Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 56 - Siluman Roh


__ADS_3

Wei Feng tak tahu harus menjawab bagaimana lagi, jumlah uang yang ditawarkan Gu Long terdengar menggiurkan. Dia bisa hidup tenang dengan uang itu. Asalkan bisa makan enak semuanya akan terlihat mudah saja.


"Baiklah, kami akan mengambilnya. Kalau kau ketakutan silakan pulang saja ke rumah dan bersembunyilah dalam selimut."


"Sebaiknya kau menjaga ucapanmu juga jika berada di tempat ini," ucap Gu Long menunduk singkat sebelum meninggalkan mereka di hutan tersebut. Baru saja menarik napas sebentar, Wei Feng sudah dikejutkan oleh sosok serigala kelaparan. Seperti yang dikatakan oleh Gu Long sebelumnya, ukuran binatang buas di sini lima kali lipat lebih besar dari yang biasanya mereka temukan.


Air liur menetes dari taring serigala abu-abu itu, perutnya yang terlihat longgar jelas menunjukkan bahwa binatang buas itu sudah tidak makan selama berhari-hari.


"Chen, naik saja ke atas pohon sebelum dia mencakarmu!" teriak Wei Feng. Dia membidik serigala tersebut dari atas, tetapi hal tak diduga pun muncul. Dengan gesit serigala itu menghindari bidikannya, dia seperti mengetahui maksud Wei Feng di atas. Dan dalam situasi itu pula sekawan serigala datang ke arah mereka.


"Tambah gawat!!" serunya pada Xin Chen. "Hei Kecambah, kalau mau mati setidaknya jangan mati konyol gara-gara serigala hutan juga!"


"Berisik sekali kau ini, aku ingin berkonsentrasi sebentar!" Xin Chen melepaskan anak panahnya, dua bidikan meleset dan tidak mengenai serigala itu sama sekali. Sementara itu Wei Feng menarik busur panjangnya, membidik tiga sekaligus anak panah dalam waktu bersamaan.


Dari tiga anak panah itu yang mengenai serigala hanya satu, itupun di bagian paha. Wei Feng kini memahami perkataan Xin Chen sebelumnya.


Menembak mahkluk hidup yang bergerak bebas seperti ini berbeda halnya dengan menembak sasaran tak bergerak. Sudah tiga bulan lamanya dia tidak berburu mahluk hidup, hal itu membuatnya tak terbiasa lagi memanah di waktu ini.


"Sial, ke mana kemampuan memanahku dua belas tahun yang lalu?! Apa cuma seperti ini?" gerutu Wei Feng nyaring, Xin Chen tertawa kecil melihat keresahan pria itu. "Sepertinya ada yang sedang kesusahan, ada yang bisa dibantu, Tuan Wei yang terhormat?" ejeknya.


Jelas saja Wei Feng tersinggung, karena dia sendiri dalam keadaan aman berada di atas pohon. Sedangkan Xin Chen dikerumuni lima serigala sekaligus dalam satu waktu, anak itu memutar tubuhnya ke segala arah saat serangan jarak dekat datang.


"Kecambah, di belakangmu!"

__ADS_1


Menggunakan Baja Phoenix dalam pertarungan jelas membuat Xin Chen lebih diuntungkan, dia dapat melihat jelas pergerakan di sekelilingnya tanpa harus membuka mata.


Tidak ada titik buta sama sekali. Setiap satu serigala datang menikam dia akan membidiknya tepat di bagian otak atau jantung. Mengambil nyawa mereka dalam waktu yang relatif singkat.


Wei Feng sendiri mulai terbiasa menembakkan anak panahnya seperti dulu, satu per satu serigala tumbang di tangannya. Xin Chen telah membunuh tiga dan sisanya terbunuh oleh Wei Feng. Keduanya terkejut saat salah satu serigala berhasil bangkit dan melarikan diri secara cepat ke hutan belantara, dia mengaum hingga terdengar ke seluruh penjuru.


"Celaka! Dia sedang memanggil yang lainnya!" Xin Chen mulai panik, untuk sepersekian detik keduanya hanya berdiri was-was. Bahkan suara daun yang jatuh ke tanah saja masih bisa terdengar karena terlalu hening.


Benar saja, di balik hutan tersebut secara tak diduga muncul seekor kera besar membawa golok penghancur di tangannya.


"I-ini bukan kera lagi... Dia malah seperti manusia setengah gorila! Wajahnya itu, wajah terjelek yang pernah kulihat!"


Kata-kata Wei Feng membuat kera itu murka, dia menghantamkan golok berat itu ke tanah, menggetarkan pijakan mereka dengan keras.


"Kak Wei, kalau mau mengejek setidaknya kau teriakkan saja itu semua dalam hati!" Xin Chen ingin memaki-maki Wei Feng ini lagi, tapi karena situasi tak memungkinkan jadinya dia hanya bisa sabar sembari mengawasi musuh mereka yang satu ini.


Wei Feng menghindar gesit tapi Xin Chen masih tetap pada posisinya semula, tak terluka sedikitpun saat batang pohon sebesar itu menabraknya.


"Chen?! Lari, Kecambah!"


Mungkin sudah bertahun-tahun lamanya sejak Wei Feng tak pernah merasakan kekhawatiran seperti ini, perasaan saat bertarung sengit melawan musuh besar. Dia terbiasa membunuh dengan diam-diam menggunakan anak panahnya, itupun saat target sedang dalam keadaan tidak bergerak.


'Kera ini tidak akan mati hanya dengan anak panah, tampaknya sangat sulit menembus kulit tebalnya itu...' gumam Xin Chen dalam hati, dia berlari kencang dan menghilang dalam pandangan. Saat kera itu sedang berusaha mencari Xin Chen memunculkan tubuhnya di balik punggung si kera.

__ADS_1


"Lengan Listrik!"


Setruman listrik bercampur panasnya api menjalar di tubuh sang kera, dia menjerit marah dan langsung menampar tubuh Xin Chen menggunakan tangannya yang besar.


Xin Chen terlempar menabrak pohon, mulutnya memuntahkan darah segar seketika itu pula, satu kali pukulan keras itu cukup sakit. Darah pun mengalir pelan dari hidung Xin Chen.


Satu hal yang baru Xin Chen ketahui, menggunakan kekuatan Topeng Hantu Darah dan perubahan energi secara bersamaan adalah hal yang sangat sulit dilakukan. Saat tubuhnya sedang berpusat untuk mengubah perubahan bentuk energi dia tidak bisa secepat itu untuk merubah dirinya ke wujud roh.


Wei Feng masih membidik di tempatnya berdiri, satu anak panah menancap tepat di bola mata sebelah kiri kera, membuat raungan besar kembali menggema. Kera yang telah berubah menjadi siluman roh itu mendekati Wei Feng brutal, pepohonan pun ikut tumbang saat dia memijaknya sembarang.


"Mau cari mati, ya?"


"KERA INI BISA BICARA?!" teriak Wei Feng setengah tak percaya, dia memundurkan diri jauh-jauh dan memanah siluman itu dari jarak jauh, sayang kecepatan kera itu jauh lebih cepat dibandingkan dirinya. Membuat dia mulai terkejar dalam waktu singkat.


Melihat Wei Feng dalam situasi buruk akhirnya Xin Chen mengejarnya, saat ini dia tak memiliki senjata yang mumpuni untuk mengeluarkan kekuatan api sekaligus petirnya. Pedang yang seharusnya dia kenakan juga belum selesai ditempa sedangkan situasi di sini semakin mendesak.


Anak panah Wei Feng telah habis, pria itu hanya bisa melarikan diri tak bisa melakukan perlawanan. Tanpa anak panah sama saja dia seperti tikus kecil, siluman kera yang telah murka karena sebelah matanya terluka pun tak mau melepas Wei Feng begitu saja.


Selagi itu Xin Chen berpikir keras, anak panah yang dia bawa pun hanya tersisa dua. Jika melawan dengan pedang yang dia gunakan Xin Chen yakin seratus tebasan pun takkan sanggup mengoyak kulit kera itu.


"Ayolah... Berpikirlah Chen, sebentar lagi dia akan dimakan siluman kera itu.." Xin Chen berniat menggunakan Irama Kematian sebenarnya tapi sayang dia belum sempat mempelajari kitab yang diberikan kakek itu.


"Tanpa pedang atau anak panah.... Memangnya apa yang bisa kulakukan?" Xin Chen mengeluarkan kekuatannya kembali.

__ADS_1


Nyawa Wei Feng sudah berada di ujung tanduk, kini pria itu sudah berada dalam genggaman sang siluman kera dan bersiap harus diremukkan tulangnya dalam beberapa detik lagi.


***


__ADS_2