
"Ada apa kau datang ke sini, Yuzhan?" Seseorang berujar resah di balik tirai yang terbuat dari kain tenun, jubah besar yang menutupi seluruh tubuhnya bergerak seirama saat laki-laki itu berdiri. Menatap orang yang dipanggilnya dengan sebutan Yuzhan membawa orang lain ke rumah. Matanya yang mulai putih akibat penuaan samar-samar menangkap keduanya sedang duduk di depan pintu dengan sopan.
"Tetua, saya membawa seseorang yang mungkin bisa membantu kita menanggapi permasalahan ini."
"Yuzhan, sudah kukatakan untuk tidak sembarangan mempercayai orang!" Tiba-tiba suaranya menggelegar dari dalam ruangan, Yuzhan menciut sesaat. Namun tetap diserobotnya untuk berbicara.
"Saya ..." Yuzhan mengalihkan pandangan pada Xin Chen. "Saya yakin dia mengetahui sesuatu tentang Siluman Penguasa Petir."
"Rubah Petir?" Xin Chen sedikit tertegun, dia memandang lurus ke depan, sosok tetua itu terhalangi oleh tirai yang membatasi mereka.
"Di mana rubah itu berada?"
Sang Tetua Adat terdiam di tempatnya tanpa menunjukkan respons apa-apa, hanya terdengar dehaman kecil hingga tongkat di tangannya dia tekuk di lantai kayu.
"Masuklah."
Lalu dua pelayan menutup pintu rapat-rapat, Xin Chen yang sempat teralihkan kembali fokus pada tetua tersebut. Umurnya sudah sangat renta tetapi suaranya begitu keras. Baju yang dikenakannya juga bukan sembarangan, orang ini adalah orang disegani oleh penghuni desa
"Apa maksudmu datang ke sini, anak muda?" Belum Xin Chen menjawab, dia kembali menyerocos. "Kau tahu, informasi tentang Siluman Penguasa Bumi adalah sesuatu yang sakral di desa ini. Kami begitu menghormati mereka, begitu pun leluhur kami. Sang penjaga bumi, sepuluh elemen yang tak terkalahkan. Jika sampai anak muda sepertimu tahu dan mencoba membunuh mereka ...."
Yuzhan hendak menyelak, tetapi dominasi tetua adat begitu kuat. Dia tidak ingin sembarang bicara.
"Aku tidak tahu mengapa, seharusnya para Siluman Penguasa Bumi sudah mendapatkan tempat persembunyiannya masing-masing. Namun," potongnya tampak berat.
"Kau menyebutkan Rubah, bukan? Kau tahu apa tentangnya? Jika jawabanmu mencurigakan, aku tak segan-segan mengikatmu dan menunggu kau mati di tengah hutan desa."
Percakapan mulai bersitegang, tetua itu sama sekali tak menampakkan ramah tamahnya. Bahkan raut wajah laki-laki itu sendiri sudah menampakkan ketidaksukaannya pada pendatang baru.
__ADS_1
"Aku juga tidak bisa mengatakannya pada sembarang orang. Rubah itu kehilangan tempat aslinya di Kota Renwu yang sudah hancur. Ada sesuatu yang membuatnya terluka, dan aku ke sini untuk memastikannya baik-baik saja atau tidak."
"Kau siapa? Siluman Penguasa Bumi tidak sembarangan berkomunikasi dengan manusia."
Tetua adat dan Yuzhan sama-sama memperhatikan Xin Chen yang enggan membuka suara lagi, dia justru teralihkan pada lukisan sepuluh makhluk legenda yang masing-masing disertai dengan lambang elemen.
"Kau mengabaikan pertanyaanku!" teriaknya kencang sembari menghantukkan tongkat, membuat Yuzhan hampir melonjak dari tempat duduk. Dia menyenggol Xin Chen di sebelahnya yang masih terpaku pada lukisan itu.
"Anak muda tidak tahu sopan santun!"
Sang Tetua Adat menghantamkan tongkatnya hendak memukul Xin Chen, tetapi ditepis kasar. Xin Chen berdiri untuk bisa melihat lukisan itu lebih jelas.
Xin Chen mengeluarkan kekuatan Api Keabadian yang membuat sedikit bagian lukisan itu terbakar membentuk sebuah naga hitam, di bawahnya api tergambar jelas. Tetua itu tidak kaget, tetapi juga tak memaafkan perilaku Xin Chen.
"Rubah bilang hampir setengah dari mereka mati karena Siluman Penguasa Kegelapan. Itu artinya ...."
"Aku harus segera menyelamatkannya. Aku tahu dia ada di sekitar sini."
"Kau tidak bisa-!" sergah laki-laki itu, keriput di wajahnya semakin muncul dengan mengerikan. "Kami akan menjaganya, mereka adalah penyelamat umat manusia-jika sampai hancur sisa dari mereka, entah apa yang akan terjadi pada dunia ini."
"Lalu anda menunggu mereka mati dengan sendirinya? Mereka memiliki saingan kuat. Menyelamatkan mereka adalah bagian dari tugas manusia."
"Aku tetap tidak bisa mempercayaimu, bahkan seujung kuku pun. Ada baiknya kau meninggalkan desa ini, atau kau ingin meninggalkan nyawamu dan mati di sini?"
Yuzhan melerai, "Tetua, mohon dimaafkan anak muda ini. Mungkin dia tidak sopan, tapi saya yakin niatnya baik."
"Kau menggurui ku, Yuzhan?" cela sang Tetua masih emosi, Xin Chen hanya bisa mendengkus frustrasi. Mana bisa dia meyakinkan kakek tua yang kepalanya lebih batu dari pada dirinya sendiri. Terlebih lagi, tetua itu tak mau mendengarkan siapa-siapa. Satu dia jawab seribu yang dilontarkan tetua itu.
__ADS_1
Xin Chen duduk kembali ke tempat semula, kali ini lebih sopan dari sebelumnya. "Maaf mengganggu waktu anda. Tujuan saya sebenarnya ke sini adalah menanyakan tentang ramalan tujuh belas tahun yang lalu. Apakah anda masih mengingatnya?"
"Untuk apa aku harus memberitahumu? Kau bukan bagian dari kami, tidak ada gunanya menceritakannya pada orang asing sepertimu." Nada bicara itu terdengar menantang, Xin Chen menenangkan dirinya sendiri. Sebenarnya dia juga tak suka berdebat dengan orang kepala batu, sama-sama emosi di kedua belah pihak. Dia membalas cibiran itu dengan senyum tipis.
"Kalau begitu, saya mohon permisi. Maaf mengganggu waktu anda, sebelumnya."
Xin Chen menunduk dalam, lalu bangkit dan beranjak ke luar rumah tersebut. Yuzhan berkali-kali melirik ke belakang, menundukkan kepala dengan tergesa-gesa sembari menyusul Xin Chen.
"Anak muda, kau merajuk?"
"Untuk apa aku merajuk?" tanggap Xin Chen aneh, "Tujuanku ke sini sebenarnya bukan tentang ramalan. Jika tentang keberadaan Siluman Penguasa Petir, mungkin iya. Aku bisa mencarinya sendiri tanpa harus menanyakannya."
"Anda akan mencarinya? Sebenarnya ... Siapa anda, tuan?"
"Tidak ada yang bisa kujelaskan pada anda, maaf." Xin Chen berhenti saat mereka sudah kembali ke rumah Yuzhan. Xin Chen mengangkat ujung penutup kepalanya, melihat gumpalan awan tebal sebentar lagi akan datang ke tempat mereka.
Yuzhan yang menyadari itu segera peka, dia menawarkan. "Jika Tuan Muda hendak menginap, saya dengan senang hati akan menerima anda. Kebetulan di sini tidak ada yang membangun penginapan."
"Tidak, terima kasih. Aku akan melanjutkan perjalananku."
"Kau yakin?" Yuzhan tampak tak tenang, "Badai ini mungkin akan berlangsung berhari-hari. Sulit menemukan penginapan setelah ini. Tidak perlu sungkan."
"Aku pergi dulu." Xin Chen segera pamit, Yuzhan menarik napas kecil. Di sebelahnya istrinya juga berdiri di dekat pintu sembari melihat pemuda itu pergi.
Yuzhan bergumam kecil, "Entah mengapa aku merasa pemuda itu memiliki kaitan dengan ramalan klan Mo dan Siluman Penguasa Kegelapan ...."
"Kau mengingatnya, suamiku?" Istrinya menyahut, Yuzhan terkejut.
__ADS_1
"Benar juga! Nak, tunggu sebentar-!" Yuzhan termangu di halaman rumahnya, barusan dia melihat Xin Chen masih dekat. Dan sekarang dia menghilang bersama angin badai yang menyapu jalanan desa.