
"Arghh! Anak ini, kau...!" Wei Feng frustrasi sendiri melihat kelakuan Xin Chen.
"Hm, tapi boleh juga. Hasil merampoknya bisa kita bagi berdua."
Wei Feng pergi tanpa wajah bersalah, hingga Xin Chen membatu di tempat kehabisan kata-kata. Dia menggelengkan kepala pelan sembari menyusul Wei Feng.
Ye Long sudah menanti mereka berdua di tengah hutan, ketika Xin Chen mengeluarkan sebuah batu giok berwarna hijau pucat dia tampak girang. Tahu Xin Chen ingin memberikan barang itu padanya.
"Sepertinya ada yang suka dengan benda-benda berkilap. Ye Long, aku baru saja mencuri kalung ini. Kalau kau suka memakai barang curian, tidak apa. Pakai saja."
"Roarrh!" Ye Long menyeruduk tangan Xin Chen, mencoba memakai kalung batu giok itu dengan paksa. Xin Chen tertawa kecil saat itu juga. Sedikit mengejek Gu Long karena beberapa kali memujinya sangat baik hati.
"Kalau si tua itu bisa menipu kita dengan sikap sok baiknya kau juga sama saja seperti dirinya." Wei Feng baru saja datang dan mengoceh di depan Xin Chen yang hanya membalasnya dengan senyum penuh kemenangan. Membalas lima kali lipat atas perbuatan Gu Long membuatnya sedikit senang.
"Tapi apa tidak masalah kalau kita mengambil uang-uang mereka?"
"Mereka tidak punya bukti untuk menuduh kita, tidak ada siapapun yang melihatku mengambil barang-barang ini."
"Termasuk batu giok ini?"
"Ya, aku mengambil di sakunya saat dia jatuh pingsan."
"Dan lagipula bagaimana kau mengambilnya? Tadi saat bicara denganku kau tiba-tiba menghilang seperti hantu."
"Maksudmu seperti ini?" Dengan cepat Xin Chen menghilang kembali dari pandangan Wei Feng, membuat lelaki itu kebingungan ke mana perginya Xin Chen tadi. Dia memutar tubuh ke segala arah dan tak menemukan di mana Xin Chen berada.
"Iblis Kecil, kau di mana? Hei, jangan bercanda!"
"Di sini!"
__ADS_1
Lagi-lagi Wei Feng dibuat kaget karena suara Xin Chen persis di telinganya, dia mengusap telinganya sebentar seraya berkata, "Aku paham. Kau memang sedikit memiliki keistimewaan. Bisa menghilang dan seperti itu dan mencuri barang orang."
Ketika bersiap menaiki Ye Long, Wei Feng menahan kakinya. Seperti terpikirkan akan sesuatu. "Berarti dengan kemampuan menghilang seperti itu, kau bisa mencuri banyak barang?"
Senyuman lebar Xin Chen seolah mengiyakan tebakan Wei Feng, pria itu tertawa keras dengan menepuk punggung Xin Chen. "Kurasa kau akan jadi juragan besar saat besar nanti. Bagus, setidaknya tidak sia-sia aku berkenalan dengan Iblis Kecil sepertimu."
"Hahahaha, kalau begitu kita bagi hasilnya setengah-setengah. Tapi khusus batu giok dan sumber dayanya untukku semua."
"Terserah!"
Mereka berdua kembali menaiki Ye Long agar bisa kembali ke Desa, hanya membutuhkan waktu kurang dari sepuluh menit untuk tiba di hutan di seberang desa.
Ye Long mengepakkan sayapnya saat mereka turun, berhenti secara perlahan-lahan dan menapakkan kakinya ke tanah diiringi dengan Xin Chen dan Wei Feng turun dari atasnya.
Baru saja bisa menarik napas lega setelah terlepas dari ketinggian, mata Wei Feng dibuat melotot ngeri saat melihat ada orang lain di hutan ini. Memang jaraknya menuju desa sudah tak jauh lagi. Tapi tampaknya orang tersebut memang sedang mencari Xin Chen.
Wei Feng menyeret Ye Long buru-buru, membuat naga itu masuk ke dalam sebuah goa terpaksa. Tepat di saat itu juga, Youji mengalihkan pandangannya ke arah mereka berdua. Dia melambaikan tangan dan segera mendekat. "Hah... Kukira terjadi sesuatu denganmu, Chen. Sudah lebih dari setengah jam kau menghilang."
"Tidak perlu khawatir, aku tidak kenapa-kenapa," jawab Xin Chen tenang. Dibanding itu sebenarnya Youji lebih khawatir saat tahu Wei Feng bersamanya.
Sepengetahuan Youji pria yang berdiri di sebelah Xin Chen tak memiliki sikap baik. Kalau saja Xin Chen dalam marabahaya mungkin saja Wei Feng tak bersedia menyelamatkannya.
"Kau berpikir aku akan membahayakannya?" Wei Feng bersuara tiba-tiba seolah dapat membaca pikirannya, Youji tersentak kecil. "Jujur saja iya, dia pendatang baru di desa kita ini. Setidaknya jangan buat dia tak nyaman dengan sikapmu itu."
"Cih!" Wei Feng meludah, membuat Xin Chen menyingkir tergesa-gesa dari sampingnya. "Kau ini bilang saja kau cemburu karena dua bersaudara Wan Yi dan Wan Ming terus menguntitiku! Hah, menyebalkan sekali orang-orang sini," geramnya berlalu begitu saja.
Xin Chen tak begitu mengerti mengapa dua orang ini saling bertengkar. "Chen, saatnya kembali. Kita harus menempa pedangmu agar cepat selesai."
"Kau duluan saja, ada sesuatu yang harus kukerjakan." Tolak Xin Chen halus, Youji mengangguk pelan dan berlalu dari hadapannya. Setelah menunggu sampai Youji menghilang, Xin Chen mengendap-endap masuk ke dalam goa di sebelahnya.
__ADS_1
Goa tersebut mengeluarkan bunyi menggema saat kakinya menapak ke dalam, Xin Chen mengamati sekitar dengan teliti sambil sekali-sekali melirik ke bagian tergelap goa. Tidak menemukan Ye Long di manapun.
Puas mencari sekitarnya dan tetap tak menemukan Naga Hitam, Xin Chen memutuskan untuk masuk ke bagian terdalam goa. Sekitar dua menit berjalan di sebuah lorong yang amat gelap secercah cahaya terlihat dari ujung jalan. Xin Chen mempercepat langkah kakinya mencapai tempat bercahaya tersebut.
Di waktu itu pula Xin Chen dibuat terpana akan pemandangan di hadapannya sekarang. Sebuah air terjun dengan banyak bunga teratai bermekaran di tiap-tiap tepi danaunya. Xin Chen melongokkan kepalanya ke segala arah, menatapi Ye Long yang sedang berdiri di depan sebuah batu. Terdiam di sana cukup lama.
"Ye Long?"
Naga itu menggerakkan sebelah kupingnya, tahu Xin Chen sedang memanggil tapi tak mau mengalihkan pandangannya dari tumpukan batu di depannya. Meski terlihat seperti binatang pada umumnya namun Xin Chen yakin naga ini memiliki emosional layaknya manusia.
Saat tadi memberikan batu giok saja Ye Long sudah menampakkan antusiasnya terhadap barang-barang berkilau. Tapi kali ini Xin Chen tak mengerti mengapa tatapan Ye Long berubah sedih saat menatapi dua batu di depannya. Yang satunya terlihat lebih besar dari batu di sebelahnya.
Xin Chen menopang dagunya, memikirkan apa yang sedang dipikirkan oleh Ye Long agak lama. Sebentar kemudian dia menyeret batu lain yang ukurannya lebih kecil ke tengah-tengah dua batu tersebut.
"Batu kecil ini adalah kau dan dua batu besar itu... Apa mereka ayah ibumu?"
Ye Long menggulung tubuhnya, melindungi batu-batu tersebut menggunakan sayapnya.
"Kau memiliki ayah ibu?! Tunggu sebentar. Berarti..." Kenyataan ini seolah menghadirkan lebih banyak pertanyaan lagi di kepalanya, jika seandainya Ye Long memiliki orang tua, tidak menutupi kemungkinan bahwa salah satunya adalah Siluman Penguasa Bumi juga, sama seperti Rubah Petir.
"Berarti ... Kau memiliki Ayah dan Ibu?" Sambil menanyakannya Xin Chen duduk di sisi Ye Long, naga itu mendengkur kecil dan menutup matanya sayu.
Xin Chen yakin Ye Long memiliki keluarga dan karena satu alasan dia pergi dari habitatnya. Kemungkinan besar adalah akibat serangan karena di beberapa bagian sayap Ye Long yang terluka oleh sayatan dan bekas terbakar.
"Apa aku harus mengantarkanmu pada keluargamu?"
***
update seadanya aja ya, lagi2 tugas numpuk, harus author beresin dulu biar gk kepikiran terus:(
__ADS_1