Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 209 - Prajurit Berdarah


__ADS_3

Siang hari udara panas membakar tanah di perkotaan, orang-orang berlalu lalang dengan ramai di jalan. Langit biru yang terik membuat kebanyakan penduduk memakai caping pelindung, termasuk Mou Zhueyang yang baru saja kembali ke Benteng Fugi sambil tergesa-gesa.


Napas laki-laki itu naik turun tak beraturan sementara bola matanya mengitari seisi ruangan dan tak menemukan di mana orang yang sedang dia cari.


"Mana Tuan Muda Xin kedua? Aku harus menemuinya sekarang juga!" seru Mou Zhueyang membuat orang di seisi benteng tertegun. Mereka baru saja mengobati luka, berperang walau pun keadaan terluka seperti ini memang sudah tanggungan mereka.


Dua prajurit keluar mencari di luar benteng, tergopoh-gopoh. Tak menemukan Xin Chen di mana pun.


Mou Zhueyang berlari ke luar dan menyadari seseorang sedang berjalan ke arahnya.


"Ada apa?" Xin Chen membaca raut wajah penuh takut itu, merasa ada yang tidak beres. Mou Zhueyang mengepalkan tangannya sambil berkata. "Mata-mata kita telah dibunuh dan dihabisi semalam. Mereka ... Mereka mungkin sudah mengetahui rencana mereka dan akan mengirimkan bala bantuan ke Lembah Para Dewa!"


Saat Mou Zhueyang berseru panik Xin Chen justru terlihat tenang.


"Tuan Muda? Apa yang harus kita lakukan?"


"Kita tidak akan mengundurnya." Nada bicara itu terdengar tegas, Xin Chen menatap Mou Zhueyang lurus. "Kita bukan pengecut yang berlari ketakutan saat teman kita dibunuh."


"Tapi kita harus memikirkan baik-baik rencana ini, kita tidak bisa sembarangan."


Mou Zhueyang yang dulu tak pernah peduli akan resiko yang ditanggungnya saat mengandalkan strategi seadanya dalam pertarungan. Semenjak kematian ratusan prajurit bawahannya, agaknya laki-laki itu trauma dan mulai berpikir lebih matang sebelum bertindak.


Namun Xin Chen seolah-olah tak mendengar keluhannya. Mou Zhueyang menundukkan kepala, sadar dirinya sudah terlalu banyak memprotes padahal dirinya sendiri sudah mengucapkan sumpah setia.


"Orang itu tidak bodoh, mereka pasti tahu bahwa kita hanya membawa sepuluh prajurit. Memangnya kau pikir mereka mau repot-repot mengurusi sepuluh keroco Kekaisaran dan mengirimkan anggota terkuat mereka?" Ucapan Xin Chen membuat Mou Zhueyang berpikir sejenak, merasa ada benarnya.


Memang kenyataan bahwa mereka hanya bersepuluh, mungkin orang-orang Empat Unit Pengintai akan menertawai mereka habis-habisan saat mendengar informasi itu. Dan lebih lagi mereka mengetahui bahwa Mou Zhueyang lah yang memimpin, demi membalas dendam kematian bawahannya.


"Sekarang kita harus bergegas agar bisa tiba di sana saat malam hari."

__ADS_1


Mou Zhueyang mengangguk, "Baik, Tuan!"


Delapan kuda berderap beriringan di jalan kota, para warga menepi memperhatikan baris-baris prajurit berdarah. Mereka tahu benar siapa Mou Zhueyang, laki-laki yang membela Kekaisarannya bahkan tanpa diupah. Sangat jarang menemukan sosok seperti laki-laki itu sekarang, dan hal itulah yang membuat banyak warga menaruh kepercayaan besar padanya.


Anak-anak kecil berdiri di sisi jalan, bersorak-sorai gembira pada kawanan prajurit yang hendak turun ke medan perang. Mou Zhueyang hanya bisa tersenyum tipis, di sebelahnya Xin Chen turut memacu kuda hitam tanpa berkata apa-apa. Pandangannya lurus ke depan.


Dan di saat itu, Mou Zhueyang tak dapat menjabarkan mengapa pemuda itu menatap sesuatu begitu berat. Tatapan yang memperlihatkan kesedihan, dia tak mengerti mengapa Xin Chen tampak seperti seseorang yang tengah berhadapan dengan sesuatu yang sulit. Semenjak bertemu dengan pemuda itu, banyak hal yang masih berkelebatan di kepalanya.


"Tuan tidak sendiri."


Xin Chen sadar tak sadar menolehkan kepala dan mendapatkan kesadarannya kembali. Sesuatu mengganggunya, Mou Zhueyang tertawa kecil.


"Ayolah, cobalah untuk tersenyum. Anak-anak kecil itu ketakutan melihatmu!"


"Baguslah. Kebetulan aku suka memakan anak kecil."


"Ap-"


Dahi Mou Zhueyang berkerut dalam, Xin Chen mengatakannya dengan wajah suram-tidak mendukung untuk sekadar dianggap bercanda.


"Selera humormu aneh juga."


Xin Chen tertawa kecil, sebenarnya dia juga berpikir demikian. Dia teringat Lan Zhuxian, entah orang itu selamat atau tidak membawa anak-anak kecil itu. Jika Xin Chen mendengar mereka semua tewas maka Lan Zhuxian harus mempertanggungjawabkannya.


*


Bukit landai dengan jalanan terjal membuat langkah kaki kuda yang mereka naiki tergelincir, Xin Chen turun dari kudanya dan berjalan untuk melihat wilayah luas yang menyerupai lembah. Tempat itu terlihat lebih maju dan terdapat bangunan-bangunan mewah.


Mereka bersepuluh berdiri di atas sebuah gunung sehingga Lembah Para Dewa terlihat jelas dari atas. Tidak ada yang bisa melihat mereka di antara pepohonan tinggi yang rimbun dan juga ditutupi semak-semak.

__ADS_1


Baru hendak menyusun rencana, salah satu dari mereka menyadari ada sesuatu yang salah.


"Tunggu-? Kita cuma bersembilan? Satu orang lagi mana?"


Hal itu membuat Mou Zhueyang panik, dia kembali ke rute yang mereka lewati dan tak mendapati siapa pun. Dengan cepat kaki laki-laki itu menerabas rumput yang tumbuh setinggi betis, napasnya terengah-engah mengelilingi tempat yang sama. Temannya itu menghilang seperti ditelan bumi.


Baru saja Mou Zhueyang hendak melanjutkan pencarian, suara seseorang menghentikan langkahnya.


"Berhenti sampai di sana."


Xin Chen melemparkan pedangnya hingga senjata tersebut menancap di tanah, memotong tali jebakan yang hendak melilit Mou Zhueyang untuk tergantung ke atas.


"Di sini banyak jebakan."


Namun pandangan mereka tersedot pada kemunculan prajurit mereka yang baru saja menghilang. Pria itu tak mengatakan apa-apa dan hanya menunduk, membuat Mou Zhueyang khawatir.


"Hei, ada apa denganmu? Pergi ke mana saja kau?"


Mou Zhueyang kembali merasa aneh, dia mendekat dan hendak menepuk pundak pria itu hingga tiba-tiba seseorang muncul di balik tubuh prajuritnya. Menikam Mou Zhueyang dengan belati beracun, membuat laki-laki mundur dengan lengan terkoyak oleh sayatan. Serangan yang begitu tiba-tiba itu membuat bawahannya segera pasang badan di depan Mou Zhueyang. Namun sang penyerang langsung melarikan diri dan menghilang begitu saja di dalam hutan.


"Sial! Mereka ...."


Mou Zhueyang memegang erat-erat lengannya berharap dapat menghentikan pendarahan. Racun mulai menyebar di tubuh pria itu, Xin Chen menunduk. Membawakan obat penawar racun padanya.


"Mereka sangat ahli dalam penyamaran, seperti yang kuduga. Orang dari Kekaisaran Qing memiliki ilmu yang lebih tinggi soal pertarungan."


Prajurit lainnya melihat keadaan kawan mereka yang telah kehilangan nyawa bahkan sebelum mereka melakukan penyerangan. Gigi Mou Zhueyang bergemerutuk kesal, "Aku pasti akan menghancurkan kalian ...."


Xin Chen tak bisa membagi fokusnya, dia harus membaca situasi dan keadaan di Lembah Para Dewa. Dan karena kelengahan itu salah satu teman mereka meregang nyawa.

__ADS_1


"Kita langsung saja ke Jembatan Shangyu. Lihat apa yang bisa kita lakukan di sana ...." Xin Chen mengepalkan tangannya.


"Semoga saja mereka tidak sebuas yang aku pikirkan."


__ADS_2