Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 140 - Keadaan Kekaisaran


__ADS_3

"Kau bisa tahu sejauh ini dari mana, Chen? Maksudku, permasalahan ini seharusnya hanya diketahui orang-orang penting, seperti Pilar Kekaisaran. Tidak mungkin ayahmu yang mengatakannya sendiri. Mengingat dia takkan mau membuatmu cemas." Huang Kun sedikit berbisik waspada takut pembicaraan mereka didengar orang lain.


"Aku mencarinya sendiri. Untuk berjaga-jaga, aku ingin kalian harus memusatkan banyak kekuatan di sekitar Lembah Kabut Putih. Kita tidak tahu kapan perang akan terjadi. Dan kalau bisa... Tolong sampaikan pada Ayah untuk selalu berhati-hati."


Sejenak Huang Kun tak menjawab apapun karena masih tenggelam dengan pemikirannya sendiri, Xin Chen menuangkan segelas teh hijau di atas mangkuk kecil dan memberikannya pada lelaki itu sembari menunggunya selesai berpikir dan mengeluarkan suara.


"Chen, sepertinya aku tak perlu menyembunyikan apapun lagi padamu. Tentu kau tahu benar siapa penyebab pembunuhan massal yang beberapa tahun belakangan sering terjadi bukan?"


Bukan rahasia lagi, Kekaisaran Shang yang awalnya begitu tentram mulai dilanda kekacauan dari dalam. Pernah didengarnya kabar jika Kekaisaran lain menganggap ketujuh Pusaka Langit berada di kawasan mereka. Sehingga perebutan Pusaka Langit akan terjadi dalam waktu dekat. Kehancuran ini telah memunculkan api peperangan.


"Kau tahu, Zhang Ziyi dikabarkan mati oleh seorang pendekar misterius yang tidak disebutkan namanya. Setelah kematiannya kabar pembunuhan yang sering terjadi mendadak turun secara drastis. Pendekar pengendali roh itu berasal dari Kekaisaran Wei, apa menurutmu dia disuruh oleh pemimpin dari sana untuk menghancurkan kita?"


"Jika benar? Menurutmu apa kita akan langsung perang?"


"Tentu saja." Huang Kun murka berat namun masih tetap menjaga wibawanya, "Kita sama sekali tak mengusik mereka."


"Saat seekor serigala sedang memangsa makanannya, apakah serigala lainnya akan diam saja?" Raut wajah Huang Kun yang semula marah berubah bingung. Xin Chen menambahkan.


"Kekaisaran Qing akan memanfaatkan kesempatan itu, saat kita telah dihancurkan oleh Kekaisaran Wei, mereka saling menyerang. Dan pada akhirnya akan bertarung satu sama lainnya memperebutkan pusaka langit dan wilayah Kekaisaran Shang. Itu menurutku."


"Kau tahu seperti itu darimana?"


"Jika menjawab semua pertanyaan Senior Huang mungkin satu hari pun tidak akan habis. Aku datang ke sini untuk menanyakan perihal Senandung Air itu. Apa Senior mengetahui sesuatu?"


Kembali tenang seperti biasa, Huang Kun membenarkan posisi duduknya. Setidaknya dia telah mendapatkan sedikit informasi dari Xin Chen dan akan mempertimbangkannya. Mungkin dalam rapat antara Pilar Kekaisaran dua hari lagi dugaan Xin Chen menjadi petunjuk permasalahan ini.


"Aku memang tidak tahu banyak soal Senandung Air itu, tapi jika kau sangat perlu aku akan mengantarmu pada perpustakaan lama. Di sana banyak buku dan kitab kuno yang sudah tak terpakai."

__ADS_1


"Aku ikut denganmu."


"Rrarrghh!"


Huang Kun menoleh ke belakang sebab kain jubahnya diinjak oleh tangan Ye Long, seperti tak mengijinkannya pergi. Lelaki itu mengibas lengan jubahnya, dengan sedikit kekuatan kain yang menutup wajah Ye Long tersingkap. Huang Kun terperanjat kaget.


"Na-naga--!?"


"Ck, ketahuan."


"Xin Chen-! Kau membawa naga ini dari mana?!" Napas Huang Kun hampir habis, dia sudah berusaha tenang takut jika murid yang lewat di depan rumah ini melihat wajah kegetnya. Untuk saat-saat seperti ini Huang Kun memang masih memikirkan pencitraan.


"Duduk dulu, kita ceritakan baik-baik..." Ingin sekali Xin Chen menggampar muka Ye Long dengan apapun yang ada di sampingnya. Sekarang dia harus repot-repot menjelaskan dari ujung ke ujung pada Huang Kun.


Ukuran tubuh Ye Long memang hampir sama seperti siluman pada umumnya, hanya saja saat ekornya yang panjang itu bergerak semua barang ikut melayang. Huang Kun sedikit gugup saat naga itu duduk tepat di depannya. Xin Chen menarik napas dalam-dalam, penuh beban. Bebannya itu adalah Ye Long.


"Begitu banyak hal yang baru saja kuketahui, Tuan Muda Xin, aku tidak tahu apa saja yang kau lalui selama meninggalkan Lembah Kabut Putih. Bahkan aku yakin ayahmu akan sama terkejutnya denganku."


"Maka jangan beritahu dia kalau kau ingin aku selamat."


"Tapi Naga ini, dia adalah spesies yang sangat langka. Aku bahkan tidak pernah mendengar ada seseorang memelihara naga seperti dirimu. Mereka, mereka sudah lama punah dan hanya menyisakan yang terkuat saja di muka bumi."


"Ya ... anggap saja naga ini salah satu naga terkuat yang selamat. Sekarang tolong antarkan aku ke perpustakaan lama. Ye Long juga ingin ikut atau kalau tidak dia pasti akan mengamuk."


Tanpa banyak basa-basi lagi Huang Kun langsung membawa mereka pergi, sempat dia bertanya dengan satu orang lagi yang datang bersama Xin Chen. Namun katanya temannya itu sedang bermeditasi dan tidak boleh diganggu. Huang Kun memakluminya.


Jalan bebatuan putih mereka lalui dengan orang-orang yang sesekali melemparkan senyum pada mereka, sapaan hangat terdengar seperti terakhir kalinya Xin Chen berkunjung ke Kuil Teratai. Tidak ada yang berubah, bahkan tempat ini makin indah dari waktu ke waktu.

__ADS_1


Namun dengan bertambah banyaknya tamu dari sekte lain membuat tempat ini terasa ramai. Ye Long memutar pandangan ke sana kemari, matanya terkunci di satu titik. Tepat ke kerumunan gadis dari sekte Bunga


Melihat Ye Long berhenti tiba-tiba dia pun ikut menunda perjalanannya. Xin Chen menoleh ke belakang sembari memutar bola mata malas. "Hey kadal mata keranjang!"


Ye Long seperti mengenali gadis itu, saat Xin Chen melihatnya dia adalah gadis yang sebelumnya hampir Ye Long celakai. "Nanti saja acara tatap-menatapnya, Ye Long. Orang-orang sudah memperhatikan kita dari tadi."


Huang Kun menjadi lebih kikuk, di belakangnya dia membawa tamu yang membawa siluman. Suasana kuil yang biasanya damai menjadi agak ricuh. Mereka dengan segera mencapai perpustakaan lama, hanya Huang Kun yang memiliki kunci perpustakaan tersebut dan dia memberikannya pada Xin Chen.


"Cari apa yang kau butuhkan di sini, jika sudah selesai tutup pintunya dengan benar. Mengerti?"


Bukan Xin Chen yang menjawab, Ye Long mengeluarkan suaranya dan memaksa masuk ke dalam.


"Hei sepertinya ada yang bersemangat di sini."


Huang Kun tersenyum sepintas sebelum benar-benar pergi, ada beberapa hal yang harus dilakukannya.


Ruangan yang begitu luas membuat naga itu sangat senang, dia memutar tubuhnya dengan bebas. Memanjat rak-rak tinggi hingga nyaris jatuh jika Xin Chen tak menahannya dari bawah.


"Ye Long! Berhenti mengacau atau tidak ada makanan untukmu malam ini!" Ye Long benar-benar turun.


Melihat majikannya membawa satu buku untuk dibaca, Ye Long ikut duduk di sampingnya. Memerhatikan buku itu meski tak begitu paham apa isinya.


Waktu berlalu begitu cepat, akhirnya Xin Chen kelelahan karena terlalu lama membaca buku. Sepertinya Ye Long sudah ketiduran di belakangnya. Namun sewaktu membalikkan badan dia tak menemukan naga itu di mana-mana.


Angin masuk membuat pintu sedikit terbuka.


Sekarang Xin Chen yang panik. Bagaimana jika naga itu malah kelayapan di sekte ini. Bisa-bisa dia dibunuh oleh pendeta Kuil Teratai.

__ADS_1


__ADS_2