
Ketidaksukaan para penduduk di sini sudah tentu berdasar, jika hanya sekadarnya mereka akan suka rela membantu. Tapi lelaki itu seolah tak habis-habisnya mengorek persediaan makanan mereka. Jelas saja bergantung seperti benalu hanya membuat orang marah kepadanya.
"Sudah dengar sendiri, kan? Tuan Muda Xin, tidak perlu mengasihani orang seperti dia. Kau hanya akan mengotori tanganmu untuk pekerjaan sia-sia. Dan juga kudengar banyak isu miring tentang orang ini dan orang dari desanya di seberang. Lebih baik kau tidak perlu ikut campur."
Kali ini Xin Chen bertolak pinggang, "Kau sedang menasehati dirimu sendiri?" Dia mengarahkan tatapannya pada gelandangan tersebut, tidak berniat mengasihani dan membela perbuatannya benar apa salah.
"Kalian mau terus memukulnya, besok dia akan datang lagi, dan begitu seterusnya. Bukankah itu lebih sia-sia?"
Keduanya terdiam, Ho Xiuhan maju selangkah. "Apa Tuan Muda sekiranya memiliki cara untuk mengatasi orang ini?"
"Haish, sudahlah kumpulkan orang-orangmu selagi aku mencari barang-barang yang aku butuhkan. Dalam lima menit kalian sudah harus kembali ke tempat ini."
Xin Chen beralih pada gelandangan tersebut, "Tunggulah bersama salah satu dari mereka. Jika ingin hidupmu lebih mudah tanpa harus meminta belas kasih orang."
Lelaki tua tersebut mengangguk cepat, dan dalam sekejap mata orang yang mengajaknya berbicara telah hilang dari sana.
"Heh... Pada akhirnya aku memang tak cocok menjadi pemimpin lagi, hei apa menurutmu kita harus mengajukan surat pembubaran aliansi?" Chang Wei mulai putus asa semenjak mendengar penuturan Xin Chen tadi. Langsung dari anak pemimpin Aliansi Pedang Suci di masa kejayaannya. Aliansi tersebut mengalami kemunduran dan mulai kehilangan nama di mata masyarakat.
Dibandingkan Chang Wei yang lesu, justru Ho Xiuhan yang biasanya tak tertarik dengan apapun menjadi bersemangat. "inilah saatnya bersinar kembali, kawan! Ikuti saja apa perintahnya."
Tak lama berselang, dengan mengandalkan petasan anggota Aliansi Pedang Suci telah kembali berkumpul. Jumlahnya tak lebih dari 20 karena banyak dari mereka yang sudah pensiun atau gugur dalam pertarungan. Sementara Chang Wei tak berniat menambah anggota baru.
Xin Chen telah datang, Ho Xiuhan dan Chang Wei melihat kanan kirinya dan mempertanyakan sesuatu.
__ADS_1
"Katamu tadi mengumpulkan bahan-bahan, tidak ada apapun di tanganmu."
"Jangan bodoh, dia menyimpannya di cincin ruang," sela Ho Xiuhan.
"Bagus, dengan begini kita akan melaksanakan sebuah misi rahasia yang memerlukan teknik tingkat tinggi dalam melakukannya. Kalian harus berhati-hati atau tidak kita akan gagal total dan malah merugikan pihak kita sendiri. Paham?"
Mata para anggota Aliansi Pedang Suci yang semula lesu menjadi penuh kobaran api perang. Rasanya telah lama tak kembali turun di medan bertempur yang sesungguhnya. Dan kali ini mendengar kata-kata tersebut, seolah membangkitkan jiwa pembunuh iblis di dalam diri mereka. Terdengar sorakan di antara lelaki itu. Sementara Xin Chen meminta sosok gelandangan itu untuk membawa mereka ke tempat tinggalnya.
***
"Warrghh aku sudah tak tahan lagi!!!" teriak Chang Wei meremas rambutnya kesal, kepalanya mendongak ke atas.
"Hei belum juga empat jam kau sudah bertingkah." kali ini Xin Chen yang mengomel. Peluh di pelipisnya berjatuhan oleh sengatan matahari yang terik.
"Apa-apaan ini kukira kita akan kembali ke era peperangan seperti masa dulu!"
"Sudahlah jangan mengeluh saja kalian." Xin Chen masih meneruskan pekerjaannya menanam sayuran di lahan yang agak kering ini.
"Apanya misi rahasia yang membutuhkan ketelitian tingkat tinggi," masih belum selesai juga keluhan Chang Wei. Karena kurang hati-hati bukannya mencangkul tanah, laki-laki itu malah mencangkul kakinya sendiri.
"Arrghh!"
"Makanya dibutuhkan ketelitian tingkat tinggi, salah-salah kakimu yang kutanam di sini, Ketua Chang Wei."
__ADS_1
Lelaki itu sudah mundur sebentar untuk mengobati kakinya yang mengeluarkan darah. Dibantu oleh 20 orang seperti ini membuat pekerjaan mereka cepat selesai. Setelah berbicara cukup lama akhirnya Xin Chen tahu nama gelandangan itu adalah Yuan Chao, dia menggunakan hasil curiannya itu demi mengatasi kelaparan di desa terpencil ini.
Bisa dibilang desa ini tak berseberangan langsung dengan yang lainnya, sangat tersembunyi sekali dan jalur tempuhnya pun agak berbahaya.
Sama halnya seperti Desa Pelarian penduduk di tempat ini tak lebih dari 50 orang, bahkan hanya sampai 30 orang yang kebanyakan adalah orang dewasa dan berumur. Jarang ada wanita di sini, selain lelaki dan pria tua. Hal itu cukup ganjil, sehingga tak heran orang-orang di sini hidup serba berantakan. Tak pandai bertani atau memasak dan hanya mengandalkan binatang buruan untuk makan.
Untungnya Xin Chen sering mempelajari ilmu tanam menanam selama berada di perpustakaan Lembah Kabut Putih, jadi untuk hal ini dia bisa membantu. Anggota Aliansi Pedang Suci kini membaur dengan orang-orang desa, tampak bisa saling berbagi ilmu.
Sudah hampir setengah hari berlalu akhirnya mereka selesai mengerjakan beberapa ladang bertani. Biji-bijian yang dibeli Xin Chen dan peralatan bercocok tanam telah disimpan rapi, dia menyuruh mereka untuk menerimanya. Untuk bisa hidup mandiri pastinya.
"Ah Tuan Muda Xin begitu baik hati, aku kira tidak akan ada yang mau menolong kami hingga sejauh ini. Aku benar-benar berterimakasih dari lubuk hatiku terdalam. Semoga Tuan Muda dan anggota aliansi sekalian berbahagia selalu."
"Aku akan meninggalkan beberapa modal untuk kalian bercocok tanam, benih-benih yang kubeli belum seberapa. Yang penting kalian tahu bagaimana cara menanam seperti yang kucontohkan tadi." Dia menggerakkan lengannya yang terasa pegal.
"Kalau begitu berhubung langit sudah malam ijinkan kami menjamu kalian semua, walaupun makanan kami sangat sederhana.." Yuan Chao merasa tak enak walaupun Xin Chen mengatakan mereka tak keberatan.
Ayam-ayam liar yang ukurannya masih begitu kecil di bakar dalam api, Yuan Chao tahu benar tiga ayam itu takkan mampu mengisi perut 21 orang yang datang ke tempatnya termasuk Xin Chen. Namun tampaknya orang-orang aliansi sama sekali tak mempermasalahkan dan justru sibuk berbincang-bincang.
Sementara Xin Chen mengasingkan diri, semenjak semakin banyaknya kekuatan yang berada dalam dirinya. Keenam indera serta instingnya menjadi sangat tajam.
"Bau darah." Suaranya amat kecil namun Yuan Chao dapat mendengar. Wajahnya berubah risau.
"Tuan Muda Xin, sebentar lagi ayamnya sudah masak. Bergabunglah kemari."
__ADS_1
Xin Chen tak bergeming, dibandingkan itu telinganya mendengar suara-suara di balik sebuah rumah papan. Merasa ada yang tak beres dia berjalan ke arah sana sebelum akhirnya hal mengejutkan terjadi. Yuan Chao menghunuskan pedang tepat di batang tenggorokannya. "Ma-maju selangkah lagi pedang ini akan menembus lehermu!" Katanya bergetar.
Anggota Aliansi Pedang Suci lantas berdiri kompak, lalu mengeluarkan pedang mereka masing-masing.