
Tiba-tiba saja terdengar suara berisik dari ruang depan, tidak begitu lama kemudian terdengar jerit samar para perempuan. Bunyi berdentum-dentum mengiringi kegaduhan yang sempat mengalihkan perhatian Xin Chen. Dia segera beranjak, sebelum itu memberi peringatan pada Ye Long.
"Jangan sampai kulihat kau keluar kamar."
"Nyenyenye." Ye Long mendudukkan pantatnya di lantai agak keras, dia benci dikekang seperti ini. Terlebih lagi rasa ingin tahunya akan apa yang terjadi di depan membuat naga itu merasa benar-benar harus mendobrak pintu untuk bisa melihat.
Selagi Xin Chen pergi, Ye Long mendapati sebuah pergerakan aneh di dekat jendela. Terlihat seperti sesuatu melintas dan bayangannya melewati kisi-kisi kayu, dia mendekat dan dalam seketika ruangan dipenuhi dengan asap yang membuat dia ingin tertidur hingga tak sadarkan diri.
"Kau milikku."
*
Saat mendapati keadaan di bawah sangat kacau, Xin Chen mendekati pemilik penginapan yang kini terduduk ketakutan. Laki-laki itu menghindar ke belakang saat sebuah kapak besar melayang tepat di atasnya dan menghantam lantai kayu tepat di tengah kakinya yang terbuka lebar.
"Sa-saya sudah katakan kami tidak punya uang lagi untuk membayar-"
Xin Chen mencengkram pergelangan tangan pendekar tersebut, laki-laki dengan kumis lebat itu menatapnya dingin sekaligus mengecam. Matanya yang tampak terbiasa dengan pembunuhan memicing tajam. Sementara pemuda di depannya tak bergeming cukup lama sebelum dia menangkis tangan tersebut.
"Oh, kau menantangku?"
Saat laki-laki itu berbicara sembilan orang pendekar besar lain memasuki penginapan. Tak sampai di sana, terdapat beberapa lagi yang memilih menunggu di luar. Wajah kusam dan mengerikan tersebut semakin kusut saja saat tak mendengar tanggapan.
"Berarti kau memang sedang mengujiku, heh? Cari mati memang."
__ADS_1
Bola mata Xin Chen hanya menatap baju bagian bawah laki-laki itu, dia sedikit menyipit sebelum terdengar sesuatu dari atas. Tak sempat berpikir apa yang sedang terjadi, pendekar di depannya meninju dadanya. Kena. Tinju itu begitu keras dan Xin Chen bahkan tak membayangi seberapa besar sebenarnya tenaga yang lawannya miliki.
"Tch, kau memang masih terlalu muda untuk menantangku. Berlagak sok keren dengan menyelamatkan mereka? Kau hanya melakukan hal sia-sia, dan nyawamu hanya satu. Tidak ada gunanya memikirkan orang lain, seharusnya di perguruan kalian diajarkan hal itu agar tidak banyak manusia tak berguna sepertimu yang berakhir menjadi bangkai." Dia menunjuk pemilik penginapan dengan antusias, "Mereka tidak akan terkesan dengan kepahlawananmu yang menjijikkan itu, bodoh."
Dia meludah ke bawah kaki kemudian tersenyum menyeringai. Melihat lawannya hanya diam di tempat sudah cukup menjelaskan bahwa anak muda itu cukup takut dengan hawa intimidasinya. Begitu pula dengan para pengikut laki-laki itu, mereka tertawa diam-diam seperti mengejek bahan lelucon baru tersebut.
"Bagusnya diapakan, kapten?"
"Dijual saja, lumayan. Di pasar gelap mungkin laku. Jadi budak atau dikorek isi perutnya terserah." Pendekar itu mendekati Xin Chen, gigi-giginya yang tajam menguarkan aroma tak sedap.
"Bola mata itu, di mana kau memilikinya? Atau kau bukan orang sini?" Dia menunduk sedikit agar sejajar dengan pemuda tersebut. "Aku mengerti. Harganya pasti sangat mahal. Apalagi jika dijual pada para alkemis Kekaisaran Wei. Mereka akan membelinya dengan harga tinggi. Ikat dia!"
Sontak lima bawahannya mengikat Xin Chen dengan tali seadanya. Namun pemuda itu tak memberontak dan hanya mengikuti ke mana kelompok aliran hitam itu membawanya. Pakaian mereka tampak seragam dan terdapat sebuah simbol yang tergambar di pakaian mereka.
Butuh waktu empat jam untuk mencapai tempat persembunyian mereka yang letaknya sangat sulit dijangkau serta jarang dilewati manusia. Di sana kerangka tubuh manusia dipajang. Puluhan tengkorak manusia yang telah mati disangkut pada kayu yang dipancang di atas tanah. Desiran angin di pesisir pantai tersebut membawa amis darah yang kental. Tampak dari kejauhan sebuah kamp berisi para pendekar kuat yang dikelilingi oleh banyak siluman buas.
Di pangkal pantai dua orang laki-laki sedang bertarung dengan mautnya melawan tiga siluman serigala. Mereka berdarah-darah dan salah satunya mengalami luka bocor di kepala. Di sekitar mereka puluhan orang menonton sambil tertawa-tawa. Pertunjukan itu tak lebih dari sekedar hiburan bagi mereka.
Xin Chen sempat berhenti saat melihat satu dari pria yang disiksa itu terkena cakaran tajam yang menusuk langsung ke jantungnya. Di antara para manusia itu, tidak ada yang memasang wajah iba. Mereka banyak mengomel karena kalah taruhan, hanya tersisa satu yang bertahan di sana dan dia tengah ketakutan setengah mati di saat tiga serigala mengepungnya.
Bayangan tiga serigala besar menutupi wajah laki tersebut, dia terduduk di atas bibir pantai yang berubah merah darah. Tak ada yang tahu dirinya sampai kencing di celana karena ketakutan terlalu menguasainya. Andai dia bisa mati dalam satu kali tikam mungkin itu lebih baik dari sekedar dicakar, diinjak dan digigit oleh serigala ini. Mereka mempermainkan nyawanya dan itu membuatnya terasa lebih sakit dari sekedar mati.
"Orang-orang gila! Terkutuk kalian, jahanam!"
__ADS_1
Gigi serigala yang tajam terlihat saat seekor serigala membuka mulutnya, tetesan air liur membasahi telapak tangannya yang berdarah. Dia memejamkan mata dengan napas terhenti, tiga serigala itu akan mengoyak isi badannya.
Namun hal itu tak kunjung terjadi, pria itu ragu-ragu membuka matanya dan mendapati dirinya ditutupi sosok bayangan manusia, bukan lagi tiga serigala. Jubah hitam bergerak bebas saat angin pantai meniupnya pelan, dia begitu terpana detik itu juga.
"Biar aku yang menggantikan orang ini."
"Wah, wah, wah! Pertandingan menjadi semakin menarik! Hahahaha!"
"Budak siapa dia itu, berani sekali. Tapi aku suka nyalinya, hahaha!"
"Oi, bocah! Menyingkir dari sana! Taruhan kami belum selesai, argh!"
Decakan dan sorakan antusias menyertainya. Xin Chen mendapati seorang laki-laki dengan pakaian perang lengkap mendekat, buah apel di tangannya ditimangnya dengan wajah penuh teka-teki. Dia memerhatikan Xin Chen dari atas sampai bawah, mendecih di detik selanjutnya.
"Seorang bocah sepertimu beraninya menginterupsi acara kami? Kau pikir kau siapa?"
"Aku akan menunjukkannya nanti."
"Oh, menunjukkannya di alam kubur saja, mau?"
Ledekan terlontar jelas dari sekitarnya. "Hahaha, dia mau memperlihatkan cara mati dengan gaya, komandan. Biarkan saja maunya. Kita lihat seberapa lama dia bisa bertahan dengan tiga serigala kelaparan itu. Mereka tidak makan sudah hampir sebulan, pastinya daging manusia itu akan membuat mata mereka gelap."
"Cih, sayangnya kali ini aku setuju denganmu." Matanya kembali menatap Xin Chen. "Waktumu satu jam, jika kau selamat dari mereka kau akan mendapatkan makan malam. Kalau kau mati, ya, sayangnya serigala itu yang akan kenyang memakan dagingmu."
__ADS_1
Seringainya semakin melebar saat menatapi pemuda yang hanya terlihat sebagian wajahnya tersenyum. Sekilas, tengkuknya terasa dingin tanpa alasan yang jelas.