
"Senandung Air?"
Xin Chen mengeluarkan seruling dan memainkannya pelan, Huo Rong mengangguk pasti. "Ya, benar. Yang itu. Dari mana kau tahu irama itu? Bukannya seharusnya sekarang sudah dilupakan? Mengingat ini sudah sekitar seribu tahun semenjak irama itu diciptakan?"
Huo Rong tak bisa menyembunyikan rasa ingin tahunya. Dia sampai menukikkan alis karena Xin Chen harus berpikir dulu untuk menjawab pertanyaannya.
"Apa susahnya menjawab pertanyaanku?"
"Aku justru berpikir dari mana kau tahu irama ini diciptakan seribu tahun yang lalu?"
"Tentu saja karena aku yang-" Huo Rong memberhentikan kalimatnya, menatap Xin Chen intens tetapi tak mengeluarkan sepatah kata pun. Dia hanya berpikir Xin Chen memang menalar semua kata-kata yang didengarnya. Tak heran mengapa sejak awal pemuda itu mengetahui jati dirinya sebagai Siluman penguasa bumi.
"Kau memang pendengar yang handal, ck ck ck!"
Sekarang Huo Rong alias Salamender Api memang terdengar seperti seekor cicak.
"Hahaha, kapan lagi aku bertemu mahkluk sepertimu. Sudah banyak alasan, pengamuk-"
"Katakan aku jelek. Habis nyawamu." Huo Rong masih melipat kedua tangan di depan dada, namun kilat merah di matanya yang mengerikan tetap menyoroti Xin Chen dari samping.
Xin Chen menatap serulingnya, lalu melepaskan seikat jalinan tali yang dihiasi oleh kerang kecil. Hadiah dari ibunya. Dia mengikat benda itu di seruling, terlihat lebih bagus dari sebelumnya.
"Senandung Air ini aku pelajari di Kuil Teratai. Dulu sekali saat ayah sering membawaku pada gurunya. Aku tak yakin dia masih mengajari irama ini karena bagi sebagian orang, hal ini tidak begitu dibutuhkan."
"Tapi kau mempelajarinya?"
__ADS_1
"Aku bahkan menemukan senjata mematikan dari irama yang menenangkan ini."
Sebentar kemudian, tak ada lagi yang berbicara selain seruling Xin Chen yang mulai mengeluarkan alunan rendah. Begitu halus dan menghanyutkan hingga akhirnya irama meninggi dan tak terkendali, berputar-putar layaknya labirin kematian tak berujung. Irama itu membuat Huo Rong kehilangan kesadarannya selama beberapa saat. Andai saja Xin Chen tak melepaskan pengaruh irama tersebut, hal buruk pasti akan terjadi pada Huo Rong,
"Ini gila ... Aku pernah mendengar tentang irama ini! Aku memang tidak tahu siapa yang membalik-balikan iramanya sampai kacau dan menciptakan suara berbahaya seperti ini."
"Berarti kau adalah yang menciptakan Senandung Air."
Anggukan Huo Rong cukup untuk mengiyakan dugaan Xin Chen, tak hanya sampai di sana, dia masih bertanya hal lain yang menggantung baginya.
"Berarti kau secara tak langsung memiliki kaitan dengan para leluhur dari Kuil Teratai?"
"Ya. Aku adalah salah satu yang mendirikan kelompok kecil itu. Sebelum namanya berubah menjadi Kuil Teratai."
Dulu, Xin Chen pernah mengunjungi Kuil Teratai untuk memastikan soal kesamaan yang di miliki Senandung Air dan juga Irama Kematian. Hari itu, dia hanya menemukan sebuah makam dengan kayu yang dibuat langsung dari Kekaisaran Qing. Jika benar itu ada kaitannya dengan Huo Rong maka tak heran mengapa kayu tersebut memiliki lambang Kekaisaran Qing. Dan juga, menurut yang Huo Rong katakan tadi, dia bukan sosok yang menciptakan Irama kematian.
Xin Chen sangat sibuk dengan pemikirannya sendiri hingga membuat Huo Rong terabaikan, dia menepuk pundaknya sekali. Dapat disentuh. "Kau mulai membiasakan dirimu tanpa kekuatan itu, ya?"
Benar saja, Xin Chen tak mendengarnya. Huo Rong bukan tidak tahu masalah yang dialami Xin Chen selama pertarungan dengannya tadi. Dia bisa saja menggunakan kekuatan roh untuk menghancurkannya. Namun Xin Chen menyadari bahwa semakinlama dia berjalan ternyata kekuatan tersebut memiliki musuh-musuh yang mengerikan. Contohnya Yuhao dan juga Salamender Api. Hanya dengan bergantung dengan kekuatan roh tak akan menjamin kemenangannya.
Ditambah lagi kekuatan roh sebenarnya tidak memakan tenaga dari fisik, melainkan kekuatan spiritual dan jiwa yang dikendalikannya. Semakin banyak jiwa yang ditelan oleh KItab Pengendali Roh, semakin tinggi pula tingkat pengendaliannya. Salah-salah justru dia hanya akan membunuh diri sendiri.
Kali ini Huo Rong menepuk pundaknya lebih keras, "Kau pasti bertanya-tanya siapa aku yang sebenarnya."
Huo Rong meregangkan otot tubuhnya yang terasa kaku, tengah malam telah berlalu dan langit biru kelam saat pagi buta mulai terlihat. Mendatangkan rasa suram pada siapa pun yang melihatnya. Merasa Xin Chen mulai menyimaknya, Huo Ronng kembali berbicara.
__ADS_1
"Karena kau sudah memperkenalkan ayahmu, maka aku akan memperkenalkan diriku juga, dengar baik-baik ini, pendengar handal."
"Sudah aku katakan padamu sebelumnya, aku pernah berbaur dengan manusia kurang lebih seribu tahun. Saat-saat itu merupakan jaman di mana kekacauan terjadi di mana-mana. Tidak ada yang namanya kekaisaran ini dan itu. Hanya saja setiap wilayah berbeda akan menganggap musuh satu sama lain. Karena itu perang tak henti-hentinya terjadi. Mungkin jika kau menganggap perang sekarang snagat mengerikan maka kau salah, dulu perang jauh lebih sadis dari yang kau kira."
Huo Rong menceritakannya hingga pagi datang, bagaimana dirinya dulu. Begitu miris melihat manusia yang saling bertarung demi menguasai wilayah. Namun ada beberapa dari mereka yang begitu menginginkan persatuan. Mereka berpikir jika seluruh daerah bersatu maka perang dapat dihindarkan. Bagi semua orang di masa lalu, hal itu adalah hal paling mengerikan yang tak akan mereka biarkan terjadi.
Dan ramalan itu datang, tentang seorang anak yang disebut Manusia Iblis. Dia akan terlahir untuk membawa bencana paling menakutkan bagi manusia. Hal itu menjadi dasar utama Kuil Teratai berdiri. Huo Rong menjadi salah satu pendirinya hingga akhirnya sekte itu menjadi sekte tertua.
Huo Rong menjentikkan jarinya, membuat api unggun di depannya padam saat matahari mulai terlihat. Karena Xin Chen sedari tadi diam, dia mengira pemuda itu sudah tertidur. Tapi trnyata dia masih menyahut saat dipanggil. Memang benar dugaannya, pemuda itu tak akan melewatka satu informasi pun tertinggal.
"Aku baru menyadarnya sekarang. Meskipun jalan kami berbeda, aku dan rubah petir sama-sama ingin berjuang untuk sebuah dunia di mana semuanya dapat hidup tanpa merasa terancam."
"Jika kau begitu ingin menemuinya, kau bisa melihatnya di dimensi milik Shui."
Huo Rong menolaknya sambil tertawa hambar, "Aku akan kehilangan muka jika tiba-tiba dia bangun dan mencaci makiku hanya karena tak pernah mengunjunginya."
"Tak kusangka padahal badanmu lebih besar darinya, lebih seram juga. Ternyata kalah kalau urusan berdebat dengan rubah."
"Lihat dirimu sendiri, Nak." Huo Rong tertawa seperti gaya khasnya.
"Ikut denganku. Ada satu tempat yang ingin aku tunjukkan padamu."
Keduanya pergi begitu saja, meninggalkan Shui yang masih tertidur pulas. Dia bangun setelah beberapa menit orang itu pergi, menguap lebar-lebar lalu mencuci mukanya dengan air laut yang tampak tenang. Hal yang biasa dia lakukan semenjak mendapatkan tubuh manusia.
"Hm ... Wajahku masih tampan seperti biasanya. Heran, sebenarnya apa salahku sampai dihukum dengan ketampanan yang keterlaluan seperti ini? Kau pasti merasa begitu juga kan, Chen?"
__ADS_1
Shui menoleh ke belakang dan hanya melihat daun-daun kering yang lewat ditiup angin.
"Sialan, aku ditinggal di pulau berhantu! Arrghhh, setaaan!"