
"Sayangnya kekuatan dari elemen spesial berada dalam permata itu, Chen. Ku katakan padamu, melawan kekuatan dari Elemen Salju bukanlah perkara mudah. Melihatmu masih biasa saja seperti ini, jujur aku agak heran," tutur Rubah Petir sembari menyaksikan perubahan di wajah Xin Chen.
"Kau sudah menjelaskan hampir semua dari situasi yang akan ku hadapi ke depannya. Satu-satunya cara untuk mengatasinya hanya menghadapi si Siluman Kegelapan itu."
"Walau pun ke depannya kau harus mengorbankan banyak hal?"
"Jika aku mati, aku harus mati bersama Siluman Kegelapan itu. Aku akan menyeretnya untuk ikut bersamaku ke neraka."
"Hahahaha," tawa Rubah Petir tak habis pikir. "Melihatmu tumbuh semakin dewasa tampaknya memang hal yang menarik. Pemikiranmu tak jauh-jauh beda dengan Ayahmu."
Xin Chen mengerutkan alis beberapa saat, dia juga tidak peduli bagaimana Rubah Petir menilainya. Tapi bagaimana pun dari Rubah itu juga Xin Chen mengetahui banyak hal, jika memang benar semua yang dikatakan Rubah Petir maka dia harus mulai bergerak dari sekarang.
Xin Chen hanya bisa mengembuskan napas berat, sesaat dia teringat akan kata-kata Ayahnya dulu.
"Ayah pernah bilang jika ketakutan sama halnya seperti bunga salju, semakin dingin membekukan jantung, semakin membuat kita tak ingin beranjak dari tempat berdiri. Sedangkan bunga api ibarat kemarahan, semakin banyak kayu di atasnya, semakin besar pula api itu mengamuk."
"Dan kau menggunakan api besar itu untuk memusnahkan bunga salju."
"Begitulah, aku juga tak terlalu memikirkan dengan apa yang terjadi, entah itu alasan dan akibatnya. Aku hanya berjalan dan menyelesaikan apa yang menurutku adalah tanggung jawabku."
Keadaan menjadi hening sejenak, tak terasa semakin lama mereka berbincang hingga malam. Xin Chen teringat akan Ye Long. Dia mengeluarkan sesuatu dari cincin ruangnya.
"Aku lupa membuka sesuatu. Guru Rubah, coba lihat gulungan ini." Dia menyerahkan sebuah gulungan yang agak tebal. Terbuat dari bahan yang cukup mahal. Gulungan itu sempat dicuri Xin Chen saat memasuki markas Empat Unit Pengintai di desa Shengyou. Kemungkinan hal ini ada hubungannya dengan Ye Long.
Rubah Petir menggunakan kekuatan petirnya untuk memunculkan cahaya agar keduanya mudah melihat di malam hari.
"Ini--?"
__ADS_1
"Asal-usul Ye Long? Apa ini ada kaitannya dengan Naga Hitam itu?" tanya Xin Chen menelaah isi di dalam gulungan tersebut dan belum bisa mengerti, dia melirik Rubah Petir yang tampaknya sedang berpikir keras.
"Guru Rubah kau tahu sesuatu?" Xin Chen bertanya sekali lagi karena dari tadi hanya di diamkan. Dia cukup penasaran dengan apa yang dipikirkan Rubah Petir hingga termenung seperti itu. Meminta penjelasan pada Rubah Petir tampaknya agak sulit dilakukan, rubah itu justru menggulung kembali kertas di tangannya dan menyerahkannya pada Xin Chen.
"Setelah ini kita harus menemui Shui."
"Shui?"
"Shui adalah Naga Air. Kita benar-benar membutuhkan informasi darinya mengenai Ye Long. Seharusnya dia mengetahui sesuatu tentang ini."
Xin Chen mengangguk, dia paham betul dalam situasi seperti ini bertanya seratus kali pada Rubah Petir pun takkan membuahkan hasil. Dia harus bersabar setidaknya sampai menemukan jawabannya langsung dari Naga Air.
"Kau masih memiliki Permata Cahaya Biru?"
"Masih..."
"Baiklah kita akan menunggu sampai besok pagi, kita lihat Ye Long masih bisa bertahan hidup atau tidak dari sengatan Dewa Petir."
"Kalau begitu aku akan berlatih teknik Hujan Petir dulu."
"Chen, jangan menggunakan kekuatanmu berlebihan atau kau akan mengulangi hal yang sama seperti sebelumnya. Kekuatan Elemen Petir bukan sesuatu yang bisa kau anggap remeh."
"Ya, ya. Aku tahu. Aku hanya ingin menguasai setidaknya setengah dari kekuatan Hujan Petir. Paling tidak masih berguna daripada tak melakukan apa-apa."
Rubah Petir sudah lebih dulu memejamkan matanya untuk meditasi, Xin Chen membuka tutup mulutnya sambil berjengkit kesal. Sudah panjang lebar dia berbicara rupa-rupanya didengar saja tidak.
Langit yang sudah malam masih terus menurunkan hujan, petir terdengar samar-samar dari kejauhan. Saat Xin Chen memulai latihannya sebuah sambaran petir berkecepatan tinggi jatuh begitu saja, dia terkejut bukan main.
__ADS_1
Tak lama Rubah Petir terdengar berbicara, "Kekuatanmu itu dapat memancing petir alam jika tak dikendalikan dengan baik. Bukannya membunuh musuh justru kau lebih berbakat untuk membunuh dirimu sendiri dengan petir itu."
"Memangnya bagaimana cara mengendalikannya, sepertinya kau tidak memberitahu apapun tentang mengendalikan kekuatan petir."
Xin Chen membalikkan badan agar bisa melihat Rubah Petir dengan jelas, dia sadar rubah itu memang mendengar dan malas menjawab. Terbiasa dengan sikap Rubah Petir yang seperti itu akhirnya dia memilih lelah sendiri.
Setelah mencoba setidaknya tiga kali dengan cara yang sama Xin Chen masih buntu, serangan dari petir alam masih terus mengincarnya jika dia mengeluarkan kekuatan miliknya. Sedangkan untuk mengeluarkan jurus Hujan Petir dia perlu memancing petir-petir tersebut dengan kekuatannya pula.
Pada akhirnya Xin Chen berhenti sebentar, mengingat kembali saat di mana Dewa Petir mengeluarkan serangannya. Hal itu dikarenakan Xin Chen mengeluarkan kekuatan petir sangat besar.
Xin Chen ingin mencoba sesuatu, dia mengangkat sebelah tangannya dan mengalirkan kekuatan petirnya ke atas. Kali ini dia mengeluarkan setidaknya dua puluh persen energi petir dalam tubuhnya. Jelas saja hal itu memancing kekuatan alam yang sedang berkecamuk di atas langit.
Dalam satu detik kemudian dia dapat melihat jarum-jarum petir walau samar, jarum tersebut terbentuk perlahan dan tiba-tiba saja pecah menjadi butiran cahaya. Dan langsung saja hujan petir yang tiga kali lipat lebih berbahaya turun menyambar bumi.
Xin Chen tahu hal itu akan terjadi dan segera menghindar sesegera mungkin.
"Semakin besar aku mengeluarkan energi petir maka jumlah jarum petirnya juga semakin banyak dan tingkat kerusakan menjadi semakin parah. Tapi cara mempertahankan jarum petir itu bagaimana?" gumamnya pada diri sendiri. Rubah Petir sudah mencontohkan cukup jelas tadi.
Tapi yang terjadi agak berbeda dengan yang di alami Xin Chen. Di tangan Rubah Petir kekuatan alam seperti tunduk dan bergerak sesuai keinginan si rubah. Sedangkan di tangannya petir-petir itu seperti melawan balik, saat dia berhasil menciptakan jarum petir jurus itu seketika dipatahkan dan yang tercipta justru sambaran petir berkekuatan tinggi dan menyerangnya.
Dipikir-pikir juga Xin Chen tetap tak memiliki jawaban, dia memutuskan untuk terus mencoba sampai menemukan titik terang.
Di waktu yang sama Rubah Petir membuka sedikit matanya, melihat Xin Chen terus berlatih seperti ini dan tahu bahwa Hujan Petir masih belum bisa digunakan Xin Chen membuatnya terganggu. Hujan Petir tidak sama dengan jurus yang biasanya dimiliki para manusia.
Kekuatan pemberian Roh Elemen Petir mengalir dalam tubuh sang Rubah Petir. Hal itulah yang membuat energi alam dari langit dapat dikendalikannya dengan sangat mudah.
Berbeda halnya dengan Xin Chen yang nyatanya hanya manusia. Rubah Petir akhirnya angkat bicara setelah beberapa saat.
__ADS_1
"Di sekitar sini seingatku ada sebuah tempat yang cukup baik untuk memurnikan kekuatan petirmu."
"Memurnikan kekuatan petir?"