
Mou Zhueyang tak mengerti lagi apa yang sedang dipikirkan Xin Chen, pemuda itu pergi setelah mengatakan rapat selesai dan membuat perbincangan mereka menggantung. Besok malam, mereka akan turun langsung ke medan perang. Siap atau pun tidak, dari barisan para prajurit tidak ada yang berani membantah apalagi memprotes. Mereka bubar tanpa mengucapkan apa-apa, sementara Mou Zhueyang menatap langit malam yang kelam dari atas benteng. Memasuki pagi buta, pertengahan malam baru saja terlewati dan angin dingin mencoba membekukan tubuh pria itu.
Mou Zhueyang duduk bersandar pada dinding benteng, deru napasnya terdengar berat. Dia tak bisa mempercayai rencana Xin Chen yang bahkan tak menjelaskan lebih tentang siapa prajurit lain yang berada di pihak mereka. Kenyataannya, mereka hanya bersepuluh. Tidak ada siapa pun yang berdiri di belakang mereka untuk sekedar membantu.
"Kau tidak tidur?"
Mou Zhueyang meluruskan pinggangnya, mendapati Xin Chen tanpa disadari telah berdiri di sebelahnya.
"Ah, aku hanya memikirkan rencana penyerangan kita. Aku tidak yakin kita bisa menang." Mou Zhueyang menyesal mengatakannya, tapi apa boleh dibuat. Mengeluh juga takkan menambah jumlah mereka yang sedikit.
"Untuk orang-orang seperti kalian, masih memiliki pendirian teguh bahkan ketika Kekaisaran Shang telah berubah dan tak memedulikan jerih payah kalian. Aku cukup kagum." Xin Chen melompat ke tepi benteng, menatap ke bawah dari ketinggian. Hanya gerbang kota yang sepi dan beberapa kurir berlalu lalang membawa pesan.
"Tuan, sudah kewajiban kami untuk mempertaruhkan nyawa dalam peperangan." Mou Zhueyang menatap Xin Chen agak lama, "Sama halnya seperti Anda, kami merasa memiliki tanggung jawab besar terhadap keselamatan orang-orang."
"Aku sedikit kecewa saat mengetahui Paman Lan An juga tutup telinga atas permasalahan di Jembatan Shangyu. Dia hanya melindungi ibukota saja, aku tahu bibi dan ibu ada di sana. Tapi bukan berarti dia harus membuang orang lain demi memastikan orang terdekatnya yang selamat."
Mou Zhueyang memperhatikan kekecewaan wajah Xin Chen dari samping, nama Pilar Pertama saat ini, Lan An hanya dikenal oleh orang-orang di Kota Fanlu. Di sana adalah wilayah yang diduduki oleh Pilar Kekaisaran. Pantas saja bahkan saat pertama kali memasuki kota itu, Xin Chen sudah dihadang puluhan prajurit. Pengawasan yang sangat ketat untuk sebuah kota.
"Tuan Muda Xin kedua," panggil Mou Zhueyang getir. Xin Chen tak menoleh dan hanya menunggu pria itu berbicara duluan.
"Apakah Pedang Iblis akan kembali?"
Untuk sementara mereka hanya saling bertatapan, Xin Chen terdiam dan menatap ke bawah kakinya.
"Entahlah."
__ADS_1
Laki-laki itu mengepalkan tangannya kuat, "Pedang Iblis pasti kembali!" Lalu kedua alis Mou Zhueyang bertaut kencang. "Bahkan hingga titik darah penghabisan, beliau adalah orang yang kuat. Untuk itu aku akan terus berjuang demi mengembalikan namanya di posisi pertama Pilar Kekaisaran!"
Intonasi Mou Zhueyang yang tiba-tiba meninggi memecah heningnya suasana. Kemudian Mou Zhueyang tersadar, "Maaf, aku terlalu terbawa suasana."
"Kalau begitu pastikan kau tidak mati sampai nama itu kembali ke Kekaisaran kita. Dengan atau tidak ada tubuhnya di sini, meski hanya kembali dengan nama ..." Jeda dalam kalimatnya, Xin Chen tersenyum hampa. Sudah sangat lama sejak hari itu, lukanya tetap terasa sama. Saat dia benar-benar tidak bisa menerima kenyataan bahwa dia kehilangan segalanya; rumah, ayah, kerabat dan naga hitam. Dan saat ini dirinya justru menjauhkan diri dari mereka yang menunggu kepulangannya.
"Aku tidak ingin kembali sebelum bisa menepati janjiku pada ayah."
Mou Zhueyang bisa memahami Xin Chen, tanpa harus menceritakannya, dia sudah tahu bagaimana keadaan pemuda itu. Sulit dan tidak tahu ke mana arah yang harus ditempuhnya.
"Aku juga seorang ayah, Tuan Muda Xin kedua. Jika aku menjadi Pedang Iblis maka aku akan menyesali diriku sendiri. Membuatmu merasa bersalah. Kebahagiaanmu adalah hal yang selalu diperjuangkannya. Itulah seorang Ayah, berhenti bersikap seolah-olah semua yang terjadi adalah tanggunganmu."
Xin Chen tertawa kecil, dia juga pernah mendengar Ayahnya mengatakan hal yang sama. Tapi jika bukan dirinya siapa lagi? Kekaisaran Shang sudah melupakan keadilan yang mereka junjung tinggi selama berabad-abad. Pahlawan telah lama menghilang. Dan yang tersisa hanya harapan bahwa kedamaian akan bertahan lama sebelum mereka benar-benar hancur oleh para penguasanya sendiri.
"Tuan Muda, jika benar seandainya Pedang Iblis sudah tiada ... Saya yakin Anda adalah orang yang tepat untuk menggantikannya."
"Tapi–"
"Masih banyak hal yang harus kulakukan. Tujuanku, mungkin akan kulakukan dalam waktu yang sangat lama. Aku tidak mempunyai waktu untuk mengambil kedudukan sebagai Pilar Pertama."
Mou Zhueyang risau mendengarnya, dia mengingat para Pilar Kekaisaran saat ini. Jika waktunya tiba, Pedang Iblis mau tak mau akan turun dari jabatannya. Dia tak mau melihat wajah-wajah busuk yang muncul sebagai Pilar Kekaisaran, mereka yang gila kekuasaan dan kehormatan.
Untuk alasan itu Mou Zhueyang membungkukkan tubuhnya dan bersujud dengan kening menyentuh lantai benteng. "Sampai tujuan anda selesai, saya akan tetap menanti Anda menjadi Pilar Kekaisaran berikutnya. Tolong terima pengabdian saya ini, saya sebagai kepala prajurit di Kota Fugi, dengan senang hati menyatakan sumpah setia untuk terus mendukung niat Anda."
Xin Chen menyuruhnya bangun. "Kau keras kepala juga, Paman Mou."
__ADS_1
Mou Zhueyang tersenyum tipis, "Dengan senang hati akan kulakukan segala cara agar kedudukan Pilar Kekaisaran tidak jatuh ke tangan yang salah lagi."
"Lalu bagaimana dengan kakakku Xin Zhan? Dia lebih cocok, tampangnya saja sudah membuat para penjahat takut sebelum menginjakkan kaki ke Kekaisaran Shang."
Mou Zhueyang menggeleng, "Tidak, Tuan Muda Xin pertama tak seperti dulu. Semenjak beranjak dewasa, sikap dan pembawaannya jauh lebih tenang. Dia pemuda yang baik–atau bahkan terlalu baik?"
"Ha? Yang benar saja, dulu dia memukul kepalaku dengan tutup panci hanya karena membuka pintu sembarangan."
"Ahahaha, dia telah berubah. Nyonya Ren, aku pernah dengar kabar bahwa beliau sakit. Entah penyakit apa, aku kurang tahu. Kau sudah menemuinya, 'kan?"
"Sudah." Xin Chen meralatnya dalam hati, 'Walaupun hanya beberapa detik.'
"Baguslah."
"Kita berangkat siang ini, katakan pada yang lain untuk segera bersiap."
Mata Mou Zhueyang memelototi Xin Chen, "Tuan Muda?"
"Ya, siang ini. Aku harus melihat tempat itu sebelum menyerang Lembah Para Dewa."
Mou Zhueyang tak membantahnya, darah laki-laki itu berdesir dan kembali teringat bahwa mereka akan kembali berperang. Dia terbayang akan mayat prajurit bawahannya yang mati mengenaskan di Jembatan Shangyu. Mereka diikat pada pohon tua yang tinggi, belatung dari mayat-mayat itu berjatuhan saat Mou Zhueyang berusaha membebaskan mereka.
Mou Zhueyang tak bisa membiarkan penderitaan prajurit itu lebih lama, dia mengangguk mantap.
"Dimengerti, Tuan Muda."
__ADS_1
"Tapi kita lebih dulu ke jembatan Shangyu daripada Lembah Para Dewa. Ada sesuatu yang harus kujinakkan di sana."
Dahi Mou Zhueyang berkerut dalam, dia hanya mengangguk mengerti. "Baik."