu. Xin Chen tak mengerti dengan Lao Zi, dia tak mengatakannya dengan jelas. Apalagi disaksikan oleh banyak orang begini, suasana yang sempat keruh kembali terfokus pada Xin Chen.
"Dengan begini, diskusi kita selesai. Aku sudah menuliskan tugas kesepuluh anggota utama dengan lengkap pada Lan Zhuxian. Pastikan kalian melakukannya atau jika tidak, tahu sendiri apa akibatnya."
Sepuluh orang itu menelan ludah, punggung mereka terasa dingin selama beberapa detik. Bukan angin yang membuat mereka menggigil, melainkan sesuatu mengerikan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
"Baik!"
Derap langkah kaki Xin Chen begitu terdengar karena suasana yang begitu hening, dia terus berjalan hingga akhirnya menoleh ke belakang sebelum menghilang.
__ADS_1
"Aku akan kembali."
*
Iring-iringan langkah kaki kuda berpacu cepat di sepanjang jalan pedesaan, tak dapat ditemukan penginapan atau pun kedai arak di sana. Hanya banyak pematang sawah dan ladang berkebun, sinar terik membakar jalanan debu berkerikil tajam. Hanya seperempat jalannya saja, desa ini sudah terlihat seperti sebuah desa yang jarang dihuni. Hanya orang-orang tua yang tetap tinggal sementara anak muda lebih memilih mencari pekerjaan layak di kota-kota.
Di tengah jalan yang begitu panas itu, seorang pria tua yang hampir menginjak usia 70 tahun terkesima saat melihat pengelana melintas ke daerah mereka. Kayu bakar di atas pundaknya berantakan, membuat pemuda itu sejurus memberhentikan langkah. Lalu berjalan ke arahnya.
"Ah, tidak apa-apa. Maaf mengganggu perjalanan anda."
"Biar saya bantu."
Kakek tua itu sebenarnya tak enak, tapi saat merasakan pinggangnya terasa sakit untuk digerakkan dia merasa tak ada salahnya menerima kebaikan itu. Keduanya berjalan bersisian di ruas jalan yang di tumbuhi oleh daun-daun liar. Berhenti tepat di sebuah rumah kayu yang tua, biar begitu dinding dan tiangnya sangat kokoh.
"Masuklah dulu. Istriku, buatkan teh dan makanan. Kita kedatangan tamu!" teriaknya mendapatkan sahutan dari dalam rumah, laki-laki itu duduk pelan-pelan. Lalu menatap Xin Chen yang baru saja meletakkan pedangnya di lantai. Duduk tanpa banyak bicara.
Cerita laki-laki itu sambil tersenyum dalam, meski sudah tua ingatannya cukup kuat.
"Siapa?"
"Tuan Muda Xin pertama ... Beliau itu, dia tak beda seperti ayahnya. Kadang-kadang datang ke tempat terbuang seperti ini, hanya untuk berbicara. Atau menanyakan masalah-masalah kami. Saya yakin, jika Tuan Muda Xin kedua masih hidup, dia juga sangat ramah. Aku dengar, dia anaknya usil. Ha-ha-ha biasanya anak seperti itu paling sulit dikendalikan, aku sempat berpikir dia akan mewarisi Pedang Iblis kedua."
Suara laki-laki itu mulai serak, "Sayangnya, ramalan itu tidak benar adanya."
"Ramalan?" ulang Xin Chen, pria itu tertawa lepas. "Itu, hahahaha. Ramalan tujuh belas tahun lalu saat kabar tentang istri Tuan Xin hendak melahirkan. Seorang peramal yang umurnya hampir seratus tahun di desa ini, ah ... Itu, aku lupa apa yang diramalkannya. Hahaha."
Xin Chen sebenarnya ingin menanyakan lagi, tapi pertanyaan itu dikuburnya dalam-dalam.
"Jika seandainya dia ada di sini, apa yang ingin kau lakukan?"
__ADS_1
Dibilang seperti itu sang kakek tua menghentikan tawanya, riak wajah yang semula riang berubah menjadi sedih.
"Aku hanya berharap ... Kota Renwu dan Kekaisaran Shang dulu kembali. Anakku tewas dalam peperangan di sana, mungkin jasadnya saja sudah tidak ada. Tapi setidaknya, kami ingin mengunjungi tempat itu sekali saja untuk mengenang putra kami yang sudah tiada."
"Begitu," gumamnya. "Lalu, mengapa tempat ini begitu sepi? Maksudku, hanya ada sebagian tanah yang dihuni sementara yang lainnya ditelantarkan tanpa ada yang punya."
"Di sini sering hujan, Tuanku. Hari ini mungkin sangat panas, tapi tuan lihat di jalan-jalan, genangan air banjir tidak pernah surut di desa kami."
Xin Chen juga sudah melihatnya. Kemarin dari kejauhan dia melihat badai besar muncul di tempat ini. Letaknya hanya melewati dua kota dari Kota Fanlu. Terletak paling timur, sementara angin badai yang berhembus dari arah laut membawa uap panas. Cuaca tak biasa ini sudah bertahun-tahun lamanya mereka rasakan hingga hasil panen maupun peternakan mereka rusak.
Hewan-hewan ternak mati karena cuaca yang membuat mereka rentan sakit dan tanaman tak bisa lagi mendapatkan sinar matahari, karena langit yang selalu tertutup oleh awan mendung. Istri kakek tua itu masuk ke ruang tamu dan menumpukan dua lututnya di lantai. Menghidangkan beberapa makanan kecil dan teh hangat.
"Istriku, kau masih ingat soal ramalan si Mata Elang?" tanyanya pada sang istri, wanita itu berpikir agak lama sebelum menyahut.
"Mata Elang ... Iya, leluhur Klan Mo. Siluman Penguasa Bumi? Cerita hancurnya ...." Dia lupa lagi, di sampingnya Xin Chen menunggu dengan sabar sampai wanita itu meneruskan ceritanya. Lama menunggu, wanita itu tak kunjung ingat. Mungkin dikarenakan umur yang sudah tua membuat dia tak ingat segala sesuatu dengan jelas.
Pria tua itu menggeleng, "Itu sudah lama sekali. Kami benar-benar tidak ingat, maaf hanya membuat anda kebingungan. Mohon jangan pikirkan lagi jika hanya membuat anda terganggu."
"Aku justru ingin tahu, karena itu ada kaitannya dengan Siluman Penguasa Bumi."
"Anda mengetahui soal mereka juga?"
"Kurang lebihnya."
Pria itu menatap sekeliling sebelum melanjutkan berbicara, tampak waspada. "Tetua adat di tempat ini mungkin masih mengingat ramalan tersebut, jika kau ingin mengetahuinya lebih. Aku akan mengantarmu padanya."
***
Like-nya yang merata ya teman-teman ...
__ADS_1