
Kontan Xin Zhan terkejut dan segera mendobrak pintu dari luar, dia takut terjadi sesuatu yang buruk terhadap Lan An. Lima menit mencoba, pintu itu menyerupai batu, Xin Zhan memutar otak, tapi percuma. Jika terjadi sesuatu pada Lan An, Ren Yuan akan marah.
Xin Zhan mencoba membuka sekali lagi, terbuka. Tanpa menyia-nyiakan waktu pemuda itu menerobos masuk. Terhenti langkahnya saat sesosok berjubah hitam berdiri di sisi ranjang Lan An, orang yang sama dengan yang menemuinya di atap.
"Siapa kau?"
Tidak ada jawaban, Xin Zhan berusaha mendekat tapi dia ragu. Dia tidak membawa pedangnya. "Kau ... Kau Xin Chen?" tanya Xin Zhan tanpa berbasa-basi, sosok itu tertawa kecil. "Bukankah dia sudah lama mati?"
Jawaban itu membuat Xin Zhan sedikit kesal, tidak mungkin orang itu Xin Chen. Adiknya itu tak memiliki aura semengerikan ini, dan juga tingginya di atas Xin Zhan sendiri.
"Lalu kau siapa?"
"Hanya pengembara biasa."
"Apakah kau yang menyelamatkanku saat di Koota Renwu?"
Sosok itu mengalihkan perhatian, tak mau menjawab. "Keadaannya sudah hampir tak tertolong, dia diberikan mantra kutukan. Obat dari kekaisaran ini saja takkan bisa mengobati lukanya."
Xin Zhan terdiam, berbalik memandang tubuh Lan An yang kini sudah dibalut oleh kain putih, keadaaanya memang jauh daari kata baik. "Jadi, menurutmu? Apa dia masih bisa selamat? Setidaknya sampai ibuku kembali?"
"Yang kalian cari seharusnya Shen Xuemei." Sebutnya, "Tapi tak ada waktu untuk mencarinya."
Xin Zhan terdiam tak tahu menjawab apa-apa, setelahnya sosok itu lanjut berbicara. "Aku tak mengenal siapa kau, tapi benar adanya luka yang dialami Paman Lan tidak biasa. Bagaimana cara menyelamatkannya, kami membutuhkan itu sekarang juga."
Xin Chen mengeluarkan sebuah kertas yang bertuliskan Mantra Pelindung. Entah dari mana dia pernah mendapatkannya, mungkin Asosiasi Pagoda Perak atau Lembah Para Dewa. Ilmu dari Kekaisaran Qing adalah ilmu tingkat tinggi, menghancurkan mantra terlarang mereka sangat sulit dilakukan.
"Dengarkan aku-"
Ucapannya terpotong saat seseorang datang dan langsung memasuki ke kamar, salah satu prajurit mencarinya hingga ke seisi rumah. Bukan tidak sopan, dia juga suudah memanggil-manggil Xin Zhan dari tadi namun tidak ada jawaban.
"Apa terjadi sesuatu, Tuan Muda?"
__ADS_1
pria itu khawatir, salah satu penduduk mengatakan terjadi sesuatu yang mencurigakan. Xin Zhan terlihat buru-buru memasuki rumah dan mereka takut seseorang menyusup ke rumah tersebut.
Saat Xin Zhan kembali memperhatikan ke depannya, seseorang yang berdiri di depannya telah hilang. Tidak meninggalkan jejak sedikit pun, prajurit yang berdiri di sebelahnya bertanya khahwatir, "Tuan Muda?"
"Aku tidak apa-apa."
Laki-laki itu menghembuskan napas lega, "Jika terjadi sesuatu, katakan kepada kami tuan. Kita tidak tahu siapa yang akan datang untuk mengambil kesempatan saat Tuan Lan An jatuh."
Saat pria itu pergi, Xin Zhan baru menyadari orang tadi meninggalkan mantra pelindung yang ditulis dengan kaligrafi kuno. Terdapat kekuatan spiritual yang kuat. Xin Zhan meletakkan benda iitu di tubuh Lan An, menyadari deru napas laki-laki itu lebih tenang daripada biasanya.
"Kau menyelamatkan kami sekali lagi, terima kasih."
Ucapnya, hingga tak lama dia dapat mendengar helaan napas berat.
"Paman Lan ... Kau sudah bangun?"
Meski tak ada jawaban Xin Zhan yakin, keadaan pria itu sudah jauh lebih membaik dari pada sebelumnya.
*
Saat melihat ada pembeli, wanita tua itu datang dengan muka berseri-seri. Lama tak kedatangan orang, dia sampai berpikir akan menutup toko dan beralih menjual barang lain. Xin Chen hanya berputar-putar untuk menemukan baju yang cocok.
"Kalau boleh tahu apa yang sedang tuan cari? Saya akan menawarkan barang dengan harga yang terjamin."
"Pakaian seperti ini. Jangan warna lain, aku tak suka dengan warna yang terlalu mencolok."
Wanita itu memperhatikan pakaian Xin Chen lama lalu masuk ke dalam, menguber beberapa potong pakaian dan jubah. Debu berterbangan, Xin Chen mengerutkan alis. Dia tak memiliki pilihan lain, di toko pakaian lain banyak sekali wanita. Tidak mungkin dia berbaur dengan mereka.
"Yang seperti ini, Tuan?"
Xin Chen menolak, hingga beberapa kali penawaran tetap tak ada yang cocok akhirnya wanita itu sakit kepala sendiri. Melayani pembeli seperti Xin Chen memang jauh lebih memusingkan daripada adu mulut dengan wanitaa.
__ADS_1
"Sebenarnya yang seperti apa tuan inginkan?" Wanita itu sabar sesabar-sabarnya, tetap melebarkan senyum walaupun harus menahan kesalnya dua jam.
"Kau bisa menjahitnya?"
"Bisa, Tuan."
"Bagus."
*
Ho Xiuhan mulai gelisah.
Xin Chen tak kunjung kembali, saat ini walikota sedang menggencarkan pencarian untuk menangkap mantan Aliansi Pedang Suci yang diduga sedang melakukan pergerakan rahasia. Takut sewaktu-waktu mereka digulingkan, walikota langsung ambil tindakana. Hal tu membuat mereka tidak bisa meniinggalkan tempat persembunyian. Mereka tinggal di rumah Bai Huang sampai Xin Chen kembali.
Jelas saja Bai Luo senang tak main-main saat melihat pasukan bersenjata menginap di rumah mereka, Bai Huang sebenarnya tak keberatan. Namun dia khawatir persembunyian mereka akan terbongkar. Cepat atau lambat.
Saat menjelang tengah malam, seseorang mengetuk pintu rumah. Shui yang tidak tidur segera mengendap-endap mendekati daun pintu. Hari ini terhitung dua hari Xin Chen meninggalkan mereka.
Pemuda itu kembali dengan sosok misterius, penampilannya sepertii pemanah. Serta tiga orang lainnya yang memakai pakaian formal khusus kekaisaran.
Ho Xiuhan terkejut, empat orang itu setahunya ada lah mata-mata pengintai resmi Kekaisaran. Satu pemanah itu, meski pun tak mengenalnya namun terlihat jelas bahwa dia bukan orang biasa.
Chang Wei yang sudah bergabung dengan mereka segera membukakan pintu, mendapati Xin Chen yang sedari tadi berdiri menunggu mereka keluar, dia berkata kecil namun terdengar jelas.
"Kita bergerak sekarang. Tidak banyak waktu lagi."
Mata Chang Wei tertuju pada pakaian baru yang dikenakan Xin Chen, jubah hitam menyerupai langit malam yang di belakangnya dihiasi oleh bulan merah darah. Pasukan segera dikumpulkan tanpa banyak basa-basi.
Dalam penerangan malam yang hanya diterangi oleh redupnya lentera, mereka mengikrarkan sumpah pada aliansi baru yang terbentuk. Untuk menghancurkan Empat Unit Pengintai lama. Dan mengembalikan sesuatu yang hilang dari kekaisaran ini. Dan semua itu harus ditempuh dengan sesuatu yang mereka sebut sebagai 'Jalan Berdarah'.
**
__ADS_1
Ngetik pakai laptop emg bikin kezel, hurufnya jadi double-double, typo makin bertebaran. Mau ngetik di hp tapi jempolku gak kuat, serba salah😩