
Untuk sampai ke pintu gerbang sekte tersebut mereka harus menaiki anak tangga yang terbuat dari kayu yang menyatu dengan tanah perbukitan, pemandangan yang masih asri menyambut sesampainya di sana. Angin sejuk menyapa, namun salah seorang pendeta yang menjaga pintu masuk sama sekali tak memiliki niatan untuk menyambut.
"Orang asing tidak diperbolehkan masuk tanpa undangan dari sekte." Tidak melihat sama sekali pun dia sudah tahu mereka ingin masuk. Bunyi gesekan terdengar karena Ye Long yang terus menggerakkan ekornya di atas tanah. Semenjak melihat banyak manusia entah mengapa Xin Chen merasa naga itu menjadi sangat antusias.
Mungkin naga itu menganggap manusia sebagai sesamanya.
"Aku hanya ingin menemui Senior Li untuk menanyakan sesuatu, tidak sampai satu jam."
"Orang asing tidak diperbolehkan masuk kecuali dengan undangan."
"Menyebalkan sekali, tinggal biarkan aku masuk dan menemui Senior Li saja sepertinya sangat susah."
Pemuda itu memasang mantra yang melindungi pintu masuk mereka, secara langsung menolak Xin Chen saat dia mendekatinya. Perdebatan itu tak berlangsung lama sebab dari kejauhan muncul seorang wanita dengan sebilah pedang di pinggangnya. Jubahnya yang dihiasi oleh lambang kelopak bunga berwarna merah muda menambah kesan anggun pada dirinya.
Berwibawa, cantik dan kuat. Kemungkinan besar dia adalah perwakilan dari sebuah sekte melihat ada 5 orang murid datang bersamanya dan semua murid itu adalah gadis belia.
"Guru Besar dari sekte Bunga, Su Zhen, terimakasih sudah menerima undangan kami." Orang-orang tersebut dipersilahkan masuk dengan hormat.
Xin Chen mendengus sebal, kalau bukan karena terpaksa dia tidak akan membuka topengnya agar bisa ikut masuk ke dalam.
Dia sempat tertegun ketika menyadari seseorang sedang menatapnya, salah satu murid dari sekte tersebut. Gadis itu segera menurunkan wajahnya, takut jika Guru Besarnya menangkap dirinya sedang memperhatikan ke arah lain.
Selesai mempersilahkan tamu dari sekte Bunga masuk, si penjaga pintu masuk kaget setengah mati. "Se-sepertinya aku pernah melihatmu datang kemari..."
Dia terlonjak, "Tu-tuan Muda Xin kedua?! Ma-maafkan saya, saya benar-benar tidak tahu jika Tuan Muda datang berkunjung hari ini!" Pemuda itu mengatakannya seolah tiada hari esok jika dirinya tak segera meminta maaf. Lagipula Xin Chen malas mendebat hal-hal seperti ini, "jadi sekarang aku boleh masuk apa tidak?"
"Tentu saja boleh!"
Pemuda itu melepas mantra yang menjaga pintu masuk, menyuruh murid Kuil Teratai lainnya untuk mengantarkan mereka ke dalam. Murid yang mengantarkan mereka mengatakan Li Yong sedang tidak ada di sekte. Kemungkinan esok pagi dia akan kembali. Untuk sementara mereka dipersilahkan menunggu di sebuah rumah terpisah yang dikhususkan menerima tamu.
Melihat ramainya murid-murid di sekitar Kuil Teratai membuat kening Xin Chen berkerut, sebenarnya ada apa dengan tempat ini. Biasanya tidak seramai sekarang. Tanpa harus bertanya murid di sebelahnya langsung mengerti dan menjelaskan.
__ADS_1
"Baru-baru ini Senior Li mengundang murid dari sekte lain untuk berlatih dan belajar di tempat kami. Bisa dibilang ini termasuk langkah awal dari sekte kami membuka diri. Dan seperti yang kau lihat, bahkan bukan hanya sekte dari kekaisaran kita, beberapa sekte dari kekaisaran lain datang kemari."
Kali ini kening Xin Chen tidak hanya berkerut lagi, bahkan sampai berlipat tiga.
"Menerima murid dari kekaisaran lain?"
"Benar sekali. Kudengar sekte Bunga sangat terkenal dengan ilmu pengobatan dan teknik penyembuhan. Bukan hanya nama sektenya saja bunga, Tuan Muda. Bahkan saat mereka melewatimu, kau akan mencium aroma kelopak bunga yang berguguran.."
Menurutnya pemuda itu terlalu melebih-lebihkan, mereka diantarkan hingga ke depan penginapan yang letaknya agak jauh. Meskipun demikian pemandangan di sekitarnya jauh lebih indah, tanaman hias dan juga tanaman herbal menghiasi pekarangan.
"Hah, akhirnya bisa tidur di tempat yang nyaman..." Katanya sembari meregangkan otot tubuh, belum masuk ke dalam rumah tersebut seseorang menyapanya dari belakang.
"Selamat siang Tuan Muda Xin kedua, senang bisa melihatmu berkunjung ke Kuil kecil kami." Pria yang hampir memasuki umur 30 tahun itu tersenyum lembut.
"Senior Huang Kun?"
"Tahu-tahu saja kau sudah besar, Chen. Hah, kau seperti ayahmu, datang kapanpun kau suka tanpa mengabari lebih dahulu."
"Apa itu bentuk pujian atau sindiran?"
Xin Chen menggelengkan kepalanya pelan, tentu dia begitu kenal dengan kerabat-kerabat ayahnya. Huang Kun juga pernah menyempatkan diri untuk berkunjung ke Lembah Kabut Putih maka dari itu Xin Chen mengenal baik orang ini.
"Silakan masuk, anggap saja rumah sendiri," ucap Xin Chen kemudian, kali ini Huang Kun yang menggelengkan kepalanya.
Setibanya di dalam, hal pertama yang dijumpai Huang Kun adalah Ye Long sedang memanjati meja-meja makan, Rubah Petir yang baru saja menutup pintu kamar sambil mengintip dan satu rumah yang berantakan. Belum satu menit padahal muridnya mengantar mereka ke sini.
Huang Kun tak mampu berkata-kata lagi, dia mengalihkan perhatian. "Khem! Jadi apa yang membawa mu ke sini?"
"Tentang Senandung Air yang pernah Senior Li ajarkan padaku. Apa boleh aku mengetahui asal-usul dari irama itu?"
"Boleh, tapi... Sebelum itu aku ingin bertanya soal dua mahkluk berjubah yang kau bawa kemari. Sebagai tamu kehormatan tentu aku tak berkeberatan, tapi bukankah siluman yang kau bawa ini berbahaya?"
__ADS_1
Xin Chen menggaruk pelipisnya, dia tidak enak sendiri pada lelaki itu. "Maafkan kadal jelek itu. Siang-siang seperti ini dia memang banyak tingkah. Nanti aku akan mengikatnya di pohon kalau berulah."
Ye Long mendengus sinis.
"Hahaha peliharaanmu aneh sekali. Di mana-mana orang memelihara serigala, singa atau burung untuk dijadikan rekan." Huang Kun agak berpikir sebentar, "Aku dengar kau sudah meninggalkan rumahmu dalam waktu yang lama. Kau tidak berniat kembali?"
"Memangnya ada hal buruk yang terjadi?"
"Ya, baru-baru ini Tuan Muda Xin pertama nyaris diculik oleh seseorang yang memakai jubah. Untungnya hari itu dua orang Pilar kekaisaran sedang berkunjung ke rumahmu. Jadi saat Xin Zhan meminta bantuan mereka langsung datang. Bersama murid-murid hebat dari Lembah Kabut Putih tentunya."
Seperti biasa keamanan di tempat tinggalnya itu terjamin, namun ada kegelisahan di hati Xin Chen. Kedua tangannya mengepal keras. "Chen, apa kau tidak apa-apa?"
"Aku baik-baik saja."
Tapi dalam hati perasaannya kacau. Dua kemungkinan yang mengarah pada pelaku tersebut, antara orang dari Empat Unit Pengintai yang mungkin hendak merebut kembali Baja Phoenix di tangannya atau utusan dari Lembah Para Dewa. Semua itu berkecamuk dalam pikirannya.
"Dan kudengar dari salah satu petinggi sekte, dia memakai topeng berbentuk gagak. Tidak ada satupun yang melihat wajah aslinya."
Fakta baru itu membuatnya sedikit terkejut, "Topeng dengan paruh gagak?" Selama di perjalanan tidak satupun pelaku yang cocok dari ciri-ciri yang disebutkan Huang Kun. Lantas apa itu musuh barunya atau tidak. Xin Chen dibuat kehabisan akal.
"Untuk anak seusiamu kau sudah cukup dewasa ikut campur dalam permasalahan seperti ini. Sebaiknya jangan terlalu dipikirkan, biarkan ayahmu yang menanganinya."
"Apa menurutmu mereka memiliki maksud lain? Menangkap kakakku rasanya adalah hal yang kurang masuk akal..." Xin Chen justru mengalihkan topik pembicaraan.
Huang Kun mengangkat bahunya, "Sudah coba kupikirkan apa rencana mereka. Jika hanya ingin mencelakai Tuan Muda Xin Zhan untuk membunuh generasi Pedang Iblis cukup masuk akal."
"Aku justru memikirkan hal lain."
Huang Kun menarik sebelah alisnya. "Maksudmu?"
"Harga yang setara dengan kepala kakakku. Menurutmu apa?"
__ADS_1
Huang Kun terdiam beribu bahasa.
"Kedua Pedang yang hanya ada di tangan Ayahku. Itulah yang mereka incar."