
Han Wu berpaling dari kobaran api yang mengamuk di belakangnya, tubuhnya menyuruhnya melakukan hal tersebut namun di sisi lain pikirannya mengatakan hal lain. Dia dapat merasakan seseorang sedang berdiri di balik badannya.
Susah payah Han Wu memaksa kepalanya untuk menoleh ke belakang dan benar saja, terlihat sebuah bayangan di balik api yang semakin lama semakin menipis. Kekuatannya seharusnya akan berhenti membakar setelah berhasil membunuh orang di dalamnya atau dengan satu pengecualian lain, di mana ada satu kekuatan yang lebih besar dari teknik Pintu Neraka tersebut.
"Ti... Tidak mungkin ...." Han Wu tak bisa membohongi penglihatannya sendiri, dia tidak ingin percaya bahwa kini seseorang tengah berjalan tenang melewati lingkaran api yang dikatakan setara dengan panasnya api neraka tersebut. Bayangan Xin Chen samar-samar semakin kuat hingga tubuhnya muncul di hadapan Han Wu, menatapnya lekat-lekat dengan tatapan membunuh, namun dia tetap berusaha tenang.
"Barusan kau melakukan apa?"
Han Wu tertohok, melihat Xin Chen mengusap belakang lehernya sambil melirik ke kobaran api di belakangnya yang telah padam. Senyum menusuk diiringi lontaran tajam lainnya menyambut Han Wu sesudahnya.
"Aku tahu kau sudah menyadari perbuatanmu. Tapi ku katakan saja, tubuhmu hampir sama denganku. Kita memiliki ketahanan tinggi terhadap serangan api. Bukan begitu?"
"Ch, aku tidak ingat apa yang terjadi sebelum ini, tapi sepertinya kau lawan yang cukup tangguh juga." Kini Han Wu terlihat antusias, dia menarik pedangnya secara cepat.
"Sepertinya kau memang senang bermain api. Kalau begitu dengan senang hati aku akan mengikuti permainan mu."
Tipe serangannya berganti, Xin Chen melepaskan kendali atas kekuatan roh dan menyegel mereka kembali ke dalam Kitab Pengendali Roh.
__ADS_1
Di tengah suasana mendung, dengan awan hitam melingkupi seisi Kota Renwu sebuah cahaya biru berkilat di mata Xin Chen. Secara mendadak api biru yang membara mengedari sekujur tubuhnya, membuat dirinya bersinar begitu terang di bandingkan api merah Han Wu. Suhu di permukaan tanah mendadak naik begitu drastis, angin panas tersebut seolah melubangi paru-parunya setiap kali Han Wu menarik napas.
"Heh, manusia macam apa kau ini? Aku tidak menyangka di jaman sekarang kalian bahkan jauh lebih hebat dibandingkan para jagoan di masa lalu." Han Wu masih terlihat biasa saja, bukan kali pertamanya melihat sesuatu seperti ini hanya saja lawannya itu sedikit lebih muda daripada musuh yang pernah ditemuinya dulu. Dibandingkan itu tidak ada hawa membunuh yang menggebu-gebu dari Xin Chen, dia tetap fokus dan tenang setiap waktu. Dengan cara seperti itu tampaknya menghadapi Han Wu yang agresif dan sangat buru-buru dalam pertarungan membuatnya sedikit lebih unggul daripada Han Wu.
Gelang Api Keabadian menyusul tepat setelah Han Wu menyelesaikan kalimatnya, dia mundur secara cepat dan menjaga jarak sejauh mungkin. Perubahan bentuk api keabadian berganti menjadi ular berbentuk api. Sama halnya seperti perubahan bentuk dari Lengan Petir menjadi Pedang Petir. Xin Chen dapat menguasainya dengan cepat. Mengendalikan ular itu, merayap di tanah dan mengincar kaki Han Wu.
Pertarungan sengit terus berlangsung, Xin Chen tetap tak bisa menghantamkan pukulan telak pada Han Wu. Kecepatan menghindarnya jauh di atas rata-rata dan juga pertahanan diri manusia itu memang seperti batu logam yang sulit ditembus.
*
Sementara itu pertarungan antar siluman mulai terlihat jelas tak berimbang, meskipun melawan dua siluman sekaligus Naga Kegelapan jauh lebih unggul daripada mereka berdua. Rubah Petir terluka parah, dia sebelumnya berhasil memotong ekor Naga Kegelapan dengan rantai petir dan luka itu tidak akan mengalami regenerasi.
Kepala Naga Kegelapan berhasil menyeruduk perut Rubah Petir, membuatnya terpental begitu kuat. Shui mencoba menolongnya tapi Naga Kegelapan lebih dulu menghantamkan ekornya pada tubuh Shui. Keduanya terperosok cukup jauh. Di saat-saat seperti itu bisa dikatakan Shui telah kehabisan daya, sejak datang ke Kota Renwu dia memang tkkan pernah berekspektasi akan menang melawan Naga Kegelapan dan hanya berharap teman lamanya memiliki cara untuk mengatasi hal tersebut.
Tapi kenyataan berkata lain, selain Naga Kegelapan kini muncul Qiang Jun yang sama-sama mimpi buruk, keduanya adalah manusia dan siluman terkuat di muka bumi. Dan harapan Xin Fai akan membantunya melawan Naga Kegelapan takkan pernah terjadi. Xin Fai sudah kewalahan menghadapi Qiang Jun yang kekuatannya seperti tanpa batas. Dia menyerap energi alam di sekitarnya, melepaskan jurus tingkat tinggi yang seharusnya memakan banyak tenaga dalam dan melakukannya berulang kali.
Sementara setiap serangan yang Xin Fai keluarkan, biarpun mampu melukai tubuh Qiang Jun namun tak mempengaruhi pergerakan pria itu sama sekali. Dia tidak melamban akibat kekurangan darah, atau merasakan sakit karena goresan luka.
__ADS_1
Qiang Jun berucap tenang, namun kekuatan di sekitarnya membludak layaknya api yang sedang membakar kertas-kertas. "Kitab Tujuh Kunci," ucapnya.
"Seribu Pedang Purnama!"
Xin Fai baru menyadari betapa hebatnya jurus itu jika digunakan oleh Qiang Jun, tebasan tanpa henti memburu setelahnya. Hingga pada akhirnya Pedang Baja Phoenix yang diberikan Xin Chen patah dan hancur berkeping-keping, diakibatkan oleh aliran kekuatan begitu besar yang tak sanggup lagi ditampung oleh sebilah pedang tersebut.
Qiang Jun tak berhenti sampai di situ, dia terus melepaskan serangan beruntunnya. Tak memiliki pilihan lain Xin Fai mengeluarkan sebuah pedang melegenda yang baru dikeluarkannya kembali setelah tersimpan kurang lebih sepuluh tahun. Pedang terhebat yang menjadi awal kehancuran peradaban manusia.
Resiko terberatnya adalah jika pedang itu jatuh ke tangan Qiang Jun, sementara itu Xin Fai tak memiliki pedang lainnya yang cukup bagus untuk menahan serangan lelaki itu.
Di tempat lain seseorang yang terus menonton pertarungan tersebut hanya bisa mendecih sebal, dia melihat sang putra dan ayahnya yang masih terus bertahan hingga akhir. Sementara itu di tempatnya bersembunyi, terlihat sebuah mantra yang akan terus melemah dari waktu ke waktu. Jika pertarungan ini tak kunjung berhenti dalam kurun waktu tiga hari ke depan, maka sebagai ganti dirinya harus mati mengenaskan.
"Tsk, sepertinya tidak ada cara lain lagi. Mereka berdua bisa hilang kendali." Sosok bertopeng gagak itu menghentakkan kakinya gelisah, jemarinya menekuk mejanya berisik.
"Tuan, sudah saya bawa Jenderal Besar Liu kemari. Kondisinya parah, namun masih bisa diselamatkan."
Sosok itu tersenyum di balik topeng nya, "Baguslah. Dibandingkan itu semua dia telah mengabdikan dirinya bertahun-tahun sejak hari itu. Saat ini waktunya untuk menunjukkan kesetiaannya. Bawa dia ke tempat ritual."
__ADS_1
"Apakah ...." Sosok wanita yang menggunakan topeng yang sama menebak dengan napas seakan berhenti, membayangkan apa yang akan terjadi.
"Diam dan lakukan sesuai perintah ku."