Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 287 - Kekuatan Turunan


__ADS_3

"Apa ini--"


Satu orang menyadari koin-koin berkilau berserakan begitu saja di tanah, dan yang lebih terpenting apa yang kini mereka butuhkan. Makanan.


Semuanya terkejut, tak ada yang dapat mengatakan apa-apa lagi. Kebaikan orang yang bahkan tak memiliki ikatan darah dengan mereka jauh lebih tulus daripada hubungan sesama mereka sendiri.


"Mungkin dulu kehadirannya paling tidak diharapkan di tempat kita, tapi sekarang, aku selalu berharap dia akan datang kembali agar aku bisa menyambutnya dengan lebih baik."


*


Ye Long menguap malas, dia mulai berpikir untuk mengisi perutnya yang kosong dengan angin saja. Xin Chen bahkan tak menyuruhnya turun agar bisa mengacaukan pasar kota seperti yang sudah-sudah. Mau mencari buruan di hutan pun nyaris tak ada yang bisa mereka dapatkan selain ayam kecil.


"Kalau perutku bisa berbicara mungkin dia akan mengucapkan seratus kata kotor padamu."


"Berhenti mengeluh."


"Kau sendiri tidak makan?" tanya Ye Long balik, Xin Chen menanggapi enteng. "Sama sepertimu mungkin."


"Oh, dan kau masih bisa memasang wajah tenang begitu!? Bagus! Kau tahu, urusan perut tidak bisa diremehkan, aku bisa menjamin sekarang cacing perutku sudah kembung karena tidak diberi makan tujuh hari!"


"Perut, makan, perut, makan. Itu saja yang kau bilang dari tadi."


Ye Long menggeram kesal, dia mengepakkan sayap lebih cepat saat melihat gumpalan awan hitam tak seberapa jauh lagi. Sirip-sirip hitamnya mulai memunculkan rantai-rantai petir, gemuruh terdengar begitu dekat saat mereka terbang di awan-awan hitam.


"Kau menguasai kekuatan petir juga?" Xin Chen tiba-tiba penasaran dengan kekuatan Ye Long, semenjak dia mengembalikan kesadaran Ye Long dulu, naga itu dapat menguasai berbagai perubahan elemen. Sama sepertinya yang semakin banyak berkembang


"Ingin melihatnya?"


Tanpa menunggu persetujuan, Ye Long terbang ke bawah secara drastis lalu terbang cepat memasuki gumpalan awan hitam di atasnya. Terjadi perubahan dalam kecepatannya saat kekuatan petir yang semula hanya muncul sedikit di siripnya mendadaj mengalir di seluruh tubuh naga itu.


"Sebagian kekuatanmu mengalir dalam tubuhku. Ingat dengan kontrak itu, bukan?"


"Kekuatan roh? Apa itu juga termasuk?"

__ADS_1


Ye Long menjawab cepat, "tidak. Hanya Api kekuatan asalku, petir murni dan Api Keabadian. Tapi kurasa kekuatan Api Keabadian bukan sekedar darimu. Aku merasa kekuatan ini memang milikku."


Xin Chen paham apa maksud Ye Long, tentu saja kekuatan itu dari Naga Kegelapan itu. Dia hampir melupakan bahwa Naga Kegelapan masih menunggunya. Suatu saat nanti, dia akan menghadapi mereka. Mimpi buruk yang selalu membuatnya kacau.


Kecepatan Ye Long kembali seperti semula, hujan turun deras tepat di atas mereka. Saat itu langit hendak pagi, burung-burung imigran terbang di bawah mereka. Ye Long menangkap satu dan memakannya hidup-hidup. Dia mengejar yang lain membuat arah terbang mereka berputar.


"Kau salah jalan. Kita ke arah Kota Fanlu."


"Hm? Hari-hari kerjaku hanya bolak-balik mengantarmu ke sini. Aku ini naga atau kereta kuda? Sial, aku mulai meragukan jenis mahkluk apa aku sekarang."


"Ikuti saja apa kataku."


Ye Long menguap lebar. "Aku tidak mau."


"Aku yakin yang kau mau pasti Irama Kematian.".


Seketika Ye Long merinding, "Baiklah, kau menang! Majikan ini hatinya benar-benar cuma pajangan."


"Ulangi sekali lagi."


Pagi buta ketika semua orang belum terbangun dari tidur, keduanya telah menginjakkan kaki ke tempat sepi di Kota Fanlu. Hiasan bekas perayaan masih menggantung di perumahan warga kota. Lentera dan kertas berwarna-warni bergerak pelan saat angin pagi bertiup.


Xin Chen mendekati area tepi pantai, hanya ada satu nelayan yang baru saja pulang membawa satu perahu ikan tangkapan. Tampaknya dia beruntung hari itu.


Kedatangan seseorang membuat senyum yang sedari tadi merekah di wajahnya menghilang.


"Ada yang bisa kubantu, tuan?"


Xin Chen menatap ikan-ikan itu. "Aku beli semua, berapa?"


"H-hah? Anda beli semua? Sekarang juga?"


"Ya, berapa?"

__ADS_1


Laki-laki itu menatap ikannya, cukup banyak. Dia baru saja memikirkan harga dan menoleh kembali ke arah Xin Chen. Namun yang didapatinya adalah sekantong koin emas tengah disodorkan padanya


"Uang ini cukup?"


"Ini lebih dari cukup."


"Terima saja. Kalau begitu tinggalkan perahu ini sebentar. Aku tak ingin ada yang melihatku membawanya."


Meskipun kebingungan nelayan itu tetap mengiyakan. Andai pun perahunya dibawa pergi uang di dalam kantong itu sudah lebih dari cukup baginya untuk membeli yang baru.


"Ini benar-benar hari keberuntungan ku!" Nelayan itu bersorak sebelum pergi, tak lama Ye Long memunculkan diri, menatap ikan-ikan di depannya dengan lapar.


"Perahunya jangan dirusak-"


Terlambat, Ye Long melompat ke perahu dan membuat kayu-kayu berserakan. Hanya dalam satu lompatan saja, naga itu tak peduli. Dia makan dengan bahagia.


"Aku tarik kata-kataku! Kau juga punya hati, majikan!"


"Aku pergi dulu. Kau bebas pergi ke mana saja." Xin Chen memberikan beberapa koin pada naga itu. Ye Long memakannya-lebih tepatnya menyimpan benda berkilau itu dalam mulut. "Kalau ingin makan daging setidaknya kau bayar dengan koin itu. Jangan membuatku susah karena kelakuanmu."


"Aku yakin setan yang merasukimu sekarang dulunya adalah orang baik. Baguslah, majikan. Aku bisa hidup tenang tanpa kelaparan."


"Naga ini mengoceh saja kerjanya. Dikasih makan ribut, tidak dikasih juga ribut."


Ye Long terbahak mendengar majikannya mengomel sambil berjalan menjauh, tatapan naga itu beralih ke laut lepas di mana di kejauhan sana, Kota Renwu yang terbakar sudah hancur. Tempat itu membawa kenangan lamanya dulu, walaupun tujuh tahun adalah waktu yang singkat, tapi ketika Xin Chen membuangnya hari itu, Ye Long merasa kehilangan arah.


Meninggalkan dimensi Shui dan menjadi naga yang berkeliaran demi mencari orang tua laki-lakinya. Keinginan itu telah lama lenyap setelah tahu ikatan darahnya dengan Naga Kegelapan menyebabkan dirinya ditinggal oleh majikan.


Ye Long mengambil puing kayu di sisinya, mencoba menggambar sesuatu di pasir pantai. Seorang manusia dan seekor naga, dia tersenyum dan melingkarkan tubuhnya di dekat gambar itu. Menunggu majikannya datang menjemput seperti saat di Kota Renwu dulu.


Dari arah kejauhan puluhan manusia tengah mengintai naga itu, saling berbisik ketakutan dan mendorong. Perangkap di tangan mereka serta beberapa tombak tajam telah dipersiapkan untuk menangkap Ye Long.


Ye Long yang terlalu kenyang kini menguap mengantuk, dia tertidur pulas tanpa menyadari matahari mulai meninggi. Para nelayan tak lama lagi akan datang ke pesisir pantai.

__ADS_1


Saat sedang tertidur, Ye Long tiba-tiba membuka matanya. Melihat sekumpulan orang tengah mengepung dan mengikat mulutnya. Tak memakan waktu lama hingga dia kembali tertidur dengan tubuh penuh dengan perangkap.


__ADS_2