
Lan Zhuxian telah mengirimkan pengumuman dan menyebar luaskan berita itu, dalam satu hari saja dia berhasil membuat kabar itu terdengar hingga ke ibu kota, Xin Chen kagum dengan temannya itu. Memang orang yang bisa diandalkan. Hanya saja sepertinya Lan Zhuxian mengarang cerita bahwa diirinya sendiri yang mengalahkan 250 orang tersebut. Masih ada sepuluh prajurit Mou Zhueyang dan Lan Zhuxian yang membantunya.
Sementara laki-laki yang merupakan anggota lama Aliansi Pedang Suci membawa lembaran yang dibuat dengan tanda tangan Lan Zhuxian sendiri. Perekrutan anggota akan dilakukan semenjak berita diumumkan dan yang ikut harus mendatangi Lembah Para Dewa.
Xin Chen membaca lembar itu seraya menggeleng, "Aku tak sendirian. Ada beberapa orang yang membantuku."
Chang Wei dan Ho Xiuhan meminta kertas untuk dibaca, tak lama terdegar Chang Wei berasumsi.
"Jalan pikiran orang ini ... Dia cerdik juga. Membuatmu seolah-olah pahlawan baru yang mengerikan, lihatlah penggambaranmu di sini begitu menakutkan. Ini supaya orang-orang militer tak berani mengusik kalian, dia pandai sekali memainkan pikiran orang. Teman anda juga, Tuan Muda?"
"Ya. Tidak ada lagi yang bisa kujelaskan. keadaannya memang seperti ini, apa kalian bersedia memihak kami?"
"Dengan senang hati, Tuan Muda! Tunggu, aku akan memanggil mantan Aliansi Pedang Suci yang masih ada. Mohon tunggu sebentar-" Ho Xiuhan mengambil bajunya dan segera pergi, Xin Chen hendak menahan. Takut laki-laki itu membocorkan identitasnya, sayang Ho Xiuhan sudah lebih dulu berlari.
"Senior Chang-"
"Saya akan kembali sebagai pendekar, tidak perlu merasa sungkan, Tuan Muda." Chang Wei terharu, Xin Chen masih mengkhawatirkan perasaannya. Telah lama menjadi seorang biksu biasa, hari ini dia kembali diturunkan untuk memenuhi panggilan tugasnya sebagai seorang pendekar.
"Bukan begitu, aku hanya ingin bertanya apa ada sekelompok pendekar lain seperti kalian? Kita harus mengajak orang sebanyak mungkin."
Chang Wei berdeham, sepertinya dia terlalu percaya diri. Mencoba memikir-mikirkan kembali, namun sepertinya tidak ada. Laki-laki itu hanya memberikan gelengan, "Tidak ada, sepertinya. Banyak yang pensiun karena faktor usia. Sisanya para pendekar muda. Mereka tidak terlalu lihai memainkan pedang, takut-takut sebelum berperang mereka sudah mati duluan," terang Chang Wei jujur. Sebenarnya ada satu Pilar Kekaisaran lagi, yaitu Xiu Juan hanya saja karena sakit parah akibat perang dia tak bisa meneruskan pekerjaannya semenjak tujuh tahun lagi, dia berhenti tepat saat penunjukan Pilar Kekaisaran baru.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Pilar Kekaisaran ketiga yang masih hidup? Aku dengar dia mengundurkan diri dari jabatannya dan beralih menjadi seorang petani."
Chang Wei menjentikkan jari, "Nah, kalau dia aku kenal! Kebetulan beberapa tahaun ini kami menjadi kenalan dekat, hahah! Hidupnya sedang susah akhir-akhir ini dan sering meminta pinjaman padaku, hasil kebunnya layu, faktor cuaca tak menentu. Mungkin jika ditawarkan dia takkan menolak, harap-harap saja."
"Lalu di mana dia tinggal sekarang?"
"Ah, baru ingat. Aku harus menghadiri sebuah upacara untuk terakhir kali di kuil. Sekaligus untuk mohon diri sebelum meninggalkan kuil." Chang Wei merapikan beberapa barang yang hendak dibawanya. Menengok Xin Chen dan Shui bergantian, "Benar juga. Rumah Bai Huang tak begitu jauh dari sini, belok saja ke kiri dan ikuti jalannya. Nanti sisanya kau tanyakan pada orang-orang tentang Bai Huang, mereka pasti mengenalnya."
Setelah sedikit berbasa-basi akhirnya mereka berpisah, Xin Chen segera beranjak ke tempat yanng Chang Wei maksud, melewati jajaran rumah yang tampak kontras. Kadang besar, sebagian lain hanya rumah nelayan kecil. Mereka mengikuti alur dan petunjuk orang setempat, Chang Wei bohong, rumah itu cukup jauh sebenarnya apalagi jika di tempuh dengan berjalan kaki.
Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah rumah pondok yang terletak di pelosok, berada di tengah hutan yang melindungi Kota Fanlu. Rumah itu terasingkan oleh pusat kota yang ramai, tumpukan kayu besar diletakkan berdiri di sekeliling rumah. Tak perlu menunggu lama, mereka segera bertemu dengan seorang wanita yang tengah menggendong anak bayinya. Satu yang lain bermain-main di pekarangan rumah.
"Selamat siang, apa benar ini rumah Bai huang?" tanya Xin Chen sopan. Wanita itu tersenyum ramah, "Benar sekali. Ada perlu apa tuan datang ke mari? Jika mencari suami saya, sekarang dia sedang tidak di rumah. Mungkin akan pulang sebentar lagi."
Xin Chen menangkapnya. "Jangan nakal."
Justru anak itu tertarik pada pedang di pinggangnya. Xin Chen menyadari tatap mata itu dan menarik pedangnya dari sana.
"Aku ingin mempelajari seni berpedang, tapi ayah bilang tidak ada gunanya." Wajah Bai Luo cemberut, dia menoleh ke arah Shui.
"Kakak tidak memakai pedang, mengapa? Bukankah menjadi seorang pendekar keren? Ayah dan ibu tak menyukainya, tapi temanku bilang dengan pedang aku bisa menyelamatkan nyawa banyak orang."
__ADS_1
Bai Luo menggenggam pedang dari tangan Xin Chen, memperhattikan tiap bentuk bilahnya yang tajam dan berkilap. Meskipun masih kanak-kanak dia sudah mengetahui banyak tentang pendekar, karena rasa tertariknya yang begitu kuat. Tapi sayang, keinginannya itu ditolak keras oleh Bai Huang. Laki-laki itu tak menghendaki anaknya menjadi bagian dari mereka.
Dan dengan itu Bai Huang sedang bersusah payah membuka sebuah usaha yang akan diturunkannya kepada anaknya nanti. Anak itu terkesima oleh ketajaman bilah pedang dan tak sadar senjata itu terlalu dekat dengan wajahnya.
Tiba-tiba saja pedang itu berpindah tangan, Bai Huang berteriak keras lalu membuang pedang itu keluar pintu hingga trgeletak di atas tanah.
"Kau pikir apa yang kau lakukan? Memberikan anak kecil pedang? Bai Luo, masuk ke kamarmuu, cepat!"
"Tidak mau!" Bai Luo justru berlari ke luar untuk mengambil pedang tersebut, ayahnya mengejar dan membawa anak itu ke rumah. Membantingnya dengan kasar hingga terpentok tiang rumah. Bai Luo tak menangis. Tatapannya tertuju pada pedang milik Xin Chen.
Melihat begitu keras kepalanya Bai Luo sekarang, Bai Huang berpikir dua pendekar muda itu sudah menghasut pikirannya. Tanpa berpikir panjang dia menarik kerah baju Xin Chen. Amarah besar meluap-luap di matanya yang memerah keruh. Bai Huang sudah berusaha mati-matian untuk menghidupkan keluarga kecilnya. Agar jauh dari kata pertarungan dan peperangan. Dia membenci dua hal itu, dan semua orang yang menyebut diri mereka sebagai seorang pendekar.
"Angkat kakimu dari rumahku. Sekarang juga!"
**
Satu dulu, ya. Hari ini thor kecapekan revisi 30 bab cerita sebelah. Mau tepar dolo. Mungkin mulai besok mulai senggang waktuku, muehehe.
Crazy up paling lambat 30 September yak, bisa lebih dari 10 chapter karena hari ini cuma up satu doang.
Eh, btw semenjak kombek yg komen cerita ini jd makin rame. Wkwk padahal dulu cuma 20-an klo gak salah. Terima kasih buat kamu, pembaca lama ataupun pembaca baru. Selamat datang. Terima kasih udh memilih cerita ini utk menghibur kalian, penulis tanpa pembaca bukan siapa-siapa. So, big love buat kalian hehehe. Maaf thor jarang balas2in komen, tapi sekalinya komen Thor balasin semua kok🤍
__ADS_1
Ada satu lagu yg bagus bgt sambil baca cerita ini, coba dengar aja lagu ONE OK ROCK - Broken Heart of Gold.
Ngogey, see u Mamang.