
Xin Chen memilih tak menghabiskan waktu lagi, dia melepaskan aura roh yang ditariknya dari Zhang Ziyi dan memblokir serangan dari roh-roh lainnya yang terus berdatangan. Mulut Zhang Ziyi terbuka tanpa sadar, dia tak pernah percaya Xin Chen bisa menguasainya dengan mudah seperti itu.
Sementara berasal dari rumor yang terdengar Xin Chen hanya keturunan yang sering membawa masalah dalam keluarga, dia lebih sering menerima hinaan dibandingkan pujian.
Berita ini pun sempat terdengar oleh Zhang Ziyi meski dia berada di Kekaisaran berbeda karena sebagai Pengendali Roh pria itu cukup tahu siapa Ayah Xin Chen.
Karena Zhang Ziyi merasa tersaingi saat mendengar ada orang lain yang dapat mengendalikan roh seperti dirinya yaitu Xin Fai. Dan mencari tahu tentangnya.
Selama beberapa tahun menjadi bahan cemoohan akhirnya Xin Chen bertemu dengan sang Pengendali Roh.
Zhang Ziyi berbicara terbata-bata, "Ja-jadi selama ini kau menyembunyikan kekuatanmu?! Berpura-pura menjadi orang bodoh dan-" pria itu tak sanggup meneruskan kata-katanya lagi. Dia menukikkan alis saat menyadari Xin Chen telah berhasil menenangkan para roh tersebut dan membuatnya patuh. Zhang Ziyi sempat mundur dari tempatnya secara tak sadar.
"Sudah kubilang aku akan melampaui Ayahku. Bagaimanapun caranya, meski harus dengan mempelajari ilmu aliran hitam."
Pedang Baja Phoenix bersinar terang mengikuti kehendak penggunanya dan beradaptasi dengan kekuatan tersebut, alasan mengapa Xin Chen dapat mempelajari semua hal yang diingatnya baik dari jurus dan cara mengendalikan adalah karena Pedang Baja Phoenix.
Pusaka itu membuat pikirannya menjadi lebih tenang hingga bisa mempelajari segala sesuatu begitu mudahnya. Sementara Zhang Ziyi tak percaya, dia menganggap tak mungkin hal ini benar-benar terjadi kecuali jika memang keluarga Xin menyimpan kebenaran ini dari khalayak. Bahwa yang sebenarnya menjadi penerus gelar Pedang Iblis adalah Xin Chen, bukan saudara kandungnya Xin Zhan.
Tak begitu lama Zhang Ziyi bangkit lagi dengan aura bertarung kuat.
"Beruntung kita dipertemukan hari ini, dengan begitu aku bisa menghancurkan calon-calon pengganggu sepertimu!" Zhang Ziyi mulai terlihat berbeda dari yang sebelumnya, sekitarnya menjadi sangat berat oleh tekanan udara.
"Demi pengabdian pada Kaisar Jun, aku rela mengorbankan nyawaku di sini!" teriaknya secara tiba-tiba, menimbulkan suara besar yang menggema.
__ADS_1
Kekuatan roh bertambah berpuluh-puluh kali lipat menjadi lebih mengerikan, membuat energi tersebut keluar tak terkendali karena Kitab Pengendali Roh mengeluarkan sebuah kekuatan tak biasa. Zhang Ziyi menggenggam kekuatan tersebut dengan tangannya, yang membuat roh-roh di belakang Xin Chen kembali padanya tanpa bersisa.
"Jangan meremehkan seorang Pengendali Roh!"
"Yang sejak awal menganggap remeh musuhnya adalah kau sendiri," jawab Xin Chen tak mau kalah. Tatap matanya berpusat pada energi roh yang terus menyebar di sekitar. Tampaknya sesuatu yang besar akan terjadi tak lama lagi.
Sebuah cahaya berbentuk bola hitam muncul dari tangan Zhang Ziyi, membesar dan semakin membesar seiring berjalannya waktu. Xin Chen sadar kekuatan itu terlalu besar untuknya.
"Chen, pria itu sudah bukan tandingan mu lagi. Biar aku saja yang bereskan. Jika nanti manusia yang lain menyadari keberadaanku usahakan untuk berbohong seperti sebelumnya."
Kata-kata itu keluar dari mulut Rubah Petir begitu saja. Sebagai siluman kuat, dia dapat merasakan sendiri tingkat kekuatan Zhang Ziyi sudah di atas batas wajar manusia biasa. Dia benar-benar telah menyerahkan jiwanya pada para roh pengamuk. Menukarkan tubuh dan jiwanya demi kekuatan semata.
"Guru Rubah, sepertinya kau lupa dengan kata-katamu sebelumnya." Xin Chen menoleh ke belakangnya perlahan. "Satu-satunya cara untuk menjadi kuat adalah mengalahkan musuh yang berada di atas kekuatanku. Hingga suatu saat aku bisa berdiri di atas mereka semua, aku tidak akan berhenti mengacaukan mereka."
'Hah... anak ini, dia memang dilahirkan untuk medan bertempurnya sendiri.' batin Rubah Petir.
Tidak ada salahnya mencoba melihat muridnya ini bertarung melawan musuh yang sebenarnya memang sudah berada jauh di atasnya.
"Persiapkan dirimu, musuh bisa datang dari mana saja dan kapan saja. Jangan membelah konsentrasimu pada hal-hal yang tak perlu."
Xin Chen mengerti, dia mulai memasang posisi siap bertarung. Melihat tajam ke arah depan untuk mencermati setiap pergerakan, mencoba membacanya dan saat Zhang Ziyi tiba-tiba menghilang dari tempatnya, dia dibuat sedikit kaget.
Rubah Petir sudah lebih dulu sadar jika pertarungan melawan Pengendali Roh akan menjadi tak seimbang. Benar saja, saat Zhang Ziyi muncul dari bawah Xin Chen dan menghempaskannya ke atas dengan kekuatan roh yang sangat besar terkumpul di telapak tangannya, anak itu hampir tak bisa berkutik.
__ADS_1
'Sial, jika musuhku tidak terlihat begini Baja Phoenix pun tak bisa bekerja untuk membaca pergerakannya ....' batin Xin Chen saat tubuhnya mendarat di tanah, membuat beberapa tulangnya terasa terbentur oleh bebatuan keras. Belum sempat menarik napas Zhang Ziyi sudah menyiapkan serangan susulan.
"Kitab Pengendali Roh - Tarian Dua Belas Roh!" Zhang Ziyi melancarkan serangan mematikan lainnya, dua belas hantu roh dengan bentuk seperti penari muncul. Menikam Xin Chen dari dua belas arah berbeda dalam satu waktu bersamaan. Kini Xin Chen mengerti mengapa Rubah Petir saja dibuat kewalahan menghadapi musuh yang satu ini.
Roh sepertinya takkan bisa dibaca pergerakannya sebelum mereka benar-benar memunculkan diri. Dan di saat mereka muncul di detik itu pula serangan dilakukan. Tidak ada waktu untuk melakukan persiapan.
Wei Feng dan Ye Long tak tinggal diam, mereka berdua kembali ke Desa Pelarian setelah merasakan ada sesuatu yang salah di sana. Saat melihat para penduduk telah berada di bawah kendali jurus Kitab Pengendali Roh, Wei Feng berniat kembali untuk mengabarkannya pada Xin Chen.
Namun matanya berhenti saat melihat Xiu Juan kembali ke Desa Pelarian, dia dan sepupunya itu berjalan seperti biasa.
"Si-sial! Mereka akan terpengaruh oleh jurus si Pengendali Roh jika melihat bulan roh! Ye Long, jangan biarkan cahaya bulan roh itu menyerap jiwa mereka!"
Ye Long menuruti perintah Wei Feng, dia melompat tinggi dan tiba di dekat Xiu Juan dan Xiu Qiaofeng membuat bumi terasa seperti gempa. Xiu Juan terkejut tak main-main, bagaimana bisa dia tak terkejut melihat seekor naga persis di depan matanya dan mengepakkan sayap membuat tubuh mereka berdua tertutup oleh bayangannya.
Xiu Juan menarik pedangnya, bersiap menyerang Ye Long sebelum naga itu menyerang Xiu Qiaofeng. Di saat itu Wei Feng berteriak kencang. "Dia bukan musuhmu, Nona Xiu. Naga itu milik Xin Chen!"
"Xin Chen?! Dia tidak pernah memelihara naga. Bagaimana bisa kau mengatakannya semudah itu?" Xiu Juan segera menyangkal, apalagi dia tak mengenal siapa Wei Feng dan pria itu asal berbicara tanpa memperlihatkan rasa hormatnya pada Pilar Kekaisaran.
"Hah..." Wei Feng menggaruk belakang kepalanya bingung sembari mendekat, "Mungkin kau lebih dulu mengenal anak itu daripada aku. Tapi ada beberapa hal yang tidak kau ketahui, dia sudah bukan Xin Chen yang kau kenal dulu."
"Apa maksudmu?" Xiu Juan menarik sebelah alisnya ke atas, tak menangkap maksud Wei Feng berbicara demikian. "Aku tidak peduli soal itu, aku harus berbicara pada Xin Chen sekarang."
Xiu Juan berangsur tenang tapi tidak dengan Xiu Qiaofeng, kulit gadis kecil itu yang memang sudah seputih salju menjadi semakin memutih karena darah seolah berhenti mengalir dalam tubuhnya. Dia tak berani bergerak sedikitpun takut Ye Long mencakarnya dengan kuku-kuku tajam itu.
__ADS_1