Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 143 - Sejarah Tua


__ADS_3

Li Yong mengantarnya pada perpustakaan lama yang kemarin sempat dikunjunginya, padahal Xin Chen sudah memastikan dengan benar di dalam tempat itu sama sekali tidak ada petunjuk terkait asal-usul Senandung Air ataupun si pendiri sekte Kuil Teratai.


"Tempat ini adalah sejarah tak tertulis di sekte kami," ujar Li Yong. Dia masih terus melanjutkan langkahnya hingga di depan sebuah rak dengan ukuran yang tiga kali lebih besar dibandingkan yang lainnya.


Sebagai orang penting di sektenya Li Yong tentu mengetahui berbagai rahasia di dalam tempat ini, yang telah menjadi rumahnya selama berpuluh-puluh tahun. Tanpa menyentuh rak tersebut, kayu berukuran besar tersebut bergerak hingga membuka sebuah pintu rahasia. Ukurannya hanya sebesar orang dewasa dan di dalamnya terdapat lorong gelap.


Li Yong menyuruhnya masuk duluan, menyusul Xin Chen dari belakang sampai mereka tiba di bagian terdalam dari Kuil Teratai. Tempat yang tampaknya sudah bertahun-tahun tak pernah didatangi manusia, di tengah ruangan hening itu hanya terdapat satu peti mati dengan dinding batu kaca bertuliskan sesuatu di atasnya


"Jika kau berpikir ini adalah makam pendiri sekte kami, maka kau tak sepenuhnya salah." Li Yong mengelap debu yang menempel di batu berkilap itu. "namun yang ada di dalam peti ini hanya peninggalan leluhur kami." Dengan pelan Li Yong membuka penutup peti, hanya terlihat jubah putih dengan ukiran teratai di dalamnya. Jubah kebesaran yang hanya dimiliki oleh pemimpin terdahulu mereka.


Xin Chen mengamati lebih dekat, tidak sedikit pun terlihat petunjuk dari peti tersebut. Bahkan dari batu kaca di sampingnya, hanya menyebutkan tentang jasa dan perbuatan mulia yang telah dilakukan oleh sang pendiri sekte tersebut.


"Apa kau menemukan sesuatu?"


Xin Chen menggeleng perlahan. "Sepertinya aku harus mencari asal usul tentang Senandung Air terlebih dahulu."


"Sebenarnya untuk apa semua ini?"


"Memastikan dugaanku benar apa tidak."


"Jika benar?"


"Maka kalian harus berhati-hati dengan orang dari Kekaisaran Qing itu."


"Maksudmu orang-orang dari sekte Bunga?" Li Yong sedikit menentang dalam kalimatnya, selama ini hubungan antara sekte Kuil Teratai dan sekte Bunga berjalan sangat baik, bahkan dalam pertukaran murid kali ini undangan yang pertama kali diberikannya pada mereka. Hubungan baik ini telah terjalin cukup lama, sehingga mencurigai mereka sangatlah tidak mungkin.


Li Yong yang hendak mengajak Xin Chen untuk segera kembali menghentikan langkahnya, melihat Xin Chen tengah berpikir-pikir.


"Peti itu... Bukankah kau bilang itu milik leluhurmu terdahulu?"

__ADS_1


"Benar. Mengapa Tuan Muda Xin?"


"Aku pikir darimana peti kayu yang bisa bertahan sampai ratusan tahun tanpa lapuk atau dimakan usia seperti itu. Kecuali jika itu benar-benar didapatkan dari sebuah tempat yang istimewa dan sulit didapatkan..."


"Sulit didapatkan? Di Kekaisaran kita tentu banyak penghasil papan dengan kualitas terbaik."


"Senior benar. Biasanya bahan-bahan dengan kualitas tinggi seperti itu memiliki informasi tentang lokasi pembuatannya, setidaknya di letakkan ditempat tersembunyi seperti di bawah peti..."


Li Yong membuka matanya lebar-lebar.


"Mana bisa! Kau berniat menjungkir balik peti leluhurku!?" Suara Li Yong yang sangat berat menggema, Xin Chen yakin orang yang berada di depan perpustakaan saja masih bisa mendengar suara lelaki itu.


"Senior Li, aku tahu ini sangat lancang. Tapi aku benar-benar minta tolong padamu,"


"Atas alasan apa kau memintaku melakukan hal bodoh seperti itu?!" Masih marah dengan ide gila Xin Chen, Li Yong berbicara dengan intonasi tinggi. Mungkin di hadapan Rubah Petir, hal-hal tidak masuk akal begini wajar saja dilakukan Xin Chen. Namun di mata Li Yong, mengabulkan permintaannya adalah perlakuan buruk terhadap arwah leluhurnya.


Aura mengerikan datang dari kitab tersebut, bahkan Li Yong sendiri sempat tertegun melihat kitab ilmu hitam yang cukup melegenda di Kekaisaran Qing itu berada di tangan Xin Chen.


"Chen, jangan bilang kau-"


"Ya, benar. Yang membunuh Zhang Ziyi adalah aku. Dan kitab ini kudapatkan setelah membunuh pemiliknya. Aku sengaja meminta Senior Xiu untuk merahasiakannya dari Kaisar."


Li Yong menggelengkan wajahnya tak habis pikir, dilihat dari mana pun kitab itu nyata dan memiliki aura berbeda. "... Kau memiliki kitab Pengendali Roh dan mempertanyakan Senandung Air karena isinya sama dengan irama dari salah satu jurus dalam kitab ini? Apa kaitannya?" Akhirnya lelaki itu mengerti akan situasi.


"Tidak ada. Hanya saja setidaknya kau percaya, ada sesuatu yang benar-benar penting yang ku lakukan selama ini. Dan membunuh Zhang Ziyi adalah salah satu langkah untuk mencapainya."


"Aku sebenarnya tidak berani membiarkanmu, tapi mengingat kau sampai sejauh ini ..." Li Yong berpikir beberapa kali, dia terlihat enggan.


Setelah beberapa lama tak mengucapkan apa-apa, Li Yong akhirnya mempersilahkan Xin Chen untuk memeriksa peti tersebut. Dengan syarat agar Xin Chen berhati-hati saat menyentuhnya.

__ADS_1


Benar dugaan Xin Chen, tepat di bawah peti tersebut terdapat sebuah bagian berbentuk persegi panjang yang masuk sedikit ke dalam. Di dalamnya terdapat simbol serta tulisan Kekaisaran Wei yang diukir indah. Li Yong ikut menyaksikan tulisan yang disentuh Xin Chen sebelum akhirnya peti kembali diletakkan seperti semula.


"Satu dugaanku sudah terjawab. Sekte Kuil Teratai tidak hanya didirikan oleh orang dari Kekaisaran kita. Itu artinya, semenjak dulu bahkan orang dari Kekaisaran Wei sudah turut menghindari permasalahan tentang kebangkitan Manusia Iblis. Sebelum tujuh pusaka itu hadir dan mengacaukan segalanya. Bukankah sejak awal didirikannya sekte ini adalah untuk tujuan itu, Senior Li?"


"Benar sekali Tuan Muda Xin."


"Senior Li," panggil Xin Chen. Lelaki itu menoleh padanya. "Apa menurutmu mungkin di masa depan tiga kekaisaran ini bersatu kembali?"


"Mengapa tiba-tiba bertanya demikian?"


"Entahlah, aku hanya penasaran saat-saat di mana semuanya hancur, apakah ketiga kekaisaran ini akan saling mengulurkan tangannya untuk sama-sama berdiri?"


"Mungkin saja. Tapi kurasa itu adalah kemungkinan yang sangat tidak mungkin terjadi. Lupakan saja."


Xin Chen sudah berjalan lebih dulu di depannya, Li Yong menyusul dari belakang hingga akhirnya mereka keluar dari perpustakaan lama sekte Kuil Teratai.


Di sebuah halaman yang cukup luas telah berdiri banyak murid undangan dari sekte luar, tampaknya latih tanding hari ini berjalan dengan ramai seperti yang diharapkan Li Yong. Tentu saja ini dilakukan untuk mengembangkan bakat generasi muda di masa mendatang.


Murid jenius dari sekte Kuil Teratai baru saja memenangkan pertarungannya, hanya ada satu murid tersisa dari latih tanding itu. Sayangnya, benar-benar hanya dia yang tersisa dan tak ada yang menjadi lawannya.


Fu Yu berdiri kikuk di hadapan teman-teman seperguruannya, tampaknya malu berdiri di hadapan orang banyak. Penyelenggara latihan ini telah mengkonfirmasi beberapa kali, sudah semua murid tampil dan jumlah mereka semua ganjil.


"Kalau begitu siapa yang bersedia menjadi lawan Fu Yu?" Tetua ke-19 di sekte mengeluarkan suara keras agar dapat didengar semua murid. Namun tidak ada yang menyahut karena mereka sendiri kelelahan bertarung.


Fu Yu makin merunduk. Mungkin di lain kesempatan saja dia akan tampil.


"Kebetulan sekali ada satu murid dari Lembah Kabut Putih yang belum tampil. Tuan Muda Xin kedua, silakan maju ke depan untuk menjadi lawan murid dari sekte Bunga, Fu Yu!" Li Yong berbicara dengan mengeraskan suaranya. Lantas semua orang melihat ke belakang, termasuk Guru Besar sekte Bunga, Su Zhen.


***

__ADS_1


__ADS_2