
Genangan air terpecah saat derap langkah kaki berlarian kencang melewati hutan gelap. Keamanan tak serta-merta mengendur, lima puluh penjaga markas berkeliaran di sepanjang jalan. Mereka memasang sikap siaga meskipun sudah memperkirakan malam ini akan terjadi pertarungan. Dua prajurit bawahan Mou Zhueyang baru saja menumbangkan satu penjaga markas. Kekuatan satu laki-laki itu memang bukan main beratnya, mereka berdua kesusahan untuk melawan.
Satu temannya menggunakan baju zirah yang seragam dengan para penjaga markas. Tidak ada yang curiga saat dia menyusup masuk, dan diam-diam mengeluarkan belati tajam. Menghunus senjata itu ke jantung lawannya yang tengah lengah, ditinggalkan teman-temannya.
Kini dua orang berhasil menyusup masuk, membunuh orang-orang di dalam tenda dengan diam-diam. Tujuh penjaga tumbang, tapi itu tak berlangsung lama hingga mereka tepergok dan dikejar-kejar oleh pedang dan tombak. Dua orang ini kabur dan menghilang di antara kawanan mereka.
Sementara Mou Zhueyang dan dua prajurit lain baru saja berhasil melepaskan para budak yang ditahan di bagian terdalam Lembah Kabut Putih. Kebanyakan anak-anak dan laki dewasa, mereka memberitahukan di mana sisa budak lainnya dikurung lalu dengan arahan bawahannya, mereka bawa kabur menuju jalan yang diarahkan Xin Chen sebelumnya. Mou Zhueyang berhenti berjalan saat lima penjaga mencegatnya.
"Siapa namamu?"
Mou Zhueyang terdiam tak berkata-kata, sebagai kelompok yang terorganisir mereka sudah pasti mengenal satu sama lain. Laki-laki itu mencoba berpikir cara untuk melahirkan diri sebelum satu dari lima penjaga itu menyerangnya duluan.
Lantas dalam satu detik kemudian empat yang lain mengeroyok pria itu, Mou Zhueyang membalas gencar. Arus pertarungan berlangsung tak imbang, satu saja sudah tidak bisa ditahannya. Dan sekarang Mou Zhueyang melawan lima orang sekaligus. Nyawa Mou Zhueyang sudah di ujung tanduk. Sementara pedang di tangannya terbelah oleh tajamnya pedang lawan.
Mou Zhueyang tetap tak gentar, dengan pedang yang telah terbelah itu dia menyambut serangan lawan. Sekali dua kali langkah kakinya mundur, lalu berteriak membuat kelima musuhnya menciut.
__ADS_1
Mou Zhueyang menangkis arah mata pedang yang hendak memburu pangkal lehernya, merunduk namun kepalanya mendapatkan tendangan brutal. Di sisi lain mata pedang lain hendak menembus telinganya, laki-laki itu mendecih dan berusaha melepaskan diri. Mautnya telah datang, pikir Mou Zhueyang saat tak ada lagi ruang untuknya melarikan diri.
Genderang bertabuh kencang, membunyikan suara besar layaknya peperangan. Penyerangan datang pada dini hari, saat gerimis hujan turun membasahi lembah dan bukit. Dalam satu jam, lima belas orang Empat Unit Pengintai habis oleh para prajurit yang menyusup. Membuang harga diri mereka sebagai prajurit dan membunuh diam-diam saat lawannya tertidur. Mereka tidak peduli lagi dengan berlaku curang. Lawan mereka melakukan hal yang jauh lebih keji daripada itu semua.
Seluruh penerangan di Lembah Para Dewa padam saat angin badai datang menghantui tempat tersebut. Gaung langit yang muram menambah ketakutan saat awan-awan tebal menutupi langit yang semula tak berawan. Lantas kejadian itu menjadi tanda tanya besar di kepala mereka. Sialnya, dalam penyerangan itu hanya tersisa dua anggota unit inti di dalam markas.
Dua orang tersebut berdiri di atas menara bangunan tinggi, memperhatikan kekacauan yang terjadi. Melihat seorang menggunakan zirah berlarian sendirian, melemparnya dengan pedang dan membuat orang itu mati seketika. Dia adalah salah satu bawahan Mou Zhueyang. Insting laki-laki itu tak pernah salah. Sementara yang satu lagi mendecih, "Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang seru." Lalu sosok itu terpaku pada pertarungan tak imbang yang terjadi di bawah menara. Dia terjun bebas, menebaskan pedang panjangnya hingga memotong laki-laki tua itu.
Mou Zhueyang mengejang dan tubuhnya menyemburkan darah segar, membuat genangan banjir merah oleh darah. Pria itu meringkuk, mencoba bangun.
Sebelah kaki menginjak kepalanya hingga hampir terbenam ke tanah becek, penglihatan laki-laki itu kabur. "Demi Tuan Muda ... Demi Tuan Muda ..."
"Menjijikkan sekali manusia ini."
Jantungnya kembali dihunus, lalu dikoyak menggunakan bilah pedang. Laki-laki itu menjerit kesakitan, "A-aku harus melihatnya berdiri menggantikan Pedang Iblis, aku telah berjanji-"
__ADS_1
Kepala laki-laki itu bocor ketika tendangan kencang membuat pelipismu berdarah, dia diinjak-injak seperti binatang. Prajurit itu sekarat, tangannya terlalu bergetar hanya untuk menyingkirkan kaki musuh yang meretakkan tulang tengkoraknya. Mou Zhueyang kehilangan kesadarannya, dalam satu kali tikaman terakhir. Nyawanya habis oleh musuh.
*
Xin Chen baru saja kembali ke rumah di mana mereka mengatur strategi, sebelumnya dia sudah mengatakan bahwa mereka akan bergerak saat subuh datang, perkiraannya saat pagi buta hujan akan mengguyur lembah. Dan juga para penjaga itu tertidur lelap, mereka lebih sering berjaga saat tengah malam. Waktu yang sering kali dipergunakan dalam penyergapan mendadak. Dan juga hujan dapat menyembunyikan langkah kaki mereka, terutama para budak yang akan mereka selamatkan.
Sayangnya Mou Zhueyang terlalu tak sabaran, dia berpikir harus segera menyelamatkan nyawa budak yang mungkin saja sedang meregang nyawa saat mereka menunda penyelamatan. Xin Chen mendecih, bagaimana jika justru dengan ketergesa-gesaan itu mereka sama sekali tidak bisa menyelamatkan satu pun?
Benar saja, saat Xin Chen keluar untuk mencari mayat Fang Xu ternyata Mou Zhueyang sudah lebih dulu menggerakkan prajurit ke medan perang. Xin Chen menyusul, jarak menuju Lembah Para Dewa cukup jauh dan memakan waktu. Mungkin Mou Zhueyang sudah meninggalkan perkampungan ini satu jam yang lalu. Xin Chen tidak bisa menebaknya.
Jalur hutan telah dipenuhi jejak darah, dua mayat tergeletak tak bernyawa. Xin Chen mendekat dan mendapati satu dari orang tersebut adalah bawahan Mou Zhueyang. Belum apa-apa mereka sudah mati. Xin Chen meneruskan perjalanan dan melihat keadaan Lembah Para Dewa sudah kacau. Tidak mungkin lagi meneruskan strategi yang sudah disusunnya.
Penjagaan ketat dan ratusan penjaga keluar, membunuh orang-orang Mou Zhueyang yang berkeliaran. Tiga orang sudah mati dan sisanya berkejaran dengan musuh. Xin Chen memasuki tempat tersebut dan terhenti saat melihat seorang pria tergeletak berdarah-darah di antara para kaki musuhnya. Mou Zhueyang tak bernyawa lagi dan dia ditertawai oleh musuhnya.
Babak belur dan dihabisi tanpa ampun, Mou Zhueyang lebih dari disiksa oleh mereka. Xin Chen tak bisa menerimanya, dia ingin marah dan mengamuk seperti dulu. Namun tubuhnya hanya bisa terdiam membatu, segaris cahaya biru muncul di antara tawa orang Lembah Para Dewa. Satu anggota inti tertegun saat mendapati sosok berjubah hitam tanpa diundang menimbrung di antara mereka.
__ADS_1
"Pesta Berdarah. Kedengarannya menyenangkan. Boleh aku bergabung?"