
Xin Chen mulai terganggu ketika kedua orang itu menatapnya lekat-lekat. Tahu apa yang mengusik dua orang penting itu dengan terpaksa Xin Chen membungkukkan badan sebagai bentuk rasa hormatnya pada mereka berdua. Setelah itu barulah Yan Xue bisa tersenyum lebar seperti biasa.
"Aku sudah mengatakannya padamu. Aku akan mengenalkanmu pada penguasa distrik-18 ini. Tuan, ini orang yang ku maksud. Namanya Zu Chen. Anda pasti sudah melihat kebolehannya selama peperangan tadi."
Jenderal-18 yang memakai baju perang lengkap tak memberikan respon apa-apa. Tapi Xin Chen dapat merasakan dirinya tengah diperhatikan oleh laki-laki itu dengan tajam.
Jenderal-18 membuka suaranya yang berat, Xin Chen mewaspadai setiap kalimat yang akan keluar dari mulut laki-laki itu. Dia bisa saja terjebak dalam ancaman jika tidak berhati-hati.
"Buka matamu."
Benar saja.
Xin Chen mengepalkan tangannya erat. Dia tidak menjawab apa-apa dalam waktu yang lama sehingga Jenderal-18 menganggapnya sebagai pembangkangan.
"Kau memaksaku untuk membukanya?"
"Untuk alasan apa Anda memaksaku membukanya?"
Jenderal-18 memasang sikap angkuh, emosinya mulai naik satu tingkat mendapatkan perlakuan seperti itu dari Xin Chen. Melihat ketegangan yang terjadi Yan Xue mulai ragu-ragu ingin berbicara. Dia merasa harus membela Xin Chen atau setelah ini tamat sudah riwayatnya.
"Kau bisa saja menyembunyikan sesuatu atau sebuah cara dengan matamu itu. Selama berduel dengan lawan tangguh sekali pun kau sama sekali tidak membuka mata. Aku tahu kau bisa melihat. Sekarang turuti perintahku atau kita akan bertarung satu lawan satu."
Yan Xue melerai. "Tuanku, aku bisa menjamin dia tidak menyembunyikan sesuatu yang mencurigakan. Dia hanya sedikit sensitif jika permasalahan matanya di bahas karena itu mungkin caranya menjawab tidak berkenan di hati Tuan."
"Menyingkir dari sana, Yan Xue. Aku sedang berbicara pada bocah ini." Jenderal-18 maju hingga hanya tersisa jarak satu meter di antara mereka. Tatapannya semakin dingin menatap Xin Chen.
__ADS_1
"Pilihanmu cuma satu. Buka mata, sekarang juga."
"Aku tidak berkeberatan untuk duel denganmu jika kau benar-benar memaksa melihat mata ini."
Kehabisan cara Yan Xue sampai tidak bisa menghentikan emosi Jenderal-18 yang semakin terpicu oleh jawaban Xin Chen. Dia hanya bisa pasrah dengan keadaan. Bisa saja Xin Chen kehilangan nyawa setelah berdebat dengan laki-laki ini karena Jenderal-18 bukanlah orang sembarangan yang mau mengampuni orang yang berani membuatnya marah.
"Zu Chen, sebaiknya kau meminta maaf. Lakukan sesuatu jika tidak ingin melihat dia mengamuk." Yan Xue berbisik pada Xin Chen dengan harap-harap cemas. Tanpa diduga Xin Chen melakukan apa yang dimintanya.
"Aku meminta maaf karena tidak bisa mengikuti kemauan Tuan. Bukan tak memiliki alasan, ini juga demi kebaikan Anda juga."
"Apa maksudmu demi kebaikanku?"
Yan Xue mulai tak bisa mengikuti alur yang terjadi, dia yakin Xin Chen pasti sedang berbohong seperti pintanya tadi. Kalau dia gagal maka habislah sudah. Jenderal-18 tidak pernah menoleransi orang yang berani berbohong di depannya.
Xin Chen terlihat tidak yakin mengatakannya, membaca keengganan itu Jenderal-18 berbicara.
"Mata ini membawa kutukan."
Dua orang di depannya terdiam. Xin Chen mengutuk dalam hati. Entah mereka akan percaya pada kebohongannya atau tidak. Xin Chen mulai meragukan kata Yu Xiong tadi. Di situasi sulit seperti ini dia sampai tidak berpikir cara yang lebih bagus dan memilih mengarang cerita yang tidak-tidak.
Di luar dugaan Jenderal-18 justru serius menanggapinya.
"Separah apa? Dari mana kau mendapatkan kutukan itu?"
Yan Xue seperti tahu sesuatu, dia berbicara. "Izin berbicara, Tuanku. Sepertinya orang-orang di perbatasan memilki keturunan yang memang mewarisi mata terkutuk. Sekarang aku mengerti ... Kau tidak ingin membuka matamu karena tidak ingin membunuh Jenderal-18, bukan?"
__ADS_1
Xin Chen tidak paham apakah Yan Xue juga ikut mengarang atau memang dia tahu sesuatu yang kebetulan saja berkaitan dengan kebohongannya. Anggukannya membuat Jenderal-18 terlihat kasihan.
"Kutukan seperti apa yang menimpanya?"
"Aku pernah mendengarnya. Aku tidak mengetahui pasti dari klan mana yang aku tahu di perbatasan memang ada orang-orang yang memiliki kekuatan yang diwariskan. Mata Terkutuk ini dapat membunuh siapa saja yang melihat mata pemiliknya. Selebihnya aku kurang tahu dengan jelas."
Jenderal-18 menoleh ke arah Xin Chen yang tampak canggung.
"Aku mengerti. Ini adalah rahasia klan yang seharusnya dijaga baik-baik. Kau tidak perlu takut, aku tidak akan mengatakan pada siapa pun. Ikut dengan kami. Ada sesuatu yang harus kita bicarakan."
Yan Xue membuang napas lega secara diam-diam. Dia berjalan sejajar dengan Xin Chen yang mengikuti Jenderal-18 dari belakang. Laki-laki itu berbisik sangat kecil.
"Sebaiknya kau tidak berbohong soal tadi."
Xin Chen mengabaikannya dan beralih melihat ke menara tinggi bernuansa merah. Jenderal-18 berjalan ke arah sana, sesekali bawahannya datang memberikan laporan.
Mereka tiba di sebuah ruangan tertutup yang hanya diterangi oleh dua lentera. Xin Chen dipersilahkan duduk di ruangan yang agak temaram itu. Berbeda jauh dengan di luar yang diterangi oleh banyaknya lentera berwarna-warni. Yan Xue izin pamit karena dia harus mengurus berkas-berkas penting sekaligus mendata para calon prajurit baru. Mereka harus bergerak cepat.
Belum satu menit Yan Xue meninggalkan tempat itu segerombolan prajurit datang tergopoh-gopoh. Mereka bertekuk lutut di muka pintu dan menunggu sang jenderal memberikan perintah untuk berbicara.
Tampaknya ada beberapa keperluan penting yang harus diurusnya terlebih dahulu. Jenderal-18 pergi begitu saja bersama gerombolan tersebut tanpa mengatakan apa-apa. Membiarkan Xin Chen sendirian di sana.
Xin Chen tidak merasakan kehadiran lain selain dirinya di ruangan tersebut. Dia bangun dan melihat sekitarnya, terlihat seperti ruangan bekerja yang dipenuhi oleh surat, tinta dan buku-buku. Xin Chen melihat beberapa sampul di buku tersebut. Tampaknya Jenderal-18 tertarik dengan ilmu berperang dan juga strategi militer yang ditulis oleh salah satu ahli strategi terkenal di Kekaisaran Qing.
Gelapnya ruangan tidak membatasi penglihatan Xin Chen. Dia membaca setiap baris buku dan tidak menemukan sesuatu yang penting. Di meja pun hanya ada alat tulis dan kertas-kertas surat yang belum diselesaikan. Dinding ruangan itu dihiasi dengan kepala binatang buas yang ditempel begitu saja.
__ADS_1
Dengan melihat kepala beruang di tengah ruangan Xin Chen yakin ada ruangan lainnya di seberang. Kepala beruang itu menyembunyikan sebuah trik yang sulit dipahami. Tampaknya Xin Chen tidak dapat memasukinya sembarangan karena tak jauh dari menara ini sekelompok orang berjaga. Jumlahnya mungkin sekitar sepuluh orang. Dia tidak bisa menggunakan kekuatan roh sembarangan.
Matanya yang biru terang seakan menyala di tengah gelapnya ruangan. Xin Chen mendapati sebuah gulungan yang masih tersegel rapat dan disimpan menggunakan kain berwarna emas. Di sana terlihat sebuah stempel yang menandakan surat itu berasal dari pusat kekaisaran.